<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-353989214924491867</id><updated>2011-10-10T09:06:14.934-07:00</updated><category term='sketsa'/><category term='karya kafka'/><category term='terjemahan'/><category term='Tengok Franz Kafka di Praha'/><category term='surealis'/><category term='nabokov'/><category term='esai'/><title type='text'>Dunia Franz Kafka</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://membacakafka.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://membacakafka.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>pembacakafka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15073329425967061288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>24</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-353989214924491867.post-6066966108198236229</id><published>2011-08-25T09:55:00.001-07:00</published><updated>2011-08-25T10:38:27.217-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nabokov'/><title type='text'>Komentar Nabokov tentang Metamorfosis</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-orEXBPBTPP4/TlaDQllPyvI/AAAAAAAAAFM/sF_vMjN1NuM/s1600/gedicht%2Bzu%2Bpfl%25C3%25BCcken%2B080.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px 0px 10px 10px; width: 200px; height: 150px; float: right; cursor: pointer;" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5644843503944977138" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/-orEXBPBTPP4/TlaDQllPyvI/AAAAAAAAAFM/sF_vMjN1NuM/s200/gedicht%2Bzu%2Bpfl%25C3%25BCcken%2B080.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-sgrmwupOqPE/TlaBHN0_87I/AAAAAAAAAFE/kTD6hjqqxwI/s1600/gedicht%2Bzu%2Bpfl%25C3%25BCcken%2B079.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px 10px 10px 0px; width: 150px; height: 200px; float: left; cursor: pointer;" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5644841143926518706" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/-sgrmwupOqPE/TlaBHN0_87I/AAAAAAAAAFE/kTD6hjqqxwI/s200/gedicht%2Bzu%2Bpfl%25C3%25BCcken%2B079.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-TH1CbKofnPA/TlZ-8Kz9HpI/AAAAAAAAAE8/zFTDH2R0loc/s1600/gedicht%2Bzu%2Bpfl%25C3%25BCcken%2B081.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; width: 150px; height: 200px; text-align: center; display: block; cursor: pointer;" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5644838755115015826" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/-TH1CbKofnPA/TlZ-8Kz9HpI/AAAAAAAAAE8/zFTDH2R0loc/s200/gedicht%2Bzu%2Bpfl%25C3%25BCcken%2B081.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Siapa melihat sesuatu yang lebih terhadap karya Kafka `Metamorfosis` dari sekadar sebuah fantasi serangga, saya menyambutnya sebagai pembaca yang benar pada deretan yang bagus.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; (Vladimir Nabokov)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul: Die Verwandlung – Franz Kafka&lt;br /&gt;Mit einem Kommentar von Vladimir Nabokov&lt;br /&gt;(Metamorfosis – Franz Kafka dengan sebuah komentar dari Vladimir Nabokov)&lt;br /&gt;Penerbit: Fischer, 1991.&lt;br /&gt;Tebal: 107 Halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabokov penulis novel terkenal Lolita, mencoba menelaah novelet Metamorfosis dari Franz Kafka. Nabokov sebutkan, ia hendak menganalisis antara fantasi dan realitas serta hubungan perubahannya. Sebagai pembanding ia pakai dua karya lain, yakni; Mantel  (Der Mantel) karya Gogol dan Dr.Jekyll dan Mr. Hyde karya Robert Louis Stevenson.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tegas Nabokov, “Siapa melihat sesuatu yang lebih terhadap karya Kafka `Metamorfosis` dari sekadar fantasi serangga, saya menyambutnya sebagai pembaca yang benar pada deretan yang bagus.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara Mantel, Dr. Jekyll dan Mr. Hyde dan Metamorfosis, ketiganya sebagai cerita yang fantastis. Dari sudut pandangku bahwa setiap karya seni yang menonjol berasal dari sebuah fantasi, sebagai satu-satunya dunia yang bisa dilihat ulang oleh manusia. Apakah orang akan menganggapnya ketiga cerita itu fantastis, akankah orang mengatakan sampai sebatas itu saja, sedang penggambarannya sebagai dunia yang melantur, apakah yang lazim dianggap oleh orang sebagai realitas dan kenyataan. Sebab itu kita akan menelaah apakah realitas itu, sejauh mana takarannya berbeda dengan fantasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita ambil contoh ada tiga lelaki yang sedang berjalan melewati sebuah ladang yang sama. Lelaki pertama,  warga kota yang sedang liburan, lelaki kedua, seorang ahli biologi dan lelaki ketiga, seorang petani lokal tulen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Lelaki pertama, seorang realis dan serba teknis. Ia memiliki 5 kategori. Baginya, pepohonan adalah pepohonan, seperti yang ia lihat dari buku panduan wisata di sepanjang jalan, ada jalan yang menuju ke kota baru, di situ terdapat warung bagus berdasar anjuran dari kawan kerjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Lelaki ahli botani memandang ke seluruh penjuru dengan mata yang awas, langsung memilahkan berdasar ilmu biologi (Misalnya, jenis pohon, rumput, bunga, pakis). Itulah bagi ahli biologi dianggap sebagai realitas. Bagi dia yang dianggap fantasi, dunia impian yang samar dan dongeng  itu seperti musim panas yang cerah dalam keheningan (bukan seekor tupai di pohon).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Lelaki yang sebagai petani menolak dari pandangan kedua lelaki sebelumnya. Si petani bisa menunjukkan dengan tepat berbagai hal secara pribadi. Bagaimana pun ia dilahirkan dan dibesarkan di sini. Ia tahu persis di mana jalan dan lorong kecil, setiap semak-semak dan pohon. Semua itu terkait dengan pekerjaannya sehari-hari. Masa kecilnya dan ribuan hal yang kecil-kecil lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas kedua lelaki sebelumnya, turis dan ahli botani tak memahami lingkungan. Mungkin saja bagi petani tidak paham nilai-nilai secara ilmu biologi di lingkungannya. Bagi ahli botani tak memandang penting sebuah kandang, ladang dan rumah di bawah bayangan pohon tinggi, yang sangat berarti bagi orang yang lahir di situ, sebagai sebuah kenangan pribadi yang mengawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari contoh di atas, telah ditunjukkan perbedaan realitas sesuai dengan pengalaman. Tentu saja kita masih bisa mencoba dengan permainan berbagai kehidupan lain. Seorang buta dengan seekor anjing, seorang pemburu dengan seekor anjing, seekor anjing dengan tuannya. Seorang pelukis sedang mencari objek matahari terbenam, seorang gadis yang kehabisan bensin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi setiap orang akan mengalami pengalaman yang berbeda terkait masa sekarang. Di situ lah akan  bertemu kosa kata yang objektif seperti, pohon, bunga, langit, kandang, hujan, yang akan berkonfrontasi dengan pandangan subjektif. Di sinilah keputusan subjektif begitu kuat, karena mendapat pengaruh dari apa yang disebut kehidupan/eksistensi objektif yang kosong, longsongan peluru yang hancur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya ada satu jalan kembali menuju ke kenyataan objektif: kita harus membedakan dunia yang berbeda secara terpisah dan secara mendasar mencampuradukkan. Itulah setetes kenyataan objektif yang kita sebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita bicara tentang kenyataan, maksud kita dasarnya adalah dari semua sumber mengucur dalam satu tetes. Sebuah campuraduk dari jutaan kenyataan yang terpisah. Dalam hal ini (realitas kemanusiaan), aku kaitkan dengan pemahaman tentang kenyataan, jika aku menabrakkan pada dunia Mantel, Dr. Jekyll dan Mr. Hyde, atau Metamorfosis, tiap dari cerita ini punya sebuah fantasinya tersendiri. Pada Mantel dan Metamorfosis masing-masing punya tokoh utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas manusia tokoh utama pada Mantel jenisnya berbeda dengan cerita dari Metamorfosis. Tapi keduanya punya kemiripan dalam gairah kemanusiaan. Pada Dr.Jekyll dan Mr. Hyde tak sama, di sini tegangan tidak keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keindahan dari Kafka dan Gogol terletak pada impian pribadi yang menakutkan. Kedua cerita itu punya tokoh utama yang fantastis, membentuk sosok yang bukan manusia. Tokoh utamanya berusaha keluar, untuk melemparkan topeng, tentang mencuatnya Mantel dan Panser. Pada cerita Stevenson tak terdapat konfrontasi dan kesatuan. Aku pikir, Jekylls Elixer dalam dunia nyata sebagai tokoh riel sebagai kehidupan Utterson. Stevenson mengambil tokoh bayangan seperti pada Dicken.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara garis besar perbedaan cerita antara gaya Gogol, Kafka, dan Stevenson sebagai berikut:&lt;br /&gt;Pada Gogol dan Kafka, tokoh utama yang absurd sebagai bagian dari lingkungan yang absurd. Tetapi mereka berusaha keluar dalam eksistensi sebagai manusia meskipun dengan susah payah. Walau pada akhirnya meninggal penuh kebimbangan. Pada Stevenson tokoh utama tidak nyata dari lingkungan dunia khayal. Jekyll/Hyde, sosok yang suka show. Ia berjuang sampai mati, pembaca tak paham. Dengan kata lain aku tak akan bilang, cerita Stevenson tak berguna. Bukan seperti itu, dia dalam wacana konvensional sebagai maestro kecil saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menolak pendapat Max Brod bahwa karya Kafka cenderung menjurus ke dunia kesucian, bukan sastra. Kafka bagiku sebagai seniman dan tiap seniman punya sesuatu yang disucikan. Aku tidak percaya jika kecerdikan Kafka di dalamnya berbau agama. Ia mengajak kembali ke paradigma Freudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metamorfosis adalah produk kompleksitas terhadap ayahnya dan perasaan bersalah berkepanjangan. Sebab itu dijelaskan ada bahasa simbol yang mistis, yakni muncul tokoh anak menjadi binatang kecil yang mengganggu (Ungeziefer). Aku ragu, simbol kecoak itu hadir dalam karya Kafka, pasti itu menggambarkan ajaran Freudian. Ia masukkan aspek psikoanalisis yaitu “kesalahan yang tak terelakan.“ Itulah alasanku, aku lebih suka mengamati seni menulisnya ketimbang wacana Freudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh besar yang menimpa pada Kafka juga sudah dipraktikkan oleh Flaubert. Kafka yang mengusung tema kengerian, karena bahasa Kafka dianggapnya sebagai alat tukang. Perbendaharaan ilmu hukum dan pengetahuan alam menyublin menjadi ironi yang jelas. Temuan Kafka secara pribadi itu juga dialami Flaubert yang punya dampak kesatuan puitis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samsa menjadi pahlawan, anak pengusaha di Praha kelas menengah. Keluarga sebagai ujung tombak, ini juga tampak pada karya Flaubert. Manusia dengan selera rendahan, yang hanya mengurus dunia materi dengan rakus. Lima tahun sebelumnya ayah Kafka terkena denda hutang. Di situ lah Gregor sebagai pengusaha tekstil. Sekarang ayah Gregor hendak melimpahkan bisnisnya. Bagi Grete, adik Gregor akan mengambil alih, dia terlalu muda, sementara ibunya sakit&lt;br /&gt;asma. Tentu saja Gregor muda menjadi kebanggaan keluarga. Gregor mencari rumah kontrakan di Charlottenstrasse, yang kemudian menjadi bagian dari tempat tinggalnya. Karya tersebut ditulis tahun 1912 di Praha, kota tua Eropa. Di Praha itu dulu pembantu masih digaji murah, sebab itu keluarga Samsa mampu memperkerjakan seorang gadis berusia 16 tahun bernama Anna. Ia satu tahun lebih muda dari Grete, serta ditambah seorang juru masak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya Gregor dalam perjalanan bisnis, namun pada malam hari di akhir cerita diselipkan antara dua perjalanan bisnisnya, ia pulang ke rumah. Nah di sini lah terjadi kisah yang mengerikan, “Ketika Gregor Samsa bangun dari mimpi buruknya di suatu pagi, ia temukan dirinya di ranjang sudah berubah menjadi kecoak raksasa. Jika kepalanya sedikit diangkat, ia lihat batok keras mengganjal di punggungnya, perutnya kaku membentuk susunan berlapis-lapis, melengkung, cokelat, setinggi selimut, posisinya curam ke bawah, tak bisa dibayangkan. Matanya kabur, tak berdaya melihat banyak kaki-kaki ramping dibanding yang lainnya.&lt;br /&gt;“Apakah gerangan yang terjadi pada diriku?“ pikir dia.&lt;br /&gt;Itu bukan mimpi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan Gregor dialihkan ke luar jendela, cuacanya murung, terdengar rintik hujan yang jatuh di jendela seng, yang menjadikan Gregor semakin melankolis. “Bagaimana seandainya aku lanjutkan tidur sedikit saja dan melupakan semua kejadian aneh itu.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gregor mencoba seratus kali untuk menutup mata, sehingga tak harus melihat kaki-kaki yang terus menggelisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perihal mata Gregor yang sudah berubah menjadi mata serangga, Nabokov punya analisis kritis:&lt;br /&gt;“Seekor kecoak tak punya kelopak mata (Augenlider), oleh karenanya matanya tidak bisa dikatupkan. Berarti meskipun mata Gregor sudah menjadi mata serangga, namun sebetulnya masih pakai mata manusia.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya setan-setan mengenyahkan semua beban ini. Seperti apa sekarang bentuk serangga yang menjijikkan itu. Gregor yang renta, sebagai traveller kecil yang sudah bermertamorfosis? Dari penggambaran itu jelas tergolong kelompok “kaki yang bergerak-gerak“ (Arthropoda), serangga, binatang penenun, binatang kaki seribu, kerang.  Cerita yang dimulai dengan ilustrasi “banyak kaki,“ dimaksudkan lebih dari jumlah 6 kaki, maka secara ilmu binatang, bisa jadi Gregor bukan termasuk serangga. Namun untuk meninggalkan alasan itu, kita yakini saja Gregor itu serangga dengan kaki enam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu seperti apakah bentuk Gregor itu? Katakanlah Gregor sebagai coro. Namun juga tidak cocok, sebab coro itu pipih tubuhnya dan punya kaki panjang. Perut dan punggung Gregor melengkung serta punya banyak kaki. Namun hanya ada satu pertanda yang menyerupai coro, yakni warnanya cokelat. Itu bukti semua yang ada. Pada perjalanan kisah tersebut, orang akan paham pelan-pelan terhadap perubahan baru yang sangat ekstrem, juga alat peraba/antena dan laki-kaki difungsikan. Kecoak cokelat yang bulat sebesar anjing, sangat kebesaran, maka aku gambar seperti ini: (Lihat di foto album facebook)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pelayan perempuan secara terbuka bicara dengan kecoak bukan tak ramah. Secara ilmu binatang, Gregor sudah selesai menjadi kecoak besar. (aku harus yakinkan, bahwa baik Gregor maupun Kafka dengan jelas telah merujuk ke seekor kecoak.) Perhatikanlah perubahan itu dengan saksama. Perubahan itu mengerikan dan menakjubkan, tak ada persepktif lain, seperti orang pertama kali harus menganggapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah interpretasi logis (Paul L. Landsberg in The Kafka Problem (1946) Hsg. Angel Flores)&lt;br /&gt;“Jika kita tidur di sebuah lingkungan yang tak pasti, sering kali ketika kita bangun seolah-olah menemukan perasaan yang menakjubkan, seperti tiba-tiba tidak nyata, dan kisah traveller itu harus terus melaju, setelah kesadarannya muncul akan berjalan normal.“ Kesan sesungguhnya tergantung dari kemandekan dan kelancaran cerita. Pada akhirnya tak menjadi hal yang pokok, apakah orang terbangun menjadi Napoleon, George Washington atau sebagai serangga. (Aku juga bisa bangun sekali tempo menjadi seorang kaisar dari Brasil).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sisi lain kesunyian berpadu dengan kepemilikan, itulah yang kita sebut sebagai realitas, yakni sesuatu yang oleh seniman, orang genius, penemu seluruh waktunya telah ditandai. Keluarga Samsa yang hidup di lingkungan serangga yang menakjubkan, tak ubahnya secara pukul rata di lingkungan orang genius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabokov menelaah dari segi struktur cerita, yang menurutnya dibagi 7 bagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Suasana Pertama:&lt;br /&gt;Gregor bangun. Dia sendirian. Dia sudah siap akan menjadi kecoak, tapi kesannya dia masih sebagai manusia dan tercampur dengan sebuah insting baru, dimana ia juga calon sebagai serangga. Ilustrasinya berakhir dalam suasana (kemanusiaan) bagian masa yang akan kemasukan. Gregor bimbang, akankah melaporkan sakitnya, tapi asuransi kesehatan akan tahu kalau Gregor itu sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Suasana Kedua:&lt;br /&gt;Ketiga ketukan di pintu kamar dan bicaranya dari depan kamar, dari ruang tamu, dari kamar adik perempuannya. Keluarganya sebagai benalu. Mereka mengeksploitasi dan mengkoyak-koyak Gregor baik dari dalam maupun dari luar. Siapakah ketiga benalu itu? Ayah, ibu dan adik perempuan. Sepintas orang bisa menganggap benalu pertama adalah sang ayah. Tepi ternyata bukan. Justru adik kesayangannya yang paling dekat yang dianggap paling kejam. Adik perempuannya mengkhianatinya dan memulai dengan narasi menarik mebel di tengah cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Susana Ketiga:&lt;br /&gt;Kepayahan bangun, Gregor berpikir sebagai manusia, namun sudah cenderung sebagai kecoak. Bagi Gregor, tubuhnya masih selalu seorang manusia. Ia percayai seorang manusia pada bagian bawah, tapi pada bagian belakang itu seekor kecoak, seorang manusia pada bagian atas, tapi pada bagian depan itu kecoak. Seorang manusia yang punya formasi empat bagian ke dalam seekor kecoak yang punya formasi enam bagian. Gregor masih selalu menaruh lagi sepasang kakinya yang ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Suasana Keempat:&lt;br /&gt;Ibu dan ayah bergabung dengan manajer. Suara Gregor yang tegas itu semakin melemah, sehingga orang tak bisa mengerti lagi. (20 tahun berikutnya James Joyce menulis novel Finnegans Wake yang mengubah di atas arus sungai satu sama lainnya, pelan-pelan menguat dan menjadi batu.)&lt;br /&gt;Gregor tidak mengerti, kenapa adik perempuannya tidak bergabung saja dengan orang-orang lain. Gregor sudah terbiasa membantu keluarganya bagaikan alat tukang saja. Sebab itu tak perlu berbelas kasihan, ia tak sekalipun membuat Grete sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Suasana Kelima:&lt;br /&gt;Gregor membuka pintu. Pintu itu sudah terbuka lebar dan dia sendiri belum bisa melihat. Dia sendiri harus mendorong daun pintu dengan sangat hati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.Suasana Keenam:&lt;br /&gt;Gregor mencoba menenangkan manajernya, karena ia tak ingin kehilangan pekerjaan. “Sekarang,“ kata Gregor yang sudah sadar dengan baik, bahwa dia harus tetap tenang, “aku akan segera berpakaian, mengemasi dan langsung pergi. Inginkah Anda? Aku harus segera pergi? Sekarang Tuan Manajer, Anda sudah lihat, aku bukan keras kepala dan aku senang bekerja; perjalanan bisnis itu memang berat, tapi aku tidak bisa hidup tanpa melakukan perjalanan bisnis ini. Ke mana Tuan Manajer setelah ini? Di kantor? Ya? Akankah Anda menceritakan semua kebenaran ini? Sementara ini orang tak bisa mampu bekerja, tapi nanti pada waktu yang tepat, pasti akan bekerja mencapai puncaknya, justru jika hambatannya sudah lewat, pasti akan semakin rajin dan menumpuk kerjanya.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.Suasana Ketujuh:&lt;br /&gt;Sang ayah menggiring Gregor dengan kasar kembali ke kamarnya memakai tendangan kaki dan tonjokan pentungan di tangan, sedang tangan lainnya nemakai kertas koran. Kondisi ini membuat Gregor kesulitan melewati pintu yang baru dibuka separuh. Tapi karena desakan sang ayah, ia lakukan. Pintu itu juga dipukul dengan pentungan dan akhirnya sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0O0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Nabokov disebut-sebut dari beberapa sumber, ia sebagai novelis yang sangat teliti. Dari kata ke kata benar-benar ia cermati. Ben Abel, seorang kawan memberitahu, Ben Anderson di Cornell dulu pernah mengikuti semacam perkuliahan langsung dari Nabokov. Apa kesan Ben Anderson? Katanya, tidak menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Diringkas oleh: Sigit Susanto)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/353989214924491867-6066966108198236229?l=membacakafka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://membacakafka.blogspot.com/feeds/6066966108198236229/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=353989214924491867&amp;postID=6066966108198236229' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/6066966108198236229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/6066966108198236229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://membacakafka.blogspot.com/2011/08/komentar-nabokov-tentang-metamorfosis.html' title='Komentar Nabokov tentang Metamorfosis'/><author><name>pembacakafka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15073329425967061288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-orEXBPBTPP4/TlaDQllPyvI/AAAAAAAAAFM/sF_vMjN1NuM/s72-c/gedicht%2Bzu%2Bpfl%25C3%25BCcken%2B080.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-353989214924491867.post-5989369885594736324</id><published>2011-01-11T11:43:00.000-08:00</published><updated>2011-01-11T23:10:21.940-08:00</updated><title type='text'>Metamorfosis, Cetakan Pertama 1915</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TSy3-UXVt1I/AAAAAAAAAEs/S6F9BnHcEXE/s1600/378px-Kafka_Starke_Verwandlung_1915.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 126px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TSy3-UXVt1I/AAAAAAAAAEs/S6F9BnHcEXE/s200/378px-Kafka_Starke_Verwandlung_1915.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5561021921142093650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Novelet &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Metamorfosis&lt;/span&gt; (Die Verwandlung) telah selesai tahun 1912. Karya tersebut pertama kali pada Oktober 1915 dimuat di sebuah koran bernama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Weissen Blättern &lt;/span&gt;(Halaman-Halaman Putih) di bawah redaktur Rene Schickele. Pada bulan yang sama 1915 langsung dicetak dalam bentuk buku. Penerbitnya Kurt Wolff, dibawah editor Georg Heinrich Meyer (47 tahun). Metamorfosis diterbitkan dalam deret judul buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Der Jünge Tag" &lt;/span&gt;(Hari Terbaru). Pada usia ke 32 tahun Kafka memegang karya perdananya. &lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/353989214924491867-5989369885594736324?l=membacakafka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://membacakafka.blogspot.com/feeds/5989369885594736324/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=353989214924491867&amp;postID=5989369885594736324' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/5989369885594736324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/5989369885594736324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://membacakafka.blogspot.com/2011/01/metamorfosis-cetakan-pertama-1915.html' title='Metamorfosis, Cetakan Pertama 1915'/><author><name>pembacakafka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15073329425967061288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TSy3-UXVt1I/AAAAAAAAAEs/S6F9BnHcEXE/s72-c/378px-Kafka_Starke_Verwandlung_1915.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-353989214924491867.post-5000644524878784802</id><published>2010-11-13T00:26:00.000-08:00</published><updated>2010-11-13T01:22:12.768-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sketsa'/><title type='text'>Sketsa-Sketsa Kafka</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TN5UshCJFdI/AAAAAAAAAEg/5D1V0fKaTKM/s1600/griechenland%2B2010%2B179.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TN5UshCJFdI/AAAAAAAAAEg/5D1V0fKaTKM/s200/griechenland%2B2010%2B179.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538957715470620114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TN5UdBaXIbI/AAAAAAAAAEY/f8gz-iLasIM/s1600/griechenland%2B2010%2B182.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TN5UdBaXIbI/AAAAAAAAAEY/f8gz-iLasIM/s200/griechenland%2B2010%2B182.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538957449284231602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TN5UYzIpB5I/AAAAAAAAAEQ/DtvnTdMloxY/s1600/griechenland%2B2010%2B181.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TN5UYzIpB5I/AAAAAAAAAEQ/DtvnTdMloxY/s200/griechenland%2B2010%2B181.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538957376732333970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TN5UR68mB3I/AAAAAAAAAEI/eC2BoBVw-10/s1600/griechenland%2B2010%2B180.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TN5UR68mB3I/AAAAAAAAAEI/eC2BoBVw-10/s200/griechenland%2B2010%2B180.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538957258570205042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TN5T78lCdMI/AAAAAAAAAEA/XOrvrxNKFQ4/s1600/griechenland%2B2010%2B177.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TN5T78lCdMI/AAAAAAAAAEA/XOrvrxNKFQ4/s200/griechenland%2B2010%2B177.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538956881051153602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TN5T06HnB_I/AAAAAAAAAD4/xcre9fwiwRA/s1600/griechenland%2B2010%2B176.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TN5T06HnB_I/AAAAAAAAAD4/xcre9fwiwRA/s200/griechenland%2B2010%2B176.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538956760131766258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TN5TutN73wI/AAAAAAAAADw/yNUSo3B-wXk/s1600/griechenland%2B2010%2B175.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TN5TutN73wI/AAAAAAAAADw/yNUSo3B-wXk/s200/griechenland%2B2010%2B175.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538956653589421826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TN5TmQYhafI/AAAAAAAAADo/Sioyfy0WD9A/s1600/griechenland%2B2010%2B173.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TN5TmQYhafI/AAAAAAAAADo/Sioyfy0WD9A/s200/griechenland%2B2010%2B173.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538956508410243570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TN5TRY8apNI/AAAAAAAAADY/WT3AmxTcoNE/s1600/griechenland%2B2010%2B172.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TN5TRY8apNI/AAAAAAAAADY/WT3AmxTcoNE/s200/griechenland%2B2010%2B172.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538956149931025618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TN5TI2U0TaI/AAAAAAAAADQ/iyN5t6zaFRA/s1600/griechenland%2B2010%2B171.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TN5TI2U0TaI/AAAAAAAAADQ/iyN5t6zaFRA/s200/griechenland%2B2010%2B171.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538956003199176098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TN5TD3vvw1I/AAAAAAAAADI/yFOzXZ5PNm8/s1600/griechenland%2B2010%2B170.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TN5TD3vvw1I/AAAAAAAAADI/yFOzXZ5PNm8/s200/griechenland%2B2010%2B170.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538955917681214290" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TN5S8mpxMWI/AAAAAAAAADA/kiYOm3DLKDI/s1600/griechenland%2B2010%2B169.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TN5S8mpxMWI/AAAAAAAAADA/kiYOm3DLKDI/s200/griechenland%2B2010%2B169.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538955792833655138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TN5NrwvTvyI/AAAAAAAAACo/7BDsFX0Tozg/s1600/griechenland%2B2010%2B188.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sketsa-Sketsa Kafka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jarang diperbincangkan orang, bahwa Kafka punya keisengan membuat sketsa. Coraknya abstrak, kadang menyerupai coretan anak kecil, tapi kebanyakan punya kejiwaan yang tinggi. Manusia-manusia yang digambar Kafka tidak jelas, simbolis, melankolis. Sepertinya corak tulisan pada teks dan gambar, ada keterkaitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini ada 12 sketsa Kafka yang diambil oleh Max Brod dan diletakkan pada halaman akhir karya Max Brod tentang biografi Kafka berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tentang Franz Kafka&lt;/span&gt; (Über Franz Kafka)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber: Max Brod, Über Franz Kafka, Ficher Bücherei, 1966)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/353989214924491867-5000644524878784802?l=membacakafka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://membacakafka.blogspot.com/feeds/5000644524878784802/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=353989214924491867&amp;postID=5000644524878784802' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/5000644524878784802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/5000644524878784802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://membacakafka.blogspot.com/2010/11/sketsa-sketsa-kafka.html' title='Sketsa-Sketsa Kafka'/><author><name>pembacakafka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15073329425967061288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TN5UshCJFdI/AAAAAAAAAEg/5D1V0fKaTKM/s72-c/griechenland%2B2010%2B179.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-353989214924491867.post-2852544766505528854</id><published>2010-10-28T07:47:00.000-07:00</published><updated>2011-01-10T07:43:58.590-08:00</updated><title type='text'>KAFKA ABCD</title><content type='html'>KAFKA ABCD&lt;br /&gt;Semacam susupan berbagai ungkapan, istilah yang terkait dengan karya dan sosok Kafka.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;FABEL KECIL&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;"Ah," kata tikus, "dunia ini setiap hari semakin menciut. awalnya begitu luas, bahwa aku takut, aku jalan terus dan bahagia, akhirnya tampak di kejauhan tembok di kanan-kiri, tapi tembok panjang itu begitu lekas menutup, hingga aku berada di ruangan terakhir dan di situ di pojok yang aku lalui ada perangkap." "Kamu harus mengubah arah jalan," kata kucing dan memangsanya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Franz Kafka - Sämtliche Erzählungen)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAFKAESQUE&lt;br /&gt;"Kafkaesque" adalah kata yang masuk ke dalam pemakaian bahasa Inggris umum yang berasal dari sastra Jerman. Adjektiva itu punya sederet arti yakni: ngeri, misterius, birokrasi yang berbelit-belit, mimpi buruk dan menakutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(J.S. Stern)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;"Kafkaesque" is the only word in common English use which derives from  German literature. Its meanings range from `weird`, `mysterious`, `tortuously  bureaucratic`to `nightmarish`and `horrible`&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(J.P. Stern)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;/div&gt; &lt;div&gt;Kafka, siang bisa mikirkan Tuhan, Yahudi, sastra, kawan, cewek, ayah,  kerja, tubuhnya. Tapi malam memasuki proses menulis, semua ditanggalkan. Semua  problemnya terpecahkan, jika ia menulis. Hidup uNtUk menulis, bukan menulis uNtUk  hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Peter von Matt)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;REINER STACH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Kafka bukan membawa pulang senjata dan bendera ke rumahnya, tapu pengalaman Perang Dunia I, ia rekonstruksi menjadi sebuah kisah berdasar renungan lama dan kenapa itu menjadi pembicaraan panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber: Die Jahre der Erkenntnis - Reiner Stach)&lt;br /&gt;*NOTE:&lt;br /&gt;Reiner Stach adalah penulis Jerman tentang biografi Kafka terbaru tahun 2008 dan terbit dalam dua jilid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SURAT BONEKA&lt;br /&gt;Dora Dymant, istri Kafka bercerita kepada Max Brod, perihal pengalamannya berjalan-jalan dengan Kafka. Suatu saat Dora dan Kafka berjalan di sebuah taman kota Steglitz di Berlin. Di situ mereka memergoki ada bocah kecil menangis, karena bonekanya hilang. Kafka menghibur bocah itu dengan bilang, "Tapi bonekamu tidak hilang sama sekali, ia hanya berjalan-jalan. Aku tadi melihatnya dan sempat bicara dengannya. Ia bilang akan menulis surat kepadamu. Besok pagi pada jam seperti ini, aku akan serahkan surat dia untukmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata bocah itu berhenti menangis. Dan Kafka benar-benar menepati janjinya, esok harinya ia menulis surat fantasi, seolah-olah sebagai boneka yang sedang bepergian dan diberikan bocah itu.  Akhirnya terjadilah koresponden atas nama boneka dan bocah tadi. Peristiwa nyata itu berlangsung hingga berminggu-minggu. Ketika Kafka berpindah rumah dan sibuk, ia masih mengingat kisah boneka dan bocah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber: Über Franz Kafka (Tentang Franz Kafka)- Max Brod.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NOTE:&lt;br /&gt;Cara Kafka berbohong, agar bocah lerai tangisnya, mirip dengan kultur kita. Banyak orang tua kita dulu di Jawa khususnya, jika melihat anak mereka jatuh tersandung dan menangis, ibu-ibu bilang: Kodoke Mlayu (Kataknya Lari). Saat itu tentu konsentrasi anak ke seekor katak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/353989214924491867-2852544766505528854?l=membacakafka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://membacakafka.blogspot.com/feeds/2852544766505528854/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=353989214924491867&amp;postID=2852544766505528854' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/2852544766505528854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/2852544766505528854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://membacakafka.blogspot.com/2010/10/kafka-abcd.html' title='KAFKA ABCD'/><author><name>pembacakafka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15073329425967061288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-353989214924491867.post-1427372912850415856</id><published>2010-09-17T11:44:00.000-07:00</published><updated>2010-12-22T22:51:33.985-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='surealis'/><title type='text'>Pemburu Gracchus</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TJURGOqLtsI/AAAAAAAAACg/WQ3Tt2zLUhY/s1600/Der+J%C3%A4ger+Gracchus+ilustrasi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TJURGOqLtsI/AAAAAAAAACg/WQ3Tt2zLUhY/s320/Der+J%C3%A4ger+Gracchus+ilustrasi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5518335717124323010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;" lang="de-CH"&gt;Seri Surealis - 1&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: left;" lang="de-CH"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="CENTER" lang="de-CH"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;Pemburu Gracchus&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="CENTER" lang="de-CH"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="CENTER" lang="de-CH"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;Franz Kafka*&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="CENTER" lang="de-CH"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dua anak laki-laki duduk di tembok dermaga dan bermain dadu. Seorang laki-laki membaca koran pada tangga monumen di bawah bayangan pahlawan yang sedang mengayunkan pedang. Seorang gadis di sumur mengisi air di tongnya. Seorang pedagang sayur laki-laki berebahan di samping dagangannya dan memandang ke arah danau. Dari dalam kafe, ada orang mengintip lewat pintu dan lubang jendela, di situ ada dua orang sedang minum anggur. Pemilik kafe itu duduk di depan pada sebuah meja dan tidur-tiduran. Sebuah tandu mengambang pelan, sepertinya sedang diangkut di atas air di sebuah pelabuhan kecil. Seorang lelaki mengenakan baju kerja warna biru turun dan menarik talinya lewat jeruji. Dua lelaki lain mengenakan mantel warna gelap yang berkancing perak memikul tandu di belakang pegawai perahu, di bawah sana tergeletak dengan jelas seorang yang mengenakan kain sutera berenda bunga besar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di dermaga itu tak ada orang yang mengurus pendatang baru, sendirian ketika mereka menurunkan tandunya, sambil menunggu pegawai perahu, tali-tali masih dikerjakan,  tak ada orang yang masuk, tak ada orang yang mengajukan sebuah pertanyaan kepada mereka, tak seorang pun lebih memperhatikan mereka dengan saksama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pimpinan perahu sekarang menunjukkan dek perahu dengan leluasa melalui seorang perempuan, berambut terurai yang anaknya masih menindih dada. Kemudian datang lah dia dari sebuah rumah warna kuning tingkat dua, yang sedikit menanjak lurus dekat air, tukang pikul membawa beban dan mengangkatnya lewat tempat yang agak rendah, tapi lewat pintu bangunan pilar-pilar ramping. Seorang bocah kecil membuka jendela, langsung tahu, bagaimana rombongan itu menghilang di rumah, dan dengan cepat menutup lagi jendelanya. Pintunya sekarang juga tertutup, yang dibuat dari kayu eik hitam yang rapi. Sekelompok merpati telah terbang mengelilingi menara jam, sekarang hinggap di depan rumah. Ketika mereka akan mencari makanan, merpati-merpati itu berkumpul di depan pintu. Seekor terbang sampai ke lantai pertama dan mematuk kaca jendela. Itu merpati-merpati yang berwarna cerah, menarik, gesit. Dengan ayunan yang kuat, ibu itu melemparkan biji-bijian ke arah merpati-merpati, mereka berkerumun dan terbang melintasi ibu itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Seorang laki-laki mengenakan topi bundar dengan ikat simbol kesedihan menuruni lorong sempit yang penuh sampah menuju ke pelabuhan. Dia menoleh ke sana-kemari, semua dalam pantauannya, pandangannya tertuju pada sampah di pojok, wajahnya menjadi muram. Di tangga monumen tercecer kulit buah, sambil lewat dia menggaruk-garuk kulit buah itu ke bawah dengan tongkatnya. Di pintu ruang tamu, dia mengetuk sekaligus dia mengambil topi bundarnya dengan tangan kanan yang berkaus tangan hitam. Segera terbuka, lima puluh bocah laki-laki dengan riang berbaris dua-dua di gang dan membungkuk.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pimpinan perahu menuruni tangga, menyalami orang laki-laki di situ, diajak naik ke lantai pertama , pimpinan perahu itu merasa ringan untuk bergaul dengan dia, pekarangan bangunan itu dikelilingi hiasan dan keduanya masuk, sementara bocah-bocah laki-laki dari kejauhan saling mendorong dengan penuh sopan, di sebuah kamar besar yang dingin di belakang samping rumah, tampak  di seberangnya tak ada rumah lagi, melainkan hanya sebuah ladang tandus dengan tembok batu karang hitam ke abu-abuan. Tukang pikul supaya kelihatan sibuk, menindih tandunya dengan beberapa lilin panjang dan dinyalakan, tapi tidak ada api, sesungguhnya dulu hanya bayang-bayang sepi yang seram dan berkedip-kedip di atas dinding. Dari tandu itu hanya dililit selendang. Di tandu itu berbaring seorang laki-laki dengan rambut dan jenggot yang tumbuh liar tak beraturan, berkulit cokelat, seperti seorang pemburu. Dia tergeletak tak bergerak, sepertinya juga tak bernapas dan terpejam matanya, meski demikian hanya mengesankan di sekitarnya, bahwa itu mungkin sebuah mayat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Orang laki-laki itu melangkah ke tandu, meletakkan tangannya ke dahi, kemudian berjongkok, dan berdoa. Pemimpin perahu memberi isyarat dengan tangan kepada tukang pikul, agar meninggalkan ruangan, mereka keluar menghalau bocah-bocah laki-laki, yang masih berkumpul di luar, dan menutup pintu. Orang laki-laki itu tampaknya juga tak diam sepenuhnya, dia memandang pemimpin perahu, menyadari dan pergi ke kamar sebelah lewat sebuah pintu samping. Orang yang tergeletak itu membentur tandu, matanya terbelalak, wajahnya berubah tertawa kecut kepada orang laki-laki di situ dan mengatakan: "Siapa kamu?" - Orang laki-laki yang sedang berlutut itu bangkit tanpa rasa heran dan menjawab: “Wali kota dari Riva."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Orang di tandu itu mengangguk, menampakkan kondisi lengannya yang lemah di kursi dan berkata, setelah memenuhi undangan wali kota: "Saya tahu, tuan wali kota, tapi awalnya sekejap saya selalu lupa semuanya, bagi saya semuanya terjadi sesuai urutan dan itu lebih baik, saya tanya, walau pun saya sudah tahu semuanya. Juga Anda mungkin sudah tahu, bahwa saya pemburu Gracchus."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;"Tentu," kata wali kota. "Anda memberitahu saya malam hari ini. Kami tidur pulas. Di tengah malam istri saya memanggil: "Salvatore," -itu nama saya- "lihatlah merpati di jendela!" Itu benar-benar seekor merpati, tapi besar seperti seekor ayam. Merpati itu terbang ke telinga saya dan berbisik: "Besok datang seorang pemburu Gracchus yang sudah mati, sambutlah dia atas nama seluruh warga kota." Pemburu itu mengangguk dan menarik ujung lidahnya melalui di antara kedua bibirnya: "Ya, merpati-merpati itu sebelumnya terbang menghampiriku. Yakinkah Anda, tuan wali kota, bahwa saya harusnya tinggal di Riva?" "Saya belum bisa menjawabnya," jawab wali kota. "Anda sudah mati?" "Ya," kata pemburu, "seperti yang Anda lihat. Beberapa tahun lalu, tapi pastinya sudah bertahun-tahun, saya tergelincir dari sebuah batu wadas di Schwarzwald - itu di Jerman, ketika saya menguntit seekor kambing gunung. Sejak itu saya mati." "Tapi Anda masih hidup juga," kata wali kota.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;"Boleh dikatakan begitu," kata pemburu, "agaknya saya juga hidup. Perahu yang mengantar kematian saya salah jalan, sebuah putaran yang salah pada setir navigasinya, sebuah ketidak hati-hatian dari pimpinan perahu, membelok ke arah alam kehidupan saya yang indah, saya tidak tahu, apa itu, yang saya ketahui, bahwa saya tinggal di bumi dan bahwa perahu saya sejak itu telah berlayar di perairan duniawi. Begitulah saya bepergian, yang hanya ingin hidup di pegunungan, setelah kematian saya melewati semua negara-negara di bumi." "Dan Anda tidak punya bagian di akhirat?" tanya wali kota dengan dahi mengkerut. “Saya,“ jawab pemburu, "selalu di tangga besar, menuju ke atas. Pada tangga yang luas tak terbatas itu saya berkeliling, kadang ke atas, kadang ke bawah, kadang ke kanan, kadang ke kiri, selalu saja bergerak. Dari seorang pemburu berubah menjadi seekor kupu-kupu. Anda jangan tertawa." "Saya tidak tertawa," wali kota itu membatinnya saja. "Sangat bisa dimengerti," kata pemburu. "Saya selalu bergerak. Tapi saya melompat jauh dan di atas pintu saya tersorot, saya bangkit dari usia saya, sudah di dalam perahu air yang sunyi di suatu daratan. Kesalahan fatal kematian saya yang sekali itu, saya meringis di bilik perahu. Julia, istri pimpinan perahu mengetuk pintu dan membawakan saya minuman pagi negeri itu ke tandu saya, kami segera melayari ke pesisir itu. Saya berbaring di sebuah balai-balai kayu, tapi saya tak merasa nyaman, memandang berlama-lama - sebuah pakaian mayat yang kotor, rambut, jenggot, abu-abu dan hitam, tak bisa dibereskan berantakan, paha-paha saya ditutupi dengan selendang perempuan panjang berhiaskan bunga sutera besar. Di depan kepala saya terletak sebuah lilin gereja dan menyala ke arah saya. Di dinding seberang saya terdapat sebuah foto kecil, jelas seorang dari semak belukar, yang memegang tombak mengarah ke saya dan kemungkinan di belakang ditutup dengan plang bergambar menakjubkan. Orang yang bertemu di perahu kadang menggambarkan hal yang tolol, tapi ini adalah yang paling tolol. Kalau tidak, keranjang kayu saya ini akan sama sekali kosong. Lewat sebuah lubang di sisi dinding mengalir udara malam yang panas dari arah selatan, dan saya dengar air mengombang-ambingkan tandu tua. Di sinilah saya tinggal sejak dulu, ketika saya masih hidup menjadi pemburu Gracchus, di rumah di Schwarzwald saya menguntit kambing gunung dan terperosok. Semuanya kembali normal lagi. Saya membuntuti, saya jatuh, mati kehabisan darah di jurang dan tandu ini seharusnya membawa saya ke akhirat. Saya masih ingat, betapa senangnya saya di sini pertama kalinya terlentang di balai-balai. Tak pernah pegunungan ini mendengar nyanyian saya, seperti dulu empat dinding-dinding yang masih remang-remang. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Saya dulu senang hidup dan senang mati, saya terlempar bahagia, sebelum saya masuk di pinggir perahu, mengumpulkan kaleng-kaleng bekas, tas-tas, senjata pemburu di depan bawah saya, saya selalu bangga memakainya, dan menyelinap di pakaian mayat, bagaikan seorang gadis yang mengenakan pakaian perkawinan. Di sini saya berbaring dan menunggu. Dan terjadi musibah." "Sebuah nasib yang malang," kata wali kota menampik dengan mengangkat tangan. "Dan Anda tak merasa bersalah?" "Tidak," kata pemburu itu, "saya pemburu, apakah itu sebuah kesalahan? Sudah ditakdirkan saya sebagai pemburu di Schwarzwald, dimana dulu masih terdapat serigala. Saya bersembunyi untuk mengintai, menembak, bertatapan, diambil kulitnya, apakah itu salah? Pekerjaan saya telah direstui. `Pemburu terbesar di Schwarzwald adalah saya.` Apakah itu sebuah kesalahan?"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;"Saya tak punya tugas untuk memutuskan hal itu," kata wali kota, "toh juga tak terdapat kesalahan pada saya. Tapi siapa yang bersalah?" &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;"Orang di perahu," kata pemburu. "Tak pernah dibaca orang, apa yang saya tulis, tak pernah ada orang datang, membantu saya; sebenarnya menurut hukum ada orang yang membantu saya, semua pintu rumah terkunci, semua jendela tertutup, semua tertidur, selimutnya menutup kepala, sebuah pondokan malam di seluruh bumi. Itu hal yang baik, sehingga tak seorang pun tahu tentang saya, mengertikah dia dari saya, sehingga dia tak mengerti dimana persinggahan saya, dan tahukah dia persinggahan saya, tahukan dia, bila saya tak menetap lama di sana, tidak tahukah dia, bagaimana membantu saya. Pemikiran untuk membantu saya, adalah sebuah penyakit dan harus berbaring di tempat tidur untuk disembuhkan. Itu saya tahu dan juga tak perlu berteriak, meminta bantuan, bila saya sendiri sementara ini - tak berkuasa seperti saya, contoh langsung sekarang - sangat prihatin. Tapi cukup senang untuk mengusir pemikiran seperti itu, bila saya melihat sekeliling dan membayangkan saya, dimana saya berada - saya bisa menganggap gembira - sejak berabad-abad saya tinggal."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;“&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Luar biasa," kata wali kota, "luar biasa." "Dan sekarang Anda memperingatkan pada kita untuk tinggal di Riva?" &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;"Saya tak memperingatkan," kata pemburu tertawa dan sambil membenarkan ejekannya, tangannya ditaruh di lutut wali kota. "Saya di sini, saya tidak tahu lebih banyak, lebih dari itu saya tidak bisa lakukan. Perahu saya tanpa setir, perahu itu berjalan dengan kekuatan angin, yang bertiup pada bagian daerah terbawah kematian."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="CENTER" lang="de-CH"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="CENTER" lang="de-CH"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;^0O0^&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="CENTER" lang="de-CH"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Judul asli: Der Jäger Gracchus&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Diterjemahkan: Sigit Susanto&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ilustrasi: Thomas Titus&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="CENTER" lang="de-CH"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/353989214924491867-1427372912850415856?l=membacakafka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://membacakafka.blogspot.com/feeds/1427372912850415856/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=353989214924491867&amp;postID=1427372912850415856' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/1427372912850415856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/1427372912850415856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://membacakafka.blogspot.com/2010/09/pemburu-gracchus.html' title='Pemburu Gracchus'/><author><name>pembacakafka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15073329425967061288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TJURGOqLtsI/AAAAAAAAACg/WQ3Tt2zLUhY/s72-c/Der+J%C3%A4ger+Gracchus+ilustrasi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-353989214924491867.post-994757236803341488</id><published>2010-08-04T00:02:00.000-07:00</published><updated>2010-08-04T00:27:58.801-07:00</updated><title type='text'>Manuskrip Kafka Mendarat di Pengadilan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span lang="DE-CH"&gt;Sigit Susanto*&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="DE-CH"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TFkWE5FoYyI/AAAAAAAAACI/fhrIvx4zdtI/s1600/kafka-franz.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 148px; height: 203px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TFkWE5FoYyI/AAAAAAAAACI/fhrIvx4zdtI/s320/kafka-franz.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5501452693109498658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="DE-CH"&gt;Jika sebuah buku dicekal oleh pengadilan, sepertinya agak biasa, tapi bagaimana dengan manuskrip yang harus berurusan dengan pengadilan? Franz Kafka (1833-1924), sastrawan Yahudi asal Praha tak hanya karyanya yang terus dibicarakan warga dunia, namun warisan manuskrip asli&lt;/span&gt;&lt;span lang="DE-CH"&gt;nya juga berkepanjangan hingga kini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="DE-CH"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="DE-CH"&gt;Max Brod (1884-1968) adalah sahabat karib Kafka. Keduanya pernah punya cita-cita sama, yakni kembali ke negeri leluhur mereka di Israel. Niat itu tidak sampai dilakukan oleh Kafka, ia keburu &lt;/span&gt;&lt;span lang="DE-CH"&gt;meninggal tahun 1924, karena serangan tuberkulosis. Namun Brod telah membuktikan impiannya. Ketika tentara Nazi masuk Praha tahun 1939, Brod berhasil meloloskan diri. Awalnya ia hendak menuju USA, na&lt;/span&gt;&lt;span lang="DE-CH"&gt;mun gagal. Akhirnya lewat negeri Balkan dan Konstantinopel, ia berhasil sampai ke Israel. Dalam pelariannya itu ia sambil membawa dua koper kulit. Kedua koper tersebut berisi barang-barang milik Kafka antara lain, manuskri&lt;/span&gt;&lt;span lang="DE-CH"&gt;p, sketsa, kartu pos dan dokumen lain. Selai&lt;/span&gt;&lt;span lang="DE-CH"&gt;n manuskrip yang di&lt;/span&gt;&lt;span lang="DE-CH"&gt;bawa Brod, masih ada di pihak-pihak lain. Misalnya, pada Felice Bauer, bekas pacar Kafka di Berlin dan juga Dora Diamant, bekas istri Kafka. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="DE-CH"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TFkWWD877fI/AAAAAAAAACQ/OGkDjg2V-CU/s1600/foto+max+brod.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 169px; height: 225px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TFkWWD877fI/AAAAAAAAACQ/OGkDjg2V-CU/s320/foto+max+brod.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5501452988083596786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="DE-CH"&gt;Testamen Berbuah Testamen&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="DE-CH"&gt;Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa Kafka pernah membuat dua testamen kepada, Max Brod untuk membakar beberapa karyanya. Testamen pertama, &lt;i style=""&gt;"Max Brod yang terhormat, milik saya..." &lt;/i&gt;(ditulis1920/1921). Testamen kedua, &lt;i style=""&gt;"Max Brod yang terhormat, mungkin..."&lt;/i&gt; (ditulis 1922/1923). Isi k&lt;/span&gt;&lt;span lang="DE-CH"&gt;edua testamen tersebut intinya menyuruh Brod untuk membakar warisan karya tulisnya, dimana pada testamen pertama hanya menyinggung semua warisan karya yang ditulis tangan, sedang pada testamen kedua tentang karya sastra yang sudah dicetak dengan perkecualian yang berjudul&lt;i style=""&gt; "Meditasi" &lt;/i&gt;(Betrachtung) dan termasuk juga pada artikel yang telah tercetak berserakan di orang lain dan prosa-prosa pendek. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="DE-CH"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="DE-CH"&gt;Brod melakukan hal yang sebaliknya, bukan membakar karya Kafka, justru menerbitkan. Alasan Brod sederhana, pada sebuah percakapan di kafe niat itu diutarakan Kafka kepada Brod secara lisan. Saat itu Brod langsung menolak. Berarti ia sudah menjawab permohonan Kafka. Pertimbangan Brod setelah Kafka meninggal, jika Kafka memang benar-benar berniat membakar karyanya, kenapa tidak membuat testamen baru dan ditujukan kepada orang lain? Akhirnya Brod lah yang punya hak kuasa atas karya-karya Kafka. Sebagian besar karya Kafka telah ia terbitkan, meskipun tidak semua. Seandainya Brod benar-benar melaksanakan kehendak Kafka, bisa te&lt;/span&gt;&lt;span lang="DE-CH"&gt;rjadi sastra dunia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kehilangan huruf K, artinya, tanpa Kafka. Terbukti karya Kafka menjadi salah satu yang penting di abad 20. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;Italo Calvino dalam bukunya &lt;i style=""&gt;"The Uses of Literature“ &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;menyebutkan, nama Kafka telah menjadi ikon sastra resmi dengan menetapkannya sebagai kata sifat &lt;i style=""&gt;"Kafkais“&lt;/i&gt;(Kafkaesque). &lt;/span&gt;&lt;span lang="DE-CH"&gt;Penggemar karya Kafka layak berterima kasih kepada jasa Brod. Meskipun dalam mengumpulkan karya-karya tersebut ia harus mengabaikan rasa malu. Tak jarang ia dicemburui oleh Diamant, yang dituduh untuk kepentingan komersil Brod.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="DE-CH"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-variant: small-caps;" lang="DE-CH"&gt;Di Israel Brod berkenalan dengan sesama pengungsi asal Praha bernama Otto Hoffe dan istrinya Ilse Ester Hoffe (1904-2007). Selanjutnya Ester menjadi sekretaris Brod yang bertugas mengedit dan mengoreksi naskah. Karena hubungan keduanya semakin intim, Ester menjadi pacar Brod. Sejak tahun 1945 semua manuskrip Brod dan milik Kafka telah diberikan kepada Ester. Pada 1956 terjadi krisis di terusan Suez, Brod menyimpan manuskrip Kafka pada &lt;i style=""&gt;Safe Deposit Box No: 6588 &lt;/i&gt;pada Bank UBS di Zürich, Switzerland. Seluruhnya ada 10 box, 4 berada di Zürich dan 6 ada di Tel Aviv. &lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="DE-CH"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-variant: small-caps;" lang="DE-CH"&gt;Sebelum Brod meninggal tahun 1968, ia sudah memberikan sebuah testamen kepada Ester atas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;semua karyanya, buku hariannya termasuk semua manuskrip Kafka. Pada 2007 Ester meninggal dunia pada usia 101 tahun dan ia telah memberikan testamen selanjutnya kepada dua anak perempuannya, Eva Hoffe dan Ruth Wisler. Di sinilah testamen berbuah testamen.&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-variant: small-caps;" lang="DE-CH"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-variant: small-caps;" lang="DE-CH"&gt;Lelang Naskah dan Kepentingan Israel&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TFkV8qgEgZI/AAAAAAAAACA/u7nBlPflXro/s1600/Manuskript+asli+Der+Prozess.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 213px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TFkV8qgEgZI/AAAAAAAAACA/u7nBlPflXro/s320/Manuskript+asli+Der+Prozess.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5501452551754908050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-variant: small-caps;" lang="PT-BR"&gt;Pada Januari 2010 ini kedua anak perempuan Ester, Eva dan Ruth bermaksud meminta legitimasi hukum pada pengadilan di Tel Aviv. Tiba-tiba Perpustakaan Nasional dan Arsip Nasional Israel hendak mengambil alih manuskrip Kafka. Pihak pemerintah Israel menganggap karya Kafka sebagai aset budaya nasional yang harus dikuasai dan dilestarikan oleh negara. Pihak pemerintah Israel mendesak agar ke 10 box penyimpan manuskrip Kafka segera bisa dibuka. Termasuk manuskrip Kafka yang dimiliki perorangan dan lembaga arsip. Shmuel Har Noy, dari Perpustakaan Nasional Israel mengemukakan pada koran Jerman &lt;i style=""&gt;Zeit&lt;/i&gt;, “The rightful place of the Kafka Papers is the National Library of Israel.”&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-variant: small-caps;" lang="DE-CH"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-variant: small-caps;" lang="PT-BR"&gt;Reiner Stach, penulis biografi Kafka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menuturkan pada koran Jerman &lt;i style=""&gt;Der Tagesspiegel&lt;/i&gt; (30/7), Ester pernah menjual surat Kafka yang ditujukan kepada Brod sebanyak 8 halaman seharga sekitar Rp. 1 Miliar (Sfr.120.000) pada seorang yang tak dikenal di Basel, Switzerland. Tahun 1961, perpustakaan Bodleian, Oxford, London juga telah membeli naskah-naskah Kafka. Reiner menyanggah niat Israel yang tiba-tiba hendak menguasai manuskrip Kafka. Di Israel sendiri menurut Reiner, tak ada jalan yang bernama Kafka. Ia menduga masih banyak manuskrip Kafka di bekas rumah Ester di Tel Aviv. Setidaknya ada sekitar 70 surat Diamant kepada Brod. Sumber dari pengkaji karya Kafka mengatakan, ada sebundel amplop bertuliskan “Banyak tentang Kafka.”&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-variant: small-caps;" lang="DE-CH"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;Ester dikenal oleh para ahli karya Kafka sebagai orang yang tidak mau bekerjasama. Ia lebih senang menjual manuskrip Kafka pada lelang benda warisan bermutu dunia. Salah satu manuskrip penting yang menjadi sengketa dengan pengadilan di Tel Aviv adalah naskah tulis tangan novel dari Trilogi “Proses” (Der Prozess). Manuskrip ini pernah ditawar oleh pusat arsip Marbach di Jerman seharga hampir 2 juta dolar. Kini banyak ahli dan pemerhati karya Kafka sedang menunggu dengan cemas, kira-kira masih ada karya apa lagi yang tersimpan di box-box bank penyimpan naskah? Harapannya masih akan ditemukan karya terbaru yang bisa menambah khasanah sastra dunia dari tangan Kafka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;*sumber: dari berbagai media bahasa Jerman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;-0-0-&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/353989214924491867-994757236803341488?l=membacakafka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://membacakafka.blogspot.com/feeds/994757236803341488/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=353989214924491867&amp;postID=994757236803341488' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/994757236803341488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/994757236803341488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://membacakafka.blogspot.com/2010/08/manuskrip-kafka-mendarat-di-pengadilan_04.html' title='Manuskrip Kafka Mendarat di Pengadilan'/><author><name>pembacakafka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15073329425967061288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/TFkWE5FoYyI/AAAAAAAAACI/fhrIvx4zdtI/s72-c/kafka-franz.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-353989214924491867.post-363233501068575673</id><published>2009-06-17T05:02:00.000-07:00</published><updated>2010-08-03T07:33:31.019-07:00</updated><title type='text'>Fantasi Kafka tentang Amerika</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/SjjcJWjYQ5I/AAAAAAAAABg/k_uALpkSmA4/s1600-h/71NQQJHZ58L._SS500_.gif.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348266610733368210" src="http://4.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/SjjcJWjYQ5I/AAAAAAAAABg/k_uALpkSmA4/s320/71NQQJHZ58L._SS500_.gif.jpg" style="display: block; height: 320px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Judul: AMERIKA&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penulis: Franz Kafka&lt;br /&gt;Penerbit: Fischer Bucherei, 1956&lt;br /&gt;Tebal: 232 halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan pembaca Jerman, karya Kafka digolongkan karya berat. Mereka kadang menyebut karya Hesse atau Böll dianggap lebih ringan. Gaya bahasa Kafka sering disejajarkan dengan penyair klasik Jerman, Heinrich von Kleist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bacaan novel ini aku temukan sebuah teknik paralel penulisan antara novel: Proses dan Amerika. Pertama, Kafka menulis kedua novel di atas dengan membagi per bab. Kedua, kata ungkapan Kafka masih sama seperti pada Proses, suka menyebut kata benda seperti, lilin, topi, mantel. Kata benda itu begitu sering disebut di kedua novel yang berbeda. Tak hanya itu, dia sering sebut kata sifat, misalnya, gelap, lelah, payah, marah, dan malu. Nuansa yang dibangun sering mencekam dan benar-benar membuat pembaca berpikir dalam. Beberapa peristiwa terjadi secara kebetulan, baik di Proses maupun Amerika. Ada dua cerpennya yang dimasukkan ke dalam dua novel. Selain itu terdapat pembacaan sebuah surat. Sedang para tokohnya berasal dari kelas menengah ke kelas atas.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misal:&lt;br /&gt;1. Peristiwa kebetulan dalam novel Amerika:&lt;br /&gt;Karl Rossmann, (sang tokoh utama) adalah pemuda Jerman setamat SMA pergi ke Amerika naik kapal tenaga panas kayu bakar. Zaman Kafka dulu mungkin masih tradisional. Kayak kapal Titanic dengan tenaga kayu bakar. Pada kapal itu secara kebetulan, dia bertemu tokoh bernama Jakob, seorang senator kaya dari New York yang ternyata adalah pamannya. Rosmann langsung tinggal di pamannya. Dia kursus bahasa Inggris, belajar orgen, belajar naik kuda ala orang kaya. Di sini lah letak peristiwa kebetulan bertemunya antara keponakan dan paman sangat mencolok sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pembacaan surat&lt;br /&gt;Dalam Proses dan Amerika, ada sebuah surat yang dibaca keras oleh salah satu tokoh. Model sisipan surat dalam novel ini ada juga pada karya Flaubert (Madame Bovary dan Education Sentimentale). Tapi aku menilai, tehnik Kafka menampilkan surat di novel lebih cerdik ketimbang Flaubert. Pada Proses, tokoh paman benar-benar berteater dengan membacakan isi surat kepada Josef K. Surat benar-benar dibaca secara peragaan ini yang jarang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Cerpen masuk novel&lt;br /&gt;Pada Proses ada cerpen Kafka berjudul: Di Depan Hukum (Vor dem Gesetz), masuk bab:7. Pada Amerika, ada cerpen Kafka berjudul Tukang Pemanas/Bakar Kayu (Der Heizer) untuk tenaga kapal, juga masuk pada Amerika bab: 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Tokoh kelas menengah atas.&lt;br /&gt;Ketika aku mengelilingi rumah-rumah Kafka di Praha tahun 2002 dulu, aku belum baca dua novel ini. Saat itu terbersit di pikiran, “Bagaimana Kafka menuliskan sang tokoh, kalau dia hidup dengan fasilitas mewah begini. Sedang Hermann Kafka, ayahnya punya banyak toko dan gedung megah, kecuali adiknya perempuan Ottla, memang rumahnya agak kecil. Nah...setelah baca dua novel ini, aku tahu tokoh Josef. K dalam Proses sebagai pejabat tinggi di bank dan tokoh Karl Rossmann pada Amerika, sebagai anak muda yang pamannya seorang senator kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu adegan dahsyat dalam novel Amerika ini, menurutku ketika suatu hari Karl Rossmann ingin bertamu ke rumah Mr. Pollunder, kawan paman Jakob. Di tengah malam bertamu dan disambut oleh Klara, anak perempuan Mr. Pollunder. Klara menarik-narik Karl untuk diajak masuk ke kamarnya bermain orgen. Tapi Karl ragu-ragu dan malu-malu, bahkan terjadi cekcok dari hal sepele. Akhirnya cewek tersebut ngambek di dalam kamar, tapi pintunya tak ditutup, masih mengharap Karl bisa masuk. Eh...si Karl bukan masuk, malah lebih asyik ngobrol di dapur dengan pembantu. Karl ngotot akan kembali ke rumah pamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datanglah Mr. Green, sahabat Mr. Pollunder dan paman Jakob. Mereka ngobrol tentang bisnis. mendekati pukul 24.00 ketika Karl bersitegang akan kembali ke paman Jakob, tengah malam itu Karl terpaksa masuk kamar Klara. Eh... di situ disuruh main orgen, tengah malam.&lt;br /&gt;Karl main orgen dengan ritme lagu militer. Karl agak kaget, ternyata Klara sudah kawin dan di kasur sebelah tergeletak Mr. Mack, guru Karl naik kuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Mr. Green menyodorkan surat dari paman Jakob. Nah...Karl membacanya dan isinya, kalau paman Jakob mempersilakan Karl pergi untuk selamanya dan tak perlu kembali lagi. Isi surat yang tiba-tiba bernada mengusir ini, yang menurutku dahsyat. dan Karl hanya dibekali tiket kereta api kelas 3 oleh Mr. Green. Akhirnya Karl hidup menggelandang di New York.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang perlu dicatat, banyak penulis mengambil latar cerita dari kota/negeri asing. meskipun penulisnya tak pernah ke situ. Seperti Kafka ini tak pernah ke New York. Dia hanya memfantasikan Amerika. Kafka tentu belajar sedikit geografi kota New York dan karakter orang Amerika, baik kultur maupun tempat-tempat. Kafka rasanya dalam novel ini, tdk banyak mengekpos tempat, agar tampak gamblang latar Amerikanya. Namun dia menuliskan karakter orang Amerika dan nuansanya cukup piawai. Contoh lain penulis besar yang tidak pernah mengunjungi objek yang ditulis adalah Bertolt Brecht. Dia juga belum pernah ke Surabaya, tapi dia nulis lagu Surabaya Johny. Dan masih banyak contoh lain. Dari sini bisa diambil pelajaran, ternyata menuliskan latar kota/negara asing, tak harus nama jalan atau kota dipaparkan lebih detil, tapi karakter manusia dan nuansa sudah bisa mewakili.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada catatan akhir, jelang tamatnya novel ini. Tokoh protagonis Karl Rossman, setelah hengkang dari rumah Klara, hidup di jalanan dengan dua orang kenalan baru; Robinson asal Irlandia dan Delamarche dari Perancis. Keduanya hidup menggelandang tidur di taman-taman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu pagi tas milik Karl Rossmann terbuka dan foto milik orang tuanya hilang. Ketiga anak muda cekcok dan berpisah. Di sini aku tidak habis pikir, begitu pentingkah sebuah foto orang tua? Sehingga Karl tega meninggalkan kawan-kawannya. Berdasar pengalamanku pribadi bergaul dengan kawan-kawan barat, ternyata kawan-kawan dari kultur Balkan, Eropa Timur, sering mengantongi foto keluarga di dompet mereka. Pada kesempatan yang memungkinkan foto-foto itu ditunjukkan ke aku. Tradisi ini tidak pernah kujumpai pada kawan-kawan di Eropa barat, khususnya Jerman dan Swiss.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses penggelandangannya itu, Karl diterima di sebuah hotel Occidental. Pimpinan tukang masaknya seorang perempuan menawari kerja Karl. Dan Karl kerjanya unik sebagai tukang menekan tombol membukakan lift tamu-tamu hotel. Memang kenyataannya begitu di hotel-hotel besar, kadang ada petugas yang kerjanya hanya berdiri di depan lift untuk memencet tombol dan membantu mengantar tamu ke kamar hotel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karl disayang oleh ibu pimpinan masak di hotel itu. Lagi-lagi Kafka membuat cerita berunsur kebetulan. Ibu itu berasal dari Wina, Austria dan mengaku pernah tinggal di Praha, tempat asal Karl (juga sebenarnya asal Kafka sendiri). Dan anehnya ibu itu mengaku pernah tinggal setengah tahun di Praha, tepat di Gang Golden. Untungnya....saat aku ke Praha dulu, sempat tengok ke Gang Golden, ternyata di situ rumah Ottla, adik perempuan Kafka. Dari sumber lain disebutkan memang Kafka suka rumah kecil itu dan sering tinggal di rumah adiknya itu berlama-lama. Bagi pembaca yang belum baca biografi Kafka atau belum tahu alamat adik Kafka di Gang Golden, tentu tak menyadari, kalau alamat itu merupakan faktor kebetulan yang disengaja Kafka. Barangkali Kafka ingin mengabadikan bekas tempat tinggal yang disukai. Kasus ini mirip Gabriel Garcia Marquez mengabadikan desa Macondo dalam Seratus Tahun Kesunyian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kafka memang suka simbol. Nama Karl Rossmann, bisa disimbolkan namanya sendiri K dengan Kafka. Di hotel itu ada cewek sebayanya bernama Therese. Karl suka bersahabat dengan cewek itu. Namun selalu saja ada batas, rintangan dan jarak yang penuh teka-teki. Ketidak mampuan tokoh utama menjalin hubungan dengan perempuan juga digambarkan lebih kental pada novel Proses, dimana tokoh Josef. K juga gagal menjalin hubungan dengan tiga cewek. Pada novel ini Therese, digambarkan sebagai gadis pemalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu problem menimpa Karl. Dia dipecat oleh pimpinan bagian porter, alasannya sungguh sepele. dia meninggalkan lift sebentar ditambah problem, dia tak menyapa pimpinan porter. Karl dipecat dengan ramuan dialog alot penuh nilai kemanusiaan yang rumit. Kemudian Karl hidup sebagai pembantu di rumah penyanyi bernama Brunelda, pacar Delamarche. Sebelum di sini Karl sempat dikejar-kejar polisi kota serta lari, akhirnya bersembunyi. Terakhir Karl melamar sebagai petugas di teater Oklahoma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suasana seperti ini ditaburi banyak adegan dialog konyol dan tak masuk akal.&lt;br /&gt;Misal:&lt;br /&gt;Polisi saat akan menangkap Karl, Karl mengaku tak punya surat identitas diri. Ketika Karl akan melamar di teater Oklahoma, yang dicari pegawai lulusan insinyur. Untuk mengelabuhi permintaan di lowongan kerja tersebut, Karl mengaku, “Ya aku insinyur.“ Setelah ditanya, “Kok insinyur masih muda sekali“ (ca.20 tahunan). Dia bilang, “Baru akan jadi insinyur.“ Apa tidak konyol?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Max Brod yang menulis kata pengantar akhir novel ini mengatakan, “Memang tak ditemui kronologi cerita, seperti 2 novelnya yang lain Proses dan Kastel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesanku secara keseluruhan, kekuatan Kafka tetap pada struktur kalimat yang banyak teka-teki dan keraguan, ketakutan, kegelapan dan serba lemah, tanpa perlawanan frontal. Pemilihan kata yang berkadar kebimbangan itu sering membentuk metafor yang kuat. (Sigit Susanto)&lt;br /&gt;-0=0-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/353989214924491867-363233501068575673?l=membacakafka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://membacakafka.blogspot.com/feeds/363233501068575673/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=353989214924491867&amp;postID=363233501068575673' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/363233501068575673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/363233501068575673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://membacakafka.blogspot.com/2009/06/fantasi-kafka-tentang-amerika.html' title='Fantasi Kafka tentang Amerika'/><author><name>pembacakafka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15073329425967061288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/SjjcJWjYQ5I/AAAAAAAAABg/k_uALpkSmA4/s72-c/71NQQJHZ58L._SS500_.gif.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-353989214924491867.post-7512940273741907323</id><published>2008-12-30T15:37:00.000-08:00</published><updated>2009-01-01T04:39:07.582-08:00</updated><title type='text'>Surat untuk Ayah</title><content type='html'>&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://ecx.images-amazon.com/images/I/4187PF0YGRL._SL500_AA240_.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; WIDTH: 240px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://ecx.images-amazon.com/images/I/4187PF0YGRL._SL500_AA240_.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul: Surat untuk Ayah&lt;br /&gt;Judul Asli: Brief an den Vater&lt;br /&gt;Penerbit: Fischer Taschenbuch Verlag, 1983&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Tebal: 85 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sebuah surat mahapanjang, sepanjang satu buku dengan tebal 85 halaman. Sebuah surat protes terhadap Hermann Kafka, ayahnya yang dianggapnya sebagai "diktator kecil dalam keluarga." Nuansa abstrak pada &lt;em&gt;Metamorfosis &lt;/em&gt;juga muncul lebih otentik di buku ini. Samsa yang mengurung diri di kamar dan takut bertemu ayah dan keluarganya, bisa dengan mudah ditemukan sosok Kafka yang takut terhadap ayahnya di buku ini. Kafka memberontak kepada ayahnya dengan cara ketakutan. Betapa ia merasa lebih kerdil dan rapuh di depan ayahnya yang perkasa. Betapa Kafka membela para pembantu yang diperolok oleh ayahnya, dengan perkataan: anjing. Di meja makan Kafka sering menirukan umpatan ayahnya terhadap dirinya, misal:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Saya robek-robek kau seperti ikan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Jika ayahnya hendak menyindir Kafka di depan istrinya dengan bilang:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Itu anakmu yang manja. &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Surat ini ditulis oleh Kafka tahun 1919, ketika ia berusia 36 tahun, tepatnya lima tahun sebelum kematiannya. Kafka pernah menyerahkan surat ini lewat Julie Löwy, ibunya, agar diberikan ke Hermann Kafka, ayahnya. Namun ibu Kafka tidak berani menyerahkan langsung ke suaminya.&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;em&gt;*Nantikan terjemahannya dalam versi Indonesia.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/353989214924491867-7512940273741907323?l=membacakafka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://membacakafka.blogspot.com/feeds/7512940273741907323/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=353989214924491867&amp;postID=7512940273741907323' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/7512940273741907323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/7512940273741907323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://membacakafka.blogspot.com/2008/12/surat-untuk-ayah.html' title='Surat untuk Ayah'/><author><name>pembacakafka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15073329425967061288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-353989214924491867.post-6803254156067953984</id><published>2008-12-16T09:01:00.000-08:00</published><updated>2008-12-16T09:16:06.541-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tengok Franz Kafka di Praha'/><title type='text'>[Tengok Franz Kafka di Praha] Pengantar</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;Tengok Franz Kafka di Praha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Sigit Susanto&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Tulisan berikut berdasarkan perjalanan saya dan istri ke negeri republik Ceko selama empat hari (11-14 Agustus 2001). Hari pertama, kami mengunjungi ibu kota Praha di gang Golden Rumah Ottla, adik kandung Kafka. Hari kedua, kami berziarah ke Kuburan Yahudi di Zizkov sebagai peristirahatan Kafka yang terakhir. Sore hari kami mengunjungi Rumah Kelahiran Kafka di gang Karpfer/Maiselova. Hari ke tiga, kami menyusuri jalan Nerudova, bekas bagian kota Kleinseitner yang miskin, serta makan siang di Warung Kopi Slavia (Slavia Cafe) di pinggir sungai Moldau, tempat Kafka bertemu sesama kawan sastrawan. Hari ke empat, kami mengunjungi Apotik Einhorn di  kota tua Ring 17, di tempat ini pada tahun 1910 Kafka bertemu kawannya Max Brod dan Albert Einstein, kemudian kami menikmati panorama Jembatan Karl yang sangat indah, serta terakhir mengunjungi Taman istana presiden Vàclav Havel, yang juga seorang penyair. Sekitar 500 meter (10 menit) dari istana presiden, terdapat restoran Indonesia Indonéska Restaurace Sate yang dikelola oleh bekas mahasiswa Indonesia yang dikirim presiden Soekarno tahun 1961.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kereta api ICE (Inter-City Express) milik Jerman membawa kami dari stasiun kota Zürich-Switzerland. Menariknya kereta api cepat Jerman itu, selalu diberi nama sastrawan atau seniman bangsanya. Ada ICE yang bernama Hermann Hesse, Wolfgang Goethe, Fontana dan sebagainya. Kereta api yang kami tumpangi bernama Paul Klee, meninggalkan stasiun Zürich jam 21.00, dalam waktu satu jam saja, kami sudah memasuki perbatasan negeri Jerman, tiga jam kemudian kami sudah tiba di stasiun Stuttgart dan harus ganti kereta api ke jurusan Praha. Sekitar satu jam kami hanya jalan-jalan di dalam stasiun Stuttgart, Jerman, lalu kami melanjutkan perjalanan ke Praha dengan kereta api yang gerbangnya dibagi-bagi dan diatur sedemikian rupa sebagai tempat tidur. Satu ruangan kecil itu bisa untuk tidur enam orang. Sekitar jam 04.00 kami dibangunkan oleh petugas, ternyata dua orang polisi datang memeriksa paspor kami, polisi Jerman itu tak tertarik dengan paspor kami, karena toh tujuannya ke negeri Ceko, hanya polisi Ceko yang memeriksa amat teliti paspor saya berwarna hijau tua itu dan dia menekan alat elektronik sejenis komputer yang digantungkan, lalu pergi. Istri saya membisiki, pemeriksaannya mirip di perbatasan Jerman timur (DDR) dulu, kalau dalam foto paspor terdapat kumis atau jenggot, namun pemilik paspor tak punya kumis atau jenggot, bisa jadi masalah besar. Sebelum memasuki kota Praha, matahari menerobos kaca jendela, kami bangun melihat rumah-rumah indah kecil di pinggir sungai mirip rumah-rumah di kota Volendam di Belanda. Tampak juga beberapa pabrik tua yang tak terawat serta beberapa orang sedang mancing di sungai dengan prau. Sekitar jam 06.30 kami tiba di stasiun kereta api Praha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/353989214924491867-6803254156067953984?l=membacakafka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://membacakafka.blogspot.com/feeds/6803254156067953984/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=353989214924491867&amp;postID=6803254156067953984' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/6803254156067953984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/6803254156067953984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://membacakafka.blogspot.com/2008/12/tengok-franz-kafka-di-praha-pengantar.html' title='[Tengok Franz Kafka di Praha] Pengantar'/><author><name>pembacakafka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15073329425967061288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-353989214924491867.post-617876755087603457</id><published>2008-12-16T08:55:00.000-08:00</published><updated>2010-08-03T07:34:50.328-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tengok Franz Kafka di Praha'/><title type='text'>[Tengok Franz Kafka di Praha] Litera-Tour di Praha</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hari Pertama:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah tiba di Praha, kami lekas menaruh kopor di tempat penitipan barang, karena hotel kami ada diluar kota, maka kami akan manfaatkan sehari itu untuk jalan-jalan di tengah kota lama. Stasiun kereta api di ibu kota Praha itu, sangat sepi untuk ukuran sebuah stasiun kereta api ibu kota negara. Stasiun Gambir masih lebih rame, namun bangunan stasiun kereta api di Praha itu sangat tua, tampak beberapa orang membuntuti sambil menawarkan jasa untuk menukar mata uang asing dengan Krone (mata uang Ceko), di dalam stasiun tampak beberapa kios menjajakan makanan kecil dan minuman, beberapa ruangan besar tak diisi oleh barang-barang modern, atau elektronik canggih, namun dipajang pakaian bekas yang dijual per kilo. Ini kesan pertama pada sebuah stasiun kereta api di ibu kota bekas negara komunis, yang sederhana mirip dengan lapangan terbang di Havana, Kuba. Dengan berpedoman buku kota Praha, kami jalan menerobos bangunan-bangunan tua dan menuju ke pusat kota. Belum banyak orang keluar, hanya tram-tram warna kuning berseliweran menaikkan penumpang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berjalan melewati jembatan Karl yang indah, yang memotong sungai Moldau, sungai itu tak mengalir dengan deras, tenang seperti air danau. Kemudian kami menyusuri jalan batu menuju istana presiden Burg Karlstejn, yang ditempati presiden Vàclav Havel. Di gang Golden itu terdapat rumah rumah kecil yang pintu masuknya agak rendah, pada rumah warna merah tua dan abu-abu nomor 22 terdapat rumah Ottla adik kandung Kafka, tempatnya sepi, sangat disukai Kafka untuk menulis. Sekarang rumah itu sebagai tempat menjual buku-buku karya Kafka dan beberapa cendera mata serta kartu pos. Sore hari kami bergegas untuk menuju hotel, karena jaraknya jauh, maka kami naik Tram dan kereta bawah tanah. Kami jadi linglung di sebuah negeri yang bahasanya tidak kami kuasai, sementara banyak tulisan di tempat-tempat umum dengan bahasa Ceko. Kami mencoba bicara dengan sopir Tram dengan menggunakan bahasa Inggris dan Jerman, dia pun tak mengerti. Akhirnya kami toh sampai ke hotel dengan naik taxi. Kesan kami di Ceko, orang-orangnya baik hati, ringan tangan bila kita memerlukan bantuan informasi. Tak tampak sifat sombong dan individual.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hari kedua:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Cuaca yang terang benderang untuk menyusuri bekas tapak Kafka menjadi lebih bergairah. Dengan naik Tram dan kereta bawah tanah kami menuju luar kota Praha, yaitu di Zizkov/Strasnice, sebuah makam baru untuk orang Yahudi, disitu Franz Kafka beristirahat untuk selamanya. Bayangan saya makam itu mewah dan bagus seperti makam Bung Karno di Blitar. Ternyata makamnya untuk umum dan banyak di tumbuhi pohon-pohon tinggi berderet. Ketika kami masuk, seorang petugas memberi saya sebuah peci putih kecil dalam bahasa Yahudi disebut Kipa, dalam bahasa Ceko disebut Jarmulka. Kipa itu khusus bagi laki-laki dan saya pakai di atas kepala, karena angin kencang, maka kipa sering jatuh ke tanah. Baru pertama kali saya masuk makam Yahudi, agak mirip dengan makam islam, karena sama-sama tempatnya rindang dan terdiri banyak pohon. Yang membedakan, makam Yahudi ini batu nisannya setinggi rata-rata satu sampai dua meter. Terbuat dari batu marmer atau batu biasa dengan di pahat nama serta saat kelahiran dan meninggalnya. Satu batu nisan bisa digunakan oleh satu keluarga. Istri saya cepat menemukan makam Kafka di sektor 21, baris 14 nomor 33. Sebuah batu marmer warna abu-abu berbentuk kubus model belimbing tegak berdiri, tertulis: Dr Franz Kafka 1883-1924. Di bawahnya terpahat tulisan: Hermann Kafka 1854-1931. Di deretan paling bawah terpahat lagi tulisan: Julie Kafka 1856-1934. Herman Kafka adalah ayah Franz Kafka, yang meninggal setelah Franz Kafka, sedangkan Julie Kafka adalah ibu Franz Kafka. Ada sebuah lempengan marmer kecil warna hitam yang disandarkan pada nisan tersebut dengan tulisan pahat berbunyi: Gabriela Herrmannova 22.9.1889, Valerie Pollaroda 25.9.1890, Ottlie Davidoda 29.10.1892. Belakangan saya ketahui dari juru kunci makam, bila ketiga nama perempuan tersebut adalah adik-adik Kafka yang dibunuh dalam tahanan tentara Nazi. Karena Hitler telah masuk Ceko antara tahun 1942-1943. Di altar bawah nisan makam Kafka tersebut, terlihat berserakan beberapa potongan kertas kecil yang tertutup dan di tindih batu kecil. Sebuah kertas kecil putih kebetulan terbuka, dan saya baca bertuliskan: "It would habe been nice to have meet you". Saya cepat memahami, bila potongan kertas kertas kecil itu dari para peziarah dari seluruh dunia, baik yang kenal karya Kafka atau para penggemarnya. Saya pun bergerak ikut tersugesti menulis, saya tulis sepucuk kertas dalam bahasa Indonesia dan juga saya tindih batu kecil di altar nisan itu. Di depan nisan Kafka, terdapat sebuah nisan yang menjadi satu dengan pagar makam, yaitu terpahat nama: Max Brod, seorang sastrawan Ceko Yahudi sekaligus kawan Kafka yang menyelamatkan karya-karya Kafka, juga Max Brod lah yang memperkenalkan karya-karya Kafka pada umum. Karena Kafka adalah seorang pemalu tak menghendaki karya-karyanya di publikasikan. Sebelum kami meninggalkan makam, juru kunci makam memberi tahu, bila dia sering dapat kiriman kartu pos dari penggemar Kafka seluruh dunia dengan berbagai bahasa, yang ditujukan kepada Franz Kafka dengan alamat makam Yahudi itu. Sebagai kenang-kenangan saya dikasih sebuah Kipa dari juru kunci makam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan kami lanjutkan ke pusat kota lama, untuk makan pizza di kios pinggir jalan, kami memang suka berjalan-jalan, namum dengan cara yang amat sederhana, makan yang murah seadanya, menginap juga di losmen atau hotel sekelas losmen, yang penting bisa banyak melihat berbagai tempat dunia dengan biaya yang irit. Motto kami adalah "Travelling broden in Mind". Kemudian kami mengunjungi rumah kelahiran Kafka di Mikulasska 9 (sekarang U radnice 5) dekat alun-alun kota Praha, di ujung rumah tembok berarsitek kuno itu terpahat gambar kepala Kafka, sebelah kanannya tertulis Pameran Kafka (Kafky Exposition). Sekitar satu jam, saya mengelilingi ruang kecil pameran tentang kehidupan dan karya-karya Kafka yang di gantungkan seukuran poster. Keluarganya menjual beberapa buku karya Kafka juga foto-foto Kafka dan kaos bermotif Kafka. Praha sebagai tempat tujuan wisatawan di Eropa yang tergolong unik dengan daya tarik bangunan-bangunan kunonya, tak terkecuali profil Kafka telah dikomersilkan oleh komponen pariwisata untuk konsumsi wisatawan. Sore hari kami habiskan untuk duduk duduk di alun-alun sambil memandangi dokar-dokar antik mengangkut turis-turis manja keliling kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hari ketiga:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kami masih berputar-putar di sekitar kota lama Praha, bangunan-bangunan yang didirikan sejak abad pertengahan masih berdiri kokoh. Hampir tiap sudut jalan selalu bertemu model arsitek bangunan yang berbeda-beda dan tidak membosankan. Saya pikir hanya di Praha bangunan-bangunan kuno masih terawat dengan baik dan begitu banyaknya, dibandingkan di beberapa kota tua Eropa yang lain. Ketika kami berjalan menuju istana presiden terdapat Jalan Nerudova, kami berhenti sejenak karena teringat penyair asal Cile Pablo Neruda. Pikir saya sepintas, begitu terkenalnya Neruda sampai disini, seperti yang pernah saya lihat pada pahatan batu Pablo Neruda di pulau Capri dekat Napoli, Itali. Akhirnya kami ketahui, bahwa nama Pablo Neruda hanya sebuah pseudonim, nama aslinya adalah Neftali Ricardo Reyes y Basoalto (1904-1973), dua tahun sebelum meninggal, 1971 dia menerima hadiah nobel sastra dari Swedia. Dan saat dia berkunjung ke Praha, dia kagum dengan seorang penyair Ceko bernama Jan Nepomuk Neruda, (1834-1891). Sejak saat itu, dia mengabadikan nama Pablo Neruda sebagai nama samarannya. Jan Nepomuk Neruda, menulis dua karya sastra yang terkenal dengan judul Sejarah Kleinseither (Kleinseitner Geschichten), dan Wajah Kota Lama Praha, (Bilder aus dem alten Prag). Tema-tema utama karya sastra dari Jan Nepomuk Neruda kebanyakan menggambarkan manusia-manusia kecil yang tidak mampu hidup sehari-hari di kota miskin. Kota miskin yang dimaksud adalah yang terdapat nama jalan Nerudova itu. Kemudian kami berjalan sekitar dua kilometer sepanjang sungai Moldau, di pinggir jalan raya terdapat sebuah restoran Slavia Cafe. Warung kopi Slavia warna coklat yang cukup besar itu dulu sering digunakan untuk berkumpulnya para sastrawan Ceko, Yahudi maupun Jerman. Kafka dan Max Brod sering mengunjungi warung kopi ini. Kami masuk warung kopi Slavia dengan satu tujuan, untuk melihat lebih dekat suasana dan lingkungannya. Kami duduk di pinggir jendela, agar bisa melihat pemandangan keluar sungai Moldau, tampak beberapa tram lalu lalang, warung ini juga berhadapan langsung dengan gedung teater nasional. Sambil menunggu pesanan makanan, kami membayangkan pada beberapa orang Italia yang duduk disamping kami sedang rame ngobrol, seolah-olah mereka para sastrawan yang sedang berdiskusi alot. Ruangan warung kopi itu cukup menarik, suasananya tenang, beberapa pelayan restoran menyunggingkan senyum, di situ tersedia koran lokal. Saya jadi teringat sebuah warung kopi di Havana, tempat Hemingway nongkrong sambil minum Mohito minuman khas Kuba. Kami menikmati makan siang di warung kopi Slavia, masakan nya lezat dan disajikan dengan ramah. Sore hari kami berjalan menuju pertokoan kawasan Yahudi, saya melihat ada restoran bertuliskan Java Kava (Kopi Jawa) di jalan Kraloduorska. Saya amati lebih dekat, terdapat beberapa hiasan dinding dari batik Jawa dan ukiran Bali. Saya makin yakin, bahwa pemiliknya dari Indonesia, minimal ada hubungannya dengan budaya kita, saya mencoba masuk restoran dan bertemu dengan seorang laki-laki berkepala botak dari negara Skandinavia, yang mengatakan restoran itu tergolong baru, dia mengaku sebagai pemiliknya dan bekerja sama dengan salah seorang karyawan KBRI di negeri Slowakia. Ini sebagai catatan bagi saya, bahwa karyawan KBRI yang sudah digaji negara kita juga punya sambilan usaha. Malam hari gemerlapnya lampu warna-warni di taman dan rumah-rumah kuno menambah hidupnya suasana kota. Seolah-olah kota Praha itu tak pernah tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hari keempat:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hari terakhir kami berjalan diseputar jalan Pariser 36, di rumah besar itu Kafka menulis buku hariannya berjudul "Amerika" (Amerika) menyusul karya yang lain "Metamorfosa" (Die Verwandlung) dan "Keputusan" (Das Urteil) yang dia tulis di Salon dari Berta Fanta yang juga sebagai apotek di jalan kota lama Ring 17, disini Kafka bertemu kawannya Max Brod dan Albert Einstein pada tahun 1910, saat itu Albert Einstein sedang bertugas menjadi dosen di Universitas Praha. Apotek itu sekarang sudah berubah menjadi sebuah toko cenderamata. Kesan saya melihat rumah-rumah yang pernah di tempati Kafka yang begitu besar dan tentu dia dari keluarga kaya. Bagaimana dengan kehidupan yang serba kecukupan itu bisa menulis karya-karya yang justru berseberangan mengagungkan sebuah eksistensi manusia. Karya-karyanya penuh ironi pada manusia modern. Sangat paradok sekali, di tengah kehidupan yang bisa dibilang mewah itu justru menghasilkan karya-karya yang menentang, menghujat dan segala bentuk ketertekanan utamanya pada Ayahnya (Brief an den Vater). Kami masih penasaran untuk mencari rumah Valerie Pollaroda, adik perempuan Kafka, disitu Kafka merampungkan karyanya berjudul "Proses" (Der Prozess), sayang tak bisa ditemukan, namun sebagai gantinya saya menemukan istana Schönborn di Triste 15, Praha 1, pada lantai dua disewa oleh Kafka, karena hanya berjarak sekitar 10 menit ke tempat kerja. Ketika saya tiba di depan gedung itu sambil berhenti melihat buku petunjuk, didatangi dua orang polisi, ternyata kami baru tahu gedung itu sekarang sebagai kedutaan Amerika. Kemudian kami juga mendatangi tempat sembahyang orang Yahudi yang disebut Sinagoga (Synagog). Bentuknya seperti gereja yang berarsitek mendekati gotik, tak jauh dari tempat Sinagoga itu rumah kelahiran Kafka, kemungkinan besar Kafka muda sering di suruh sembahyang ke Sinagoga itu oleh Ayahnya yang cukup kuat tradisi Yahudinya. Dalam buku "Surat untuk Ayah" (Brief an den Vater) Kafka mengatakan di tempat sembahyang itu banyak orang tidak membicarakan Ketuhanan, tapi justru sibuk bicara usaha dagangnya. Saya melihat beberapa orang laki-laki Yahudi sedang menyanyi di pinggir jalan sambil mengenakan kipa di kepala dan berjas hitam. Lingkungan Sinagoga itu berderet toko-toko mewah yang sebagian besar milik orang Yahudi, termasuk milik Ayah Kafka sendiri. Sambil menghabiskan waktu sore kami hanya melihat dua perwira penjaga istana presiden Burg Karlstejn yang sedang berganti tugas, dua perwira berseragam biru laut dan bersenjata laras panjang berdiri tegak tak berkedip bak patung batu, sering di foto bersama wisatawan. Sekitar 500 meter (10 menit) dari istana presiden, kami secara kebetulan melihat sebuah tulisan Indoneska Restaurace Sate (Restoran Sate Indonesia) di jalan Pohorelec 152/3, Hradcany - Praha 1. Ketika saya mendekat dan akan masuk restoran, di pintu masuk ada seorang laki-laki perawakan Indonesia berambut keriting berbaju biru, lalu saya sapa; "Apa Khabar?". Dia tersenyum sambil menjawab ramah; "Khabar Baik." dan mengulurkan tangan mengajak berkenalan. Saya dibawa ke ruang dapur untuk diajak ngobrol juga diperkenalkan istrinya orang Ceko serta tukang masaknya yang dari Bali. Dalam perbincangan lebih jauh pemilik restoran sate itu diketahui bernama; Maman Abdurrachman, berasal dari Bandung. Dia menuturkan kisahnya bisa tinggal di Praha hingga 40 tahun lamanya. Dia adalah mahasiswa yang dikirim presiden Soekarno tahun 1961 untuk belajar Ekonomi di Praha. Setelah pergantian rezim, dari orde lama (orla) ke dalam orde baru (orba) para mahasiswa kiriman presiden Soekarno disuruh menanda tangani surat persetujuan untuk mengakui pemerintah orde baru (orba), dia dan banyak kawannya tidak mau menanda tanganinya, otomatis status kewarga negaraannya menjadi tak terurus atau stateless. Sejak itu dia dan banyak kawannya yang tersebar di Eropa memilih tetap hidup di Eropa hingga sekarang. Maman mengaku pernah di kunjungi mantan presiden Gusdur, seminggu sebelum Gusdur menjadi presiden. Juga Gunawan Mohamad pernah singgah di restorannya. Mengakhiri pertemuan dengan Maman, dia menambahkan bila ada sekitar 30-an orang Indonesia yang bermukim di Praha. Sayang tak banyak waktu lagi hari terakhir itu, maka kami segera menuju ke stasiun kereta api. Di jembatan Karl yang anggun nan mempesona terutama suasana sore hari, banyak wisatawan berjalan-jalan atau duduk di taman memandang kebesaran dan keunikkan jembatan Karl, sambil menunggu condongnya sang surya ditelan gedung-gedung kuno. Kami berhenti di tengah jembatan Karl, karena tergoda untuk menonton orang tua yang memainkan alat musik gitar dan seruling dari berbagai ukuran. Orang tua beruban itu tampak lusuh pakaiannya, namun memancarkan sorot mata yang tajam dan perkasa. Suaranya yang sebenarnya keras itu terdesak gelombang deras air sungai, menjadi lirih dan sayup-sayup. Pemusik tua itu menampakkan guratan sisa-sisa akar nilai komunis-sosialis yang tak menyerah ditelan jaman. Tak heran, bila Kafka menulis karyanya berjudul "Seorang Seniman Lapar" (Ein Hungerkünstler), seorang seniman yang kelaparan karena tak dapat makan .Sepanjang jembatan Karl itu di penuhi deretan pelukis jalanan. Matahari belum menghilang benar, masih banyak penjual tiket konser Mozart dengan pakaian tradisional lengkap ala pemain konser berjalan di alun-alun. Di dekat gereja tua itu, juga terpampang tulisan; Milena Cafe (Warung Kopi Milena). Kami meninggalkan Praha malam hari menuju Switzerland dengan kereta api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/353989214924491867-617876755087603457?l=membacakafka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://membacakafka.blogspot.com/feeds/617876755087603457/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=353989214924491867&amp;postID=617876755087603457' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/617876755087603457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/617876755087603457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://membacakafka.blogspot.com/2008/12/tengok-franz-kafka-di-praha-litera-tour.html' title='[Tengok Franz Kafka di Praha] Litera-Tour di Praha'/><author><name>pembacakafka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15073329425967061288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-353989214924491867.post-3900032033346227648</id><published>2008-12-16T08:50:00.000-08:00</published><updated>2010-08-03T07:36:20.223-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tengok Franz Kafka di Praha'/><title type='text'>[Tengok Franz Kafka di Praha] Ahoi, Praha</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ahoi adalah bahasa Ceko yang berarti "Apa Khabar".  Praha adalah ibukota negeri Ceko. Penduduk di Praha sekitar: 1,22 juta jiwa. 95% adalah sebagai bangsa Ceko, sisanya adalah bangsa Slovakia, Jerman, Yahudi, Hongaria dan Polandia. Praha memiliki sekitar 1200 obyek sejarah yang menarik bagi wisatawan. Sekitar 50% gedung-gedung itu di bangun sejak abad 18 dan 19, beberapa bangunan bahkan lebih awal lagi hingga mendekati era romantik. Banyak gedung-gedung kuno yang mendapat perlindungan dari UNESCO sebagai bukti warisan budaya dunia. Sejak tahun 1989, pertumbuhan ekonomi Ceko makin meningkat drastis, meskipun pada pertengahan tahun 90-an mengalami krisis ekonomi yang sampai sekarang belum selesai. Ceko juga sedang merencanakan untuk masuk anggota EU (Eropa Union) paling lambat tahun 2005. Praha menjadi pusat kunjungan wisatawan yang setahunnya bisa datang sekitar 3 Juta wisatawan.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jembatan Karl&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya wisatawan mengunjungi Jembatan Karl (Karluv most), jembatan ini dibangun pada tahun 1357, kemudian di renovasi berkali-kali, pada tahun 1870 mulai terkenal dengan sebutan Jembatan Karl untuk menghormati raja Karl IV. Jembatan ini dulunya sebagai pusat perdagangan yang menghubungkan istana Raja dan kota lama. Lertelak di sungai Moldau yang lebarnya sekitar 330 meter. Jembatan ini panjangnya setengah kilometer dan lebarnya 10 meter.&lt;br /&gt;Tentang jembatan Karl ini, sastrawan Jerman Bertolt Brecht menulis sajak sebagai berikut;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;"Lagu dari Moldau" (Lied von der Moldau)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pada dasar sungai Moldau berserakan batu-batu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ada tiga Kaisar meninggal di Praha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yang besar tidak tinggal besar dan yang kecil tidak kecil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Malam hari ada 12 jam, lalu sudah tiba siang hari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Waktu berganti. Acara-acara yang besar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kekuasaan-kekuasaan tiba akhirnya berhenti &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan pergi kemari juga seperti ayam berdarah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Waktu berganti, tak ada bantuan tanpa kekerasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pada dasar sungai Moldau berserakan batu-batu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ada tiga Kaisar menginggal di Praha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yang besar tidak tinggal besar dan yang kecil tidak kecil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Malam hari ada 12 jam, lalu sudah tiba siang hari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Letak Geografi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Republik Ceko terletak di timur Eropa tengah, yang berbatasan sebelah utara dengan Polandia, sebelah timur dengan Slowakia, sebelah barat dengan Jerman, dan sebelah selatan dengan Austria. Luasnya sekitar 78 864 km2. Daerahnya meliputi Bohemia (Cechy) dan Mähren (Morava)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Musim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ceko mempunyai 4 musim seperti di negeri Eropa lainnya yaitu musim; semi, panas, rontok dan dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penduduk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 10,3 Juta jiwa. Kepadatan penduduk 131 orang per kilometer quadrat. Usia rata-rata kematian bagi laki-laki 70 tahun, bagi perempuan diatas 77 tahun. 94% penduduknya a&lt;br /&gt;dalah bangsa Ceko, 6% adalah kelompok minoritas; Slowakia, Polandia, Hongaria, Ukraina, Jerman dan Yahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Agama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;40% penduduk Ceko adalah Ateis. 60% adalah pemeluk Khatolik dan beberapa agama lain yang tak terlalu berpengaruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/353989214924491867-3900032033346227648?l=membacakafka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://membacakafka.blogspot.com/feeds/3900032033346227648/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=353989214924491867&amp;postID=3900032033346227648' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/3900032033346227648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/3900032033346227648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://membacakafka.blogspot.com/2008/12/tengok-franz-kafka-di-praha-ahoi-praha.html' title='[Tengok Franz Kafka di Praha] Ahoi, Praha'/><author><name>pembacakafka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15073329425967061288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-353989214924491867.post-1158833066504354959</id><published>2008-12-16T08:45:00.000-08:00</published><updated>2010-08-03T07:36:43.636-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tengok Franz Kafka di Praha'/><title type='text'>[Tengok Franz Kafka di Praha] Sejarah dan Politik</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span id="formatbar_Buttons" style="display: block;"&gt;&lt;span class="" id="formatbar_JustifyFull" onmousedown="CheckFormatting(event);FormatbarButton('richeditorframe', this, 13);ButtonMouseDown(this);" onmouseout="ButtonHoverOff(this);" onmouseover="ButtonHoverOn(this);" onmouseup="" style="display: block;" title="Rata Penuh"&gt;&lt;img alt="Rata Penuh" border="0" class="gl_align_full" src="http://www.blogger.com/img/blank.gif" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Sejarah bangsa Cekoslowakia berawal sejak abad ke 4 SM. Banyak pendatang dari suku Boiern, dalam bahasa Latin "Bohemia", ke dalam bahasa Jerman menjadi "Böhmen". Pada abad ke 9, atas keinginan raja bangsa Slawia ini tidak lagi menggunakan nama Bohemia, namun nama "negara-negara Ceko" yang meliputi wilayah; Böhmen, Mähren, dan Schlesien. Abad ke 12 mulai dibenahi perekonomian negara. Abad ke 13, mulai masuk pendatang Jerman mencari pekerjaan dan berbaur menjadi satu dengan bangsa Cekoslowakia di bawah raja Ottokar II, raja Ottokar II meninggal di medan perang melawan raja Rudolf dari Habsburger. Kekuasaan di ganti oleh raja Johann von Luxemburg. Pada tahun 1355, berkuasa raja Karl IV dari kerajaan Romawi. Praha menjadi ibu kota kekaisaran Romawi. Istana raja berpindah ke bangunan megah berarsitek gotik. Nama raja Karl diabadikan hingga kini sebagai nama sebuah Universitas Karl pertama di Eropa tengah. Penerus raja Karl IV adalah anaknya  bernama Wenzel IV, namun warisan tahtanya tak bertahan lama akibat datangnya wabah penyakit pes dan pertentangan antara kelompok bangsawan dan pendeta berakhir dengan pecahnya revolusi berdarah. Para bangsawan Romawi dan pengikut yang murtad tak bisa bersatu lagi. Atas kemenangan pasukan Osmania/Turki, di buat perjanjian, bahwa wilayah Cekoslowakia tahun 1526 di bawah kekuasaan raja Ferdinand I dari Habsburger. Tahun 1618 terjadi peperangan selama 30 tahun antara bangsawan berhaluan Nasional-Protestan dengan Katholik. Abad 17 dari kekaisaran Wina di mulai pendirian negara Eropa tengah dan abad 18 mulai terjadi industrialisasi. Di bawah Maria Theresia, di Böhmen banyak berdiri bangunan berarsitek barok yang megah. Tahun 1848 meletus revolusi di Eropa, konflik memuncak dari negara ke negara lain bervariasi. Tahun 1918 pertama kali lahir republik Cekoslowakia dengan presiden Tomàs Garrigue Masaryk, namun kelompok masyarakat Jerman tidak menyambutnya dengan gembira. Tahun 1935 dari kelompok warga Jerman, Konrad Henlein mendirikan partai Sudetendeutsche yang berhasil gemilang dalam parlemen. Tahun 1938 presiden Edvard Benes di desak kekuatan barat (Inggris, Perancis dan Itali) agar menyerahkan wilayahnya di perbatasan yang di tempati warga Jerman kepada kerajaan Jerman. Tahun 1939 Josef Tiso, politikus fasis Slowakia memproklamirkan; kemerdekaan, kesamaan bersama Hitler. Sementara presiden Benes ber exil di London mendapat pengakuan dari sekutu untuk memimpin pemerintah kembali di Cekoslowakia, setelah Soyiet dan Amerika berunding.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kronologi Politik dari Sistem Komunis ke Sistem Demokrasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 1989 hingga kematiannya tahun 1992, Alexander Dubcek sebagai presiden parlemen Praha. Dia bukan sebagai pencetus gejolak musim semi di Praha, tapi dia adalah sebagai pahlawan Revolusi Damai (Samtene Revolution), yang mengantarkannya sebagai presiden. Lebih baik lagi, tampaknya tak bisa, bagaimana sebuah wajah sosialis di ramu dengan demokrasi, tentu bukanlah sebuah model negara yang sudah biasa bergelora jiwa patriotisnya. Peristiwa musim semi di Praha berhubungan erat antara 5 Januari dan 21 Agustus 1968. Era dimana Alexander Dubcek pertama kali dipilih sebagai sekretaris Partai Komunis Cekoslowakia (KPC), yang bergema pada saudara kandung negara-negara lainnya. Kemelut jiwa musim semi itu sudah dimulai dari kunjungan sekretaris jenderal Kruschow dari Rusia tahun 1956 pada acara sidang partai, yang memberi tahu tentang kepemimpinan Stalin yang menjurus ke sewenang-wenangan, sejak itu sudah ada pemikiran seluruh negara-negara Blok Timur mulai berpikir ke arah sebuah sistem demokrasi. Sebelum itu juga sudah ada pemikiran membentuk sistem demokrasi di Cekoslowakia dimulai antara era perang tahun 1945 dan 1948. Dimana perburuhan menjadi titik pangkal pembangunan. Prinsip Ketergantungan dengan pimpinan partai komunis (KP) harus dihindarkan banyak orang berharap agar supaya berorientasi pada kepentingan penduduk. Partai Komunis (KP) bertanggung jawab pada penyalah gunaan wewenang di tahun 1950-an. Korban sistem pemerintah Stalin telah berhasil di perbaiki, juga tak diadakan sistem kontrol lagi. Sejak bulan Maret, di Cekoslowakia telah dinyatakan Bebas Pers. Masyarakat dan pihak asing menyambut dengan antusias. Kendala bagi partai; pandangan resminya menjadi kaku hanya dari partai, yang harus mempertanggung jawabkan, perkecualian pada oposisi di parlemen, terus saja KP bermaksud menuju liberalisasi, juga dari lawan-lawannya dalam merancang bentuk sistem. Salah satu contohnya adalah dalam perkembangan manifesto 2000 Kata, setelah kembali ke dalam sistem multi partai. Namun reformasi komunis sendiri tidak siap, karena landasan sistem masyarakat sosialis menjadi dipertanyakan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perlawanan Pasif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perombakan itu membuat takut negara-negara sosialis lainnya. Pada bulan Januari 1968, KPdSU pertama kali membahas tentang perkembangan negara-negara sosialis tetangganya. Dubeck berpidato pada sidang tahun ke 20 atas perpindahan kekuasaan KPC yang di tunjukkan sebagai Konter-Revolusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan antara pemimpin KPC dan perwakilan negara-negara blok timur membuktikan bila telah terjadi jenjang waktu perkembangan. Para reformis menuntut pada penyelesaian mata uang, mereka benar-benar menohok telinga yang tuli. Hasilnya pada bulan Juni dilakukan manuver di tubuh CSSR, bahwa pada 21 Agustus mendapatkan 300.000 tentara, sebagai Bantuan Seruan dari kepercayaan kamunis Ceko terhadap Moskow. Akhirnya dimana-mana banyak tentara, namun secara politik tak berpengaruh. Pemimpin Soviet tidak mempertimbangkan bantuan yang lebih luas bagi masyarakat untuk Dubcek, para penentang yang tak berbahaya itu, justru tak membuat keselamatan tentara. Pertama Moskow Mendikte dengan berhasil agar Kemelut Musim Semi di Praha segera diakhiri: masalah tindak kekerasan di ibu kota Soviet, pemimpin Ceko harusnya bisa menerangkan, Kegiatan organisasi-organisasi anti sosialis yang berkaitan dengan perintah bertindak untuk memperkuat aturan partai. Ketika Dubcek kembali dari Moskow dan mulai berpidato, dia tak bisa menahan tetesan air matanya. Satu sisi dia gembira, pada sisi lain mendapatkan kesulitan sebagai seorang politikus terhadap nasib bangsa Ceko yang mengalami kekalahan pada hari ini hingga 30 tahun yang akan datang. Pertama, keberhasilan revolusi damai menuntut pembaruan dan menggeser Alexander Dubcek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 29 September 1938 diadakan perjanjian diplomatik antara Hitler, Mussolini, Chamberlain dan Daladier. Diperoleh persetujuan bila Ceko tidak mau menjadi anggota kekuasaan Jerman di bawah nasional sosialis, akan tetapi setengah tahun kemudian, tepatnya pada 15 Maret 1939, Hitler menanda tangani sebuah perjanjian bahwa Jerman akan menjadi pelindung dari dua daerah Böhmen dan Mähren, sementara Slowakia juga minta menjadi negara yang dilindungi dalam kapasitas yang terbatas dari tentara Hitler.  Secara de facto negara republik Cekoslowakia sudah tak ada lagi. Di London Edvard Benes menyusun pemerintahan provisoris, pada tahun 1943 dia meminta dukungan Stalin untuk membangun pemerintahnya di dekat perbatasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada era perang dunia kedua, kekejaman Jerman dibawah partai nasional sosialis membuat banyak bangsa menjadi korban. Reinhard Heydrich sebagai perwakilan partai nasional sosialis Hitler di Ceko menjadi sasaran pembunuhan pada 26 Mei 1942. Pada 5 Mei 1945 bangsa Ceko di Praha melawan tentara Hitler yang mendapat sokongan dari Soviet. Lebih dari 30.000 warga Ceko dan Slowakia menjadi korban pembantaian Hitler. Sekitar 200.000 warga Ceko, Slowakia dan Yahudi-Jerman kedapatan meninggal di bunuh di tempat penampungan kota Theresien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara tahun 1945 - 1948, di Slowakia timur Edvard Benes berhasil mendirikan sebuah kabinet komunis yang kembali ke negara Cekoslowakia. Bulan berikutnya telah diputuskan sebuah resolusi oleh sekutu terhadap pengusiran - yang mencapai 2,3 Juta jiwa tentara Jerman, hanya sekitar 100.000 yang diizinkan tinggal. Partai komunis dalam pemilu tahun 1946 memperoleh 43,3%, yang merupakan partai terkuat. Pelaksanaan pemerintahnya mengikuti aturan dari Soviet. Pada Februari 1948 dipilihlah presidennya Edvard Benes, namun di bulan Mei dia harus meletakkan jabatan, untuk memperbaharui pemerintahan dan mengangkat Klement Gottwald sebagai perdana menteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara tahun 1948 - 1960, tepatnya pada 9 Mei 1948 bangsa Cekoslowakia memproklamirkan diri menjadi Republik Rakyat Demokrat Bersatu dimana kekuasaan pemerintahan ada di tangan Partai Komunis Cekoslowakia (KPC). Sektor industri menjadi tumpuhannya dan dimiliki oleh negara, pada tahun-tahun berikutnya seluruh kekayaan ladang pertanian di kumpulkan dan dikuasai oleh negara. Setelah pemerintahan ini berjalan dan juga menaklukkan musuh politiknya, pada tahun 50-an mengalami penyimpangan sendiri dan berangsur-angsur menjadi lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara tahun 1960 - 1968, pada tahun 1960 terjadi perubahan undang-undang negara, yang awalnya bernama republik rakyat sosialis menjadi nama baru Republik Sosialis Cekoslowakia (CSSR). Akhirnya rakyat membenahi kehidupan dengan semangat yang dipilihnya sendiri memakai bentuk sosialisme. Meskipun demikian, semua kekuatan pertanian telah dioptimalkan tetap saja tidak memadai, juga telah dibantu dengan reformasi pada sistem ekonomi dari Ota Sik,- agar supaya tingkat kehidupan standar bisa bertahan. Ketidak puasan pada sektor ekonomi meledak bersama-sama dengan keputusasaan, bahwa pencapaian Sebuah Manusia Sosialis Baru menjadi sebuah utopi belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejolak musim semi di Praha tak terhindarkan, kritik yang ditujukan kepada fungsionaris generasi lama dan penolakan terhadap doktrinasi yang menjurus pada pelaksanaan pemilu tahun 1968, dan berhasil dipilih Alexander Dubcek, yang dikenal mempunyai kepribadian yang kuat sebagai ketua sekretaris jenderal KPC, yang mempropagandakan sebuah Wajah Sosialisme Dengan Kemanusiaan dengan sikap yang longgar terhadap ketergantungan pada Uni Soviet. Tak berapa lama lagi, terjadi krisis di masyarakat terhadap kelesuan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dubcek berkeras kepala pada prinsipnya sendiri, sehingga Moskow bersikap melawan dia, dan toleransi tak ada lagi. Pada 20 dan 21 Agustus 1968, mobil tanks dari pakta Warsawa tiba di Cekoslowakia. Presiden Ludvik Svoboda bersama dengan Alexander Dubcek berkunjung ke Moskow, dan tunduk menghormat kepada penguasa Kremlin: Reformasi dimulai lagi, partai dibersihkan dari kelesuan dan pada April 1969 Dubcek diganti oleh Gustav Husak orang yang terpercaya di partai, yang kemudian tahun 1975 diangkat sebagai presiden. Kehidupan politik dan bangsa di Cekoslowakia menuntut perjuangan terus menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil dari undang-undang politik negara yang diilhami dari gejolak musim semi di Praha tetap dipertahankan. Hanya administrasi Republik yang sentralis dijadikan sebuah federasi dari negara bagian Ceko dan Slowakia yang menghendaki pemerintahan dan parlemen sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan politik luar negeri selalu merujuk ke CSSR, terus menghangat: pada 11 Desember 1973, di Praha telah diadakan penanda tanganan sebuah perjanjian kerja sama antara pemerintah Jerman dan CSSR, yang sekaligus menjelaskan kembali pada perjanjian Münchener tahun 1938 yang tidak jelas, atas korban tindak kekerasan Hitler dan membuat sebuah kerja sama baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perubahan Politik dan Berpisahnya Ceko dan Slowakia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dengan besar hati berdasar dokumen akhir dari Helsinki pada 1 Januari 1977 sebuah kelompok yang mengatas namakan hak-hak rakyat yang diwakili oleh seorang sastrawan Vàclav Havel menuntut dengan ditegakkannya Charta 77&lt;br /&gt;utamanya pada hak kebebasan berpendapat harus mendapat perlindungan. Penanda tanganan Charta 77 pada waktu selanjutnya mendapat balasan penganiayaan dan dikesampingkan oleh pihak penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politik Michail Gorbatschow menganggap pemimpin di Cekoslowakia tak ada yang istimewa. Setelah para demonstran mengkritik dengan brutal pada rezim berkuasa, di tambah lagi dengan langkah dibukanya Hongaria dan pendudukan para pengungsi atas kedutaan besar DDR,- pada 19 November 1989 Vàclav Havel mendirikan forum rakyat, sebagai corong gerakan demokrasi. Dengan demonstrasi massal dan tekanan pada mogok secara umum membuat para pemimpin Partai Komunis tak bisa bertahan lagi: pada 9 Desember 1989, di bentuklah Persetujuan Pemerintah Nasional dimana anggota dari komunis merupakan bagian terkecil. Setelah Gustav Husàk lengser, segera dipilih presiden baru pada 29 Desember 1989 - tanpa pertumpahan darah, agar supaya negara komunis itu menyerah pada Revolusi Damai (Samtene Revolution).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui pemilihan parlemen yang bebas pada 8 Juni 1990 terbentuklah gerakan pejuang hak-hak rakyat baik di republik Ceko maupun di republik Slowakia, atas kemenangannya maka dibentuklah cikal bakal pemerintah baru CSFR. Perkembangan selanjutnya adalah kecenderungan ide untuk berpisah antara kedua republik itu, bukanlah yang terakhir dalam bayangannya untuk mengadakan privatisasi di bidang ekonomi, dan terkonsentrasi untuk memajukan industri berat, merupakan hambatan besar bagi Slowakia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pemilihan parlemen 7 Juni 1992, terjadi persatuan di republik Ceko yang diwakili oleh Partai Demokrat Rakyat (ODS) dan republik Slowakia yang diwakili oleh Gerakan Nasional untuk Demokrasi Slowakia (HZDS) yang paling banyak mengumpulkan suara. Pada pemilihan parlemen 3 Juli Vàclav Havel gagal dan di tolak oleh para pemilih dari Slowakia. Pada 27 Agustus 1992 terjadi kerja sama lagi antara perdana menteri Ceko dengan kawannya dari Slowakia sebagai langkah peleburan dari federasi - meskipun sebagian banyak rakyatnya tidak mendukung. Pada 1 Januari 1993, bersatu lagi di CSFR, antara kedua negara pengikutnya, yaitu republik Slowakia dan republik Ceko, yang mana presidennya dipilih sekali lagi Vàclav Havel pada 26 januari 1993.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pemilu tahun 1996, sebagai sebuah patokan, bahwa kwalitas pemerintahan  pada tahun-tahun yang lampau berhasil dengan gemilang dibawah perdana menteri Vàclav Klaus. Kenaikan laju ekonomi cukup menggembirakan yang bisa mengkatrol dia dalam pemilu nanti, namun pada akhir tahun 1997 harus di lengserkan dari pemerintahan karena terjerat kasus korupsi. Pada waktu yang sama negara dalam kondisi krisis ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pemilu yang baru dilaksanakan bulan Juni 1998, partai sosial demokrat sebagai partai yang terkuat, sejak itu minoritas pemerintah memberi toleransi melalui ODS. Kedua partai itu telah menyatu dan berorientasi ke negara-negara Eropa barat, yang diikuti berhasilnya negara Ceko masuk anggota NATO pada awal tahun 1999 dan tujuan berikutnya adalah akan masuk anggota EU. Sebuah ironi politik, negara Ceko dan Slowakia berpisah, tapi nantinya juga akan bersatu lagi dalam masyarakat Eropa Union.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Vàclav Havel, penyair sebagai presiden&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Vàclav Havel bukan seorang diplomat ataupun politikus, perjalanan kariernya dimulai dari seorang dramawan, humanis, oposisi, dan fanatik pada kebenaran. Dalam tempo beberapa minggu saja kariernya dari seorang penentang negara menjadi seorang penguasa negara. Dia lahir tanggal 5 Oktober 1936 di Praha, dan selama lima tahun mendekam di tahanan. Di bawah rezim partai komunis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vàclav Havel telah terpinggirkan dan tak mendapat kesempatan berkembang. Ayah Havel adalah seorang pengusaha kaya. Tahun 1948 setelah rezim komunis berkuasa, kekayaan keluarga Havel telah diambil alih negara, Havel muda menjadi keturunan kelompok Borjuis yang mengenyam pendidikan setaraf SMU, dia mulai belajar membuat sajak bersama seorang kawannya Milos Forman (Amadeus) yang belakangan menjadi seorang sutradara di Hollywood. Tahun 1956 terjadi pemberontakan di Hongaria, Havel yang masih berusia 20 tahun ikut menjadi peserta simposium sastrawan dengan tema yang amat genting atas reformasi yang setengah hati. Havel makin terus aktif dalam membuat karya teater, tahun 1969 dia menerima penghargaan sastra berkaliber Eropa dari pemerintah Austria, atas karya teaternya yang berjudul: Hilangnya Bahasa Birokrasi Yang Biadab (der Verlust der Sprache durch eine entmenchlichte Bürokratie). Karya-karya teater Havel mendapat larangan lagi, dan dia ber exil ke bagian utara wilayah Bohemia. Tahun 1977 Havel bekerja sama dengan filosof Jan Patocka dan Jiri Hajek, seorang bekas komunis reformis. Havel mendekam di penjara selama lima tahun dari tahun 1979 hingga 1983. Karena menderita radang paru-paru sehingga mengundang protes di masyarakat untuk membebaskannya. Mulai Oktober tahun 1989, pertama kalinya dia dipilih menjadi presiden di luar orang komunis sejak tahun 1948. "Saya tak pernah membayangkan menjadi seorang politikus", jawab Havel yang paling populer dalam sebuah interview. "Saya merasakan dan saya masih beranggapan bahwa saya seorang sastrawan. Tapi dari seluruh hidup saya, akan saya abdikan sepenuhnya untuk sebuah tanggung jawab. Itu memaksa saya untuk menunjukkan daya tarik pada sesama manusia, masyarakat, terhadap kepribadian saya sendiri. Kemauan politik rakyat banyak telah mengantarkan saya ke puncak istana presiden. Disini saya tak ada pilihan lain"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/353989214924491867-1158833066504354959?l=membacakafka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://membacakafka.blogspot.com/feeds/1158833066504354959/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=353989214924491867&amp;postID=1158833066504354959' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/1158833066504354959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/1158833066504354959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://membacakafka.blogspot.com/2008/12/tengok-franz-kafka-di-praha-sejarah-dan.html' title='[Tengok Franz Kafka di Praha] Sejarah dan Politik'/><author><name>pembacakafka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15073329425967061288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-353989214924491867.post-1443101596644161054</id><published>2008-12-16T08:35:00.000-08:00</published><updated>2008-12-22T11:36:57.760-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tengok Franz Kafka di Praha'/><title type='text'>[Tengok Franz Kafka di Praha] Sastra di Warung Kopi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dalam kunjungan saya di Praha, di sana hidup orang Ceko, Jerman dan Yahudi saling bergandengan, tanpa saling menginjak jari kakinya. Mungkin mereka tidak saling memahami bahasanya, namun bukankah di pohon yang besar itu juga terdiri dari Burung yang tak mengerti bahasa Tupai, juga tak mengerti bahasa Tikus yang mendekam di akar pohon, tapi mereka hidup saling berkecukupan. &lt;/span&gt;(Oskar Kokoschka)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ada satu yang kurang, bahwa saya tak bisa membayangkan wajahnya yang mendetail itu. Hanyalah ketika dia meninggalkan meja warung kopi, sosoknya, pakaiannya, yang masih bisa saya lihat.&lt;/span&gt; (Tulis Franz Kafka pada surat keduanya pada Milena)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Warung Kopi yang ternama adalah Arco, disitu kawan-kawan berkumpul menghabiskan malam yang hangat, dan memikat,&lt;/span&gt; (Celoteh Karl Kraus)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Di warung kopi itu, karya sastra di buat, di koreksi, di bicarakan atau berlagak bermain sandiwara keluarga, menangisi sebuah kehidupan, menyindir kehidupan. Di warung kopi itu, orang-orang makan dengan mengutang, hidup dan bermalas-malasan untuk mengusir sang waktu"&lt;/span&gt;, ungkap seorang pengarang wanita Ceko yang terbunuh tahun 1944, yang juga kawan Milena Jesenkà.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair Maria Rilke mengungkapkan perihal warung kopi;...Warung kopi Slavia: tempat berkumpulnya para penyair dan pelukis, bintang film dan mahasiswa. Sehabis nonton teater, tampak muka-muka murung, dan bila mereka saling menyapa, tersenyum dengan kejengkelan. Mereka berpakaian sangat mencolok atau seadanya tanpa banyak menghiraukan, pada penampilan pertama sulit diketahui kumpulan apa itu. Pertama minum-minum teh atau bir Budweiser suatu pertanda pembuka, bahwa kesamaan dalam pikiran telah dicampakkan, makin banyak peminat dan makin maju pembicaraannya, makin lama makin seru bahwa kemauan puncak bukanlah sebagai kegentingan belaka dan bahwa mereka tidak duduk berdampingan sebagai khayalannya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warung kopi Arco adalah untuk kumpulan orang-orang Jerman, dan warung kopi Union untuk mangkal sastrawan Ceko, sedang warung kopi Slavia tempat berkumpul berbagai kelompok netral. Khusus warung kopi Slavia ini tempatnya yang romantis dekat dengan tempat pertunjukan teater, kantor penerbitan, atau redaksi koran. Seperti warung kopi di Berlin Cafe Grössenwahn atau warung kopi Central di Wina. Tempat tempat itu biasa untuk bertemu para seniman terkenal, sebagai tempat berpolemik satu sama lainnya dan juga menyebarkan skandal. Warung kopi adalah tempat untuk bersantai, tapi juga tempat untuk saling membagi berita dan mencari lowongan kerja. Tanpa memperdulikan asap rokok dan suara bising saling ngobrol, disinilah tumbuh kelompok seniman, pembuatan program, membaca dan mengedit koran dan bacaan, menterjemahkan sajak-sajak dan menemukan dunia setiap hari menjadi baru lagi - warung kopi bisa membangkitkan suasana tersendiri, tanpa melakukan apa-apa dan memberi daya inspirasi yang mengagumkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Di warung kopi ini, orang berdiskusi, berencana, berdebat dengan penuh gairah dan koran erotis "La vie parisienne" berpindah dari tangan satu ke tangan yang lain. Dan hari-hari berikutnya lenyap, mirip sebuah bendera rezim dari Batalion" &lt;/span&gt;tulis Jaroslav Seifert, seorang penyair yang menjadi tamu langganan di warung kopi Union.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warung kopi Slavia yang paling indah terletak di sungai Moldau dan berhadapan langsung dengan teater nasional. Rilke dan kawan-kawan penyair lainnya paling suka menikmati di warung kopi ini sambil memandang sebuah kuil indah disamping kwalitas hidangan dan pelayanannya sangat baik. Di warung kopi Arco penyair-penyair muda dari kalangan Praha sendiri mulai bertemu di sini sejak tahun 1908, mereka membaca majalah-majalah sastra atau melakukan aksi deklamasi dari karya-karyanya anak muda sendiri. Diantara sastrawan Jerman yang menonjol dan diakui adalah Franz Werfel, yang dipuji sebagai sastrawan berotak cemerlang. Kelompok kawan-kawannya antara lain; Willy Haas, Paul Kornfeld, Max Brod, Oskar Baum dan Franz Kafka. Sebuah karya pertama yang sensasional muncul dalam buku kumpulan penyair berjudul "Kawan Dunia" (Der Weltfreund). Pada masa sekarang ini, sudah tidak jamannya lagi sastrawan menggarap karya sastranya siang dan malam dihabiskan di meja tulis di rumah, tapi mereka bertemu sesama kawannya dan saling minum kopi menemukan lompatan ide-ide baru, karena koran kadang di warung kopi itu tak ada, sehingga aroma kopi makin bertambah nikmat. Beberapa sastrawan Ceko yang ber exil antara lain; Ota Filip (lahir 1930), dengan berbagai argumennya dengan pemerintah monarki hingga akhir tahun 1960-an, Filip juga di kejar rezim komunis. Nasib Filip sama dengan Ludvik Vaculik (lahir 1926), harus exil karena dia menuntut dengan membuat sebuah Manifesto 2000 Kata yang di Ceko sendiri tak boleh di publikasikan, juga romannya berjudul "Kampak" (Das Beil) yang sudah dipublikasikan ke dalam beberapa bahasa. Milan Kundera (lahir 1929) dengan memakai paspor Perancis, dia pergi ke Paris sejak 1981. Penulis berbahasa Perancis ini menjadi populer berkat karyanya berjudul Ekistensi Ringan Yang Tak Tertahankan (Die unerträgliche Leichtigkeit des Seins) bahkan karyanya itu menjadi bestseller dunia. Peraih hadiah nobel sastra dari Cekoslowakia pada tahun 1984 adalah Jaroslav Seifert (1901-1986) yang memancarkan lampu terang dunia sastra ke luar Cekoslowakia. Sejak muda dia sebagai penyair yang aktif di partai komunis dan mengadakan perombakan pada sistem teror dari Stalin. Dia salah satu orang penting dalam peristiwa musim semi Praha tahun 1968 dan termasuk ikut memberi tanda tangan pada Charta 77, hingga akhir hayatnya dia aktif di politik. Salah satu sajaknya dijadikan sebuah lagu Himne keindahan kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/353989214924491867-1443101596644161054?l=membacakafka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://membacakafka.blogspot.com/feeds/1443101596644161054/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=353989214924491867&amp;postID=1443101596644161054' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/1443101596644161054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/1443101596644161054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://membacakafka.blogspot.com/2008/12/tengok-franz-kafka-di-praha-sastra-di.html' title='[Tengok Franz Kafka di Praha] Sastra di Warung Kopi'/><author><name>pembacakafka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15073329425967061288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-353989214924491867.post-4620873230211851710</id><published>2008-12-16T08:30:00.000-08:00</published><updated>2008-12-22T11:37:36.523-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tengok Franz Kafka di Praha'/><title type='text'>[Tengok Franz Kafka di Praha] Riwayat Hidup Franz Kafka</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="display: block;" id="formatbar_Buttons"&gt;&lt;span class="" style="display: block;" id="formatbar_JustifyFull" title="Rata Penuh" onmouseover="ButtonHoverOn(this);" onmouseout="ButtonHoverOff(this);" onmouseup="" onmousedown="CheckFormatting(event);FormatbarButton('richeditorframe', this, 13);ButtonMouseDown(this);"&gt;&lt;img src="http://www.blogger.com/img/blank.gif" alt="Rata Penuh" class="gl_align_full" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Asal Mula&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nenek moyang dan orang tua Kafka berasal dari pedesaan di negeri Ceko. Di desa itu hanya terdapat sedikit warga Yahudi, mereka mendirikan kelompok agama, kelompok antar warga Yahudi, juga didirikan sekolah swasta yang menggunakan bahasa Jerman. Karena terjadi desakan dari kelompok nasionalis bangsa Ceko terhadap pendatang Yahudi, sehingga mereka banyak yang harus melarikan diri ke ibu kota Praha. Di pemukiman baru di ibu kota itu, makin cepat berkembang dan berpisah dengan kelompok bangsa lain yang berasal dari Jerman. Herman Kafka (Ayah Franz Kafka), lahir tahun 1852 berasal dari desa Wossek di Bohemia selatan. Anak-anak Herman Kafka belajar bahasa Jerman di sekolah swasta Yahudi. Julie Löwy (Ibu Franz Kafka), lahir tahun 1856 di Podebrady nad Labem berasal dari keluarga kaya dan pendidikan tinggi. Ketika Herman Kafka mengikuti wajib militer dan berpindah ke Praha, dia menikah dengan Julie Löwy pada tahun 1882. Kemudian keduanya mendirikan sebuah toko yang menjual peralatan kecantikan, payung dll. Usahanya makin berhasil, Herman Kafka mulai merintis sebuah Sinagoga tempat sembahyang bagi warga Yahudi. Herman Kafka yang berasal dari keluarga Ceko-Yahudi membuat usahanya makin digemari kedua warga, baik Ceko maupun Yahudi sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Masa Kecil &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Franz Kafka lahir 3 Juli 1883 di Eckhaus Maislgasse-Karpfengasse (Kaprova), anak tertua laki-laki dari enam bersaudara. Dua adik laki-laki meninggal masih muda, kemudian lahir tiga adik perempuan; Elli (1889), Valli (1890), Ottla (1892). Keluarga Kafka mempunyai seorang tukang masak, pembantu rumah tangga berkebangsaan Ceko bernama Marie Werner, dan seorang pengasuh anak-anak berkebangsaan Perancis bernama Bailly. Keluarga Kafka sering tinggal berpindah-pindah di Wenzelsplatz 56, Geistgasse V/187, Niklasstrasse 6, Zeltnergasse 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1889 di Alstädter Ring 2&lt;br /&gt;1896 di Zeltnergasse 3 (Celetna)&lt;br /&gt;1907 di Niklasstrasse 36 (Parizska)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toko ayah Kafka pertama di Zeltnergasse 12, kemudian di Kinsky-Palais, dan di Altstädter Ring 16. Dengan kehidupan hiruk pikuk di keluarga, usaha toko dan kehidupan kota, membuat Kafka tertekan dan mengalami kehidupan yang terbatas. Tahun 1919 dia mulai menulis sebuah biografi yang dirahasiakan berjudul "Surat untuk Ayah" (Brief an den Vater), sebagai sebuah tanda betapa sulitnya seorang anak yang sensitif hidup diantara kekuasaan Ayahnya yang diktatoris, kokoh pendirian, dengan ibunya yang sentimental dan penuh kasih sayang. Surat itu menandakan sebuah kesulitan hidup Kafka dengan kekuasaan Ayahnya yang berlebihan, sehingga Kafka berusaha membuat sebuah kebenaran dalam kebimbangannnya pada sebuah pembelaan dirinya dengan peka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Sekolah Dasar (1889-1893)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada 9 September 1889 Kafka masuk sekolah dasar milik kelompok warga  Jerman di kawasan pasar daging selama empat tahun. Murid-muridnya sebagian besar Yahudi. Bahan pendidikannya berasal dari negara-negara dibawah kekaisaran Austria. Pada kelas pertama, kedua, ketiga hingga ke empat gurunya adalah Yahudi, kadang orang Ceko, sedang kepala sekolahnya orang Jerman. Di sini Kafka mulai berkawan dengan Hugo Bergmann.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. Sekolah Menengah (1893-1901)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bulan September 1891 Kafka masuk sekolah menengah pertama berbahasa Jerman di kawasan Kinsky-Palais. Kafka termasuk murid yang baik, pada tahun pertama hingga ketiga, selalu menduduki rangking tertinggi, menurut hasil rapor tahunannya. Ayah Kafka memilihkan sekolah bergengsi ini, dengan harapan agar anaknya bisa memperlajari bahasa Latin, Yunani, dunia klasik dan spiritual. Kenyataannya, Kafka justru tertarik pada kawan-kawannya sesama dari Praha termasuk seorang penulis dan filosof Bohemia Fritz Mauthner. Pada pelajaran bahasa Jerman, Kafka berkenalan dengan gurunya yang seorang penulis terkenal yaitu Johann Peter Hebel yang menulis Kotak perhiasan dari teman keluarga Rhein (Schatzkästlein des rheinischen Hausfreundes). Buku itu menjadi salah satu bacaan favourit Kafka. Kafka berkenalan dengan Max Brod dan mendapat pinjaman buku-buku bacaan seperti: Shakespeare, Goethe, Schiller dll. Kafka harus berkenalan dengan cerita-cerita dongeng dari Jerman juga karya-karya klasik, yang muncul dalam bacaan sekolah dan dari gurunya. Kafka juga di tunjang dengan koleksi buku perpustakaan Ayahnya di rumah, namun Ayahnya mulai tak bisa menghalangi minat membaca dan menulis anaknya. Orang tuanya menghendaki bila kelak Kafka bisa mewarisi dan meneruskan usaha dagang orang tuanya. Pada tahun ke empat Kafka pindah ke lantai pertama rumahnya jalan Celetna 3. Rasa takut dirinya yang tidur sendiri di kamar itu, yang jendelanya langsung menghadap ke jalan Celeta. Lalu muncul karya Kafka berjudul "Jendela menghadap ke Jalan" (The Window onto the Street), merupakan salah satu karya awalnya yang di kumpulkan dalam karya "Meditasi" (Betrachtung/Meditation). Kemudian dia menghancurkan semua karyanya sendiri saat di sekolah yang sudah dimulai sejak tahun 1897. Pada kelas ke 6 dan 7 Bergmann kawan akrap Kafka menyetujui gerakan zionis, sebaliknya Kafka menolak, Kafka memilih ke faham sosialis. Pada tahun 1899 diadakan konggres zionis internasional pertama di Praha yang melebur antara zionis dan sosialis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. Universitas (1901-1906)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Universitas Karl didirikan pada 7 April 1348 merupakan Universitas pertama di Eropa tengah, pada tahun 1882 Universitas tersebut  terpecah menjadi dua; Universitas Jerman dan Universitas Ceko. Kafka mendaftar di Universitas Jerman untuk semester musim dingin tahun 1901-1902. Seperti kawan Kafka, Oskar Pollak dan Bergmann tidak menyukai jurusan yang khas Yahudi yaitu Hukum dan Kedokteran. Kafka pun memilih mempelajari Kimia. Namun Kafka tidak suka praktek di laboratorium, kemudian dia bepindah memilih jurusan Hukum juga pada bidang Jurisprudensi dan juga menekuni sastra Jerman dan mulai mengenal tokoh August Sauer, cerita legendaris bangsawan Jerman. Mata kuliah lain yang diikuti disamping Sastra Jerman, juga Sejarah Seni, dan Filsafat. Kafka mulai bersahabat dengan Max Brod dan tertarik dengan teori berpikir. Kafka dulunya pernah mencoba menulis puisi lalu dibatalkannya sendiri, dalam beberapa suratnya terkandung nilai-nilai sastra. Dia juga menulis beberapa cerpen dan prosa pendek, mungkin yang tersirat dalam karyanya berjudul "Gambaran Sebuah Perlawanan" (Beschreibung eines Kampfes). Brod mulai mengurus novelnya Kafka itu tahun 1902. Kafka membaca karya Flaubert dan pada bulan Januari 1904 di dalam kereta api dia membaca hingga selesai buku harian dari Hebbel sebanyak 1800 halaman. Kafka menyimak acara sastra dari penerbit Fischer. Selma Robitschek-Kohn meyakinkan bila Kafka juga membaca Nietzsche. Dari tahun 1901-1904 Kafka terpengaruh Pollak dan Avenarius ikut berlangganan media "Seni Terkini" (Kunstwart). Dia banyak menghadiri ceramah sastra, ceramah tentang Nietzsche, juga tergabung dalam kelompok mahasiswa Jerman, yang punya perlengkapan perpustakaan dari berbagai pengarang dunia. Sejak tahun 1902 Kafka berkenalan dengan Felix Weltsch dan Baum. Kafka punya rasa humor dan tahu cara bergaul, dia seperti kawan-kawan lainnya tak hanya suka mendatangi acara-acara budaya, tapi juga sering main ke bar dan warung kopi serta ke bordil. Pada usia 20 tahun, Kafka  berminat mengamati bidang politik dan sosial. Dalam sebuah suratnya kepada kawannya Oskar Pollak, Kafka bersimpati pada aksi protes yang dilancarkan Pollak untuk menuntut hak-hak sosial kaum pekerja dagang. Pada semester musim dingin tahun 1903, Kafka mengambil peran dalam acara sastra dan sosial yang diadakan kelompok mahasiswa Jerman. Di Warung kopi Louvre, Kafka bersama kawan-kawannya Max Brod, Hugo Bergmann dan Felix Weltsch termasuk kelompok penggemar filsafat yang membahas ajaran filosof Franz Brentano yang sangat berpengaruh di Praha waktu itu. Di Salon Berta Fanta, juga diadakan sebuah diskusi filsafat yang membahas pandangan Brentanis dengan mengambil dasar pemikiran dari Fichte, Kant dan Hegel, waktu itu Kafka sebagai mahasiswa dan pendengar yang pendiam. Catatan mata kuliah dari Brod mempermudah persiapan ujian Kafka. Tahun 1903 telah maju ujian negara dengan mata kuliah sejarah hukum, saat mempersiapkan ujian tersebut pada usia 20 tahun Kafka pertama kali berpengalaman sex dengan pegawai toko, seperti suratnya yang ditulis kepada Milena Jesenska tahun 1920. Pada musim panas tahun 1905 Kafka melakukan perjalanan liburan ke Schlesien (daerah barat daya Polandia). Disini dia pertama kali jatuh cinta pada seorang perempuan yang ditulis dengan judul "Seorang Perempuan, yang tidak Saya Ketahui" (Eine Frau, ich unwissend). Belakangan dia merahasiakan dan hanya membandingkan dengan Seorang Perempuan Swiss (Schweizerin). Akhir tahun 1905 dia makin aktif dengan Kelompok Praha (Prager Kreis). Kafka telah lulus ketiga ujian lisan dengan mata kuliah Hukum Umum dan Masyarakat Austria, Hukum Internasional dan Ekonomi Politik. Kafka menerima gelar Doktor Ilmu Hukum pada 8 Juni 1906, dengan nilai Memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6. Masa Bekerja dan Awal Berkarya Sastra (1906-1912)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kafka praktek sebagai pengacara yang tanpa gaji dari 1 April hingga 1 Oktober 1906 pada kantor pamannya Dr. Richard Löwy di Praha. Mulai 1 Oktober 1906 hingga 1 Oktober 1907 juga praktek sebagai pengacara hukum pada pengadilan daerah Praha. Mengabdi ke pengadilan merupakan tugas wajib negara. Tapi Kafka tak serius melakukannya, pengalamannya membuahkah inspirasi pembuatan karyanya berjudul "Gambaran Sebuah Perlawanan" (Beschreibung eines kampfes). Rencana dia sebenarnya akan melanjutkan belajar di Akademi Ekspor Wina di Austria, setelah itu akan merantau ke Amerika selatan. Tahun 1907 berkat hubungan dengan pamannya Alfred Löwy di Madrid, dia bisa diterima bekerja di kantor Asuransi Umum (Versicherungsgesellschaft Assicurazioni Generali) yang kantor pusatnya berada di Triest-Itali, sedang di Praha hanyalah sebagai kantor perwakilan, sebenarnya Kafka berharap dengan bekerja dirinya bisa keluar dan pergi dari Praha. Di kantor perwakilan asuransi itu, Kafka sebagai pegawai sementara (Temporär) yang bertugas pada bagian asuransi jiwa, dengan gaji 80 Krone per bulan, dengan jam kerja antara 08.00-12.00 dan 14.00-18.00, serta keharusan kerja lembur tidak mendapatkan gaji tambahan, liburan hanya diberikan selama tujuh hari setahun. Di tempat kerja ini, Kafka sudah mulai tidak krasan, disamping tak ada waktu lagi bagi dirinya untuk menulis. Dari bulan Februari hingga Mei 1908, Kafka belajar di Akademi Perdagangan Praha, bidang asuransi tenaga kerja. Dia sudah mempersiapkan ujian dan hampir mendaftar lagi di kantor asuransi pemerintah kerajaan Bohemia di Praha lewat bantuan hubungan Ayahnya. Kafka akhirnya keluar kerja dari asuransi umum. Pada tahun 1908, Kafka masuk kerja di kantor  Asuransi Kecelakaan Tenaga Kerja (Der Arbeiter-Unfall-Versicherung-Anstalt), sebagai tenaga pembantu, namun dibanding di tempat kerja yang lama di Asuransi Umum, di tempat baru ini jauh lebih baik. Jam kerja mulai 08.00-14.00 tanpa istirahat, sebagai pekerjaan setengah hari yang memungkinkan dirinya untuk bisa menulis. Menurut keterangan dokter saat mulai pekerjaan barunya, Kafka mempunyai berat badan 61 kg dan tinggi 182 cm. Pada tahun 1908 kantor tersebut mendapat direktur baru yang handal dan tahun 1910 menugasi Kafka sebagai konseptor, tahun 1913 Kafka menjadi wakil sekretaris, tahun 1920 menjadi sekretaris penuh, tahun 1922 Kafka diangkat menjadi Kepala sekretaris. Pada 1 Juli 1922, Kafka harus pensiun. Setiap tahun Kafka mendapat gaji sekitar 1400 Krone, tergolong gaji yang cukup bagus saat itu. Kafka bekerja pada bagian tehnik yang amat penting untuk membuat statistik kerja juga surat menyurat. Kafka mendapat penghargaan atas prestasinya dari kantornya yang berbunyi: "Dr. Kafka seorang pekerja yang sangat rajin dengan penuh bakat dan loyalitas, juga hubungannya dengan sesama kawan kerja dan atasannya selalu baik". Marchner dan Ostrcil, ketua bagian mengagumi Kafka, yang disebut sebagai pekerja yang canggih. Pekerjaan Kafka berhubungan erat dengan; a)pemilik perusahaan, b)asuransi dan c)negara. Ketiga bidang itu telah digeluti setiap hari dengan baik. Pengalaman itu mengilhami karyanya yang berjudul "Koloni Hukuman" (Strafkolonie). Kafka tetap bersahabat dengan keluarga Bod, Baum, Werfel dan Kisch, namun merasa dipengaruhi oleh Brod. Kafka mengunjungi beberapa ceramah dari Claudel, Kraus, Loos, Steiner, dan Buber. September 1909 Kafka bersama Max Brod dan Otto Brod berlibur ke Tirol dan Itali, Oktober 1910 Kafka dan Max Brod berlibur ke Paris, Desember 1910 ke Berlin, akhir musim panas 1911 juga dengan Max Brod ke Switzerland, menuju Milano, Itali dan ke Paris, Perancis. Sejak itu horison Kafka makin terbuka melihat dunia di luar Cekoslowakia. Kafka pernah jatuh cinta pada Aktrice Tschissik, seorang perempuan yang sudah bersuami. Maret 1908 muncul karya awal Kafka berupa delapan buah prosa dengan judul "Meditasi" (Betrachtung), tahun 1909 muncul karya lain berjudul "Percakapan dengan Orang yang Berdoa" (Gespräch mit dem Beter), dan "Percakapan dengan Pemabuk" (Gespräch mit dem Betrunkenen). Brod mengagumi karya Kafka yang berbentuk puisi prosa itu, sebaliknya Werfel meyakinkan bahwa; "karya Kafka tradisional dan bersifat lokal Praha, tak ada orang yang mengerti karya Kafka". Percetakan Weber dari Munchen, melontarkan kritik pada karya Kafka hampir ke seluruh koran di Bohemia, membuat Kafka marah. Wiegler, redaktur koran sastra dari Berlin yang sudah lama mengagumi Kafka datang ke Praha untuk menerbitkan ulang karya "Meditasi" (Betrachtung), juga karya lain "Renungan ulang bagi Tuan Penunggang Kuda" (Zum Nachdenken für Herrenreiter), juga "Pesawat Terbang dari Brescia" (Die Aeroplane von Brescia). Karya tersebut diilhami ketika Kafka dan Brod serta Otto mengunjungi Südtirol, Kafka punya keinginan untuk menengok sebentar pameran pesawat terbang di Brescia. Ketika Brod, dan kawan-kawan sastrawan lainnya seperti Musil, Wiegler atau Baum sudah menerbitkan buku mereka, Kafka masih belum, dia lebih suka menerbitkan sendiri karyanya. Agak berlebihan, prestasi karya sastra dari seorang pegawai asuransi: banyak ceramah diselenggarakan dari tahun 1908 hingga 1911, tidak terus terang menggunakan nama dirinya, meskipun banyak saksi meyakinkan dan Kafka sendiri akhirnya juga mengakui. Kafka makin kewalahan dengan banyaknya ceramah, terbukti dalam catatan hariannya tahun 1910, telah lima kali lebih banyak dari biasanya, dalam buku hariannya juga ditulis; "Telah di tinggalkan dan di coret", buku hariannya bulan Maret 1912 tertulis; "Hari ini beberapa kertas yang menjemukan dibakar", Kafka merasa dirinya belum mampu, untuk mengurus semuanya, pada awalnya selalu hanya dirobek-robek. Dari awal perobekannya itu terkumpul juga dalam buku hariannya menjadi permulaan dari sebuah novel besarnya berjudul "Dunia Kota" (Die städtische Welt), hal ini juga mendorong lahirnya karyanya sebelumnya berjudul "Keputusan" (Das Urteil), dan bahkan tahun 1911/1912 juga sudah dimusnahkan bentuk awal dari roman Amerika. Lebih penting dari sedikit yang dipublikasikan, Kafka secara jujur mengakui penulisan yang sebenarnya dan disini utamanya adalah buku harian, yang mempunyai pendirian sendiri lewat tulisan: "Saya tak akan pernah lagi melepaskan buku harian, saya harus pegang teguh, kemudian hanya dengan ini saya bisa menulis"  yang tertulis dalam buku hariannya Desember 1910. Pada buku hariannya Februari 1911 dengan judul tulisan "Kehidupan mendua yang mengerikan", di ungkapkan saingan antara pekerjaan dan keharusan menulis pribadi, mungkin hanya nilai yang penting sebagai jalan keluarnya. Hanya melalui tulisan yang inspiratif membuat Kafka bahagia. Buku harian telah membebaskan kebutuhan dirinya, menulis sebuah catatan riwayat diri sendiri, yang sudah di rasakan sejak tahun 1911 dan hasil karyanya sangat jelas terpengaruhinya, dari awal kehidupan sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7. Pendobrakan (1912-1914)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada musim panas 1911, ayah Kafka mengharapkan agar Kafka bisa mengisi waktu senggangnya menggantikan pekerjaan orang tuanya, namun Kafka tetap pada pendiriannya menolak dan sungguh akan mengikuti seleranya menekuni bidang sastra. Liburannya dari akhir Agustus hingga pertengahan September bersama Brod ke "Logano-Paris-Erlenbach" telah ditulis bersama-sama. Kafka menghubungkan setiap kalimat Brod dengan enggan minta izin, dia tulis dengan pedih sampai pada perasaannya yang terdalam. Akhirnya berhasil dalam bab pertama diberi nama "Richard dan Samuel", pada musim dingin 1911/1912 berhasil menulis transkripsi sebanyak 200 halaman , sebagai rangkuman dari roman "Hilang Tak Berbekas" (Amerika). Kafka segera akan memusnahkan rangkuman itu yang dianggap tak ada gunanya. Dari banyaknya karya Kafka tersebut, dia menjadi sedikit yakin untuk menimbang tidak menolak untuk penerbitan buku: pada musim panas 1912 dia dengan Brod mengunjungi penerbit. Brod memperkenalkan pada penerbit Axel Junker di Berlin; namun pembicaraan lebih menarik pada penerbit Rowohlt di Leipzig, penerbit itu diperkuat lagi dengan datangnya Kurt Wolff. Akhir Juni 1912 Brod dan Kafka pergi ke kerajaan Jerman, mampir ke Weimar untuk menghormati Goethe. Kafka makin yakin dengan pertemuan dengan penerbit itu, hasilnya diterbitkanlah karyanya berjudul "Meditasi" (Betrachtung), sejak itu hubungan antara Kafka dan penerbit makin akrab hingga kematian Kafka. Kafka mulai mengurangi menulis cerita pendeknya, tapi tetap penuh isi dan berakhir dengan sempurna, yang selalu menonjolkan tema utama; ketidak berdayaan, kesepian, keasingan, tak ada jalan keluar. Namun Kafka merasa sesungguhnya belum tercapai, sehingga banyak media dan kritikus yang harus menarik diri, bila dia tidak merasa puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8. Percetakan  Rowohlt dan Kurt Wolff&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Percetakan Rowohlt yang didirikan sejak 1910 oleh Ernst Rowohlt (lahir 1887), mulai memberi kesempatan bagi penulis-penulis muda seperti; Brod, Ehrenstein (kakak Brod), Kafka, Trakl, Werfel, Robert Walser dan lainnya. Sejak Wolfft memimpin percetakan itu tahun 1912 terjadi perpecahan antar parner kerja, mulai pertengahan Februari 1913 berdiri sendiri percetakan Kurt Wolfft, percetakan ini yang menyebutnya sebagai generasi Ekspresionis. Percetakan baru ini mulai menerbitkan karya-karya Kafka "Meditasi"(Betrachtung), "Koloni Hukuman" (Strafkolonie) dan "Seorang Dokter Daerah" (Ein Landarzt). Kemudian kedua percetakan Rowohlt dan Wolfft jadi bersatu dan tak mau lagi menerbitkan karya yang sendirian, mereka ingin dari keseluruhan penulis, termasuk sejarah kehidupan Kafka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;9. Felice Bauer&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada 13 Agustus 1912, ketika Kafka datang ke rumah Brod membawa naskah "Meditasi" (Betrachtung), disitu dia bertemu Felice Bauer (lahir 1887), gadis berusia 24 tahun berasal dari Berlin yang bekerja sebagai penulis steno. "Ketika saya duduk", begitu tulis Kafka dalam buku hariannya, "Saya lihat pertama kali gadis itu dengan amat jelas, ketika saya duduk, saya telah memberi keputusan yang tak meragukan", bahkan ketika Kafka mulai menjelaskan potongan prosanya, dia merasa "dibawah pengaruh sang wanita itu". Hari berikutnya saling bertanya apakah Kafka bisa lebih bersahabat lagi. Kafka menggambarkan pada Felice sebagai; "Wajah kosong yang menonjol, leher yang bebas, blus yang dikenakan, serta hidungnya yang tak rata, rambutnya yang pirang, agak kaku, rambutnya yang menjemukan, dagunya yang kuat, keterampilannya, lucu, hidup, yakin dan sehat". Pada paskah 1913 Kafka bertemu Felice lagi, namun Kafka telah mengirim sebanyak 350 surat dan 150 kartu pos kepada Felice. Surat-surat itu jarang ditulis pendek, kebanyakan panjang terdiri dari beberapa halaman yang menceritakan lingkungan kehidupannya, suasana kerjanya juga aktivitas penulisannya. Hubungan yang menegangkan dua sejoli itu bisa disebut sebagai awal "Perlawanan" Kafka. Pertemuan Kafka dan Felice berikutnya di Berlin di hotel Askanischer Hof, kemudian mereka berjalan-jalan. Pada pertengahan Juni 1913 Kafka bertanya pada Felice, apakah dia mau dijadikan istrinya? Kafka merasa tak akan sendiri lagi, tapi takut berhubungan, bukankah kesendirian sebagai syarat untuk menulis; menulis dan hidup itu menjadi satu; tanpa kepandaian menulis, bagi Kafka tak ada kepandaian hidup; dimana menulis diletakkan diluar dirinya, disitu mulai ketidak yakinan pada hidup; pertama menulis, akan mempermudah hidup. Bagi Kafka; "perkawinan mewakili hidup".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kafka mengadakan perjalanan dinas dengan pimpinannya Dr.Marschner ke Wina, juga menghadiri konggres Zionis, lalu pergi ke Triest, Venesia, Verona dan Riva di Gardasee disini Kafka bertemu dengan perempuan Swiss. Surat menyurat antara Kafka dan Felice telah berhenti, bahkan lamaran tunangannya telah dibatalkan oleh Felice. Kafka merencanakan untuk tinggal di Berlin sebagai penulis lepas. Akhir Maret 1914 keduanya rujuk kembali dan memberikan lamaran tunangan, akhir Mei 1914 diadakan pesta tunangan di Berlin. Orang tua Kafka sangat senang dengan Felice; dengan harapan Felice bisa dengan positif mempengaruhi gaya hidup anak laki-lakinya. Namun bagi Kafka, upacara tunangan itu bagaikan "Siksaan". Felice beranggapan hidup bersama dalam satu rumah mengerikan Kafka, sejak dari awal sudah tampak hubungan yang rumit, usahanya untuk mengurangi kedekatannya dalam hidup, pertahanannya kedekatannya pada keinginan menulis, akan membuat ikatan tunangan makin parah. Pada 12 Juli Kafka mengungkapkan isi hatinya pada Felice, bila tunangannya dibatalkan. Dua hari setelah suratnya yang pertama dikirim Felice, pada malam hari 22-23 September 1912 di kereta api, Kafka menulis cerita "Keputusan" (Das Urteil), yang dibayangkan Kafka bagaikan "Hantu tengah malam", yang hanya bisa ditulis, bila hanya dengan keterbukaan yang utuh antara jiwa dan raga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;10. Perang Dunia Pertama (1914-1918)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pecahnya perang dunia pertama pada pertengahan tahun 1914 membuat hancurnya dunia sastra dan percetakan, awal tahun 1914 Robert Musil di undang untuk memberi ceramah, juga kemungkinan rencana penerbitan karya Kafka berjudul "Metamorfosa" menjadi batal. Sejak akhir Juli 1914 Kafka telah menulis "Proses" (Der Prozess), dalam menggarapnya, Kafka seperti biasa, bila menemukan sebuah tahapan menulis, terus meluncur deras rencananya tertumpuk satu sama lainnya, sehingga makin sulit, karena tugasnya saling bersaing untuk diselesaikan pada banyak "Permulaan yang terbuang" lalu diteruskan lagi. Kenang Kafka; "Pada setiap awal novel,  kemudian tak masuk akal. Tak berpengharapan, bila itu baru, masih belum selesai, dimanapun organime ditemukan pada organisasi yang sudah selesai di dunia akan dapat diterima, seperti setiap organisasi kemudian akan berupaya, untuk mengakhirinya". Pada Nopember 1916, Kafka memberi ceramah karyanya di Munchen, dia satu-satunya yang berada di luar Praha di saat perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;11. Kafka dan Ekspresionisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ekspresionisme dalam sastra berbahasa Jerman sudah lahir lebih awal antara tahun 1910-1920. Kata ekspresionisme telah di canangkan untuk membedakan dengan aliran baru impresionisme. Aliran impresionis, apakah penyair atau seniman lukis, memberi kesan bila akan mulai menangkap dari bagian luarnya yang sekarang disebut ekspresionis, lebih terasa lagi dalam kepenyairan ketimbang dalam seni lukis, oleh sebab itu pengalaman kejiwaan tidak lagi secara simbolis, melainkan tak bisa disampaikan dengan penekanan dan dinyatakan seperti dalam perasaan murni dari suara musik. Sering kali, uniknya dan secara individu menarik diri, menolak pengkategorian, kenyataan, semua menekankan artinya kebersamaan. Agar supaya bisa saling berhubungan , bahwa seluruh rentetan seniman ekspresionis mencari kelompoknya dan menemukan aliran-aliran politiknya, dimana manusia diikat dalam kelompok atau untuk memenuhi kerinduan sesuai masyarakatnya dan menemukan kebebasan religiositas. Begitulah reaksi ekspresionisme terhadap naturalisme, impresionisme, materialisme, dalam satu sisi, sedang pada sisi lain sebagai revolusi estetik. Istilah "Ekspresionisme" tidak hanya terdapat pada sastra berbahasa Jerman, melainkan di Itali dan Rusia orang juga mengenalnya dengan sebutan "Futurisme", di Inggris dan Amerika Latin disebut "Imagisme".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 1912, Kafka dijuluki penulis beraliran ekspresionis, Wolfft menolak sebutan tersebut, bahkan Wolfft menganggap karya Kafka aneh, berbeda dengan karya sastrawan lainnya, tak layak untuk di terbitkan, Kafka pun merendah dan menyesali, dalam perkembangan selanjutnya karya Kafka justru memberi warna tersendiri, buktinya banyak penulis lirik seperti Georg Heym, Georg Trakl dan Ernst Stadler telah tergolong ekspresionis yang juga diterbitkan oleh penerbit Rowohlt dan Kurt Wolfft. Ada 23 penulis yang tergabung dalam antologi percetakan Rowohlt, mereka adalah para ekspresionis seperti; Sternheim, Benn, Edschmid, Werfel, Wolfenstein, Schickele, Ehrenstein dan Lasker-Schüler. Pada tahun 1913-1914 sudah nampak, namun baru tahun 1915 pada gilirannya Kafka memunculkan karya "Meditasi" (Betrachtung). Percetakan menindak lanjuti dengan menerbitkan almanak ekspresionis yang terdiri dari para sastrawan dan penyair. Di lingkungan kelompok sastrawan Praha, utamanya kelompok Jerman yang kaya tak sama kuatnya, sastrawan muda Praha tampak formal dan bobotnya tak revolusioner. Kafka makin "Merasa Aneh" di tengah-tengah mereka yang biasa mangkal di warung kopi Arco. Tak pernah terpengaruhi dari gerakan sastra baru, Kafka toh makin tua dan musnah. Dengan jelas hubungan Kafka dengan teman dan penerbitan atau pandangannya terhadap karya Becher, Döblin, Kölel, Lasker-Schüler, juga hubungannya terhadap Goethe, Kleist, E.T.A.Hoffmann, Hebel, Shopenhauer, Dostojewski, Dickens, Flaubert telah menunjukkan tradisi sikapnya yang kuat, yang bisa dibuktikan lewat kepenyairannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemanya tentu saja, Kafka menemukan membelah kembali pada ekspresionisme. Pada era perang Kafka tertarik mempelajari paralel sejarah Zionis, sementara Brod aktif memberi ceramah dan Ottla ikut kelompok perempuan Yahudi. Awal Juli 1916, Kafka bertemu dengan Felice lagi dan menjalin hubungan makin akrab, awal Juli 1917 Kafka membuat lamaran tunangan kedua kepada Felice. Pada tengah malam antara 9 dan 10 Agustus 1917, Kafka terserang penyakit gangguan darah, tiga hari berikutnya terulang lagi. Diketahui bila Kafka mengidap penyakit Tebese/Tuberkulose pada paru-paru. Bagaimana hubungannya dengan Felice, dia melihat sebuah konflik dengan Felice. Akhir Desember 1917 Felice datang ke Praha dan membatalkan lagi tunangannya yang kedua dengan alasan terjadi sakit yang parah pada Kafka. Luka pada paru-paru bagi Kafka hanyalah sebuah simbol makna, bila Kafka mati, Kafka sendiri yang akan terobek-robek. Luka pada paru-paru dalam cerita "Seorang Dokter Daerah" (Ein Landarzt), dia pegang sebagai ramalan, dengan musibah sakit itu, justru bagi Kafka sebagai pembebasan. Selama sakit, Kafka diboyong ke daerah pedesaan Zürau dan dirawat oleh Ottla, adiknya yang paling dicintai. Kafka merasa bahagia hidup dengan kesedehanaan dan kesepian dan ingin menjadi petani kecil yang hidup di desa. Dia menghendaki untuk pensiun lebih awal, namun selalu diperpanjang liburannya oleh kantornya. Awal Mei 1918 dia mulai masuk kerja lagi. Selama di Zürau, Kafka telah menulis banyak surat utamanya pada kawan-kawannya; Baum, Brod dan Welsch juga pada Milena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;12. Pasca Perang (1918-1923)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kekalahan perang Monarki Donau terbagi menjadi Cekoslowakia beribukota Praha dan terdiri dari dua kebangsaan; Ceko dan Slowakia, dengan sebagian kecil bangsa Jerman dan Yahudi. Kafka tak banyak tertarik politik. Kafka masih sakit, dan pada 6 September 1917 mengajukan untuk pensiun, namun tak dikabulkan justru tetap diperpanjang masa istirahatnya. Akhirnya pada 1 Juli 1922, Kafka akan dipensiunkan. Praktis antara tahun 1922-1923 Kafka hanya berada di sekitar Praha dan sebagian waktunya banyak di habiskan di kamar. Dia paling senang tinggal di Zürau bersama adiknya Ottla. Sejak sakitnya yang parah, musim gugur 1918 beristirahat di Scheelen, pada November 1919, Kafka berkenalan dengan Julie Wohryzek dan Dora Gerrit. Akhir Juli 1920 Ottla membawa Kafka untuk berobat ke Meran, perjalanan pulangnya mampir ke rumah Milena Jesenska di Wina. Kemudian Kafka berkenalan dengan Robert Klopstock seorang mahasiswa kedokteran asal Hongaria, keduanya saling bersahabat dan kekeluargaan. Pada November 1921 Kafka berobat di Praha, namun tetap tak banyak hasil. Sampai habis tenaga antara tantangan hidup dan mencoba untuk bertunangan lagi yang ke tiga dengan Milena yang tercinta dan penuh gelora. Badan yang sudah rapuh, kerja yang berat; menulis-mungkin lebih hidup bahagia sebagai petani kecil, Kafka merasa kondisi dirinya tak pulih lagi. Selama tiga minggu, pada Januari-Februari 1922 beristirahat dipegunungan, Kafka menyelesaikan karyanya berjudul "Seniman Lapar" (Hungerkünstler) dan "Puri" (Schloss). Tepat 1 Juli 1922, dia memasuki masa pensiun. Pada Juli 1923, Kafka menggambarkan keadaanya dalam depresi yang dalam, karena paru-parunya pada musim gugur dan musim dingin makin buruk yang dirasakan pada sakit perutnya dan kejang perut. Beberapa bulan Kafka tak bisa nyaman tidurnya, yang paling dirasakan pada bagian paru-paru. Dalam karyanya "Surat untuk Ayah"  disebutkan pada minggu pertama tahun 1919, Kafka berkenalan dengan Julie Wohryzek, Juli berasal dari keluarga Ceko-Yahudi, bahkan perkenalannya itu sudah menjurus ke jenjang tunangan, tepatnya pada November 1919, juga sebuah rumah telah disiapkan. Nasibnya buruk, kemauan Kafka terhalang, semuanya menjadi perlawanan. Perlawanan itu masih tak hilang, bahkan tersembunyi dan berkembang. Batalnya rencana tunangan itu juga dipicu oleh pengaruh Milena pada musim panas 1920. Namun dengan batalnya tunangan dengan Julie, seperti biasa justru muncul karya sastra baru, tokoh "Dia" (Er), dalam kumpulan karya; "Surat untuk Ayah". Seolah-olah mendapat sabda dari Felice yang pada tahun 1917 juga batal kawin. Karya Kafka berjudul "Surat untuk Ayah", selalu bercerita kehidupannya diseputar; "Agama Dunia, Pekerjaan, Menulis dan Rencana Tunangan". Semua tema itu digali dari riwayat hidup di dalam dirinya sendiri, meskipun dari relung-relung kecil sekalipun dan bagian nyata telah di ungkapkan dengan pengenalan metode mithologis yang tendensius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;13. Milena Jesenska&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Awal tahun 1920, Kafka mulai menulis surat kepada Milena Jesenska Polak, seorang wartawati dari keluarga Ceko yang berlatar belakang nasionalis-kristen, Milena kemudian menjadi kekasih Kafka sekaligus penerjemah beberapa karyanya ke dalam bahasa Ceko, akhirnya Milena menjadi seorang aktivis gerakan kiri. Milena atas desakan Ayahnya, setelah menyelesaikan pendidikannya di Universitas kemudian kawin dengan Ernst Polak, keturunan Yahudi-Jerman. Milena sudah lama menjadi anggota kelompok sastrawan yang biasa mangkal di Cafe Arno. Pada akhir tahun 1919, Milena merasa senang menterjemahkan karya Kafka berjudul "Juru Api" (Heizer), kedalam bahasa Ceko. Surat menyurat terus dilakukan oleh keduanya, utamanya kalau Kafka berkunjung ke Meran. Surat-suratnya diibaratkan bagaikan "Api yang menyala-nyala", karena Milena tinggal bersama suaminya Polak di Wina, Milena sering meminta Kafka untuk singgah ke Wina, bila berlibur. Gairah persahabatannya makin memuncak dari 29 Juni hingga 4 Juli 1920, ketika keduanya berada di Wina. Milena membaca semua buku harian Kafka termasuk fragmen "Hilang Tak Berbekas" (Verschollene), "Puri" (Schloss), juga "Surat untuk Ayah" (Brief an den Vater). Meski Kafka mencintai Milena, tapi Milena tak bisa melepaskan suaminya Polak, perkawinan yang tak harmonis dan sudah terongrong itu, seharusnya diakhiri, bila Milena mau pergi ke Praha dan hidup bersama Kafka. Musim gugur 1920, Kafka mengatakan; "Lebih baik sekarang kita berhenti berkirim surat dan menghindari bertemu". Milena berkirim surat kepada Brod yang menekankan berulang-ulang, bila Kafka; "Takut, takut tak hanya berhubungan dengan dirinya, tapi pada semuanya, tak tahu sopan apa yang terjadi. Ketika diri ini sudah terbuka, dia tak mengerti, tak melihat. Sebenarnya saya dulu sudah ingin menghindar...tak perlu melelahkan, apa yang sebenarnya jelas dan sederhana...penyakit dia bagi kami sekarang ini bagaikan sebuah sakit pilek yang ringan saja".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1921 Kafka pernah menulis surat kepada Brod; "Meninggalkan dunia Yahudi, yang kebanyakan tak jelas dari Ayah, sangatlah sulit, maunya akan mulai menulis Jerman, kaki belakang ini terasa lengket dengan dunia Yahudi Ayah, sedang kaki depan tak menemukan pijakan baru. Kafka mulai tertarik dan berbalik ke dunia Zionis Judaisme, bahkan tahun 1912 ketika bertemu Feilce yang sama-sama orang Yuahudi, sudah merencanakan untuk menengok Palestina. Kafka mulai mengerti Brod, kenapa Brod lebih condong ke rasa nasionalis Yahudinya ketimbang Jermannya. Sejak tahun 1917, Kafka mempelajari pelajaran Ibrani tak pernah putus hingga tahun 1923. Ketika Kafka menghadiri ceramah tentang Zionisme di Berlin, Kafka mendapat tawaran dari istri Bergmann; "Bila dia tertarik berpindah ke Palestina, akan diajak pergi bersama-sama dan tinggal bersama". Akan tetapi keinginan akan ke Palestina hanya tinggal harapan. Liburan Kafka ke Müritz di laut Baltik, di anggapnya sebagai; "Keberhasilan percobaan perjalanan panjang". Meski niat ke Palestina itu batal, namun Kafka bersama Dora Diamant di Berlin mempunyai impian sebuah kehidupan di Palestina. "Seperti manusia lain, ada titik lingkar yang dituju, jarak yang diinginkan untuk di tuju dan kemudian memilih lingkungan yang indah", kenang Kafka tahun 1920 dalam seluruh buku hariannya tentang kehidupannya; "Saya telah mengambil jarak ke depan yang amat jauh, tapi selalu saja harus terpatahkan, sebagai contoh saya sebut saja; Bahasa, Jermanistik, Anti-Zionisme, Zionisme, Ibrani, Pertamanan, Pertukangan, Sastra, Rencana Tunangan, Rumah Pribadi", dan terus melaju; "Menatap titik tengah dalam lingkungan imajinasi, tak ada tempat untuk sebuah percobaan baru, tak ada tempat artinya usia lanjut". Sejak Februari 1922, Kafka mulai menulis sebuah roman barunya berjudul "Puri" (Schloss), bulan Juli bab pertama roman itu sudah selesai. Sejak 1 Juli 1922, Kafka resmi memasuki masa pensiun yang berarti bebas dari tekanan pekerjaan kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;14. Dora Diamant dan Akhir Hayat Kafka (1923-1924)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Awal Juli 1923, Kafka dan adik perempuannya Elli serta anak-anaknya berlibur ke Müritz di laut Baltik. Disini Kafka berkenalan dengan Dora Diamant, seorang wanita Yahudi yang mengasuh rehabilitasi Yahudi-Berlin. Hubungan itu berlanjut makin hangat, Kafka berpengharapan; "Seorang Wanita yang mempunyai pengertian penuh padanya". Kafka merasa di lindungi dengan baik dan halus oleh Dora, hingga pada batas-batas dunia fana. Dora berusia tepat 20 tahun berlatar belakang dari pendidikan yang taat tradisi keagamaan (Jidis dan Ibrani), dia dari Polandia dan mengungsi ke Barat, karena desakan kelompok anti Yahudi. Kafka menawarkan keperluan untuk menjaga kesehatannya dan keduanya tinggal di Miquelstrasse 8, Steglitz, Berlin, bagi Kafka; Berlin sebagai pengganti Palestina. Di Berlin Kafka punya kawan bernama Ernst Weiss yang sudah dikenalnya sejak tahun 1913. Kondisi kesehatan Kafka makin memburuk, pada undangan dari Carl Seelig September 1923 mengatakan:"Sekarang saya menarik diri dari dunia penulisan, tak ada gunanya sama sekali, apa yang dulu bisa ditulis dan terbitkan. Dora menambahkan, bila Kafka telah membakar sendiri banyak karyanya, antara lain sebuah naskah cerita tentang;"Proses pembunuhan ritual terhadap Kampak dan sebuah percobaan naskah drama". Brod mengakui; "Seluruhnya ada 20 Buku tebal". Pada Dora ada sisa bagian naskah yang masih utuh, yaitu dari penerbitan di Berlin, karena tahun 1933 terjadi aksi Gestapo (Agen Polisi Rahasia Pemerintah) akhirnya hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Februari 1924, kondisi kesehatan Kafka mulai menurun, dia lebih banyak berbaring di tempat tidurnya, pamannya Siegfried Löwy menjenguk ke Berlin dan memutuskan, bahwa Kafka harus di bawah pengawasan dokter. Pada 17 Maret Kafka dan Brod kembali ke Praha, sedang Dora menyusul belakangan. Awal April Kafka dibawa ke Sanatorium "Wiener Wald" di Niederösterreich, Wina. Diketahui penyakit tebese/tuberkulosenya menjalar sampai ke pangkal tenggorokan, sehingga Kafka hanya mampu berbisik. Pertengahan April, dia dibawa ke klinik Universitas Wina namun hanya sebentar karena kondisi makin parah, pada 19 April dia dibawa ke Sanatorium Dr.Hoffmann di Kierling-Klosterneuburg. Kafka sudah mendekati masa yang menakutkan, hanya berbaring di kamar yang tak lagi mendapat penjagaan ketat. Harapan sudah tipis dan kematian sudah menunggu. Kafka tak lagi di bawa kembali ke Praha, dia di urus oleh Dora dan beberapa ahli medis, serta dokter untuk menyelamatkan jiwa Kafka. Berkat kepandainnya team medis, Kafka masih bisa bertahan sampai tiga bulan lagi. Pada 3 Juni 1924, Kafka meninggal dunia dalam usia 41 tahun dan pada 11 Juni mayatnya dikebumikan di kuburan umum Yahudi di Praha.&lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;15. Testamen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada warisan karya sastra Kafka, ditemukan dua testamen yang ditujukan kepada Brod. Yang sejak dulu diterbitkan Kafka (karya kepenyairan, buku harian, surat-surat, lukisan). Testamen pertama; ("Max Brod yang terhormat, milik saya...") yang ditulis tahun 1920/1921. Testamen kedua; ("Max Brod yang terhormat, mungkin...") yang ditulis tahun 1922/1923. Isi kedua testamen tersebut intinya menyuruh Brod untuk memusnahkan warisan karya seninya, dimana pada testamen pertama hanya menyinggung semua warisan karya yang ditulis tangan, sedang yang kedua tentang karya sastra yang sudah dicetak dengan perkecualian yang berjudul; "Meditasi" (Betrachtung) dan termasuk juga pada artikel yang telah tercetak berserakan dan prosa kecil. Hanya Brod lah yang punya hak kuasa akan karya-karya Kafka, yang lainnya tidak ada. Namun Brod telah mengingkari janji seperti yang diamanatkan dalam testamen Kafka. Justru Brod telah mencetak karya-karyanya; Brod tak bisa memenuhi permintaan untuk membakarnya. Setelah Kafka meninggal, Brod mempublikasikan karya cerita Kafka yang selama ini tidak diterbitkan, termasuk karya yang belum selesai berjudul; "Josefine, Penyanyi" (Josefine, die Sängerin) dan juga berjudul; "Gambaran Sebuah Perlawanan" (Beschreibung eines Kämpfes) dan naskah fragmen roman; "Proses" (Der Prozess). Testamen kedua perlu hati-hati, karena Kafka selalu menganggap buku harian tentang Milena itu penting. Brod mengalami kesulitan untuk mengumpulkan semua warisan karya Kafka, mengingat beberapa diantaranya masih di simpan Dora, dan Dora tak bersedia memberikan Brod, karena warisan itu dianggapnya sebagai barang pribadi untuk mengenang masa hidupnya bersama. Belakangan Dora menampakkan sikap tak percaya dengan Brod perihal kemauan Brod untuk mempublikasikan karya Kafka, telah disadari kebimbangan prinsip - semuanya hanya berdasar rasa iri hati, kematian dan sisa kenangan untuk dimiliki sendiri. Brod memahami dan menghormati situasi ini, dan membiarkan beberapa karya warisan Kafka masih tersimpan pada Dora di Berlin. Namun hampir seluruh warisan karya Kafka sudah diterbitkan hingga saat ini, kecuali sebagian yang masih di simpan Dora. Penerbit Kurt Wolff telah menyimpan surat-surat berharga dari Kafka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa surat pada teman-temannya, keluarganya (Ottla), utamanya surat-surat pada Felice dan Milena dengan penuh kesadaran pribadi telah diterbitkan untuk kepentingan khazanah sastra. Brod menyadari untuk kepentingan yang lebih luas dalam kepenyairan sehingga perlu dilestarikan. Bagian terbesar warisan karya Kafka disamping pada dirinya, juga di keluarganya Kafka sendiri, yang sekarang disimpan di perpustakaan Bodleian Oxford, sebagian di Universitas Yale, sebagian kecil disimpan di arsip sastra Marbach, di Praha, di tempat orang-orang secara pribadi. Edisi warisan antara lain; "Seorang Seniman Lapar" dan "Proses" (1924), "Puri" (1926), "Ameika" (1927), "Pada Pembangunan Tembok Cina" (1931). Meski karya Kafka termasuk sulit dijual, namun Brod terus berusaha untuk mengadakan berbagai kegiatan sastra dan mempublikasikan. Era kekuasaan ketiga totaliter di Eropa, perang dunia kedua dan Stalinisme, mengharuskan karya-karya Kafka untuk diselamatkan ke luar negeri. Di era Nazi, tentara Hitler masuk ke Praha, karya-karya Kafka di bawa exil ke Perancis, Inggris dan USA. Pada tahun 1950-an, dimana ilmu bidang Psikoanalitis, Theologi dan Filsafat makin digemari, tak terkecuali karya-karya Kafka banyak di interpretasikan dari segi bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/353989214924491867-4620873230211851710?l=membacakafka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://membacakafka.blogspot.com/feeds/4620873230211851710/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=353989214924491867&amp;postID=4620873230211851710' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/4620873230211851710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/4620873230211851710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://membacakafka.blogspot.com/2008/12/tengok-franz-kafka-di-praha-riwayat.html' title='[Tengok Franz Kafka di Praha] Riwayat Hidup Franz Kafka'/><author><name>pembacakafka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15073329425967061288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-353989214924491867.post-8253870922680969178</id><published>2008-12-16T08:25:00.000-08:00</published><updated>2008-12-22T11:40:03.217-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tengok Franz Kafka di Praha'/><title type='text'>[Tengok Franz Kafka di Praha] Analisa dan Kritik</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Brod menggambarkan gaya penulisan Kafka yang di benarkan oleh Kafka sendiri;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Orang harus menulis masuk kedalam kegelapan, seperti pada sebuah terowongan"&lt;/span&gt;. Pengalaman bergaul dengan Kafka, Brod meyakinkan; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Dengan Kafka membicarakan masalah abstrak, hampir tak mungkin, dia berpikir dalam gambar-gambar dan bicara dalam gambar-gambar pula". Brod mengungkapkan keberhasilannya mendokumentasikan figur dan karya Kafka; "Adalah sebuah kebahagiaan bisa dekat di sampingnya, bacalah beberapa kalimat dari Kafka, nanti akan menjumpai lidah, nafas, kemanisan, yang belum pernah dialami, Kafka bekerja selalu tanpa rencana dan bacalah seluruh tuntunan inspirasinya yang singkat".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peter U.Beicken, seorang peneliti karya Kafka dari Universitas Princeton dalam bukunya; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Franz Kafka, sebuah pengantar kritis dalam penelitian"&lt;/span&gt;, (Franz Kafka, Eine Kritische Einführung in die Forschung) menyebutkan;...&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jarang orang bertanya tentang seni Kafka,...Kafka tidak membahas tentang masalah Agama, Metafisik atau Moral, melainkan kepenyairan...Kafka tidak mengajarkan kita Teologi maupun Filosofi, melainkan satu-satunya sebagai Penyair. Bahwa kepenyairan dia yang gemilang, sekarang telah menjadi mode, yang banyak di baca orang, bukan bakat dan bukan diminati, menerima kepenyairan, dia tidak bersalah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok sastrawan kritis Jerman pasca perang dunia kedua yang menamakan diri, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kelompok 47"&lt;/span&gt;, yang dipelopori oleh Hans Werner Richter, pada tahun 1951 telah membahas dan mengkritisi karya sastra prosa dari figur sastrawan seperti; Hemingway dan Dos Passos. Pada diskusi sastra kritis itu, juga dimunculkan ide membahas karya Kafka. Seorang pengikut diskusi berkata; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Ketika menyebut nama Kafka, saya jadi teriak dengan kejang, sudah 21 kali saya usulkan untuk dibahas tak kunjung tiba. Kafka disini jangan hanya dimengerti sebagai kategori analisa, melainkan sebagai pengetahuan yang tertinggi untuk semua sastra, baik yang menolak maupun yang akan mengikutinya". &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Martin Walser, tahun 1953 dalam sebuah diskusi kelompok 47 mengatakan; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Kafka adalah sebagai figur yang berbahaya"&lt;/span&gt;. Pengkritik lainnya berkata; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Kalau saya akan membaca karya Kafka, lebih baik saya membaca diri Kafka". &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herman Hesse, penyair Jerman peraih nobel sastra tahun 1946 mengatakan; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Kafka bukan saja seorang penyair dari wajah intensitas yang langka, melainkan juga sebagai manusia yang alim, beragama, bila juga sebuah dari masalah, termasuk model Kierkegaard ...., fantasinya menuntut realitas yang membara, sebuah perumusan hal kehidupan agama yang mendesak". &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andre Gide, sastrawan Perancis berpendapat tentang Kafka; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Saya tak tahu akan bilang apa, apa yang saya kagumi; Penceritaan ulang yang alami sebuah dunia fantastik, melalui ketelitian yang rumit dari potret yang masuk akal, atau keberanian riil dari pembalikan terhadap kerahasiaan". &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut analisa dalam sejarah sastra Jerman oleh Grabert, Mulot dan Nürnberger disebutkan; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Tokoh-tokoh manusia dalam karya Kafka bekerja seperti hantu, yang harus bergerak menuruti sebuah kemauan yang belum diketahui dan dimengerti; mereka hidup di bawah tekanan, mundur dari sangsi hukum, tanpa tahu, siapa yang telah menutupi hukuman mereka; seperti dalam pengembaraan impian menakutkan, mereka berada dalam alam abstrak yang kesana-kemari, tanpa tahu menemukan jalan keluarnya; dan langsung lurus, bahwa mereka akan datang dengan bebas, mereka selalu terjerat dalam kesalahan yang dalam. Bukan mengarah ke sebuah moralitas, melainkan pada sebuah kesalahan eksistensial  manusia. Kafka bertobat untuk sebuah kehilangan, dimana dia tidak tahu, dan mencari sesuatu, yang dia tidak ketahui. Seperti dalam mimpi buruk terdapat tempat dan waktu, untuk mengangkat konsekwen psikologis dan sebab-akibat, dan dalam unsur-unsur impian dunia sihir menuju sebuah aturan hukum yang mapan. Model Realisme-magic telah di tunjukkan dalam fragmen romannya berjudul; "Puri" (Der Schloss)". Dalam paradoks yang di tunjukkan, Kafka  membelokkan wejangan Tuhan menjadi; "Siapa mencari, tidak menemukan, siapa tidak mencari, akan ditemukan. Pada jalan keluar dunia, tanpa belas kasihan memandang manusia"&lt;/span&gt;. Kafka mengatakan; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Dengan noda duniawi yang tampak dilihat mata, seperti di dalam situasi dari seorang penumpang kereta api, yang dapat musibah di terowongan panjang, dan benar-benar sebuah posisi, dimana orang tak melihat lagi lampu awal, sedang lampu akhir tapi hanya kecil, bahwa pandangannya harus selalu dicari terus-menerus dan terus-menerus hilang, dimana antara awal dan akhir tidak yakin lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Theodor Adorno tahun 1953 dalam acara TV mengkritik tajam; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Karya Kafka berisi berita-berita yang tertutup dari penyakit skizofrenia sosial yang sedang sembuh".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Georg Lukàc tahun 1958 dalam kritik marxismenya terhadap karya Kafka berkata; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Bertentangan dengan kesalahpahaman dalam realisme". &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Günther Grass, sastrawan Jerman peraih nobel sastra tahun 1999 terus terang mengatakan; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Dalam proses pembuatan prosa panjang saya yang berjudul "Almari" (Die Schranke) mengambil gaya Kafka sebagai sastrawan awal ekspresionis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susan Sontag, sastrawati dan kritikus sastra asal Amerika tahun 1964 menulis dalam esainya yang terkenal berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Melawan Interpretasi"&lt;/span&gt; (Against Interpretation); &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Bahwa karya Kafka telah menjadi sebuah penindasan massa". Ada dua hal; pertama penindasan masa itu bisa berhasil dan karyanya tak bisa dihindarkan, berkembang dan mengalir, dibiarkan terbukti di seluruh dunia. Tapi benar, berhubungan dengan Kafka membuat kejemuan tertentu yang sesungguhnya, orang akan protes dengan ketidak nafsuan, orang bicara dari kejemuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heinz Politzer, seorang guru besar sastra Jerman di Berkeley/Kalifornia pernah ikut menyelenggarakan pameran karya Kafka bersama Brod di Wina berpendapat; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Seorang manusia seperti Kafka, tak akan pernah ada, ritme hidupnya monoton, karena keadaan yang membosankan itu di taklukkan secara berulang-ulang dari suasana eksistential dan di bawa ke dalam karyanya, itu wajar menceritakan sejarah (dan sejarah seperti apa!). Kafka muda lebih terbuka pada masalah-masalah sosial, kemudian menjadi revolusioner. Kafka hanya mengulang-ngulang variasi yang tak ada hentinya. Sejarah dari kehidupan Kafka adalah sebuah biografi bagian dalam dari karya seorang biarawan yang sakit, sejenis sebuah buku gambar, yang mana kitab sucinya untuk kaum miskin yang bebas,  bukti berdarah seorang Yahudi, yang menyerahkan tanda bukti tersebut dalam karyanya untuk merendahkan dan menghina, orang yang mengikutinya".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marcel Reich-Ranicki, kritikus sastra kelas wahid di Jerman, keturunan Yahudi kelahiran Polandia, tahun 1984 tepatnya 60 tahun setelah kematian Kafka, menulis buku berjudul; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Ulasan ulang tentang Sastrawan Jerman masa lampau", &lt;/span&gt;(Nachprüfung über deutsche Schrifteller von gestern). Ranicki membahas beberapa figur sastrawan Jerman beserta karyanya yang sebagian besar bangsa Yahudi, termasuk Kafka. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Sekarang 60 tahun kematian Kafka, kita makin lebih tahu, menunjukkan bahwa pendapat-pendapat dari tindakannya yang ragu-ragu atau pandangannya yang tak berciri menasehati dari karya-karyanya yang tak bisa dihapus, di rubah dan- dibedakan dengan karyanya yang lampau"&lt;/span&gt;. Tampaknya acara seabad kelahiran Kafka (1883-1983), juga tidak untuk pengupas pendapat-pendapat tentang karyanya atau tentang kesediaan menyatakan pandangan-pandangan, melainkan justru menghubungkan dengan sebuah buku yang berakar dari model karya Kafka. Lebih jauh Ranicki berpendapat; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Karya Kafka adalah penggambaran sebuah perlawanan dengan rasa takut; takut akan penghinaan dan ketidak mandirian, takut akan siksaan dan kekejaman, takut akan Ayahnya dan keluarganya, takut akan kelemahan dan impoten, takut karena tidak memiliki tanah air dan perkumpulan, takut akan nasib bangsa Yahudi, takut akan kematian dan juga kehidupan." &lt;/span&gt;Ranicki menyitir pengakuan Kafka; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Kalau saya menulis, saya merasa terobek, tidak tenang dan takut".&lt;/span&gt; Oleh karena itu amat sulit untuk menemukan seorang sastrawan dalam sejarah sastra dunia, yang cenderung bisa melebihi egosentrik dan mengarah ke penonjolan pada umum (Exhibisionismus). Namun setelah beberapa tahun kematian Kafka, Brod menandaskan ; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Setiap jenis Egosentrisme, di tolak oleh Kafka".&lt;/span&gt; Ranicki mengkritik; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Dalam dunia epos Kafka lebih menonjol figur wanita atau sedikit negatif, sering berhati dingin dan marah". &lt;/span&gt;Antara buku hariannya dan surat-suratnya terasa tak ada bedanya, semua yang tak memperbincangkan hal sastra, membuat Kafka merasa bosan, prinsipnya jelas tanpa dilema antara sastra atau hidup. Ketakutan yang permanen pada wanita membuat krisis kepribadiannya-setiap krisis identitas yang muncul, kita berterima kasih, karena menghasilkan roman dan karya-karyanya dalam bentuk cerita dan telah berkali-kali dia analisa dan komentari, sebuah karya "Surat untuk Ayah" yang amat terkenal. Mungkin bagi kehidupan Kafka, hanya ada seorang perempuan yang bisa dia cintai, tanpa rasa takut yaitu adik perempuannya Ottla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/353989214924491867-8253870922680969178?l=membacakafka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://membacakafka.blogspot.com/feeds/8253870922680969178/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=353989214924491867&amp;postID=8253870922680969178' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/8253870922680969178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/8253870922680969178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://membacakafka.blogspot.com/2008/12/tengok-franz-kafka-di-praha-analisa-dan.html' title='[Tengok Franz Kafka di Praha] Analisa dan Kritik'/><author><name>pembacakafka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15073329425967061288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-353989214924491867.post-3699114868325046075</id><published>2008-12-16T08:20:00.000-08:00</published><updated>2010-09-17T12:12:56.242-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tengok Franz Kafka di Praha'/><title type='text'>[Tengok Franz Kafka di Praha] Beberapa Karya Kafka</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0.5cm;"&gt;&lt;b&gt;1. "Buku Harian Perjalanan" (Reisetagebücher)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kafka sering melakukan perjalanan wisata bersama Brod yang dibagi dalam empat tahap:&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;a. Januari/Februari 1911 ke Friedland, Ceko.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Kafka mengunjungi Puri Friedland. Hotel di Friedland. Papannya besar. Mengingatkan saya pada Yesus yang disalip, yang mungkin tak sesungguhnya. Tak ada kertas toilet, badai salju menerjang masuk dari bawah. Saya termasuk tamu lama satu-satunya. Kebanyakan tamu-tamu itu merayakan perkawinannya di hotel. Dengan tak yakin, saya ingat kembali, suatu pagi di ruangan diadakan upacara perkawinan. Papan di ruang masuk itu amat dingin. Kamar saya tepat di pintu masuk; saya sama merasakan kedinginan...kembalinya dari Raspenau ke Friedland disamping saya ada seorang manusia yang mirip mati kaku,...yang terindah adalah panorama kaisar, saya tak merasakan kenyamanan, karena saya begitu masuk, tidak mengerti, masuk dengan sepatu tebal anti salju...Brescia, Kremona, Verona.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;b. Agustus/September 1911 ke München dan Zürich. &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Kemudian di lanjutkan ke beberapa kota di Itali, Switzerland, dan Perancis.&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Rimini-Ostende-Genua Nervi (Praha)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Oberital.Seen, Milano  (Praha)-Genua, (melewati Locarno dan Lugano)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Meninggalkan Maggiore,  Lugano-Milano, mengunjungi kota-kota kecil sampai di Bolognese.&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Lugano-Paris.&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Lugano-Milano (beberapa  hari)-Maggiore.&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Milano: langsung ke Paris.&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;Turun di Stresa.&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;c. Juni/Juli 1912 ke Weimar-Jungborn.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Pada 10 Juli Kafka bangun tengah malam dan bermimpi, bahwa dia seolah-olah mendengarkan suara deklamasi Goethe, tentang kebebasan dan kesewenang-wenangan yang tak putus-putusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 11 Juli Kafka berbicara dengan Dr.Friedrich Schiller, seorang pegawai di Breslau yang pernah belajar tata kota dan tinggal lama di Paris. Kafka tinggal di hotel dengan panorama kebun royal Palais...dua kawan saya mengganggu saya, mereka berjalan dan berdiri di pintu berbicara atau mengajak jalan-jalan. Tapi saya berterima kasih pada mereka, karena saya bisa membaca "Koran Misionaris Evangelis" edisi Juli 1912 tentang misionaris di Jawa; "Begitu banyak juga yang menentang terhadap misionaris yang bertugas sebagai dokter bukan ahlinya, berpraktek pada lingkungan yang luas, dengan haknya mengajukan keberatan, sehingga sekali lagi alat bantu utamanya tugas misionaris dan bukan justru menderitakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;d. September 1913 ke Wina.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Pada 10 September Kafka pergi ke Wina bertemu dan ngobrol sekenanya tentang sastra dengan seorang bernama Pick. Obrolan itu agak membosankan, tapi tak bisa berhenti dari dunia sastra. Kafka menggambarkan, bahwa Pick kukunya telah mencengkeram. Suasana di stasiun kereta api Heiligenstadt itu lengang, kereta api juga kosong, ada pemerhati di pojok. Di kejauhan ada orang mencari jadwal perjalanan. Ketololan yang akhirnya saya hormati. Hotel Matschakerhof, dua kamar dengan satu pintu masuk. Kafka dengan P jalan menyusuri lorong, makin cepat. Angin kencang. Yang dikenal, semua terlupakan. Tidur tak nyaman perlu perhatian. Impian yang memuakkan. Pertanyaan pada buku harian, otomatis pertanyaan atas keseluruhan, mengandung ketidak mungkinan seluruhnya. Di Kereta Kafka mempertimbangkan kembali pembicaraannya dengan P. Itu tak mungkin, semuanya dikatakan dan itu tak mungkin, semuanya tidak dikatakan. Tak mungkin menjaga kebebasan, tak mungkin tak menjaganya. Tak mungkin dari kehidupan yang mungkin dilakukan, yaitu hidup bersama, setiap kebebasan, masing-masing untuk dirinya, bukan tak mungkin untuk kawin, hanya bersama-sama. P adalah orang yang pemberani, dengan sedikit celah yang tak mengenakkan. Terlalu pagi di parlemen pada kongres Zionis. Dengan Lisa.W. dengan perasaan saya pada gadis itu (bagaimanapun seperti jalan melingkar ke saya) mungkin perasaan sosial saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kafka dalam menulis buku harian perjalanannya tidak ketat dengan jadwal waktu, namun terjadi loncatan peristiwa yang ditulis pendek bergaya puitis. Pembaca diajak untuk mengelabuhi dan memprediksikan luapan perasaan dalam perjalanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. "Metamorfosa" (Die Verwandlung)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Suatu pagi ketika Gregor Samsa akan bangun dari tempat tidur dan mendadak berubah menjadi seekor kumbang, padahal dirinya tidak mati, tidak melalui proses reinkarnasi, dia masih benar-benar hidup, juga bukan sebuah impian belaka, namun peristiwa nyata, jari-jarinya yang kecil dan lengket dan masih di tutup selimut. "Oh, Tuhan," pikir Gregor, pekerjaan sulit apa yang telah saya pilih. Ketika Ayah Gregor memanggil dari luar kamar, Gregor pun tak mau menjawab, namun ketika saudara perempuannya memanggilnya, Gregor menjawab; "Saya sudah siap". Suara itu pun mirip suara serangga. Pembaca dibuat tidak yakin, bahkan yang tak terbiasa dengan karya Kafka mungkin merasa aneh. Tapi itu memang model khas Kafka, yang tak jauh dari kehidupan pribadinya, bahwa Kafka yang diibaratkan Gregor Samsa merasa kecil dihadapan Ayahnya, oleh karena ketika di panggil Ayahnya keluar kamar Gregor tak menjawab. Milo Dor, seorang sastrawan emigran dari Yugoslavia di Jerman secara blak-blakan meniru model Kafka. Milo Dor menulis cerita berjudul "Kematian Lompatan" (Salto Mortale) berkisah; seorang redaktur koran yang bangun pada pagi hari, tiba-tiba tak dikenal lagi oleh sekitarnya, dia tidak mati, namun berbentuk mahkluk lain tak kelihatan, pacarnya juga tak mengenal dan melihat, kedudukannya sebagai redaktur koran telah diganti kawan lain, tapi dia ada disitu. Pembaca mendapat penjelasan yang rasional pada akhir cerita. Karya Milo Dor ini tahun 1959 telah dibacakan di depan forum kelompok 47 dan mendapat serangan kritik yang tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. "Seorang Dokter Daerah" (Ein Landarzt)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Saya dalam kebimbangan yang mendalam: sebuah tugas perjalanan mendesak; seorang yang sakit menunggu saya, yang jaraknya 10 mile di desa; hujan salju berangin kencang di sepanjang jarak antara saya dan dia; saya dulunya punya mobil, ringan, yg seperti orang di jalan pergunakan; pada kopor berbulu, peralatan tas sudah di tangan, saya sudah siap berangkat; tapi masih kurang kudanya, kuda. Kuda saya mati beberapa malam yang lalu, karena kerja keras pada musim dingin yang mencekam ini. Pembantu perempuan saya lari ke desa mencari pinjaman kuda; namun tak ada harapan, saya sadar karena makin banyak tertimbun salju, saya berdiri di sana tak bergerak dan tanpa tujuan. Di pintu seorang gadis berdiri sendirian menggerakkan lentera; tentu, siapa sekarang yang akan meminjamkan kuda untuk perjalanan semacam itu? Saya tengok ke halaman; tak ada kemungkinan lagi; terobek, tersiksa saya dorongkan kaki saya ke pintu darurat kandang babi yang sudah tahunan tak dipakai. Pintu itu terbuka. Terasa hangat dan berbau ada kuda yang datang. Sebuah lentera kusam di kandang itu bergoyang di dalam pada seutas tali. Seorang laki, berbaring di gubuk yang rendah itu, menunjukkan wajah mata kebiruan. "Haruskah saya memasangkan pakaian kuda ?" tanya dia, sambil merangkak ke depan. Saya tak tahu apa yang harus dikatakan dan saya hanya melihat kedalam apakah yang masih ada di dalam kandang itu. Pembantu rumah sudah berdiri di samping saya. "Orang tak tahu, barang apa saja yang dimiliki orang itu di rumahnya", katanya dan kami tertawa. "Halo, saudara laki-laki, halo saudara perempuan" kata buruh kuda dan dua kuda, binatang berkekuatan sepak itu jalan tunggang langgang, pahanya dekat tubuh, kepalanya merendah bak unta, hanya dengan kekuatannya menggerakkan tubuhnya dari lobang pintu, tubuhnya padat. Tapi berdiri sama tegak lurus berpaha tinggi, tubuhnya menguap. "Bantu dia", kata saya dan gadis itu cekatan membantu buruh memasang peralatan kuda ke keretanya. Jarang terjadi pada buruh seperti itu, dengan pegang erat dan mencambuk di wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melangkah dan pergi ke arah saya; ada bekas baris gigi warna merah di pipi gadis itu. "Kau Sapi", bentak saya marah, " Kamu akan cambuk?", pikir saya tapi dia orang asing; yang saya tak kenal, dari mana dia berasal dan dia sudah membantu dengan sukarela, dimana yang lainnya menolak. Ketika dia memahami pikiran saya, dia anggap ancaman saya tak jelek, melainkan dia nampak sangat sibuk dengan kudanya. "Naik", kata dia dan sebenarnya: semua siap. Dengan kereta sebagus itu, saya akui, saya belum pernah mencobanya dan saya naik dengan senang. "Tapi saya akan mengendalikan, kau belum tahu jalannya", kata saya. "Beres" kata dia. "Saya tak mau ikut, saya tinggal bersama Rosa". "Tidak" teriak Rosa dan melaju ke arah firasat yang tepat, nasib yang tak bisa dihindari tiba di rumah; saya mendengar sebuah rantai pintu bergerincing, di letakkan; saya dengar kuncinya diambil alih; saya lihat, sepertinya tak lain sebagai tanah garapan dan selanjutnya lewat kamar semua lampu padam, tak bisa ditemukan. "Kamu ikut pergi", kata saya pada buruh itu, " atau saya menyerah saja dari perjalanan ini, cepatlah. Ada yang tak cocok disini, kamu mengikutkan gadis yang sebagai pengorbanan diri". "Bangun!" kata dia; bertepuk tangan, keretanya terkoyak, bagaikan kayu di terpa topan; masih saya dengar, seperti pintu rumah saya di bawah serangan buruh. Mata dan telinga saya terpenuhi deru yang bertubi-tubi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi hanya sebentar saja, terbukalah pintu ladang dari ladang pasien saya, saya sudah berada disana; tenanglah kuda; hujan salju sudah berhenti; Bulan sudah mengitari; orang tua yang sakit itu tergopoh-gopoh keluar rumah; saudara perempuannya membuntuti; saya di papak keluar kereta, saya tak akan mengurus pembicaraan yang rumit; di kamar orang sakit udaranya pengap; asap tungku kompor terabaikan; saya akan buka jendela itu; tapi pertama kali saya akan melihat orang yang sakit. Kurus, tidak demam, tidak panas, tidak dingin, matanya kosong, tak berbaju anak muda itu hanya berselimut di gantungkan di leher saya, saya dibisiki di telinga: "Dokter, biarkanlah saya mati. "Saya melihat sekeliling; tak seorang pun yang dengar; orang tuanya membungkuk diam membisu dan menunggu keputusan saya; saudara perempuannya menaruh tas saya di kursi. Saya buka tas itu dan mencari peralatan saya; anak muda itu meraba-raba dari tempat tidur ke arah saya, minta agar saya mengingat permintaanya; saya pegang pinset, mengontrol dengan lampu lilin dan saya letakkan kembali. "Ya", pikir saya dalam umpatan, "dalam kondisi seperti itu, Tuhan membantu, kirimlah kuda yang hilang, tambahkan dengan segera untuk kedua kalinya, membantu kelalaian buruh kuda. "Sekarang saya kehilangan Rosa; apa yang saya lakukan, dimana saya harus menolongnya; bagaimana kalau kembali lagi seperti semula bertemu dengan buruh kuda, 10 mile dari sini, kuda yang tak jantan pada kereta saya? Kuda ini sekarang sabuknya kita longgarkan; jendelanya, bagaimana saya tak tahu, dorong dari luar; tiap orang melongok keluar lewat jendela, tak tergoyahkan dengan jeritan keluarga, orang yang sakit memandang lama. "Saya akan segera pulang", pikir saya, ketika saya dorong kuda itu untuk melanjutkan perjalanan, tapi saya tahan, bahwa saudara perempuannya yang telah membius saya dengan hawa panas menaruh koper bulu saya. Segelas rum disediakan untuk saya, orang yang tua menepuk bahu saya, nilai pengabdiannya yang meyakinkan sudah usai. Saya menggelengkan kepala, dalam lingkup pikiran orang tua itu, saya anggap buruk; atas dasar itu, saya tolak untuk meminumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu itu duduk di tempat tidur dan mengunci saya; saya ikuti dan rebahkan, sementara saya dengar seekor kuda meringkik keras lewat atap kamar, kepalanya di dada anak muda itu, di bawah jenggot saya yang basah. Yakin, apa yang saya ketahui: anak muda itu sehat, hanya sedikit pendarahan, dari rawatan ibunya yang diberi minum kopi, tapi sehat dan yang terbaik harus bergerak dari tempat tidur. Saya bukan orang reparasi dunia dan saya biarkan dia tergeletak. Saya ditugaskan dari daerah dan saya lakukan tugas saya hingga sampai di pinggiran. Sampai sejauh yang saya lakukan. Gajinya jelek, tapi saya murah hati dan siap bantu terhadap yang miskin. Juga pada Rosa, saya harus mengurusnya, kemudian anak muda itu berbinar-binar dan saya juga akan mati. Apa yang harus saya lakukan pada musim dingin yang tak henti-henti ini! Kuda saya telah mati dan tak ada lagi di desa itu, yang bisa meminjamkan kuda. Dari kandang babi saya harus tarik kereta saya, tak adakah kuda secara kebetulan, saya harus jalan dengan kereta. Begitulah. Saya mengangguk kepada keluarga itu. Mereka tak mengerti dan bila mereka tahu, mereka tentu akan tak percaya. Menulis resep adalah mudah, tapi memahami mereka adalah sulit. Disinilah kunjungan saya berakhir, orang kadang mengeluh yang tak perlu, tapi saya sudah terbiasa, dengan bantuan lonceng malam saya sebagai siksaan untuk seluruh daerah, tapi kali ini saya harus mengurus Rosa, gadis menarik yang bertahun-tahun tak pernah mendapat perhatian, tinggal di rumah saya-pengorbanan ini terlalu besar dan saya harus menaruh bantuannya pada benak saya, bukan membiarkan pada keluarga, dengan kemauannya yang terbaik tak dapat memberikan kembali pada saya. Ketika saya menutup tas gantungan, melambaikan tangan sambil bawa jaket bulu, keluarga itu berdiri bersama, ayahnya menarik nafas terhadap segelas rum di tangannya, ibunya saya kira kecewa-ya, apa yang di harapkan rakyat?-menghujani air mata di bibirnya yang hangat, dan saudara perempuannya melambaikan dengan handuk yang bergelepotan darah, bagaimanapun saya siap, menerima keadaan, bahwa anak muda itu mungkin sakit. Saya mendatanginya, dia menyambut dengan senyum, ketika saya membawakan sop kental- ah, sekarang kedua kuda meringkik; suaranya jadi merdu, pada tempat yang agak tinggi, memudahkan perawatan- dan sekarang saya menemukan: ya, anak muda itu sakit. Di sebelah kanannya, ke arah paha telah terluka selebar piring kecil. Rosa, dalam bayang-bayang gelap yang dalam, terang hingga sampai pinggiran, butir-butir kecil yang halus, dengan tak beraturan mengumpulkan darah, terbuka seperti pekerjaan gunung di hari-hari sibuk. Begitulah dari kejauhan, di kedekatan justru makin sulit. Siapa yang bisa memandangi tanpa bersiul lembut? Cacing-cacing, pada kekuatannya dan kepanjangannya sama dengan kecilnya jari saya, merah sendiri dan disamping itu disuntik berdarah, melilit, di bagian dalam lukanya berhenti, dengan kepala putih, dengan banyak paha-paha tersorot lampu. Anak muda yang malang, tak bisa menolong kamu. Saya menemukan luka kamu yang besar; pada bunga-bunga pada sisi kamu pergilah kamu ke dasar. Keluraganya bahagia, dia melihat saya sibuk; saudara perempuannya berkata pada ibunya, ibunya berkata pada ayahnya, ayahnya berkata pada tamu-tamunya, hingga paling ujung, selaras dengan kemiskinannya, lewat cahaya bulan yang masuk ke pintu terbuka. "Akankah kamu menyelamatkan saya?" bisik anak muda itu terisak-isak, benar-benar mengesankan kehidupan dalam lukanya. Itulah orang-orang di depan saya. Selalu mengharapkan ketidak mungkinan dari dokter. Kepercayaan kunonya telah sirna: pendeta duduk di rumah dan membongkar dinding misa, satu sama lainnya; tapi dokter harus mengurus dengan semua keterampilan kedokteran yang handal. Sekarang, mana yang menarik: saya tidak menawarkan; mereka pergunakan kah saya pada perlindungan suci, saya biarkan juga dengan yang terjadi pada saya, apa yang akan saya lakukan lebih baik, dokter daerah tua, sergah pembantu rumah saya! Dan kamu datang, keluarga dan orang-orang tua desa dan menelanjangi saya; sebuah kor sekolah dengan guru berdiri di ujung depan rumah dan bernyanyi sebuah melodi khusus yang sederhana dari teks:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Telanjangi dia, dia nanti akan mengobati&lt;br /&gt;Dan bila dia tak mengobati, bunuhlah dia!&lt;br /&gt;Dia hanya seorang dokter, dia hanya seorang dokter."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya telanjang dan lihat, jari-jarinya di jenggot, dengan kepala miring, orang-orang diam. Saya sekujur di raba dan semuanya merenungkan dan tetap tinggal, meski tak membantu saya, sekarang mereka membawa saya di bagian kepala dan pada bagian kaki dan membawa saya ke tempat tidur. Ke pagar, pada bagian terluka mereka meletakkan saya. Kemudian semua pergi ke ruang tamu; pintunya tertutup; lagu-lagunya membisu; Awan memasuki di depan bulan; untuk saya, peralatan tempat tidur itu hangat, bayangan kepala kuda bergoyang di lobang-lobang jendela. "Tahukah kamu", saya dengar, dikatakan pada telinga saya, "kepercayaan saya pada kamu sangat tipis. Kamu dimanapun juga ya hanya terbebaskan, tidak berasal dari kakinya sendiri. Disamping membantu, kamu sempit di tempat tidur kematian saya. Yang paling baik, saya garuk kamu di bagian mata." "Benar", kata saya, "itu sebuah penghinaan. Tapi sekarang saya dokter. Apa yang harus saya lakukan? Percayalah pada saya, juga bagi saya bukan hal yang mudah." "Dengan permintaan maaf akankah saya puas? Dengan luka yang indah saya lahir di dunia; itu seluruh peralatan saya." "Anak muda", kata saya, "kesalahan kamu adalah: kamu tak punya wawasan. Saya yang sudah di semua rumah sakit, luas dan lebar, saya alami, saya katakan pada kamu: Luka kamu adalah tidak buruk. Di ujung siku terkena cangkul. Banyak yang menawarkan dan jarang yang mendengarkan cangkul di hutan itu, kemudian diam, bahwa dia makin mendekat." "Apakah benar-benar seperti itu atau kamu memperdaya saya tentang sakit demam itu?" "Memang benar demikian, ambillah sumpah jabatan dokter dengan merendah." Dan dia bersumpah dan diam. Tapi sekarang kesempatan saya untuk memikirkan pertolongan. Kuda masih berdiri setia di tempatnya, mengemasi pakaian, jaket bulu dan tas; dengan berpakaian saya tak ingin membiarkan terbuka; kuda tergesa-gesa seperti waktu perjalanan kemari, saya melompat ya agaknya dari tempat tidur ke tempat saya sendiri. Dengan patuh seekor kuda kembali manarik; saya lemparkan bola ke dalam kereta; jaket bulunya melayang agak jauh, dia menangkap lengan bajunya dan di gantungkan. Cukup bagus. Saya sudah biasa di atas kuda. Sabuknya tergesek kendor, seekor kuda jarang terikat dengan benda lain, keretanya berkelana di belakangnya, terakhir jaket bulunya jatuh di salju. "Beres", kata saya, tapi beres juga tidak; pelan-pelan seperti orang tua kami menarik diri lewat ladang tandus bersalju; di belakang kita ada yang aneh, suara panjang berbunyi, tapi lagu sepintas dari anak-anak:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berbahagialah kalian, pasien-pasien kamu,&lt;br /&gt;Dokter kalian juga tergeletak di tempat tidur!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pernah saya sampai rumah; praktek saya yang membara telah hilang; seorang pengikut saya mencuri saya, tapi tanpa guna, tak mungkin dia bisa menggantikan saya; di rumah saya buruh kuda marah menjijikan; Rosa sebagai korbannya; saya tak habis pikir. Telanjang, pada suhu dingin yang mencekam itu, dengan kereta bumi, kuda-kuda yang tak alami, saya berlagak seperti orang tua kesana-kemari. Jaket bulu saya tergantung di kereta, saya tak bisa menjangkaunya dan tak ada kaum bajingan pasien bergerak menyentuh jari-jari. Kebohongan! Kebohongan! Sekali lagi lonceng jam malam berdetak aneh - tak pernah diperbaiki.(Tamat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4."Di Depan Hukum" (Vor dem Gesetz)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Di depan hukum berdiri seorang penjaga pintu. Seorang dari desa datang menemui penjaga pintu dan minta izin untuk menghadap hukum. Tapi penjaga pintu tersebut menolaknya untuk memberi izin masuk sekarang. Orang desa itu menanyakan, apakah dirinya nanti bisa masuk. "Itu mungkin, tapi tidak sekarang," jawab penjaga pintu. Ketika pintu pengadilan itu terbuka seperti biasanya dan penjaga pintu menepi, orang desa itu telah melihat ke ruang dalam pengadilan. Ketika penjaga pintu mengetahuinya, tersenyum dan berkata; "Jika kamu akan mencobanya, mengapa tidak masuk saja, meskipun dilarang. Tapi ingat; Saya berkuasa. Dan saya hanya penjaga pintu yang paling rendahan. Tapi dari ruang ke ruang lain telah di jaga oleh penjaga pintu, satu dengan yang lain makin tinggi kekuasaanya. Bahkan saya tidak bisa menanggung pada pintu ke tiga". Orang desa itu tak mengharapkan kesulitan; hukum harus berlaku adil kepada semua manusia, dia pikir, tapi dia sekarang lebih memperhatikan penjaga pintu yang mengenakan jaket besar berbulu, berhidung mancung dan berjenggot panjang serta tipis, dia masih optimis untuk dapat izin masuk. Penjaga pintu memberi bangku kecil sambil mempersilakan untuk duduk dekat pintu. Dia duduk berhari-hari bahkan bertahun-tahun. Dia mencoba minta izin masuk, namun ditolak oleh penjaga pintu. Bahkan penjaga pintu bertanya pada orang desa itu tentang keluarganya dan berbincang banyak hal, namun pertanyaanya membosankan. Penjaga pintu berlagak seperti tuan besar, akhirnya dia tetap berkata lagi, bahwa orang desa itu belum boleh masuk. Orang yang membawa banyak barang berharga untuk perjalanannya, dengan mudah menyuap penjaga pintu. Akan tetapi penjaga pintu berkata; "Saya hanya menerimanya, sehingga kamu jangan berpikir, kamu telah sembrono pada semuanya". Setelah lewat bertahun-tahun, orang desa itu memperhatikan penjaga pintu terus menerus. Dia lupa pada penjaga pintu yang lain dan penjaga pintu pertama ini hanya merupakan halangan untuk masuk pengadilan. Dia mengutuk nasib buruknya, pada tahun-tahun awal dan dengan penuh kehati-hatian, setelah dia makin tua, dia sering menggerutu pada dirinya sendiri. Dia menjadi kekanak-kanakan dan selama pengamatannya pada penjaga pintu, dia mulai tahu ada kutu pada jaket bulunya dan ingin membantunya untuk merubah sikap penjaga pintu. Akhirnya, pandangannya makin kabur, dan dia tidak tahu lagi, bila hari makin gelap atau bila matanya telah menipu dirinya. Tapi makin sadar, betapa sulitnya menuju ke pengadilan. Dia tak bertahan hidup lebih lama lagi. Sebelum dia mati, seluruh pengalamannya di kumpulkan dalam benaknya untuk menemukan sebuah pertanyaan, yang dia sendiri belum tanyakan pada penjaga pintu. Dia memanggil penjaga pintu, sementara dia sendiri tak bisa mengangkat tubuhnya yang kaku. Penjaga pintu harus membungkukkan begitu rendah, karena ketinggian antara keduanya telah berubah, banyak yang menyengsarakan orang desa itu. "Kau masih ingin tanya apalagi?" tanya penjaga pintu. "Kamu rakus". "Semua orang berupaya menghadap pengadilan", kata orang itu. "Bagaimana mungkin, bertahun-tahun lamanya, tak seorang pun kecuali saya telah minta izin menghadap ke pengadilan?". Penjaga pintu itu sadar, bahwa orang itu sudah mendekati kematian, disamping kedunguannya bertambah, dan untuk masuk penjaga pintu berkata keras pada orang desa itu: "Tak ada orang lain dapat izin masuk kesini, karena pintu ini di maksudkan hanya untuk kamu. Sekarang saya pergi dan saya tutup pintunya.(Tamat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. "Pemburu Gracchus" (Der Jäger Gracchus)&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dua anak laki-laki duduk di tembok dermaga dan bermain dadu. Seorang laki-laki membaca koran pada tangga monumen di bawah bayangan pahlawan yang sedang mengayunkan pedang. Seorang gadis di sumur mengisi air di tongnya. Seorang pedagang sayur laki-laki berebahan di samping dagangannya dan memandang ke arah danau. Dari dalam warung kopi orang mengintip lewat pintu- dan lubang jendela ada dua orang sedang minum anggur. Pemilik warung kopi itu duduk di depan pada sebuah meja dan tidur-tiduran. Sebuah tandu mengambang pelan, sepertinya sedang diangkut di atas air di sebuah pelabuhan kecil. Seorang lelaki mengenakan baju kerja warna biru turun dan menarik talinya lewat ring-ring. Dua lelaki lain mengenakan mantel warna gelap yang berkancing perak memikul tandu di belakang pegawai perahu, di bawah sana tergeletak dengan jelas seorang yang mengenakan kain sutera berenda bunga besar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di dermaga itu tak ada orang yang mengurus pendatang baru, sendirian ketika mereka menurunkan tandunya, sambil menunggu pegawai perahu, tali-tali masih dikerjakan,  tak ada orang yang masuk, tak ada orang yang mengajukan sebuah pertanyaan kepada mereka, tak seorang pun lebih memperhatikan mereka dengan saksama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pimpinan perahu sekarang menunjukkan dek perahu dengan leluasa melalui seorang perempuan, berambut terurai yang anaknya masih menindih dada. Kemudian datang lah dia dari sebuah rumah warna kuning tingkat dua, yang sedikit menanjak lurus dekat air, tukang pikul membawa beban dan mengangkatnya lewat tempat yang agak rendah, tapi lewat pintu bangunan pilar-pilar ramping. Seorang bocah kecil membuka jendela, langsung tahu, bagaimana rombongan itu menghilang di rumah, dan dengan cepat menutup lagi jendelanya. Pintunya sekarang juga tertutup, yang dibuat dari kayu eik hitam yang rapi. Sekelompok merpati telah terbang mengelilingi menara jam, sekarang hinggap di depan rumah. Ketika mereka akan mencari makanan, merpati-merpati itu berkumpul di depan pintu. Seekor terbang sampai ke lantai pertama dan mematuk kaca jendela. Itu merpati-merpati yang berwarna cerah, menarik, gesit. Dengan ayunan yang kuat, ibu itu melemparkan biji-bijian ke arah merpati-merpati, mereka berkerumun dan terbang melintasi ibu itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Seorang laki-laki mengenakan topi bundar dengan ikat simbol kesedihan menuruni lorong sempit yang penuh sampah menuju ke pelabuhan. Dia menoleh ke sana-kemari, semua dalam pantauannya, pandangannya tertuju pada sampah di pojok, wajahnya menjadi muram. Di tangga monumen tercecer kulit buah, sambil lewat dia menggaruk-garuk kulit buah itu ke bawah dengan tongkatnya. Di pintu ruang tamu, dia mengetuk sekaligus dia mengambil topi bundarnya dengan tangan kanan yang berkaus tangan hitam. Segera terbuka, lima puluh bocah laki-laki dengan riang berbaris dua-dua di gang dan membungkuk.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pimpinan perahu menuruni tangga, menyalami orang laki-laki di situ, diajak naik ke lantai pertama, pimpinan perahu itu merasa ringan untuk bergaul dengan dia, pekarangan bangunan itu dikelilingi hiasan dan keduanya masuk, sementara bocah-bocah laki-laki dari kejauhan saling mendorong dengan penuh sopan, di sebuah kamar besar yang dingin di belakang samping rumah, tampak  di seberangnya tak ada rumah lagi, melainkan hanya sebuah ladang tandus dengan tembok batu karang hitam ke abu-abuan. Tukang pikul supaya kelihatan sibuk, menindih tandunya dengan beberapa lilin panjang dan dinyalakan, tapi tidak ada api, sesungguhnya dulu hanya bayang-bayang sepi yang seram dan berkedip-kedip di atas dinding. Dari tandu itu hanya dililit selendang. Di tandu itu berbaring seorang laki-laki dengan rambut dan jenggot yang tumbuh liar tak beraturan, berkulit cokelat, seperti seorang pemburu. Dia tergeletak tak bergerak, sepertinya juga tak bernapas dan terpejam matanya, meski demikian hanya mengisyaratkan di sekitarnya, bahwa itu mungkin sebuah mayat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Orang laki-laki itu melangkah ke tandu, meletakkan tangannya ke dahi, kemudian berjongkok, dan berdoa. Pemimpin perahu memberi isyarat dengan tangan kepada tukang pikul, agar meninggalkan ruangan, mereka keluar menghalau bocah-bocah laki-laki, yang masih berkumpul di luar, dan menutup pintu. Orang laki-laki itu tampaknya juga tak diam sepenuhnya, dia memandang pemimpin perahu, menyadari dan pergi ke kamar sebelah lewat sebuah pintu samping. Orang yang tergeletak itu membentur tandu, matanya terbelalak, wajahnya berubah tertawa kecut kepada orang laki-laki di situ dan mengatakan: "Siapa kamu?" - Orang laki-laki yang sedang berlutut itu bangkit tanpa rasa heran dan menjawab: “Wali kota dari Riva."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Orang di tandu itu mengangguk, menampakkan kondisi lengannya yang lemah di kursi dan berkata, setelah memenuhi undangan wali kota: "Saya tahu, tuan wali kota, tapi awalnya sekejap saya selalu lupa semuanya, bagi saya semuanya terjadi sesuai urutan dan itu lebih baik, saya tanya, walau pun saya sudah tahu semuanya. Juga Anda mungkin sudah tahu, bahwa saya pemburu Gracchus".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;"Tentu," kata wali kota. "Anda memberitahu saya malam hari ini. Kami tidur pulas. Di tengah malam istri saya memanggil: "Salvatore", -itu nama saya- "lihatlah merpati di jendela!" Itu benar-benar seekor merpati, tapi besar seperti seekor ayam. Merpati itu terbang ke telinga saya dan berbisik: "Besok datang seorang pemburu Gracchus yang sudah mati, sambutlah dia atas nama seluruh warga kota." Pemburu itu mengangguk dan menarik ujung lidahnya melalui di antara kedua bibirnya: "Ya, merpati-merpati itu sebelumnya terbang menghampiriku. Yakinkah Anda, tuan wali kota, bahwa saya harusnya tinggal di Riva?" "Saya belum bisa menjawabnya," jawab wali kota. "Anda sudah mati?" "Ya," kata pemburu, "seperti yang Anda lihat. Beberapa tahun lalu, tapi pastinya sudah bertahun-tahun, saya tergelincir dari sebuah batu wadas di Schwarzwald - itu di Jerman, ketika saya menguntit seekor kambing gunung. Sejak itu saya mati." "Tapi Anda masih hidup juga," kata wali kota.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;"Boleh dikatakan begitu," kata pemburu, "agaknya saya juga hidup. Perahu yang mengantar kematian saya salah jalan, sebuah putaran yang salah pada setir navigasinya, sebuah ketidak hati-hatian dari pimpinan perahu, membelok ke arah alam kehidupan saya yang indah, saya tidak tahu, apa itu, yang saya ketahui, bahwa saya tinggal di bumi dan bahwa perahu saya sejak itu telah berlayar di perairan duniawi. Begitulah saya bepergian, yang hanya ingin hidup di pegunungan, setelah kematian saya melewati semua negara-negara di bumi. "Dan Anda tidak punya bagian di akhirat?" tanya wali kota dengan dahi mengkerut. “Saya,“ jawab pemburu, "selalu di tangga besar, menuju ke atas. Pada tangga yang luas tak terbatas itu saya berkeliling, kadang ke atas, kadang ke bawah, kadang ke kanan, kadang ke kiri, selalu saja bergerak. Dari seorang pemburu berubah menjadi seekor kupu-kupu. Anda jangan tertawa." "Saya tidak tertawa," wali kota itu membatinnya saja. "Sangat bisa dimengerti," kata pemburu. "Saya selalu bergerak. Tapi saya melompat jauh dan di atas pintu saya tersorot, saya bangkit dari usia saya, sudah di dalam perahu air yang sunyi di suatu daratan. Kesalahan fatal kematian saya yang sekali itu, saya meringis di bilik perahu. Julia, istri pimpinan perahu mengetuk pintu dan membawakan saya minuman pagi negeri itu ke tandu saya, kami segera melayari ke pesisir itu. Saya berbaring di sebuah balai-balai kayu, tapi saya tak merasa nyaman, memandang berlama-lama - sebuah pakaian mayat yang kotor, rambut, jenggot, abu-abu dan hitam, tak bisa dibereskan berantakan, paha-paha saya ditutupi dengan selendang perempuan panjang berhiaskan bunga sutera besar. Di depan kepala saya terletak sebuah lilin gereja dan menyala ke arah saya. Di dinding seberang saya terdapat sebuah foto kecil, jelas seorang dari semak belukar, yang memegang tombak mengarah ke saya dan kemungkinan di belakang ditutup dengan plang bergambar menakjubkan. Orang yang bertemu di perahu kadang menggambarkan hal yang tolol, tapi ini adalah yang paling tolol. Kalau tidak, keranjang kayu saya ini akan sama sekali kosong. Lewat sebuah lubang di sisi dinding mengalir udara malam yang panas dari arah selatan, dan saya dengar air mengombang-ambingkan tandu tua. Di sinilah saya tinggal sejak dulu, ketika saya masih hidup menjadi pemburu Gracchus, di rumah di Schwarzwald saya menguntit kambing gunung dan terperosok. Semuanya kembali normal lagi. Saya membuntuti, saya jatuh, mati kehabisan darah di jurang dan tandu ini seharusnya membawa saya ke akhirat. Saya masih ingat, betapa senangnya saya di sini pertama kalinya terlentang di balai-balai. Tak pernah pegunungan ini mendengar nyanyian saya, seperti dulu empat dinding-dinding yang masih remang-remang. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Saya dulu senang hidup dan senang mati, saya terlempar bahagia, sebelum saya masuk di pinggir perahu, mengumpulkan kaleng-kaleng bekas, tas-tas, senjata pemburu di depan bawah saya, saya selalu bangga memakainya, dan menyelinap di pakaian mayat, bagaikan seorang gadis yang mengenakan pakaian perkawinan. Di sini saya berbaring dan menunggu. Dan terjadi musibah". "Sebuah nasib yang malang," kata wali kota menampik dengan mengangkat tangan. "Dan Anda tak merasa bersalah?" "Tidak," kata pemburu itu, "saya pemburu, apakah itu sebuah kesalahan? Sudah ditakdirkan saya sebagai pemburu di Schwarzwald, dimana dulu masih terdapat serigala. Saya bersembunyi untuk mengintai, menembak, bertatapan, diambil kulitnya, apakah itu salah? Pekerjaan saya telah direstui. `Pemburu terbesar di Schwarzwald adalah saya.` Apakah itu sebuah kesalahan?"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;"Saya tak punya tugas untuk memutuskan hal itu," kata wali kota, "toh juga tak terdapat kesalahan pada saya. Tapi siapa yang bersalah?" &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;"Orang di perahu," kata pemburu. "Tak pernah dibaca orang, apa yang saya tulis, tak pernah ada orang datang, membantu saya; sebenarnya menurut hukum ada orang yang membantu saya, semua pintu rumah terkunci, semua jendela tertutup, semua tertidur, selimutnya menutup kepala, sebuah pondokan malam di seluruh bumi. Itu hal yang baik, sehingga tak seorang pun tahu tentang saya, mengertikah dia dari saya, sehingga dia tak mengerti dimana persinggahan saya, dan tahukah dia persinggahan saya, tahukan dia, bila saya tak menetap lama di sana, tidak tahukah dia, bagaimana membantu saya. Pemikiran untuk membantu saya, adalah sebuah penyakit dan harus berbaring di tempat tidur untuk disembuhkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Itu saya tahu dan juga tak perlu berteriak, meminta bantuan, bila saya sendiri sementara ini - tak berkuasa seperti saya, contoh langsung sekarang - sangat prihatin. Tapi cukup senang untuk mengusir pemikiran seperti itu, bila saya melihat sekeliling dan membayangkan saya, dimana saya berada - saya bisa menganggap gembira - sejak berabad-abad saya tinggal."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;“&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Luar biasa," kata wali kota, "luar biasa." Dan sekarang Anda memperingatkan pada kita untuk tinggal di Riva?" &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;"Saya tak memperingatkan," kata pemburu tertawa dan sambil membenarkan ejekannya, tangannya ditaruh di lutut wali kota. "Saya di sini, saya tidak tahu lebih banyak, lebih dari itu saya tidak bisa lakukan. Perahu saya tanpa setir, perahu itu berjalan dengan kekuatan angin, yang bertiup pada bagian daerah terbawah kematian.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-CH"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="CENTER" lang="de-CH"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="CENTER" lang="de-CH"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;^0O0^&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;6. "Surat untuk Ayah" (Brief an den Vater)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ayah yang terhormat,&lt;br /&gt;Kau pernah tanya saya, mengapa saya merasa takut dengan kamu. Saya tidak tahu, seperti biasa, apa yang saya jawab, sebagian besar dari ketakutan kepada kamu dan sebagian karena akibat dari takut itu begitu banyak kerumitan saya sehingga menghalangi berkata...kau menginginkan saya menjadi anak yang kuat dan pemberani...saya ingat, misalnya; bagaimana ketika kita tidak saling berpakaian di kamar ganti. Saya kurus, lemah; kamu kuat, tinggi, besar...sekarang dibandingkan dengan saya, kau sungguh sering mengagumkan benar,...saya juga harus mengakui sering menyakiti kamu dengan ucapan, tapi kemudian saya tahu, saya tak bisa menarik kata-kata itu lagi...selamanya saya tak bergembira: antara pilihan saya mengikuti perintah kamu, yang sudah tak menggembirakan atau saya menerima tantangan, yang tak menyenangkan, bagaimana saya berani menolak kamu...selama masa kanak-kakak saya, hanya karena rasa salah yang mengitari telah mempengaruhi ketidak harapan kita, kamu dan saya...pembicaraan damai yang tak memungkinkan: saya kehilangan kemampuan bicara, saya tak bisa berpikir apalagi bicara di hadapan kamu. Dan karena kamu lah yang membesarkan saya, yang kemudian mempengaruhi kehidupan saya. Benar-benar sebuah kesalahan, bahwa kamu mengira saya tak pernah mematuhi kamu. "Selalu menentang segalanya", adalah benar-benar bukan prinsip kehidupan saya terhadap kamu. Kebiasaan komentar kamu kepada juru tulis kita yang menderita penyakit tebese; "Biarkan dia mengaok, anjing sakit itu". Kamu juga memanggil pegawai kamu "Musuh Bayaran", dan ini situasinya dulu, meskipun sebelumnya mereka sudah di perlakukan begitu, kamu di mata saya, justru sebagai "Musuh Bayaran" dari mereka. Begitulah, saya banyak belajar, bahwa kamu berlaku tak adil...kamu hanya menunjukan masa kanak-kakak saya, bahwa ajaran Yahudi lah yang paling benar, selain itu adalah tak berguna, (sebenarnya kamu tak memusuhi Yahudi, tapi memusuhi saya)...saya melihat sebuah ketidak mungkinan perkawinan saya, sejauh ini bagaikan sebuah teror kehidupan saya, bagi saya sebuah yang tak berpengharapan. Perkembangan anak begitu lamban...mengapa kemudian saya tidak kawin? Hambatan yang utama, bagaimanapun, karena tak beruntung merdeka dari masalah pribadi, saya benar-benar tak mampu kawin secara spiritual. Kesadaran ini kenyataanya sekarang, saya putuskan untuk kawin, saya tak dapat tidur nyenyak, kepala saya terbakar siang dan malam, kehidupan yang tak lama, saya membuat keputusasaan. Saya mengajak berperang satu sama lain, tapi ada dua jenis perang. Perang secara kesatria, permusuhan yang independen terhadap kekuatan kita, setiap orang untuk dirinya, kekalahan untuk dirinya, menang untuk dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat Kafka untuk Ayahnya Herman Kafka itu ditulis pada bulan November 1919 dan belum pernah diberikan Ayahnya. Baru pada tahun 1937 Surat itu diterbitkan secara lengkap. Surat tersebut di tulis lebih dari seratus halaman sebagai upaya pendobrakan terhadap kebesaran figur Ayah yang otoriter. Surat itu di tulis Kafka secara sistematis; tentang masa kanak-kakak yang lemah, pengaruh Yahudi, ketakutan dalam perkawinan, juga perlakuan tak adil Ayah Kafka dengan pegawainya. Inti surat itu berisi pergolakan kedua insan manusia antara yang kuat dan yang lemah. Surat untuk Ayah ini menjadi sangat penting, karena banyak peneliti karya Kafka sering mengkaitkan karya-karya Kafka dengan Surat untuk Ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;7."Surat untuk Milena" (Brief an Milena)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Yang tercinta Nyonya Milena,&lt;br /&gt;Saya menulis untuk kamu dari Praha dan kemudian dari Meran. Saya tak mendapatkan jawaban. Sekarang secarik kertas ya tak membutuhkan jawaban segera, dan bila kamu diam tak lain adalah sebagai simbol keadaan yang baik, sering muncul keengganan dalam bersurat, sehingga saya benar-benar puas. Tapi itu juga mungkin- dan oleh karenanya saya menulis- bahwa surat saya kepada kamu sepertinya telah melukai (yang mana terhadap semua keinginan saya, secara kasar yang saya tulis, bila itu harus terjadi) atau kebebasan menjadi lebih buruk, bahwa bisa bernafas lega sebentar dari yang kamu tulis, mungkin sudah lewat dan mungkin waktu yang tidak tepat untuk kedatanganmu. Kemungkinan pertama, saya tidak tahu apa yang dikatakan, begitu jauh jaraknya dari saya dan semuanya yang lain begitu dekat, kedua kemungkinan itu saya tak bisa meramalkan-bagaimana saya bisa meramalkan?-melainkan hanya bertanya; Mengapa kamu tidak pergi lebih jauh keluar dari Wina? Kamu bukan tak memiliki kampung halaman seperti yang lainnya. Akankah kamu singgah di kekuatan baru Böhmen? Dan bila kamu punya alasan lain yang saya tidak tahu, mungkin tidak ingin ke Böhmen, kemudian kemana, mungkin ke Meran juga bagus. Tahukah kamu itu? Saya juga menunggu dua kemungkinan. Antara tetap diam, artinya: "Jangan khawatir, saya baik-baik saja". Atau menulis beberapa baris.&lt;br /&gt;Salam Kafka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang kurang, bahwa saya sebenarnya tidak dapat mengingat lagi wajah kamu secara rinci. Hanya bagaimana kamu berada dan meninggalkan meja warung kopi, rupa kamu, pakaian kamu, itu yang masih saya ingat.(Tamat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat lengkap pertama ini di tulis oleh Kafka untuk Milena di awal tahun 1920. Dan diteruskan dengan puluhan surat yang mencerminkan; gairah, ketakutan, dan kelemahan. Kafka menulis; &lt;i&gt;"Kamu tahu, bagaimana saya membenci menulis surat"&lt;/i&gt;. Semua ketidak bahagiaan Kafka berasal dari surat atau mungkin dari menulis surat. Berkali-kali Kafka mengeluh sendiri bagaikan; &lt;i&gt;"Hidup yang tidak berkehidupan"&lt;/i&gt;. Hidup tidak harus lebih dari dua jam, seperti menulis surat sebanyak dua halaman. Bila Kafka menulis surat untuk Milena, artinya Kafka sedang melepas hantu, dimana sedang di tunggu dengan cemas, ciuman tertulis itu tak menuju ke tempat Milena, melainkan di ambil oleh hantu di jalan. Kafka meminta Milena untuk tak sering menulis surat; &lt;i&gt;"Surat yang datang tiap hari tidak memperkokoh, justru makin memperlemah". &lt;/i&gt;Kafka lebih lanjut mengatakan; &lt;i&gt;"Bila tak ada surat datang, saya menunggu, bila ada surat datang, saya mengeluh"&lt;/i&gt;. Kafka juga memuji Milena lewat suratnya pada Brod; &lt;i&gt;"Dia bagaikan api yang menyala, sepertinya saya tak pernah bertemu...disamping lembut, pemberani, pandai..."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Milena menulis surat pada Brod; &lt;i&gt;"Kafka dapat tenang di samping saya, dia dalam beberapa hari ini sudah kehilangan rasa takutnya. Kita tahu bila Kafka tidak impoten, tapi ketakutan akan impoten selalu membayangi dan mempengaruhi".&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ranicki berpendapat; &lt;i&gt;"Daya tarik Milena pada Kafka pertama kali hanyalah ingin mencari uang pada terjemahan prosa Kafka, kemudian tertarik secara pribadi, disamping Kafka sudah menjadi sastrawan yang dikenalnya. &lt;/i&gt;Kafka memerlukan Milena bukan hanya sebagai proyek datar untuk visinya, melainkan utamanya juga sebagai figur lawan-sebagai eksistensi tubuh yang menyejukkan dan membanggakan. Semua pacar Kafka adalah orang Yahudi (Felice Bauer, Grete Bloch, Julie Wohryzek, Dora Dymant), kecuali Milena non Yahudi. Juga suami Ottla yang bukan orang Yahudi, kesemuanya ini menambah takut Kafka, sehingga dilihatnya Milena seperti berada pada ujung dunia yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/353989214924491867-3699114868325046075?l=membacakafka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://membacakafka.blogspot.com/feeds/3699114868325046075/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=353989214924491867&amp;postID=3699114868325046075' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/3699114868325046075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/3699114868325046075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://membacakafka.blogspot.com/2008/12/tengok-franz-kafka-di-praha-beberapa.html' title='[Tengok Franz Kafka di Praha] Beberapa Karya Kafka'/><author><name>pembacakafka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15073329425967061288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-353989214924491867.post-1460242048051897950</id><published>2008-12-16T08:15:00.000-08:00</published><updated>2008-12-22T11:43:40.779-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tengok Franz Kafka di Praha'/><title type='text'>[Tengok Franz Kafka di Praha] Daftar Pustaka</title><content type='html'>&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Born, Jürgen 1988, "Dass zwei in mir kämpfen..." und andere Aufsätze zu Franz Kafka, Finidr, Cesky Tesin: Vitalis.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dietz, Ludwig 1975, Franz Kafka, Stuttgart: J.B. Metzlersche Verlagsbuchhandlung.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Eisenschmid, Rainer 2000, Tschechien, Ostfildern: Karl Baedeker.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Grass, Günter 1980, Aufsätze zur Literatur, Darmstadt und Neuwied: Luchterhand Verlag.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Gründel, Eva/Tomek, Heinz 2000, Prag, Köln: DuMont.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Grabert, Willy/Mulot, Arno/Nürnberger, Helmuth 1985, Geschichte der deutschen Literatur, München: Bayerischer Schulbuch-Verlag.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kafka, Franz 1966, Briefe an Milena, Frankfurt am Main und Hamburg: Fischer Bücherei. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kafka, Franz 1988, Gesammelte Werke, Klassiker der Weltliteratur, European Union: Lechner Publishing Ltd.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kafka, Franz 1952, Das Urteil und andere Erzählungen, Frankfurt am Main und Hamburg: Fischer Bücherei.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kafka, Franz 1998, Meditation, Finidr, Czech Republic: Vitalis.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kafka, Franz 1998, A Country Doctor, Praha: Vitalis.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kafka, Franz 1999, Letter to Father, Finidr, Cesky Tesin.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kafka, Franz 1970, Sämliche Erzählungen, Frankfurt am Main und Hamburg: Fischer Bücherei GmbH.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ludwig Arnold, Heinz 1987, Text+Kritik, Sonderband Die Gruppe 47, München: edition text+kritik GmbH.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lühl-Wiese, Brigitte 1980, Ein Käfig ging einen Vogel suchen, Kafka-Feminität und Wissenschaft, Berlin: Merve Verlag.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Politzer, Heinz 1965, Das Kafka-Buch, Frankfurt am Main und Hamburg: Fischer Bücherei.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Reich-Ranicki, Marcel 1984, Nachprufüng über deutsche Schriftsteller von Gestern, München: DTV.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Salfellner, Harald 1998, Franz Kafka and Prague, Finidr, Cesky Tesin: Vitalis.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sorges, Jürgen 1999, PRAG ...selbst entdecken, Zürich: Regenbogen Verlag.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Salzer, Anseln Prof.Dr/Von Tunk, Eduard Prof, Illustrierte Geschichte der Deutschen Literatur (Band 5), Frechen: Verlagsgesellschaft mbH.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;U.Beicken, Peter 1974, Franz Kafka, Eine kritische Einführung in die Forschung, Frankfurt am Main: Athenäum Fischer Taschenbuch Verlag.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Von Weise, Benno 1964, Die deutsche Novelle von Goethe bis Kafka, Düsseldorf: August Bagel Verlag.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/353989214924491867-1460242048051897950?l=membacakafka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://membacakafka.blogspot.com/feeds/1460242048051897950/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=353989214924491867&amp;postID=1460242048051897950' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/1460242048051897950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/1460242048051897950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://membacakafka.blogspot.com/2008/12/tengok-franz-kafka-di-praha-daftar.html' title='[Tengok Franz Kafka di Praha] Daftar Pustaka'/><author><name>pembacakafka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15073329425967061288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-353989214924491867.post-5801318921701633702</id><published>2008-07-03T11:36:00.000-07:00</published><updated>2008-07-03T11:47:25.897-07:00</updated><title type='text'>[125 Years Franz Kafka] Kafka: The Writer Who Didn't Want to Be Read</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.dw-world.de/image/0,,638922_1,00.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 203px; height: 150px;" src="http://www.dw-world.de/image/0,,638922_1,00.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Franz Kafka, one of the most influential writers of the 20th century, was born 125 years ago in Prague. Had he had his way, his manuscripts would have been destroyed after his death and never published.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Known for his long, drawn-out sentences and penchant for ambiguity -- which make his works a real challenge for translators -- Kafka authored "Metamorphosis" (1915), "The Trial" (1925), "The Castle" (1926) and a slough of other well-known short stories and novel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;His main characters lead complicated, nightmarish lives -- perhaps not unlike his own -- in an impersonal society.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kafka was born on July 3, 1883 to a middle-class Jewish family in Prague, which was part of the Austro-Hungarian Empire at the time.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;His first language was German and all of his literary works were composed in German, but he also spoke fluent Czech. After starting with chemistry, the young Kafka earned a degree in law at the German-language university in Prague.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A passer-by looks at the Franz Kafka monument in Prague Bildunterschrift: Großansicht des Bildes mit der Bildunterschrift:  The Prague monument was inspired by Kafka's 'Description of a Struggle'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He went on to work for the Worker's Accident Insurance Institute for the Kingdom of Bohemia -- a relatively undemanding job that left him time to write.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Together with his close friends and fellow writers Max Brod and Felix Weltsch, Kafka formed a Prague writers group which was part of the broader Prague Circle of German-Jewish writers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Death wish ignored&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Much of Kafka's writing was left incomplete and unpublished during his lifetime, with the notable exception of Metamorphosis and several of his short stories.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Always somewhat frail physically, Kafka developed tuberculosis in 1917 and went through a series of treatments over the next several years. The illness later worsened and he died on June 3, 1924 -- apparently of starvation, as the condition of his throat made eating too painful.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;His body was returned to Prague, where he was buried in the New Jewish Cemetery.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Before his death, Kafka instructed Max Brod, who also served as his literary manager, to destroy all of his manuscripts. Instead, Brod oversaw their publication. Kafka's works quickly attracted attention and acclaim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Click on the radio report below to hear more about Kafka's influence on the city of Prague.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DW staff (kjb)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Sumber: http://www.dw-world.de/dw/article/0,2144,3455332,00.html&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/353989214924491867-5801318921701633702?l=membacakafka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://membacakafka.blogspot.com/feeds/5801318921701633702/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=353989214924491867&amp;postID=5801318921701633702' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/5801318921701633702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/5801318921701633702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://membacakafka.blogspot.com/2008/07/125-years-franz-kafka-kafka-writer-who.html' title='[125 Years Franz Kafka] Kafka: The Writer Who Didn&apos;t Want to Be Read'/><author><name>pembacakafka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15073329425967061288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-353989214924491867.post-3778195677340363054</id><published>2007-12-21T19:46:00.000-08:00</published><updated>2007-12-21T19:58:58.680-08:00</updated><title type='text'>Proses menerjemahkan Proses - Bosan, tapi Senang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/R2yLSb9JbTI/AAAAAAAAAA4/OddpwlDfwKk/s1600-h/prozess.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 168px; height: 255px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/R2yLSb9JbTI/AAAAAAAAAA4/OddpwlDfwKk/s320/prozess.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5146641623035768114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pertama kali aku mengenal Kafka dari terjemahan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Metamorfosis&lt;/span&gt;-nya Kang Eka Kurniawan yang dipajang pada website bumimanusia tahun 2001. Kepenasaranku melonjak, pada Agustus 2001, aku bertandang ke rumah kelahiran dan makam Kafka di Praha. Dari situ aku mulai sedikit berhasrat koleksi karya-karyanya. Aku coba terjemahkan untuk keperluan sendiri dua cerpennya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Di Depan Hukum&lt;/span&gt; (Vor dem Gesetz) dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pemburu Gracchus&lt;/span&gt; (Der Jäger Gracchus).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan-pelan aku mulai tahu, ternyata karya Kafka banyak diperdebatkan dalam setiap diskusi sastra Jerman. Baik pembicaraan sastra di TV maupun di media cetak, Kafka sering disinggung. Adakalanya disebut punya kesamaan dengan penyair klasik Jerman, Heinrich von Kleist. Bahkan tahun 1950-an, ada istilah “&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kafka-Mode&lt;/span&gt;.“ Banyak penulis muda ingin meniru model Kafka. Berangsur-angsur Kafka menjadi sebuah adjektif. Barangsiapa bereksperimen dengan gaya Kafka, akan dijuluki bergaya, kafkaesken. Tercatat sekitar 160-an analisis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah baca beberapa cerpennya dan Trilogi Novelnya, Puri (Das Schloss), Amerika, dan Proses (Der Prozess), memberanikan diri untuk mencoba terjemahkan Proses (Der Prozess). Baru sampai 2 bab, langsung terhenti. Awal tahun 2006 Kang Akmal N. Basral mencanangkan dua usulan, agar Apsas punya proyek karya sendiri. Pertama, apresiasi prosa khusus Sri Kandi Apsas, akhirnya berhasil diterbitkan oleh Akoer, Juni 2006 dengan judul Selasar Kenangan. Kedua, terjemahan novel Kafka berjudul Der Prozess, yang akan aku kerjakan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Dari Kata ke Kata&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh aku bukan penerjemah yang profesional dan efektif. Bagaimana tidak, naskah setebal 193 halaman itu aku terjemahkan “dari kata ke kata.“ Dengan keterbatasan bahasa Jermanku, maka sehari aku hanya mampu nerjemahkan 1-2 halaman. Selebihnya kepayahan. Kesulitanku terbesar untuk merangkai kalimat-kalimat yang panjang dan berjibun koma. Seperti kita tahu, tata bahasa Jerman, luar biasa sulit. Sebuah kalimat belum bisa dimengerti sebelum kita baca sampai pada kata paling akhir. Susunan kalimatnya, bukan aku akan pergi ke sekolah, tapi aku akan ke sekolah pergi (Ich will zur Schule gehen). Kesulitan yang lain, untuk membedakan mana yang sebagai objek penderita (Akkusativ) dan objek penyerta (Dativ). Sulit ditebak, siapa bicara dengan siapa? Tak heran, barusan ada kritik dari pembaca Jerman atas “Saman” di mana perspektif subjek dalam bahasa Indonesia, kadang tidak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kosa-kata yang dipakai Kafka juga ada beberapa yang termasuk bahasa Jerman kuno, yang tidak ditemui di kamusku. Misal, kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Otomana&lt;/span&gt;. Kalau sudah begitu, aku bertanya pada forum diskusi sastra Jerman di internet. Ternyata aku nemukan jawaban dari sana, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Otomana&lt;/span&gt; adalah sofa khas Turki. Karena Kafka seorang doktor ilmu hukum, novel ini juga sering diselipkan istilah hukum. Ada istilah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gefängnis Kaplan&lt;/span&gt;, ini aku sama sekali tidak tahu. Untungnya punya kenalan Birgit Lattenkamp di Hamburg. Kebetulan dia lagi nerjemahkan Tarian Bumi-nya Oka Rusmini menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Erdentanz.&lt;/span&gt; Birgit kasih tahu, kalau Gefängnis Kaplan adalah pendeta yang suka mendatangi penjara. Kadang Birgit juga minta bantuan aku, tuk mengartikan istilah yang dipakai Oka. Tersenyum juga, dengan pertanyaan yang tidak dimengerti olehnya. Mungkin juga dia tersenyum, saat kutanya hal sulit bagiku, tapi hal mudah bagi dia. Birgit pernah tanya, apa maksudnya ….bagi kasta Barhmana tidak boleh makan nasi sisa? Birgit maksudkan, nasi sisa adalah nasi yang habis dimakan orang lain. Padahal dalam konteks mitologi Hindu, nasi sisa, bisa pula nasi yang masih kebul-kebul, tapi cara mengambilnya, orang yang berkasta Brahmana tidak boleh belakangan, harus didahulukan. Sebab itu bila orang Brahmana mengambil nasi belakangan, setelah orang lain yang berkasta rendahan, bisa disebut nasi sisa. Sisa lebih mengacu ke arti hirarkis-feodalis, bukan sisa nasi habis dimakan orang lain secara transparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali Birgit mengirim tulisan dari internet yang menyatakan, bahwa karya Kafka dianggap heiligtum (disucikan). Sebab saat Kafka nulis belum selesai. Kemungkinan salah diedit oleh kawannya Max Brod. Beberapa penerbit karya Kafka di Jerman bersepakat, tidak berani mengubah dibiarkan apa adanya dengan kesalahan itu, biar otentik. Sebab itu terjemahanku, aku tulis apa adanya seperti pada teks aslinya, yakni tidak ada pembuka paragraf yang menjorok ke dalam. Pada terjemahn ini aku beri catatan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Catatan dari Penerjemah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Frau artinya nyonya, *Fräulein artinya nona. Pada teks ini terdapat dua tokoh perempuan yang berbeda, yakni Frau Grubach (Nyonya Grubah) dan Fräulein Bürstner (Nona Bürstner). Memahami teks Kafka banyak bersinggungan dengan dunia simbol. Kafka pernah tiga kali gagal bertunangan dengan perempuan yang sama bernama Felice Bauer. Sosok Felice Bauer sangat besar pengaruhnya pada novel ini dan karya lainnya. Nama Felice Bauer dengan inisial FB, sepadan dengan tokoh bernama Fräulein Bürstner (FB). Bila panggilan Fräulein diganti dengan nona, berarti akan menghasilkan inisial NB (Nona Bürstner). Sebab itulah dipertahankan panggilan aslinya Fräulein Bürstner dengan tujuan mempertahankan persamaan inisial FB untuk Felice Bauer. Adapun panggilan untuk Frau (Nyonya) Grubach, semata-mata menyeimbangkan atas penggunaan panggilan Fräulein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang kala aku bertanya pula pada istri, namun jawabnya sering,…tahu novel sulit, kamu terjemahkan. Cara lain mengatasi kesulitan, aku membeli terjemahannya yang bahasa Inggris The Trial. Ada dua yang kubeli, terbitan Penguin dan Vintage. Dua terjemahan itu kadang aku pakai sebagai pembanding. Terutama kalau aku nemukan kalimat yang rumit. Terbitan Vintage ini diterjemahkan oleh Edwin Muir. Pada bukunya J.M. Coetzee Stranger Shores disebutkan, bahwa Muir inilah penerjemah karya Kafka pertama ke dalam bahasa Inggris. Muir mengakui, pembacanya yang berakar budaya anglo-saxon tidak paham gaya tulisan Kafka. Tapi Muir nekad, begitulah dia memperkenalkan karya yang otentik. Muir menilai, bahwa ritme tulisan Kafka seperti catatan perjalanan. Bergerak dari hitungan menit ke menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih penasaran, agar terjemahanku tidak terlalu meleset jauh dari teks aslinya, untung pada TV Jerman sering ditayangkan film-filmnya Kafka. Novel Proses ini aku sudah tonton 4 kali. Aku teliti dari adegan ke adegan, apakah sang tokoh naik mobil atau kereta di zaman dulu? Film hitam putih yang terkesan seperti film horor itu, punya ending yang berbeda. Pada novel tokoh Josef K mati ditusuk pisau, sedang dalam film tokoh tersebut dibunuh dengan alat peledak. Mungkin ini untuk mengelabuhi penonton agar tidak terkesan brutal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Du: Kamu, Sie: Anda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin salah satu kelebihan menerjemahkan naskah dari bahasa Jerman ke bahasa Indonesia adalah faktor subjek. Dalam bahasa Jerman, penggunaan subjek hirarkis seperti di bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misal: Du untuk Kamu dan Sie untuk Anda. Nah, dalam terjemahan Proses ini, tokoh Josef K memanggil Leni, (pembantu pengacara) memakai Sie (Anda). Sedang Josef K bicara dengan pamannya bilang Du (Kamu). Gaya Kafka memang agak aneh. Sesama anak muda Josef K tetap panggil Sie (Anda).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Jerman tidak sedemokratis bahasa Inggris. Di mana subjek: You, bisa dipakai untuk Kamu atau Anda. Sebab itu bila naskah bahasa Jerman diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, lalu ke bahasa Indonesia, kemungkinan akan main tebak-tebak tebu, dengan subjek You.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya terjemahan itu bisa kutamatkan. Meskipun rasa bosan sering timbul, setiap kali menemui kata sulit dan rangkaian yang rumit, tapi bagiku tetap menyenangkan. Paling pokok adalah sebagai upaya belajar yang murah. Kadang aku berpikir, menerjemahkan karya seperti membaca karya 10 kali. Di samping itu aku bisa mulai tahu kosa kata yang sering dipakai Kafka, misal: jendela, lilin, gelap, foto. Empat kata itu juga muncul di karya-karyanya yang lain. Meskipun terjemahan itu belum jadi buku, ada rasa puas. Menurut informasi, Goethe-Institut ikut peduli membantu terjemahan dari karya bahasa Jerman ke bahasa kita. Entah apa langkah itu juga dilakukan British Council dan Alliance France? Sekarang aku sudah mulai lagi dengan nerjemahkan karya Kafka berjudul Surat untuk Ayah (Brief an den Vater).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-oOo-&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/353989214924491867-3778195677340363054?l=membacakafka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://membacakafka.blogspot.com/feeds/3778195677340363054/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=353989214924491867&amp;postID=3778195677340363054' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/3778195677340363054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/3778195677340363054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://membacakafka.blogspot.com/2007/12/proses-menerjemahkan-proses-bosan-tapi.html' title='Proses menerjemahkan Proses - Bosan, tapi Senang'/><author><name>pembacakafka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15073329425967061288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/R2yLSb9JbTI/AAAAAAAAAA4/OddpwlDfwKk/s72-c/prozess.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-353989214924491867.post-3906688693451232563</id><published>2007-11-16T12:17:00.000-08:00</published><updated>2009-01-27T00:03:37.051-08:00</updated><title type='text'>Komentar dan Teks Terjemahan: Di Depan Hukum (Vor Dem Gesetz)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Komentar:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Di antara banyak cerpen Kafka, cerpen berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Di Depan Hukum&lt;/span&gt; (Vor Dem Gesetz) menurut saya yang paling membekas di ingatan. Lagi-lagi saya dibuat terkecoh dengan keberanian Kafka bermain dengan khayalannya. Pada cerpen ini Kafka menampilkan tokoh yang rapuh lagi. Hanya saja berbeda posisinya. Kalau pada Metamorfosis tokoh Samsa sebagai pelaku bisnis, pada cerpen ini tokohnya seorang yang lugu dari desa. Orang desa yang berciri sederhana dan patuh itu akan berurusan dengan hukum dan masuk gedung pengadilan. Di pintu masuk dihadang oleh seorang penjaga. Lalu ada sebuah dialog yang sangat brilian.&lt;br /&gt;Penjaga tersebut bilang,&lt;br /&gt;“Jika kamu akan mencobanya, mengapa tidak masuk saja, meskipun dilarang. Tapi ingat, saya berkuasa. Dan saya hanya penjaga pintu yang paling rendahan. Tapi dari ruang ke ruang lain telah dijaga oleh penjaga pintu, satu dengan yang lain makin tinggi kekuasaannya. Bahkan saya tidak bisa menanggung pada pintu ke tiga."&lt;br /&gt;Orang desa itu akhirnya termangu ragu dan taat pada peraturan seperti yang diucapkan oleh penjaga pintu. Sekarang terjadi peristiwa yang luar biasa. Kafka nekat lagi membuat cerita bila orang desa itu patuh menunggu di depan pintu tak hanya dalam hitungan jam atau hari, tapi bertahun-tahun. Sampai di sini saya terpana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kafka mencoba melompat ke imajinasi surealis. Mungkinkah dalam realitas sehari-hari orang desa itu duduk di dingklik depan pintu pengadilan sampai bertahun-tahun? Jawabnya, ya dan tidak. Ya, bisa dibuktikan dari berbagai kasus pengadilan yang umumnya memakan waktu sampai bertahun-tahun. Tidak, bilamana orang desa itu terus menerus berdiri di depan pintu pengadilan sampai bertahun-tahun. Namun mengapresiasi karya sastra akan sia-sia kalau hanya berpedoman dengan logika riil. Lompatan ”menunggu bertahun-tahun” jelas Kafka menyodorkan sebuah arti simbolis. Pada sisi lain Kafka mungkin akan mengajak berpikir panjang. Bukankah orang yang bertipe sopan, baik, patuh, sederhana, dan lugu itu harus mendapat perlakuan yang setimpal? Dalam realitas keseharian, sering kali mendapat perlakuan yang sebaliknya. Atau justru dengan kepolosannya, ketaatannya, kesopanannya, sering menjadi korban peradaban dalam masyarakat. Kafka sesungguhnya sedang menyodorkan potret manusia lemah yang nasibnya tak kunjung berubah, manakala manusia itu tak berani membuat perubahan besar. Saya jadi ingat Max Weber yang pernah bilang; barangsiapa berpikiran, bila A akan selalu menjadi A, B akan menjadi B, maka pikiran seperti itu ibarat politik anak kecil. Kenyataannya apa yang dikatakan A bisa berubah menjadi B atau sebaliknya. Kafka di sini telah mencoba menjungkirbalikkan tatanan yang pada kultur timur dipercaya sebagai ”Karmapala.”&lt;br /&gt;Terakhir ada kalimat yang filosofis diucapkan oleh penjaga pintu:&lt;br /&gt;“Tak ada orang lain dapat izin masuk ke sini, karena pintu ini dimaksudkan hanya untuk kamu. Sekarang saya pergi dan tutup pintunya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat penutup di atas cukup kritis. Begitu penjaga melihat kondisi orang desa makin bungkuk dan pendengarannya sudah mulai menurun. Singkatnya ajal sudah menunggu, sementara warga lain sudah selesai dengan urusan pengadilan. Logisnya memang pintu harus ditutup, karena tinggal seorang saja, apalagi orang yang akan masuk itu sudah menjelang ajal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Agar komentar saya tidak menyaingi panjangnya cerpen, maka saya akhiri di sini.&lt;br /&gt;(Sigit Susanto)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Di Depan Hukum (Vor dem Gesetz)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Di depan hukum berdiri seorang penjaga pintu. Seorang dari desa datang menemui penjaga pintu dan minta izin untuk menghadap hukum. Tapi penjaga pintu tersebut menolaknya untuk memberi izin masuk sekarang. Orang desa itu menanyakan, apakah dirinya nanti bisa masuk. "Itu mungkin, tapi tidak sekarang," jawab penjaga pintu. Ketika pintu pengadilan itu terbuka seperti biasanya dan penjaga pintu menepi, orang desa itu telah melihat ke ruang dalam pengadilan. Ketika penjaga pintu mengetahuinya, tersenyum dan berkata, "Jika kamu akan mencobanya, mengapa tidak masuk saja, meskipun dilarang. Tapi ingat, saya berkuasa. Dan saya hanya penjaga pintu yang paling rendahan. Tapi dari ruang ke ruang lain telah dijaga oleh penjaga pintu, satu dengan yang lain makin tinggi kekuasaannya. Bahkan saya tidak bisa menanggung pada pintu ke tiga." Orang desa itu tak mengharapkan kesulitan. Hukum harus berlaku adil kepada semua manusia, dia pikir. Tapi dia sekarang lebih memperhatikan penjaga pintu yang mengenakan jaket besar berbulu, berhidung mancung dan berjenggot panjang serta tipis. Dia masih optimis untuk dapat izin masuk. Penjaga pintu memberi bangku kecil sambil mempersilakan untuk duduk dekat pintu. Dia duduk berhari-hari bahkan bertahun-tahun. Dia mencoba minta izin masuk, namun ditolak oleh penjaga pintu. Bahkan penjaga pintu bertanya pada orang desa itu tentang keluarganya dan berbincang banyak hal, namun pertanyaannya membosankan. Penjaga pintu berlagak seperti tuan besar, akhirnya dia tetap berkata lagi, bahwa orang desa itu belum boleh masuk. Orang desa itu membawa banyak perbekalan berharga dalam perjalanannya, dengan mudah untuk menyuap penjaga pintu. Akan tetapi penjaga pintu berkata, "Saya hanya menerimanya, sehingga kamu jangan berpikir, kamu telah semena-mena pada semuanya." Setelah lewat bertahun-tahun, orang desa itu memperhatikan penjaga pintu terus menerus. Dia lupa pada penjaga pintu yang lain dan penjaga pintu pertama ini hanya merupakan halangan untuk menghadap hukum. Dia mengutuk nasib buruknya, pada tahun-tahun awal dan dengan penuh kehati-hatian, setelah dia makin tua, dia sering menggerutu pada dirinya sendiri. Dia menjadi kekanak-kanakan dan selama pengamatannya pada penjaga pintu, dia mulai tahu ada kutu pada jaket bulunya. Dia harapkan agar kutu itu membantunya untuk merubah sikap penjaga pintu. Akhirnya, pandangannya makin kabur, dan dia tidak tahu lagi, bila hari makin gelap atau bila matanya telah menipu dirinya. Tapi dia makin sadar, betapa sulitnya mengurus hukum. Dia tak bertahan hidup lebih lama lagi. Sebelum dia mati, seluruh pengalamannya dikumpulkan dalam benaknya untuk menemukan sebuah pertanyaan, yang dia sendiri belum tanyakan kepada penjaga pintu. Dia memanggil penjaga pintu, sementara dia sendiri tak bisa mengangkat tubuhnya yang kaku. Penjaga pintu harus membungkukkan begitu rendah, karena ketinggian antara keduanya telah berubah, banyak yang menyengsarakan orang desa itu. "Kamu masih ingin tanya apalagi?" tanya penjaga pintu. "Kamu rakus." "Semua orang berupaya berurusan dengan hukum," kata orang itu. "Bagaimana mungkin, bertahun-tahun lamanya, tak seorangpun kecuali saya telah minta izin menghadap hukum?" Penjaga pintu itu sadar, bahwa orang itu sudah mendekati kematian, di samping kedunguannya bertambah, dan untuk masuk, penjaga pintu berkata keras pada orang desa, "Tak ada orang lain dapat izin masuk ke sini, karena pintu ini dimaksudkan hanya untuk kamu. Sekarang saya pergi dan saya tutup pintunya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tamat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Diterjemahkan: Sigit Susanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/353989214924491867-3906688693451232563?l=membacakafka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://membacakafka.blogspot.com/feeds/3906688693451232563/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=353989214924491867&amp;postID=3906688693451232563' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/3906688693451232563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/3906688693451232563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://membacakafka.blogspot.com/2007/11/komentar-dan-teks-terjemahan-di-depan.html' title='Komentar dan Teks Terjemahan: Di Depan Hukum (Vor Dem Gesetz)'/><author><name>pembacakafka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15073329425967061288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-353989214924491867.post-4884202331924905959</id><published>2007-11-16T11:56:00.000-08:00</published><updated>2009-01-06T05:32:52.656-08:00</updated><title type='text'>Metamorfosis (Die Verwandlung) - Catatan Ringan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.readliterature.com/metamorph7.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 170px; height: 247px;" src="http://www.readliterature.com/metamorph7.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tiga kali saya membaca novelet setebal 59 halaman ini. Pembacaan pertama membingungkan, kedua sedikit mengerti, ketiga geleng-geleng kepala. Seperti itukah kemauan Kafka? Novelet ini dibuka dengan kalimat menghentak yang legendaris:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketika Gregor Samsa pada suatu pagi terbangun dari mimpi buruknya, didapati dirinya di ranjang sudah berubah menjadi seekor kecoak raksasa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks aslinya bahasa Jerman:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Als Gregor Samsa eines Morgen aus unruhigen Träumen erwachte, fand er sich in seinem Bett zu einem ungeheuren Ungeziefer Verwandelt. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks bahasa Inggris:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;As Gregor Samsa awoke one morning from a troubled dream, he found himself transformed in his bed into a gigantic insekt. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;*ungeheure: makhluk raksasa, menakutkan.&lt;br /&gt;*ungeziefer: binatang kecil yang mengganggu, menjijikan, (kumbang, kecoak, lalat)&lt;br /&gt;*Nabakov membuat sketsa/lukisan binatang mirip kumbang atau kecoak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian ini bukan dalam mimpi, melainkan sungguh diceritakan dalam hidup sang tokoh. Tapi mungkinkah realitas hidup manusia sehari-hari seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah novelet usai ditulis, Kafka mengirim surat pada pacarnya Felice Bauer, ”Saya barusan menulis cerita yang menakutkan, judulnya `&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Die Verwandlung&lt;/span&gt;` kamu pasti akan takut. Tapi toh kamu akan berterima kasih, karena surat-surat saya sehari-harinya untukmu juga berisi ketakutan.” Belakangan Kafka menyesali profesi Samsa sedang melakukan perjalanan bisnis. Dia menyebut, karyanya bukan menggambarkan saat dalam mimpi, juga tidak menggambarkan pada saat manusia sudah sadar di alam nyata. Namun karyanya dia bayangkan pada masa “transisi” antara mimpi dan sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang menjadi motif Kafka menulis dengan cara senekat itu? Dia ungkapkan pada kawannya Gustav Janouch (Gustav Janouch: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gespräche mit Kafka&lt;/span&gt;), “...binatang dengan kita sebagai manusia itu hubungannya lebih dekat. Inilah terali penjara. Justru hubungan dengan sesama manusia menjauh, sebaliknya hubungan dengan binatang lebih mudah. Setiap manusia hidup dalam penjara. Dia harus paham lingkungannya, sebab itu sekarang banyak orang menulis tentang binatang. Ini sebagai bukti ada semacam kerinduan pada kehidupan yang bebas dan kehidupan di alam. Manusia terlalu banyak mengeluh, sehingga fantasinya perlu pembebasan diri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fabel seperti ini mengingatkan kita pada George Orwell dengan novelet satirnya berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Animal Farm&lt;/span&gt;. Bedanya Orwell menghidupkan binatang piaran bisa berbicara satu sama lainnya dan memberontak tuannya sendiri. Mungkin ini satir yang ditujukan untuk menyindir Stalin kala itu. Sebaliknya Kafka mengubah tubuh Samsa menjadi serangga dan tubuh serangga itu masih bisa berdialog layaknya manusia biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Nabakov menganalisis, bahwa Kafka terpengaruh pandangan psikoanalisis Freud, atas problem kompleksitas keluarga, utamanya dengan ayahnya. Saya tertarik mengaitkan dengan Zarathustra-nya Nietzsche. Judul novelet ini dalam bahasa aslinya, Jerman “Die Verwandlung", dan diterbitkan tahun 1912. Jauh sebelumnya Nietzsche pada tahun 1883 sudah menulis dalam buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Also Sprach Zarathustra&lt;/span&gt; ada bab yang mirip, berjudul “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Von Den Drei Verwandlungen&lt;/span&gt;“ (Dari Tiga Kali Metamorfosis). Hanya saja pada buku Zarathustra ini, Nietzsche menceritakan tiga periode metamorfosis. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, dari jiwa menjadi onta. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, dari onta menjadi singa. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, dari singa menjadi anak-anak. Nietzsche menggambarkan kehidupan jiwa itu bebas, kemudian kehidupan onta itu penuh beban mengangkut barang, serta kehidupan singa itu perkasa dan buas, terakhir kehidupan anak-anak itu kembali ke awal yang tak bersalah dan terlupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kemiripan judul di atas, saya masih tertarik dengan tokoh bernama Zarathustra yang berusia 30 tahun untuk mengembara ke alam pegunungan dan hutan. Ada semacam kesamaan objek pelarian antara Metamorfosis dan Zarathustra. Menurut Kafka proses perubahan tokoh Samsa menjadi serangga, sebagai sebuah bentuk pelarian ke kehidupan alam atau binatang. Nietzsche juga membawa tokoh Zarathustra ke alam pegunungan dan hutan. Dari dua contoh di atas terlihat objek alam sebagai tempat pencarian inspirasi proses kreatif pengarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Nietzsche yang sudah pernah belajar ajaran Buddha menghasilkan fantasi kritis, menurutnya manusia berasal dari cacing. Dan seharusnya manusia itu menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Übermensch&lt;/span&gt;. Tapi masih ada manusia yang tetap jadi cacing. Atau awalnya manusia itu dari kera, tapi sekarang manusia hidupnya melebihi kera dari kera manapun. Sosok manusia perkasa atau Übermensch yang diimpikan Nietzsche, semata-mata untuk meneguhkan kembali jiwa manusia supaya lebih kuat dan tegar. Berseberangan dengan itu, Kafka membuat tokoh Samsa justru terpuruk rapuh. Samsa bangun saja tidak mampu. Batok keras di pundaknya sangat berat. Samsa yang sudah berubah menjadi seekor serangga itu hanya berani menengok keluarganya, di saat malam hari. Singkat kata, Nietzsche menghendaki manusia itu kuat, sebaliknya Kafka menggambarkan betapa lemah hidup manusia mengikuti gejolak zaman. Tak heran, bila dua diktator fasis Mussolini dan Hitler, bukan mengidelokan Kafka, namun Nietzsche. Kedua diktator ini telah membiayai pemugaran rumah sekaligus museum Nietzsche di kota Weimar, Jerman. Mungkin kedua diktator itu menginginkan bangsanya menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Übermensch&lt;/span&gt;. Bangsa kelas unggul di antara bangsa-bangsa lain. James Joyce dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ulysses&lt;/span&gt; memelesetkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Übermensch&lt;/span&gt; menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Superman&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke kisah tragis pada Metamorfosis. Nasib Samsa sungguh tersiksa dan makin tak berdaya. Samsa yang berubah wujud menjadi serangga ini tak mampu lagi berjalan. Kedua antena di kepala basah kena lendir. Punggungnya sakit luar biasa. Ketika jadwal kereta api mendekati berangkat, Samsa masih terus menyanggupi,  ”sebentar, sebentar akan datang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grete, adik perempuan Samsa, identik dengan adik perempuan Kafka bernama Ottla. Kafka sangat suka dengan adiknya, juga suka dengan ibunya. Tapi Kafka dalam hidupnya takut dengan ayahnya. Sebab itu pada cerita ini, ketika ayahnya Samsa mendekat kamar yang masih terkunci dari dalam, Samsa ketakutan. Sebaliknya, ketika Grete, adiknya  atau ibunya mendekat, Samsa senang. Bukankah Kafka mengaku menulis berdasar buku harian? Niscaya kisahnya berangkat dari keluarga di buku harian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan konyol yang dialami Samsa terus berkecamuk. Pada akhirnya Samsa sembunyi di bawah kolong sofa, karena kamarnya akan dibersihkan pembantu. Bahkan ketika para penghuni rumah tidur malam, Samsa yang sudah menjadi serangga itu keluar mencari makan roti di kamar lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menariknya Kafka dalam cerita ini sama sekali tidak menghubungkan dengan dunia mistik, melainkan sampai akhir cerita, tetap bertahan, bila serangga itu tetap ada di kamar, sehingga semua keluarganya memahami akan peristiwa naas itu. Selama dua bulan makannya tak teratur dan tubuhnya terluka kena pecahan botol. Di sela-sela kisah yang mencekam, Kafka masih bisa membuat lelucon. Suatu saat datanglah pembantu membawa sapu menyodok tubuh Samsa yang terbungkus selimut. Tapi Samsa tak bergerak. Ternyata dia telah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ritme cerita sangat rapat dan dinamis. Bahkan seperti catatan perjalanan yang dikisahkan dari hitungan menit ke menit. Tak ada lompatan cerita yang besar dan jauh. Nuansa dibangun dengan konsentrasi satu arah ke sosok Samsa yang lemah. Lokasi tetap berada di rumah sendiri. Untuk membantu pemahaman novelet ini, ada baiknya membaca buku yang lain, utamanya berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Brief an den Vater&lt;/span&gt; (Surat untuk Ayah). Di buku itu akan terasa sekali, betapa Kafka sangat takut pada ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metamorfosis ini tercatat sebagai satu-satunya karya Kafka yang paling banyak mendapat sambutan publik. Tak sampai di situ, bahkan banyak penulis dunia terinspirasi oleh novelet ini. Salah satu karya yang benar-benar diakui meniru Metamorfosis berjudul “Salto Mortale” (Lompatan Kematian) karya Milo Dor, sastrawan Yugoslavia yang tinggal di Jerman. Milo Dor mengisahkan seorang pimpinan redaksi media, di suatu pagi bangun tidur, ruhnya lepas dari tubuhnya. Alhasil ruh itu terus berangkat kerja, namun kawan sekantor tak ada yang melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari pengaruh ketenaran Kafka. Saya merasakan, untaian kata per kata hampir tak ada yang sia-sia. Beberapa kalimat yang meninggalkan kesan lembut sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Ibu bicara sangat pelan sekali, seperti orang berbisik.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Malam hari ibu menjahit pakaian untuk dijual di toko, dan adik belajar steno untuk keperluan kerjanya, sedang ayah bangun dan mengajak tertawa, tapi ibu dan adik capai untuk tertawa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mulutnya disumbat tangannya.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;(Sigit Susanto)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/353989214924491867-4884202331924905959?l=membacakafka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://membacakafka.blogspot.com/feeds/4884202331924905959/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=353989214924491867&amp;postID=4884202331924905959' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/4884202331924905959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/4884202331924905959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://membacakafka.blogspot.com/2007/11/metamorfosis-die-verwandlung-catatan.html' title='Metamorfosis (Die Verwandlung) - Catatan Ringan'/><author><name>pembacakafka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15073329425967061288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-353989214924491867.post-2881736455761485268</id><published>2007-11-16T08:40:00.004-08:00</published><updated>2007-11-16T08:55:24.603-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya kafka'/><title type='text'>Teks Asli Metamorfosis dalam Bahasa Jerman</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sumber: DigBib.Org: Die freie digitale Bibliothek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Download text lengkap: &lt;a href="http://www.digbib.org/Franz_Kafka_1883/Die_Verwandlung?showall=1"&gt;[HTML]&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.digbib.org/Franz_Kafka_1883/Die_Verwandlung_.pdf"&gt;[PDF]&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.digbib.org/Franz_Kafka_1883/Die_Verwandlung?textonly=1"&gt;[TXT]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Franz Kafka: Die Verwandlung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Als Gregor Samsa eines Morgens aus unruhigen Träumen erwachte, fand er sich in seinem Bett zu einem ungeheueren Ungeziefer verwandelt. Er lag auf seinem panzerartig harten Rücken und sah, wenn er den Kopf ein wenig hob, seinen gewölbten, braunen, von bogenförmigen Versteifungen geteilten Bauch, auf dessen Höhe sich die Bettdecke, zum gänzlichen Niedergleiten bereit, kaum noch erhalten konnte. Seine vielen, im Vergleich zu seinem sonstigen Umfang kläglich dünnen Beine flimmerten ihm hilflos vor den Augen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;»Was ist mit mir geschehen?«, dachte er. Es war kein Traum. Sein Zimmer, ein richtiges, nur etwas zu kleines Menschenzimmer, lag ruhig zwischen den vier wohlbekannten Wänden. Über dem Tisch, auf dem eine auseinandergepackte Musterkollektion von Tuchwaren ausgebreitet war - Samsa war Reisender - hing das Bild, das er vor kurzem aus einer illustrierten Zeitschrift ausgeschnitten und in einem hübschen, vergoldeten Rahmen untergebracht hatte. Es stellte eine Dame dar, die mit einem Pelzhut und einer Pelzboa versehen, aufrecht dasaß und einen schweren Pelzmuff, in dem ihr ganzer Unterarm verschwunden war, dem Beschauer entgegenhob.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gregors Blick richtete sich dann zum Fenster, und das trübe Wetter - man hörte Regentropfen auf das Fensterblech aufschlagen - machte ihn ganz melancholisch. »Wie wäre es, wenn ich noch ein wenig weiterschliefe und alle Narrheiten vergäße«, dachte er, aber das war gänzlich undurchführbar, denn er war gewöhnt, auf der rechten Seite zu schlafen, konnte sich aber in seinem gegenwärtigen Zustand nicht in diese Lage bringen. Mit welcher Kraft er sich auch auf die rechte Seite warf, immer wieder schaukelte er in die Rückenlage zurück. Er versuchte es wohl hundertmal, schloß die Augen, um die zappelnden Beine nicht sehen zu müssen, und ließ erst ab, als er in der Seite einen noch nie gefühlten, leichten, dumpfen Schmerz zu fühlen begann. »Ach Gott«, dachte er, »was für einen anstrengenden Beruf habe ich gewählt! Tag aus, Tag ein auf der Reise. Die geschäftlichen Aufregungen sind viel größer, als im eigentlichen Geschäft zu Hause, und außerdem ist mir noch diese Plage des Reisens auferlegt, die Sorgen um die Zuganschlüsse, das unregelmäßige, schlechte Essen, ein immer wechselnder, nie andauernder, nie herzlich werdender menschlicher Verkehr. Der Teufel soll das alles holen!« Er fühlte ein leichtes Jucken oben auf dem Bauch; schob sich auf dem Rücken langsam näher zum Bettpfosten, um den Kopf besser heben zu können; fand die juckende Stelle, die mit lauter kleinen weißen Pünktchen besetzt war, die er nicht zu beurteilen verstand; und wollte mit einem Bein die Stelle betasten, zog es aber gleich zurück, denn bei der Berührung umwehten ihn Kälteschauer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Er glitt wieder in seine frühere Lage zurück. »Dies frühzeitige Aufstehen«, dachte er, »macht einen ganz blödsinnig. Der Mensch muß seinen Schlaf haben. Andere Reisende leben wie Haremsfrauen. Wenn ich zum Beispiel im Laufe des Vormittags ins Gasthaus zurückgehe, um die erlangten Aufträge zu überschreiben, sitzen diese Herren erst beim Frühstück. Das sollte ich bei meinem Chef versuchen; ich würde auf der Stelle hinausfliegen. Wer weiß übrigens, ob das nicht sehr gut für mich wäre. Wenn ich mich nicht wegen meiner Eltern zurückhielte, ich hätte längst gekündigt, ich wäre vor den Chef hin getreten und hätte ihm meine Meinung von Grund des Herzens aus gesagt. Vom Pult hätte er fallen müssen! Es ist auch eine sonderbare Art, sich auf das Pult zu setzen und von der Höhe herab mit dem Angestellten zu reden, der überdies wegen der Schwerhörigkeit des Chefs ganz nahe herantreten muß. Nun, die Hoffnung ist noch nicht gänzlich aufgegeben; habe ich einmal das Geld beisammen, um die Schuld der Eltern an ihn abzuzahlen - es dürfte noch fünf bis sechs Jahre dauern - , mache ich die Sache unbedingt. Dann wird der große Schnitt gemacht. Vorläufig allerdings muß ich aufstehen, denn mein Zug fährt um fünf.«&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Und er sah zur Weckuhr hinüber, die auf dem Kasten tickte. »Himmlischer Vater!«, dachte er. Es war halb sieben Uhr, und die Zeiger gingen ruhig vorwärts, es war sogar halb vorüber, es näherte sich schon dreiviertel. Sollte der Wecker nicht geläutet haben? Man sah vom Bett aus, daß er auf vier Uhr richtig eingestellt war; gewiß hatte er auch geläutet. Ja, aber war es möglich, dieses möbelerschütternde Läuten ruhig zu verschlafen? Nun, ruhig hatte er ja nicht geschlafen, aber wahrscheinlich desto fester. Was aber sollte er jetzt tun? Der nächste Zug ging um sieben Uhr; um den einzuholen, hätte er sich unsinnig beeilen müssen, und die Kollektion war noch nicht eingepackt, und er selbst fühlte sich durchaus nicht besonders frisch und beweglich. Und selbst wenn er den Zug einholte, ein Donnerwetter des Chefs war nicht zu vermeiden, denn der Geschäftsdiener hatte beim Fünfuhrzug gewartet und die Meldung von seiner Versäumnis längst erstattet. Es war eine Kreatur des Chefs, ohne Rückgrat und Verstand. Wie nun, wenn er sich krank meldete? Das wäre aber äußerst peinlich und verdächtig, denn Gregor war während seines fünfjährigen Dienstes noch nicht einmal krank gewesen. Gewiß würde der Chef mit dem Krankenkassenarzt kommen, würde den Eltern wegen des faulen Sohnes Vorwürfe machen und alle Einwände durch den Hinweis auf den Krankenkassenarzt abschneiden, für den es ja überhaupt nur ganz gesunde, aber arbeitsscheue Menschen gibt. Und hätte er übrigens in diesem Falle so ganz unrecht? Gregor fühlte sich tatsächlich, abgesehen von einer nach dem langen Schlaf wirklich überflüssigen Schläfrigkeit, ganz wohl und hatte sogar einen besonders kräftigen Hunger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Als er dies alles in größter Eile überlegte, ohne sich entschließen zu können, das Bett zu verlassen - gerade schlug der Wecker dreiviertel sieben - klopfte es vorsichtig an die Tür am Kopfende seines Bettes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;»Gregor«, rief es - es war die Mutter - , »es ist dreiviertel sieben. Wolltest du nicht wegfahren?« Die sanfte Stimme! Gregor erschrak, als er seine antwortende Stimme hörte, die wohl unverkennbar seine frühere war, in die sich aber, wie von unten her, ein nicht zu unterdrückendes, schmerzliches Piepsen mischte, das die Worte förmlich nur im ersten Augenblick in ihrer Deutlichkeit beließ, um sie im Nachklang derart zu zerstören, daß man nicht wußte, ob man recht gehört hatte. Gregor hatte ausführlich antworten und alles erklären wollen, beschränkte sich aber bei diesen Umständen darauf, zu sagen: »Ja, ja, danke Mutter, ich stehe schon auf.« Infolge der Holztür war die Veränderung in Gregors Stimme draußen wohl nicht zu merken, denn die Mutter beruhigte sich mit dieser Erklärung und schlürfte davon. Aber durch das kleine Gespräch waren die anderen Familienmitglieder darauf aufmerksam geworden, daß Gregor wider Erwarten noch zu Hause war, und schon klopfte an der einen Seitentür der Vater, schwach, aber mit der Faust. »Gregor, Gregor«, rief er, »was ist denn?« Und nach einer kleinen Weile mahnte er nochmals mit tieferer Stimme: »Gregor! Gregor!« An der anderen Seitentür aber klagte leise die Schwester: »Gregor? Ist dir nicht wohl? Brauchst du etwas?« Nach beiden Seiten hin antwortete Gregor: »Bin schon fertig«, und bemühte sich, durch die sorgfältigste Aussprache und durch Einschaltung von langen Pausen zwischen den einzelnen Worten seiner Stimme alles Auffallende zu nehmen. Der Vater kehrte auch zu seinem Frühstück zurück, die Schwester aber flüsterte: »Gregor, mach auf, ich beschwöre dich.« Gregor aber dachte gar nicht daran aufzumachen, sondern lobte die vom Reisen her übernommene Vorsicht, auch zu Hause alle Türen während der Nacht zu versperren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zunächst wollte er ruhig und ungestört aufstehen, sich anziehen und vor allem frühstücken, und dann erst das Weitere überlegen, denn, das merkte er wohl, im Bett würde er mit dem Nachdenken zu keinem vernünftigen Ende kommen. Er erinnerte sich, schon öfters im Bett irgendeinen vielleicht durch ungeschicktes Liegen erzeugten, leichten Schmerz empfunden zu haben, der sich dann beim Aufstehen als reine Einbildung herausstellte, und er war gespannt, wie sich seine heutigen Vorstellungen allmählich auflösen würden. Daß die Veränderung der Stimme nichts anderes war, als der Vorbote einer tüchtigen Verkühlung, einer Berufskrankheit der Reisenden, daran zweifelte er nicht im geringsten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Die Decke abzuwerfen war ganz einfach; er brauchte sich nur ein wenig aufzublasen und sie fiel von selbst. Aber weiterhin wurde es schwierig, besonders weil er so ungemein breit war. Er hätte Arme und Hände gebraucht, um sich aufzurichten; statt dessen aber hatte er nur die vielen Beinchen, die ununterbrochen in der verschiedensten Bewegung waren und die er überdies nicht beherrschen konnte. Wollte er eines einmal einknicken, so war es das erste, daß es sich streckte; und gelang es ihm endlich, mit diesem Bein das auszuführen, was er wollte, so arbeiteten inzwischen alle anderen, wie freigelassen, in höchster, schmerzlicher Aufregung. »Nur sich nicht im Bett unnütz aufhalten«, sagte sich Gregor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zuerst wollte er mit dem unteren Teil seines Körpers aus dem Bett hinauskommen, aber dieser untere Teil, den er übrigens noch nicht gesehen hatte und von dem er sich auch keine rechte Vorstellung machen konnte, erwies sich als zu schwer beweglich; es ging so langsam; und als er schließlich, fast wild geworden, mit gesammelter Kraft, ohne Rücksicht sich vorwärtsstieß, hatte er die Richtung falsch gewählt, schlug an den unteren Bettpfosten heftig an, und der brennende Schmerz, den er empfand, belehrte ihn, daß gerade der untere Teil seines Körpers augenblicklich vielleicht der empfindlichste war.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Er versuchte es daher, zuerst den Oberkörper aus dem Bett zu bekommen, und drehte vorsichtig den Kopf dem Bettrand zu. Dies gelang auch leicht, und trotz ihrer Breite und Schwere folgte schließlich die Körpermasse langsam der Wendung des Kopfes. Aber als er den Kopf endlich außerhalb des Bettes in der freien Luft hielt, bekam er Angst, weiter auf diese Weise vorzurücken, denn wenn er sich schließlich so fallen ließ, mußte geradezu ein Wunder geschehen, wenn der Kopf nicht verletzt werden sollte. Und die Besinnung durfte er gerade jetzt um keinen Preis verlieren; lieber wollte er im Bett bleiben.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aber als er wieder nach gleicher Mühe aufseufzend so dalag wie früher, und wieder seine Beinchen womöglich noch ärger gegeneinander kämpfen sah und keine Möglichkeit fand, in diese Willkür Ruhe und Ordnung zu bringen, sagte er sich wieder, daß er unmöglich im Bett bleiben könne und daß es das Vernünftigste sei, alles zu opfern, wenn auch nur die kleinste Hoffnung bestünde, sich dadurch vom Bett zu befreien. Gleichzeitig aber vergaß er nicht, sich zwischendurch daran zu erinnern, daß viel besser als verzweifelte Entschlüsse ruhige und ruhigste Überlegung sei. In solchen Augenblicken richtete er die Augen möglichst scharf auf das Fenster, aber leider war aus dem Anblick des Morgennebels, der sogar die andere Seite der engen Straße verhüllte, wenig Zuversicht und Munterkeit zu holen. »Schon sieben Uhr«, sagte er sich beim neuerlichen Schlagen des Weckers, »schon sieben Uhr und noch immer ein solcher Nebel.« Und ein Weilchen lang lag er ruhig mit schwachem Atem, als erwarte er vielleicht von der völligen Stille die Wiederkehr der wirklichen und selbstverständlichen Verhältnisse.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dann aber sagte er sich: »Ehe es einviertel acht schlägt, muß ich unbedingt das Bett vollständig verlassen haben. Im übrigen wird auch bis dahin jemand aus dem Geschäft kommen, um nach mir zu fragen, denn das Geschäft wird vor sieben Uhr geöffnet.« Und er machte sich nun daran, den Körper in seiner ganzen Länge vollständig gleichmäßig aus dem Bett hinauszuschaukeln. Wenn er sich auf diese Weise aus dem Bett fallen ließ, blieb der Kopf, den er beim Fall scharf heben wollte, voraussichtlich unverletzt. Der Rücken schien hart zu sein; dem würde wohl bei dem Fall auf den Teppich nichts geschehen. Das größte Bedenken machte ihm die Rücksicht auf den lauten Krach, den es geben müßte und der wahrscheinlich hinter allen Türen wenn nicht Schrecken, so doch Besorgnisse erregen würde. Das mußte aber gewagt werden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Als Gregor schon zur Hälfte aus dem Bette ragte - die neue Methode war mehr ein Spiel als eine Anstrengung, er brauchte immer nur ruckweise zu schaukeln - , fiel ihm ein, wie einfach alles wäre, wenn man ihm zu Hilfe käme. Zwei starke Leute - er dachte an seinen Vater und das Dienstmädchen - hätten vollständig genügt; sie hätten ihre Arme nur unter seinen gewölbten Rücken schieben, ihn so aus dem Bett schälen, sich mit der Last niederbeugen und dann bloß vorsichtig dulden müssen, daß er den Überschwung auf dem Fußboden vollzog, wo dann die Beinchen hoffentlich einen Sinn bekommen würden. Nun, ganz abgesehen davon, daß die Türen versperrt waren, hätte er wirklich um Hilfe rufen sollen? Trotz aller Not konnte er bei diesem Gedanken ein Lächeln nicht unterdrücken.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Schon war er so weit, daß er bei stärkerem Schaukeln kaum das Gleichgewicht noch erhielt, und sehr bald mußte er sich nun endgültig entscheiden, denn es war in fünf Minuten einviertel acht, - als es an der Wohnungstür läutete. »Das ist jemand aus dem Geschäft«, sagte er sich und erstarrte fast, während seine Beinchen nur desto eiliger tanzten. Einen Augenblick blieb alles still. »Sie öffnen nicht«, sagte sich Gregor, befangen in irgendeiner unsinnigen Hoffnung. Aber dann ging natürlich wie immer das Dienstmädchen festen Schrittes zur Tür und öffnete. Gregor brauchte nur das erste Grußwort des Besuchers zu hören und wußte schon, wer es war - der Prokurist selbst. Warum war nur Gregor dazu verurteilt, bei einer Firma zu dienen, wo man bei der kleinsten Versäumnis gleich den größten Verdacht faßte? Waren denn alle Angestellten samt und sonders Lumpen, gab es denn unter ihnen keinen treuen ergebenen Menschen, der, wenn er auch nur ein paar Morgenstunden für das Geschäft nicht ausgenutzt hatte, vor Gewissensbissen närrisch wurde und geradezu nicht imstande war, das Bett zu verlassen? Genügte es wirklich nicht, einen Lehrjungen nachfragen zu lassen - wenn überhaupt diese Fragerei nötig war - , mußte da der Prokurist selbst kommen, und mußte dadurch der ganzen unschuldigen Familie gezeigt werden, daß die Untersuchung dieser verdächtigen Angelegenheit nur dem Verstand des Prokuristen anvertraut werden konnte? Und mehr infolge der Erregung, in welche Gregor durch diese Überlegungen versetzt wurde, als infolge eines richtigen Entschlusses, schwang er sich mit aller Macht aus dem Bett. Es gab einen lauten Schlag, aber ein eigentlicher Krach war es nicht. Ein wenig wurde der Fall durch den Teppich abgeschwächt, auch war der Rücken elastischer, als Gregor gedacht hatte, daher kam der nicht gar so auffallende dumpfe Klang. Nur den Kopf hatte er nicht vorsichtig genug gehalten und ihn angeschlagen; er drehte ihn und rieb ihn an dem Teppich vor Ärger und Schmerz. »Da drin ist etwas gefallen«, sagte der Prokurist im Nebenzimmer links. Gregor suchte sich vorzustellen, ob nicht auch einmal dem Prokuristen etwas Ähnliches passieren könnte, wie heute ihm; die Möglichkeit dessen mußte man doch eigentlich zugeben. Aber wie zur rohen Antwort auf diese Frage machte jetzt der Prokurist im Nebenzimmer ein paar bestimmte Schritte und ließ seine Lackstiefel knarren. Aus dem Nebenzimmer rechts flüsterte die Schwester, um Gregor zu verständigen: »Gregor, der Prokurist ist da.« »Ich weiß«, sagte Gregor vor sich hin; aber so laut, daß es die Schwester hätte hören können, wagte er die Stimme nicht zu erheben.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;»Gregor«, sagte nun der Vater aus dem Nebenzimmer links, »der Herr Prokurist ist gekommen und erkundigt sich, warum du nicht mit dem Frühzug weggefahren bist. Wir wissen nicht, was wir ihm sagen sollen. Übrigens will er auch mit dir persönlich sprechen. Also bitte mach die Tür auf. Er wird die Unordnung im Zimmer zu entschuldigen schon die Güte haben.«&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;»Guten Morgen, Herr Samsa«, rief der Prokurist freundlich dazwischen. »Ihm ist nicht wohl«, sagte die Mutter zum Prokuristen, während der Vater noch an der Tür redete, »ihm ist nicht wohl, glauben Sie mir, Herr Prokurist. Wie würde denn Gregor sonst einen Zug versäumen! Der Junge hat ja nichts im Kopf als das Geschäft. Ich ärgere mich schon fast, daß er abends niemals ausgeht; jetzt war er doch acht Tage in der Stadt, aber jeden Abend war er zu Hause. Da sitzt er bei uns am Tisch und liest still die Zeitung oder studiert Fahrpläne. Es ist schon eine Zerstreuung für ihn, wenn er sich mit Laubsägearbeiten beschäftigt. Da hat er zum Beispiel im Laufe von zwei, drei Abenden einen kleinen Rahmen geschnitzt; Sie werden staunen, wie hübsch er ist; er hängt drin im Zimmer; Sie werden ihn gleich sehen, bis Gregor aufmacht. Ich bin übrigens glücklich, daß Sie da sind, Herr Prokurist; wir allein hätten Gregor nicht dazu gebracht, die Tür zu öffnen; er ist so hartnäckig; und bestimmt ist ihm nicht wohl, trotzdem er es am Morgen geleugnet hat.«&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;»Ich komme gleich«, sagte Gregor langsam und bedächtig und rührte sich nicht, um kein Wort der Gespräche zu verlieren. »Anders, gnädige Frau, kann ich es mir auch nicht erklären«, sagte der Prokurist, »hoffentlich ist es nichts Ernstes. Wenn ich auch andererseits sagen muß, daß wir Geschäftsleute - wie man will, leider oder glücklicherweise - ein leichtes Unwohlsein sehr oft aus geschäftlichen Rücksichten einfach überwinden müssen.« »Also kann der Herr Prokurist schon zu dir hinein?« fragte der ungeduldige Vater und klopfte wiederum an die Tür. »Nein«, sagte Gregor. Im Nebenzimmer links trat eine peinliche Stille ein, im Nebenzimmer rechts begann die Schwester zu schluchzen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warum ging denn die Schwester nicht zu den anderen? Sie war wohl erst jetzt aus dem Bett aufgestanden und hatte noch gar nicht angefangen sich anzuziehen. Und warum weinte sie denn? Weil er nicht aufstand und den Prokuristen nicht hereinließ, weil er in Gefahr war, den Posten zu verlieren und weil dann der Chef die Eltern mit den alten Forderungen wieder verfolgen würde? Das waren doch vorläufig wohl unnötige Sorgen. Noch war Gregor hier und dachte nicht im geringsten daran, seine Familie zu verlassen. Augenblicklich lag er wohl da auf dem Teppich, und niemand, der seinen Zustand gekannt hätte, hätte im Ernst von ihm verlangt, daß er den Prokuristen hereinlasse. Aber wegen dieser kleinen Unhöflichkeit, für die sich ja später leicht eine passende Ausrede finden würde, konnte Gregor doch nicht gut sofort weggeschickt werden. Und Gregor schien es, daß es viel vernünftiger wäre, ihn jetzt in Ruhe zu lassen, statt ihn mit Weinen und Zureden zu stören. Aber es war eben die Ungewißheit, welche die anderen bedrängte und ihr Benehmen entschuldigte. »Herr Samsa«, rief nun der Prokurist mit erhobener Stimme, »was ist denn los? Sie verbarrikadieren sich da in Ihrem Zimmer, antworten bloß mit ja und nein, machen Ihren Eltern schwere, unnötige Sorgen und versäumen - dies nur nebenbei erwähnt - Ihre geschäftliche Pflichten in einer eigentlich unerhörten Weise. Ich spreche hier im Namen Ihrer Eltern und Ihres Chefs und bitte Sie ganz ernsthaft um eine augenblickliche, deutliche Erklärung. Ich staune, ich staune. Ich glaubte Sie als einen ruhigen, vernünftigen Menschen zu kennen, und nun scheinen Sie plötzlich anfangen zu wollen, mit sonderbaren Launen zu paradieren. De Chef deutete mir zwar heute früh eine möglich Erklärung für Ihre Versäumnisse an - sie betraf das Ihnen seit kurzem anvertraute Inkasso - , aber ich legte wahrhaftig fast mein Ehrenwort dafür ein, daß diese Erklärung nicht zutreffen könne. Nun aber sehe ich hier Ihren unbegreiflichen Starrsinn und verliere ganz und gar jede Lust, mich auch nur im geringsten für Sie einzusetzen. Und Ihre Stellung ist durchaus nicht die festeste. Ich hatte ursprünglich die Absicht, Ihnen das alles unter vier Augen zu sagen, aber da Sie mich hier nutzlos meine Zeit versäumen lassen, weiß ich nicht, warum es nicht auch Ihr Herren Eltern erfahren sollen. Ihre Leistungen in der letzten Zeit waren also sehr unbefriedigend; es ist zwar nicht die Jahreszeit, um besondere Geschäfte zu machen, das erkennen wir an; aber eine Jahreszeit, um keine Geschäfte zu machen, gibt es überhaupt nicht, Herr Samsa, darf es nicht geben.«&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;»Aber Herr Prokurist«, rief Gregor außer sich und vergaß in der Aufregung alles andere, »ich mache ja sofort, augenblicklich auf. Ein leichtes Unwohlsein, ein Schwindelanfall, haben mich verhindert aufzustehen. Ich liege noch jetzt im Bett. Jetzt bin ich aber schon wieder ganz frisch. Eben steige ich aus dem Bett. Nur einen kleinen Augenblick Geduld! Es geht noch nicht so gut; wie ich dachte. Es ist mir aber schon wohl. Wie das nur einen Menschen so überfallen kann! Noch gestern abend war mir ganz gut, meine Eltern wissen es ja, oder besser, schon gestern abend hatte ich eine kleine Vorahnung. Man hätte es mir ansehen müssen. Warum habe ich es nur im Geschäfte nicht gemeldet! Aber man denkt eben immer, daß man die Krankheit ohne Zuhausebleiben überstehen wird. Herr Prokurist! Schonen Sie meine Eltern! Für alle die Vorwürfe, die Sie mir jetzt machen, ist ja kein Grund; man hat mir ja davon auch kein Wort gesagt. Sie haben vielleicht die letzten Aufträge, die ich geschickt habe, nicht gelesen. Übrigens, noch mit dem Achtuhrzug fahre ich auf die Reise, die paar Stunden Ruhe haben mich gekräftigt. Halten Sie sich nur nicht auf, Herr Prokurist; ich bin gleich selbst im Geschäft, und haben Sie die Güte, das zu sagen und mich dem Herrn Chef zu empfehlen!«&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Und während Gregor dies alles hastig ausstieß und kaum wußte, was er sprach, hatte er sich leicht, wohl infolge der im Bett bereits erlangten Übung, dem Kasten genähert und versuchte nun, an ihm sich aufzurichten. Er wollte tatsächlich die Tür aufmachen, tatsächlich sich sehen lassen und mit dem Prokuristen sprechen; er war begierig zu erfahren, was die anderen, die jetzt so nach ihm verlangten, bei seinem Anblick sagen würden. Würden sie erschrecken, dann hatte Gregor keine Verantwortung mehr und konnte ruhig sein. Würden sie aber alles ruhig hinnehmen, dann hatte auch er keinen Grund sich aufzuregen, und konnte, wenn er sich beeilte, um acht Uhr tatsächlich auf dem Bahnhof sein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zuerst glitt er nun einige Male von dem glatten Kasten ab, aber endlich gab er sich einen letzten Schwung und stand aufrecht da; auf die Schmerzen im Unterleib achtete er gar nicht mehr, so sehr sie auch brannten. Nun ließ er sich gegen die Rückenlehne eines nahen Stuhles fallen, an deren Rändern er sich mit seinen Beinchen festhielt. Damit hatte er aber auch die Herrschaft über sich erlangt und verstummte, denn nun konnte er den Prokuristen anhören.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;»Haben Sie auch nur ein Wort verstanden?«, fragte der Prokurist die Eltern, »er macht sich doch wohl nicht einen Narren aus uns?« »Um Gottes willen«, rief die Mutter schon unter Weinen, »er ist vielleicht schwer krank, und wir quälen ihn. Grete! Grete!« schrie sie dann. »Mutter?« rief die Schwester von der anderen Seite. Sie verständigten sich durch Gregors Zimmer. »Du mußt augenblicklich zum Arzt. Gregor ist krank. Rasch um den Arzt. Hast du Gregor jetzt reden hören?« »Das war eine Tierstimme«, sagte der Prokurist, auffallend leise gegenüber dem Schreien der Mutter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;»Anna! Anna!« rief der Vater durch das Vorzimmer in die Küche und klatschte in die Hände, »sofort einen Schlosser holen!« Und schon liefen die zwei Mädchen mit rauschenden Röcken durch das Vorzimmer - wie hatte sich die Schwester denn so schnell angezogen? - und rissen die Wohnungstüre auf. Man hörte gar nicht die Türe zuschlagen; sie hatten sie wohl offen gelassen, wie es in Wohnungen zu sein pflegt, in denen ein großes Unglück geschehen ist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gregor war aber viel ruhiger geworden. Man verstand zwar also seine Worte nicht mehr, trotzdem sie ihm genug klar, klarer als früher, vorgekommen waren, vielleicht infolge der Gewöhnung des Ohres. Aber immerhin glaubte man nun schon daran, daß es mit ihm nicht ganz in Ordnung war, und war bereit, ihm zu helfen. Die Zuversicht und Sicherheit, mit welchen die ersten Anordnungen getroffen worden waren, taten ihm wohl. Er fühlte sich wieder einbezogen in den menschlichen Kreis und erhoffte von beiden, vom Arzt und vom Schlosser, ohne sie eigentlich genau zu scheiden, großartige und überraschende Leistungen. Um für die sich nähernden entscheidenden Besprechungen eine möglichst klare Stimme zu bekommen, hustete er ein wenig ab, allerdings bemüht, dies ganz gedämpft zu tun, da möglicherweise auch schon dieses Geräusch anders als menschlicher Husten klang, was er selbst zu entscheiden sich nicht mehr getraute. Im Nebenzimmer war es inzwischen ganz still geworden. Vielleicht saßen die Eltern mit dem Prokuristen beim Tisch und tuschelten, vielleicht lehnten alle an der Türe und horchten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gregor schob sich langsam mit dem Sessel zur Tür hin, ließ ihn dort los, warf sich gegen die Tür, hielt sich an ihr aufrecht - die Ballen seiner Beinchen hatten ein wenig Klebstoff - und ruhte sich dort einen Augenblick lang von der Anstrengung aus. Dann aber machte er sich daran, mit dem Mund den Schlüssel im Schloß umzudrehen. Es schien leider, daß er keine eigentlichen Zähne hatte, - womit sollte er gleich den Schlüssel fassen? - aber dafür waren die Kiefer freilich sehr stark; mit ihrer Hilfe brachte er auch wirklich den Schlüssel in Bewegung und achtete nicht darauf, daß er sich zweifellos irgendeinen Schaden zufügte, denn eine braune Flüssigkeit kam ihm aus dem Mund, floß über den Schlüssel und tropfte auf den Boden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;»Hören Sie nur«, sagte der Prokurist im Nebenzimmer, »er dreht den Schlüssel um.« Das war für Gregor eine große Aufmunterung; aber alle hätten ihm zurufen sollen, auch der Vater und die Mutter: »Frisch, Gregor«, hätten sie rufen sollen, »immer nur heran, fest an das Schloß heran!« Und in der Vorstellung, daß alle seine Bemühungen mit Spannung verfolgten, verbiß er sich mit allem, was er an Kraft aufbringen konnte, besinnungslos in den Schlüssel. Je nach dem Fortschreiten der Drehung des Schlüssels umtanzte er das Schloß; hielt sich jetzt nur noch mit dem Munde aufrecht, und je nach Bedarf hing er sich an den Schlüssel oder drückte ihn dann wieder nieder mit der ganzen Last seines Körpers. Der hellere Klang des endlich zurückschnappenden Schlosses erweckte Gregor förmlich. Aufatmend sagte er sich: »Ich habe also den Schlosser nicht gebraucht«, und legte den Kopf auf die Klinke, um die Türe gänzlich zu öffnen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Da er die Türe auf diese Weise öffnen mußte, war sie eigentlich schon recht weit geöffnet, und er selbst noch nicht zu sehen. Er mußte sich erst langsam um den einen Türflügel herumdrehen, und zwar sehr vorsichtig, wenn er nicht gerade vor dem Eintritt ins Zimmer plump auf den Rücken fallen wollte. Er war noch mit jener schwierigen Bewegung beschäftigt und hatte nicht Zeit, auf anderes zu achten, da hörte er schon den Prokuristen ein lautes »Oh!« ausstoßen - es klang, wie wenn der Wind saust und nun sah er ihn auch, wie er, der der Nächste an der Türe war, die Hand gegen den offenen Mund drückte und langsam zurückwich, als vertreibe ihn eine unsichtbare, gleichmäßig fortwirkende Kraft. Die Mutter - sie stand hier trotz der Anwesenheit des Prokuristen mit von der Nacht her noch aufgelösten, hoch sich sträubenden Haaren - sah zuerst mit gefalteten Händen den Vater an, ging dann zwei Schritte zu Gregor hin und fiel inmitten ihrer rings um sie herum sich ausbreitenden Röcke nieder, das Gesicht ganz unauffindbar zu ihrer Brust gesenkt. Der Vater ballte mit feindseligem Ausdruck die Faust, als wolle er Gregor in sein Zimmer zurückstoßen, sah sich dann unsicher im Wohnzimmer um, beschattete dann mit den Händen die Augen und weinte, daß sich seine mächtige Brust schüttelte.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gregor trat nun gar nicht in das Zimmer, sondern lehnte sich von innen an den festgeriegelten Türflügel, so daß sein Leib nur zur Hälfte und darüber der seitlich geneigte Kopf zu sehen war, mit dem er zu den anderen hinüberlugte. Es war inzwischen viel heller geworden; klar stand auf der anderen Straßenseite ein Ausschnitt des gegenüberliegenden, endlosen, grauschwarzen Hauses - es war ein Krankenhaus - mit seinen hart die Front durchbrechenden regelmäßigen Fenstern; der Regen fiel noch nieder, aber nur mit großen, einzeln sichtbaren und förmlich auch einzelnweise auf die Erde hinuntergeworfenen Tropfen. Das Frühstücksgeschirr stand in überreicher Zahl auf dem Tisch, denn für den Vater war das Frühstück die wichtigste Mahlzeit des Tages, die er bei der Lektüre verschiedener Zeitungen stundenlang hinzog. Gerade an der gegenüberliegenden Wand hing eine Photographie Gregors aus seiner Militärzeit, die ihn als Leutnant darstellte, wie er, die Hand am Degen, sorglos lächelnd, Respekt für seine Haltung und Uniform verlangte. Die Tür zum Vorzimmer war geöffnet, und man sah, da auch die Wohnungstür offen war, auf den Vorplatz der Wohnung hinaus und auf den Beginn der abwärts führenden Treppe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;»Nun«, sagte Gregor und war sich dessen wohl bewußt, daß er der einzige war, der die Ruhe bewahrt hatte, »ich werde mich gleich anziehen, die Kollektion zusammenpacken und wegfahren. Wollt Ihr, wollt Ihr mich wegfahren lassen? Nun, Herr Prokurist, Sie sehen, ich bin nicht starrköpfig und ich arbeite gern; das Reisen ist beschwerlich, aber ich könnte ohne das Reisen nicht leben. Wohin gehen Sie denn, Herr Prokurist? Ins Geschäft? Ja? Werden Sie alles wahrheitsgetreu berichten? Man kann im Augenblick unfähig sein zu arbeiten, aber dann ist gerade der richtige Zeitpunkt, sich an die früheren Leistungen zu erinnern und zu bedenken, daß man später, nach Beseitigung des Hindernisses, gewiß desto fleißiger und gesammelter arbeiten wird. Ich bin ja dem Herrn Chef so sehr verpflichtet, das wissen Sie doch recht gut. Andererseits habe ich die Sorge um meine Eltern und die Schwester. Ich bin in der Klemme, ich werde mich aber auch wieder herausarbeiten. Machen Sie es mir aber nicht schwieriger, als es schon ist. Halten Sie im Geschäft meine Partei! Man liebt den Reisenden nicht, ich weiß. Man denkt, er verdient ein Heidengeld und führt dabei ein schönes Leben. Man hat eben keine besondere Veranlassung, dieses Vorurteil besser zu durchdenken. Sie aber, Herr Prokurist, Sie haben einen besseren Überblick über die Verhältnisse als das sonstige Personal, ja sogar, ganz im Vertrauen gesagt, einen besseren Überblick als der Herr Chef selbst, der in seiner Eigenschaft als Unternehmer sich in seinem Urteil leicht zu Ungunsten eines Angestellten beirren läßt. Sie wissen auch sehr wohl, daß der Reisende, der fast das ganze Jahr außerhalb des Geschäfts ist, so leicht ein Opfer von Klatschereien, Zufälligkeiten und grundlosen Beschwerden werden kann, gegen die sich zu wehren ihm ganz unmöglich ist, da er von ihnen meistens gar nichts erfährt und nur dann, wenn er erschöpft eine Reise beendet hat, zu Hause die schlimmen, auf ihre Ursachen hin nicht mehr zu durchschauenden Folgen am eigenen Leibe zu spüren bekommt. Herr Prokurist, gehen Sie nicht weg, ohne mir ein Wort gesagt zu haben, das mir zeigt, daß Sie mir wenigstens zu einem kleinen Teil recht geben!«&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aber der Prokurist hatte sich schon bei den ersten Worten Gregors abgewendet, und nur über die zuckende Schulter hinweg sah er mit aufgeworfenen Lippen nach Gregor zurück. Und während Gregors Rede stand er keinen Augenblick still, sondern verzog sich, ohne Gregor aus den Augen zu lassen, gegen die Tür, aber ganz allmählich, als bestehe ein geheimes Verbot, das Zimmer zu verlassen. Schon war er im Vorzimmer, und nach der plötzlichen Bewegung, mit der er zum letztenmal den Fuß aus dem Wohnzimmer zog, hätte man glauben können, er habe sich soeben die Sohle verbrannt. Im Vorzimmer aber streckte er die rechte Hand weit von sich zur Treppe hin, als warte dort auf ihn eine geradezu überirdische Erlösung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gregor sah ein, daß er den Prokuristen in dieser Stimmung auf keinen Fall weggehen lassen dürfe, wenn dadurch seine Stellung im Geschäft nicht aufs äußerste gefährdet werden sollte. Die Eltern verstanden das alles nicht so gut; sie hatten sich in den langen Jahren die Überzeugung gebildet, daß Gregor in diesem Geschäft für sein Leben versorgt war, und hatten außerdem jetzt mit den augenblicklichen Sorgen so viel zu tun, daß ihnen jede Voraussicht abhanden gekommen war. Aber Gregor hatte diese Voraussicht. Der Prokurist mußte gehalten, beruhigt, überzeugt und schließlich gewonnen werden; die Zukunft Gregors und seiner Familie hing doch davon ab! Wäre doch die Schwester hier gewesen! Sie war klug; sie hatte schon geweint, als Gregor noch ruhig auf dem Rücken lag. Und gewiß hätte der Prokurist, dieser Damenfreund, sich von ihr lenken lassen; sie hätte die Wohnungstür zugemacht und ihm im Vorzimmer den Schrecken ausgeredet. Aber die Schwester war eben nicht da, Gregor selbst mußte handeln.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Und ohne daran zu denken, daß er seine gegenwärtigen Fähigkeiten, sich zu bewegen, noch gar nicht kannte, ohne auch daran zu denken, daß seine Rede möglicher- ja wahrscheinlicherweise wieder nicht verstanden worden war, verließ er den Türflügel; schob sich durch die Öffnung; wollte zum Prokuristen hingehen, der sich schon am Geländer des Vorplatzes lächerlicherweise mit beiden Händen festhielt; fiel aber sofort, nach einem Halt suchend, mit einem kleinen Schrei auf seine vielen Beinchen nieder. Kaum war das geschehen, fühlte er zum erstenmal an diesem Morgen ein körperliches Wohlbehagen; die Beinchen hatten festen Boden unter sich; sie gehorchten vollkommen, wie er zu seiner Freude merkte; strebten sogar darnach, ihn fortzutragen, wohin er wollte; und schon glaubte er, die endgültige Besserung alles Leidens stehe unmittelbar bevor. Aber im gleichen Augenblick, als er da schaukelnd vor verhaltener Bewegung, gar nicht weit von seiner Mutter entfernt, ihr gerade gegenüber auf dem Boden lag, sprang diese, die doch so ganz in sich versunken schien, mit einem Male in die Höhe, die Arme weit ausgestreckt, die Finger gespreizt, rief: »Hilfe, um Gottes willen Hilfe!«, hielt den Kopf geneigt, als wolle sie Gregor besser sehen, lief aber, im Widerspruch dazu, sinnlos zurück; hatte vergessen, daß hinter ihr der gedeckte Tisch stand; setzte sich, als sie bei ihm angekommen war, wie in Zerstreutheit, eilig auf ihn; und schien gar nicht zu merken, daß neben ihr aus der umgeworfenen großen Kanne der Kaffee in vollem Strome auf den Teppich sich ergoß.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;»Mutter, Mutter«, sagte Gregor leise, und sah zu ihr hinauf. Der Prokurist war ihm für einen Augenblick ganz aus dem Sinn gekommen; dagegen konnte er sich nicht versagen, im Anblick des fließenden Kaffees mehrmals mit den Kiefern ins Leere zu schnappen. Darüber schrie die Mutter neuerdings auf, flüchtete vom Tisch und fiel dem ihr entgegeneilenden Vater in die Arme. Aber Gregor hatte jetzt keine Zeit für seine Eltern; der Prokurist war schon auf der Treppe; das Kinn auf dem Geländer, sah er noch zum letzten Male zurück. Gregor nahm einen Anlauf, um ihn möglichst sicher einzuholen; der Prokurist mußte etwas ahnen, denn er machte einen Sprung über mehrere Stufen und verschwand; »Huh!« aber schrie er noch, es klang durchs ganze Treppenhaus. Leider schien nun auch diese Flucht des Prokuristen den Vater, der bisher verhältnismäßig gefaßt gewesen war, völlig zu verwirren, denn statt selbst dem Prokuristen nachzulaufen oder wenigstens Gregor in der Verfolgung nicht zu hindern, packte er mit der Rechten den Stock des Prokuristen, den dieser mit Hut und Überzieher auf einem Sessel zurückgelassen hatte, holte mit der Linken eine große Zeitung vom Tisch und machte sich unter Füßestampfen daran, Gregor durch Schwenken des Stockes und der Zeitung in sein Zimmer zurückzutreiben. Kein Bitten Gregors half, kein Bitten wurde auch verstanden, er mochte den Kopf noch so demütig drehen, der Vater stampfte nur stärker mit den Füßen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drüben hatte die Mutter trotz des kühlen Wetters ein Fenster aufgerissen, und hinausgelehnt drückte sie ihr Gesicht weit außerhalb des Fensters in ihre Hände. Zwischen Gasse und Treppenhaus entstand eine starke Zugluft, die Fenstervorhänge flogen auf, die Zeitungen auf dem Tische rauschten, einzelne Blätter wehten über den Boden hin. Unerbittlich drängte der Vater und stieß Zischlaute aus, wie ein Wilder. Nun hatte aber Gregor noch gar keine Übung im Rückwärtsgehen, es ging wirklich sehr langsam. Wenn sich Gregor nur hätte umdrehen dürfen, er wäre gleich in seinem Zimmer gewesen, aber er fürchtete sich, den Vater durch die zeitraubende Umdrehung ungeduldig zu machen, und jeden Augenblick drohte ihm doch von dem Stock in des Vaters Hand der tödliche Schlag auf den Rücken oder auf den Kopf. Endlich aber blieb Gregor doch nichts anderes übrig, denn er merkte mit Entsetzen, daß er im Rückwärtsgehen nicht einmal die Richtung einzuhalten verstand; und so begann er, unter unaufhörlichen ängstlichen Seitenblicken nach dem Vater, sich nach Möglichkeit rasch,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;in Wirklichkeit aber doch nur sehr langsam umzudrehen. Vielleicht merkte der Vater seinen guten Willen, denn er störte ihn hierbei nicht, sondern dirigierte sogar hie und da die Drehbewegung von der Ferne mit der Spitze seines Stockes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wenn nur nicht dieses unerträgliche Zischen des Vaters gewesen wäre! Gregor verlor darüber ganz den Kopf. Er war schon fast ganz umgedreht, als er sich, immer auf dieses Zischen horchend, sogar irrte und sich wieder ein Stück zurückdrehte. Als er aber endlich glücklich mit dem Kopf vor der Türöffnung war, zeigte es sich, daß sein Körper zu breit war, um ohne weiteres durchzukommen. Dem Vater fiel es natürlich in seiner gegenwärtigen Verfassung auch nicht entfernt ein, etwa den anderen Türflügel zu öffnen, um für Gregor einen genügenden Durchgang zu schaffen. Seine fixe Idee war bloß, daß Gregor so rasch als möglich in sein Zimmer müsse. Niemals hätte er auch die umständlichen Vorbereitungen gestattet, die Gregor brauchte, um sich aufzurichten und vielleicht auf diese Weise durch die Tür zu kommen. Vielmehr trieb er, als gäbe es kein Hindernis, Gregor jetzt unter besonderem Lärm vorwärts; es klang schon hinter Gregor gar nicht mehr wie die Stimme bloß eines einzigen Vaters; nun gab es wirklich keinen Spaß mehr, und Gregor drängte sich - geschehe was wolle - in die Tür. Die eine Seite seines Körpers hob sich, er lag schief in der Türöffnung, seine eine Flanke war ganz wundgerieben, an der weißen Tür blieben häßliche Flecken, bald steckte er fest und hätte sich allein nicht mehr rühren können, die Beinchen auf der einen Seite hingen zitternd oben in der Luft, die auf der anderen waren schmerzhaft zu Boden gedrückt - da gab ihm der Vater von hinten einen jetzt wahrhaftig erlösenden starken Stoß, und er flog, heftig blutend, weit in sein Zimmer hinein. Die Tür wurde noch mit dem Stock zugeschlagen, dann war es endlich still.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erst in der Abenddämmerung erwachte Gregor aus seinem schweren ohnmachtsähnlichen Schlaf. Er wäre gewiß nicht viel später auch ohne Störung erwacht, denn er fühlte sich genügend ausgeruht und ausgeschlafen, doch schien es ihm, als hätte ihn ein flüchtiger Schritt und ein vorsichtiges Schließen der zum Vorzimmer führenden Tür geweckt. Der Schein der elektrischen Straßenlampen lag bleich hier und da auf der Zimmerdecke und auf den höheren Teilen der Möbel, aber unten bei Gregor war es finster. Langsam schob er sich, noch ungeschickt mit seinen Fühlern tastend, die er erst jetzt schätzen lernte, zur Türe hin, um nachzusehen, was dort geschehen war. Seine linke Seite schien eine einzige lange, unangenehm spannende Narbe und er mußte auf seinen zwei Beinreihen regelrecht hinken. Ein Beinchen war übrigens im Laufe der vormittägigen Vorfälle schwer verletzt worden - es war fast ein Wunder, daß nur eines verletzt worden war - und schleppte leblos nach. Erst bei der Tür merkte er, was ihn dorthin eigentlich gelockt hatte; es war der Geruch von etwas Eßbarem gewesen. Denn dort stand ein Napf mit süßer Milch gefüllt, in der kleine Schnitten von Weißbrot schwammen. Fast hätte er vor Freude gelacht, denn er hatte noch größeren Hunger, als am Morgen, und gleich tauchte er seinen Kopf fast bis über die Augen in die Milch hinein. Aber bald zog er ihn enttäuscht wieder zurück; nicht nur, daß ihm das Essen wegen seiner heiklen linken Seite Schwierigkeiten machte - und er konnte nur essen, wenn der ganze Körper schnaufend mitarbeitete - , so schmeckte ihm überdies die Milch, die sonst sein Lieblingsgetränk war, und die ihm gewiß die Schwester deshalb hereingestellt hatte, gar nicht, ja er wandte sich fast mit Widerwillen von dem Napf ab und kroch in die Zimmermitte zurück.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Im Wohnzimmer war, wie Gregor durch die Türspalte sah, das Gas angezündet, aber während sonst zu dieser Tageszeit der Vater seine nachmittags erscheinende Zeitung der Mutter und manchmal auch der Schwester mit erhobener Stimme vorzulegen pflegte, hörte man jetzt keinen Laut. Nun vielleicht war dieses Vorlesen, von dem ihm die Schwester immer erzählte und schrieb, in der letzten Zeit überhaupt aus der Übung gekommen. Aber auch ringsherum war es so still, trotzdem doch gewiß die Wohnung nicht leer war. »Was für ein stilles Leben die Familie doch führte«, sagte sich Gregor und fühlte, während er starr vor sich ins Dunkle sah, einen großen Stolz darüber, daß er seinen Eltern und seiner Schwester ein solches Leben in einer so schönen Wohnung hatte verschaffen können. Wie aber, wenn jetzt alle Ruhe, aller Wohlstand, alle Zufriedenheit ein Ende mit Schrecken nehmen sollte? Um sich nicht in solche Gedanken zu verlieren, setzte sich Gregor lieber in Bewegung und kroch im Zimmer auf und ab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Einmal während des langen Abends wurde die eine Seitentüre und einmal die andere bis zu einer kleinen Spalte geöffnet und rasch wieder geschlossen; jemand hatte wohl das Bedürfnis hereinzukommen, aber auch wieder zuviele Bedenken. Gregor machte nun unmittelbar bei der Wohnzimmertür halt, entschlossen, den zögernden Besucher doch irgendwie hereinzubringen oder doch wenigstens zu erfahren, wer es sei; aber nun wurde die Tür nicht mehr geöffnet und Gregor wartete vergebens. Früh, als die Türen versperrt waren, hatten alle zu ihm hereinkommen wollen, jetzt, da er die eine Tür geöffnet hatte und die anderen offenbar während des Tages geöffnet worden waren, kam keiner mehr, und die Schlüssel steckten nun auch von außen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spät erst in der Nacht wurde das Licht im Wohnzimmer ausgelöscht, und nun war leicht festzustellen, daß die Eltern und die Schwester so lange wachgeblieben waren, denn wie man genau hören konnte, entfernten sich jetzt alle drei auf den Fußspitzen. Nun kam gewiß bis zum Morgen niemand mehr zu Gregor herein; er hatte also eine lange Zeit, um ungestört zu überlegen, wie er sein Leben jetzt neu ordnen sollte. Aber das hohe freie Zimmer, in dem er gezwungen war, flach auf dem Boden zu liegen, ängstigte ihn, ohne daß er die Ursache herausfinden konnte, denn es war ja sein seit fünf Jahren von ihm bewohntes Zimmer - und mit einer halb unbewußten Wendung und nicht ohne eine leichte Scham eilte er unter das Kanapee, wo er sich, trotzdem sein Rücken ein wenig gedrückt wurde und trotzdem er den Kopf nicht mehr erheben konnte, gleich sehr behaglich fühlte und nur bedauerte, daß sein Körper zu breit war, um vollständig unter dem Kanapee untergebracht zu werden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dort blieb er die ganze Nacht, die er zum Teil im Halbschlaf, aus dem ihn der Hunger immer wieder aufschreckte, verbrachte, zum Teil aber in Sorgen und undeutlichen Hoffnungen, die aber alle zu dem Schlusse führten, daß er sich vorläufig ruhig verhalten und durch Geduld und größte Rücksichtnahme der Familie die Unannehmlichkeiten erträglich machen müsse, die er ihr in seinem gegenwärtigen Zustand nun einmal zu verursachen gezwungen war.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Schon am frühen Morgen, es war fast noch Nacht, hatte Gregor Gelegenheit, die Kraft seiner eben gefaßten Entschlüsse zu prüfen, denn vom Vorzimmer her öffnete die Schwester, fast völlig angezogen, die Tür und sah mit Spannung herein. Sie fand ihn nicht gleich, aber als sie ihn unter dem Kanapee bemerkte - Gott, er mußte doch irgendwo sein, er hatte doch nicht wegfliegen können - erschrak sie so sehr, daß sie, ohne sich beherrschen zu können, die Tür von außen wieder zuschlug. Aber als bereue sie ihr Benehmen, öffnete sie die Tür sofort wieder und trat, als sei sie bei einem Schwerkranken oder gar bei einem Fremden, auf den Fußspitzen herein. Gregor hatte den Kopf bis knapp zum Rande des Kanapees vorgeschoben und beobachtete sie. Ob sie wohl bemerken würde, daß er die Milch stehen gelassen hatte, und zwar keineswegs aus Mangel an Hunger, und ob sie eine andere Speise hereinbringen würde, die ihm besser entsprach? Täte sie es nicht von selbst, er wollte lieber verhungern, als sie darauf aufmerksam machen, trotzdem es ihn eigentlich ungeheuer drängte, unterm Kanapee vorzuschießen, sich der Schwester zu Füßen zu werfen und sie um irgendetwas Gutes zum Essen zu bitten. Aber die Schwester bemerkte sofort mit Verwunderung den noch vollen Napf, aus dem nur ein wenig Milch ringsherum verschüttet war, sie hob ihn gleich auf, zwar nicht mit den bloßen Händen, sondern mit einem Fetzen, und trug ihn hinaus. Gregor war äußerst neugierig, was sie zum Ersatz bringen würde, und er machte sich die verschiedensten Gedanken darüber. Niemals aber hätte er erraten können, was die Schwester in ihrer Güte wirklich tat. Sie brachte ihm, um seinen Geschmack zu prüfen, eine ganze Auswahl, alles auf einer alten Zeitung ausgebreitet. Da war altes halbverfaultes Gemüse; Knochen vom Nachtmahl her, die von festgewordener weißer Sauce umgeben waren; ein paar Rosinen und Mandeln; ein Käse, den Gregor vor zwei Tagen für ungenießbar erklärt hatte; ein trockenes Brot, ein mit Butter beschmiertes und gesalzenes Brot. Außerdem stellte sie zu dem allen noch den wahrscheinlich ein für allemal für Gregor bestimmten Napf, in den sie Wasser gegossen hatte. Und aus Zartgefühl, da sie wußte, daß Gregor vor ihr nicht essen würde, entfernte sich eiligst und drehte sogar den Schlüssel um, damit nur Gregor merken könne, daß er es so behaglich machen dürfe, wie er wolle. Gregors Beinchen schwirrten, als es jetzt zum Essen ging. Seine Wunden mußten übrigens auch schon vollständig geheilt sein, er fühlte keine Behinderung mehr, er staunte darüber und dachte daran, wie er vor mehr als einem Monat sich mit dem Messer ganz wenig in den Finger geschnitten, und wie ihm diese Wunde noch vorgestern genug weh getan hatte.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;»Sollte ich jetzt weniger Feingefühl haben?«, dachte er und saugte schon gierig an dem Käse, zu dem es ihn vor allen anderen Speisen sofort und nachdrücklich gezogen hatte. Rasch hintereinander und mit vor Befriedigung tränenden Augen verzehrte er den Käse, das Gemüse und die Sauce; die frischen Speisen dagegen schmeckten ihm nicht, er konnte nicht einmal ihren Geruch vertragen und schleppte sogar die Sachen, die er essen wollte, ein Stückchen weiter weg. Er war schon längst mit allem fertig und lag nun faul auf der gleichen Stelle, als die Schwester zum Zeichen, daß er sich zurückziehen solle, langsam den Schlüssel umdrehte. Das schreckte ihn sofort auf, trotzdem er schon fast schlummerte, und er eilte wieder unter das Kanapee. Aber es kostete ihn große Selbstüberwindung, auch nur die kurze Zeit, während welcher die Schwester im Zimmer war, unter dem Kanapee zu bleiben, denn von dem reichlichen Essen hatte sich sein Leib ein wenig gerundet und er konnte dort in der Enge kaum atmen. Unter kleinen Erstickungsanfällen sah er mit etwas hervorgequollenen Augen zu, wie die nichtsahnende Schwester mit einem Besen nicht nur die Überbleibsel zusammenkehrte, sondern selbst die von Gregor gar nicht berührten Speisen, als seien also auch diese nicht mehr zu gebrauchen, und wie sie alles hastig in einen Kübel schüttete, den sie mit einem Holzdeckel schloß, worauf sie alles hinaustrug. Kaum hatte sie sich umgedreht, zog sich schon Gregor unter dem Kanapee hervor und streckte und blähte sich.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Auf diese Weise bekam nun Gregor täglich sein Essen, einmal am Morgen, wenn die Eltern und das Dienstmädchen noch schliefen, das zweitemal nach dem allgemeinen Mittagessen, denn dann schliefen die Eltern gleichfalls noch ein Weilchen, und das Dienstmädchen wurde von der Schwester mit irgendeiner Besorgung weggeschickt. Gewiß wollten auch sie nicht, daß Gregor verhungere, aber vielleicht hätten sie es nicht ertragen können, von seinem Essen mehr als durch Hörensagen zu erfahren, vielleicht wollte die Schwester ihnen auch eine möglicherweise nur kleine Trauer ersparen, denn tatsächlich litten sie ja gerade genug.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mit welchen Ausreden man an jenem ersten Vormittag den Arzt und den Schlosser wieder aus der Wohnung geschafft hatte, konnte Gregor gar nicht erfahren, denn da er nicht verstanden wurde, dachte niemand daran, auch die Schwester nicht, daß er die anderen verstehen könne, und so mußte er sich, wenn die Schwester in seinem Zimmer war, damit begnügen, nur hier und da ihre Seufzer und Anrufe der Heiligen zu hören. Erst später, als sie sich ein wenig an alles gewöhnt hatte - von vollständiger Gewöhnung konnte natürlich niemals die Rede sein - , erhaschte Gregor manchmal eine Bemerkung, die freundlich gemeint war oder so gedeutet werden konnte. »Heute hat es ihm aber geschmeckt«, sagte sie, wenn Gregor unter dem Essen tüchtig aufgeräumt hatte, während sie im gegenteiligen Fall, der sich allmählich immer häufiger wiederholte, fast traurig zu sagen pflegte: »Nun ist wieder alles stehengeblieben.«&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Während aber Gregor unmittelbar keine Neuigkeit erfahren konnte, erhorchte er manches aus den Nebenzimmern, und wo er nur einmal Stimmen hörte, lief er gleich zu der betreffenden Tür und drückte sich mit ganzem Leib an sie. Besonders in der ersten Zeit gab es kein Gespräch, das nicht irgendwie, wenn auch nur im geheimen, von ihm handelte. Zwei Tage lang waren bei allen Mahlzeiten Beratungen darüber zu hören, wie man sich jetzt verhalten solle; aber auch zwischen den Mahlzeiten sprach man über das gleiche Thema, denn immer waren zumindest zwei Familienmitglieder zu Hause, da wohl niemand allein zu Hause bleiben wollte und man die Wohnung doch auf keinen Fall gänzlich verlassen konnte. Auch hatte das Dienstmädchen gleich am ersten Tag - es war nicht ganz klar, was und wieviel sie von dem Vorgefallenen wußte - kniefällig die Mutter gebeten, sie sofort zu entlassen, und als sie sich eine Viertelstunde danach verabschiedete, dankte sie für die Entlassung unter Tränen, wie für die größte Wohltat, die man ihr hier erwiesen hatte, und gab, ohne daß man es von ihr verlangte, einen fürchterlichen Schwur ab, niemandem auch nur das Geringste zu verraten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nun mußte die Schwester im Verein mit der Mutter auch kochen; allerdings machte das nicht viel Mühe, denn man aß fast nichts. Immer wieder hörte Gregor, wie der eine den anderen vergebens zum Essen aufforderte und keine andere Antwort bekam, als: »Danke, ich habe genug« oder etwas Ähnliches. Getrunken wurde vielleicht auch nichts. Öfters fragte die Schwester den Vater, ob er Bier haben wolle, und herzlich erbot sie sich, es selbst zu holen, und als der Vater schwieg, sagte sie, um ihm jedes Bedenken zu nehmen, sie könne auch die Hausmeisterin darum schicken, aber dann sagte der Vater schließlich ein großes »Nein«, und es wurde nicht mehr davon gesprochen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Schon im Laufe des ersten Tages legte der Vater die ganzen Vermögensverhältnisse und Aussichten sowohl der Mutter, als auch der Schwester dar. Hie und da stand er vom Tische auf und holte aus seiner kleinen Wertheimkassa, die er aus dem vor fünf Jahren erfolgten Zusammenbruch seines Geschäftes gerettet hatte, irgendeinen Beleg oder irgendein Vormerkbuch. Man hörte, wie er das komplizierte Schloß aufsperrte und nach Entnahme des Gesuchten wieder verschloß. Diese Erklärungen des Vaters waren zum Teil das erste Erfreuliche, was Gregor seit seiner Gefangenschaft zu hören bekam. Er war der Meinung gewesen, daß dem Vater von jenem Geschäft her nicht das Geringste übriggeblieben war, zumindest hatte ihm der Vater nichts Gegenteiliges gesagt, und Gregor allerdings hatte ihn auch nicht darum gefragt. Gregors Sorge war damals nur gewesen, alles daranzusetzen, um die Familie das geschäftliche Unglück, das alle in eine vollständige Hoffnungslosigkeit gebracht hatte, möglichst rasch vergessen zu lassen. Und so hatte er damals mit ganz besonderem Feuer zu arbeiten angefangen und war fast über Nacht aus einem kleinen Kommis ein Reisender geworden, der natürlich ganz andere Möglichkeiten des Geldverdienens hatte, und dessen Arbeitserfolge sich sofort in Form der Provision zu Bargeld verwandelten, das der erstaunten und beglückten Familie zu Hause auf den Tisch gelegt werden konnte. Es waren schöne Zeiten gewesen, und niemals nachher hatten sie sich, wenigstens in diesem Glanze, wiederholt, trotzdem Gregor später so viel Geld verdiente, daß er den Aufwand der ganzen Familie zu tragen imstande war und auch trug. Man hatte sich eben daran gewöhnt, sowohl die Familie, als auch Gregor, man nahm das Geld dankbar an, er lieferte es gern ab, aber eine besondere Wärme wollte sich nicht mehr ergeben. Nur die Schwester war Gregor doch noch nahe geblieben, und es war sein geheimer Plan, sie, die zum Unterschied von Gregor Musik sehr liebte und rührend Violine zu spielen verstand, nächstes Jahr, ohne Rücksicht auf die großen Kosten, die das verursachen mußte, und die man schon auf andere Weise hereinbringen würde, auf das Konservatorium zu schicken. Öfters während der kurzen Aufenthalte Gregors in der Stadt wurde in den Gesprächen mit der Schwester das Konservatorium erwähnt, aber immer nur als schöner Traum, an dessen Verwirklichung nicht zu denken war, und die Eltern hörten nicht einmal diese unschuldigen Erwähnungen gern; aber Gregor dachte sehr bestimmt daran und beabsichtigte, es am Weihnachtsabend feierlich zu erklären.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solche in seinem gegenwärtigen Zustand ganz nutzlose Gedanken gingen ihm durch den Kopf, während er dort aufrecht an der Türe klebte und horchte. Manchmal konnte er vor allgemeiner Müdigkeit gar nicht mehr zuhören und ließ den Kopf nachlässig gegen die Tür schlagen, hielt ihn aber sofort wieder fest, denn selbst das kleine Geräusch, das er damit verursacht hatte, war nebenan gehört worden und hatte alle verstummen lassen. »Was er nur wieder treibt«, sagte der Vater nach einer Weile, offenbar zur Türe hingewendet, und dann erst wurde das unterbrochene Gespräch allmählich wieder aufgenommen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gregor erfuhr nun zur Genüge - denn der Vater pflegte sich in seinen Erklärungen öfters zu wiederholen, teils, weil er selbst sich mit diesen Dingen schon lange nicht beschäftigt hatte, teils auch, weil die Mutter nicht alles gleich beim ersten Mal verstand - , daß trotz allen Unglücks ein allerdings ganz kleines Vermögen aus der alten Zeit noch vorhanden war, das die nicht angerührten Zinsen in der Zwischenzeit ein wenig hatten anwachsen lassen. Außerdem aber war das Geld, das Gregor allmonatlich nach Hause gebracht hatte - er selbst hatte nur ein paar Gulden für sich behalten - , nicht vollständig aufgebraucht worden und hatte sich zu einem kleinen Kapital angesammelt. Gregor, hinter seiner Türe, nickte eifrig, erfreut über diese unerwartete Vorsicht und Sparsamkeit. Eigentlich hätte er ja mit diesen überschüssigen Geldern die Schuld des Vaters gegenüber dem Chef weiter abgetragen haben können, und jener Tag, an dem er diesen Posten hätte loswerden können, wäre weit näher gewesen, aber jetzt war es zweifellos besser so, wie es der Vater eingerichtet hatte.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nun genügte dieses Geld aber ganz und gar nicht, um die Familie etwa von den Zinsen leben zu lassen; es genügte vielleicht, um die Familie ein, höchstens zwei Jahre zu erhalten, mehr war es nicht. Es war also bloß eine Summe, die man eigentlich nicht angreifen durfte, und die für den Notfall zurückgelegt werden mußte; das Geld zum Leben aber mußte man verdienen. Nun war aber der Vater ein zwar gesunder, aber alter Mann, der schon fünf Jahre nichts gearbeitet hatte und sich jedenfalls nicht viel zutrauen durfte; er hatte in diesen fünf Jahren, welche die ersten Ferien seines mühevollen und doch erfolglosen Lebens waren, viel Fett angesetzt und war dadurch recht schwerfällig geworden. Und die alte Mutter sollte nun vielleicht Geld verdienen, die an Asthma litt, der eine Wanderung durch die Wohnung schon Anstrengung verursachte, und die jeden zweiten Tag in Atembeschwerden auf dem Sopha beim offenen Fenster verbrachte? Und die Schwester sollte Geld verdienen, die noch ein Kind war mit ihren siebzehn Jahren, und der ihre bisherige Lebensweise so sehr zu gönnen war, die daraus bestanden hatte, sich nett zu kleiden, lange zu schlafen, in der Wirtschaft mitzuhelfen, an ein paar bescheidenen Vergnügungen sich zu beteiligen und vor allem Violine zu spielen? Wenn die Rede auf diese Notwendigkeit des Geldverdienens kam, ließ zuerst immer Gregor die Türe los und warf sich auf das neben der Tür befindliche kühle Ledersofa, denn ihm war ganz heiß vor Beschämung und Trauer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oft lag er dort die ganzen langen Nächte über, schlief keinen Augenblick und scharrte nur stundenlang auf dem Leder. Oder er scheute nicht die große Mühe, einen Sessel zum Fenster zu schieben, dann die Fensterbrüstung hinaufzukriechen und, in den Sessel gestemmt, sich ans Fenster zu lehnen, offenbar nur in irgendeiner Erinnerung an das Befreiende, das früher für ihn darin gelegen war, aus dem Fenster zu schauen. Denn tatsächlich sah er von Tag zu Tag die auch nur ein wenig entfernten Dinge immer undeutlicher; das gegenüberliegende Krankenhaus, dessen nur allzu häufigen Anblick er früher verflucht hatte, bekam er überhaupt nicht mehr zu Gesicht, und wenn er nicht genau gewußt hätte, daß er in der stillen, aber völlig städtischen Charlottenstraße wohnte, hätte er glauben können, von seinem Fenster aus in eine Einöde zu schauen, in welcher der graue Himmel und die graue Erde ununterscheidbar sich vereinigten. Nur zweimal hatte die aufmerksame Schwester sehen müssen, daß der Sessel beim Fenster stand, als sie schon jedesmal, nachdem sie das Zimmer aufgeräumt hatte, den Sessel wieder genau zum Fenster hinschob, ja sogar von nun ab den inneren Fensterflügel offen ließ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hätte Gregor nur mit der Schwester sprechen und ihr für alles danken können, was sie für ihn machen mußte, er hätte ihre Dienste leichter ertragen; so aber litt er darunter. Die Schwester suchte freilich die Peinlichkeit des Ganzen möglichst zu verwischen, und je längere Zeit verging, desto besser gelang es ihr natürlich auch, aber auch Gregor durchschaute mit der Zeit alles viel genauer. Schon ihr Eintritt war für ihn schrecklich. Kaum war sie eingetreten, lief sie, ohne sich Zeit zu nehmen, die Türe zu schließen, so sehr sie sonst darauf achtete, jedem den Anblick von Gregors Zimmer zu ersparen, geradewegs zum Fenster und riß es, als ersticke sie fast, mit hastigen Händen auf, blieb auch, selbst wenn es noch so kalt war, ein Weilchen beim Fenster und atmete tief. Mit diesem Laufen und Lärmen erschreckte sie Gregor täglich zweimal; die ganze Zeit über zitterte er unter dem Kanapee und wußte doch sehr gut, daß sie ihn gewiß gerne damit verschont hätte, wenn es ihr nur möglich gewesen wäre, sich in einem Zimmer, in dem sich Gregor befand, bei geschlossenem Fenster aufzuhalten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Einmal, es war wohl schon ein Monat seit Gregors Verwandlung vergangen, und es war doch schon für die Schwester kein besonderer Grund mehr, über Gregors Aussehen in Erstaunen zu geraten, kam sie ein wenig früher als sonst und traf Gregor noch an, wie er, unbeweglich und so recht zum Erschrecken aufgestellt, aus dem Fenster schaute. Es wäre für Gregor nicht unerwartet gewesen, wenn sie nicht eingetreten wäre, da er sie durch seine Stellung verhinderte, sofort das Fenster zu öffnen, aber sie trat nicht nur nicht ein, sie fuhr sogar zurück und schloß die Tür; ein Fremder hätte geradezu denken können, Gregor habe ihr aufgelauert und habe sie beißen wollen. Gregor versteckte sich natürlich sofort unter dem Kanapee, aber er mußte bis zum Mittag warten, ehe die Schwester wiederkam, und sie schien viel unruhiger als sonst. Er erkannte daraus, daß ihr sein Anblick noch immer unerträglich war und ihr auch weiterhin unerträglich bleiben müsse, und daß sie sich wohl sehr überwinden mußte, vor dem Anblick auch nur der kleinen Partie seines Körpers nicht davonzulaufen, mit der er unter dem Kanapee hervorragte. Um ihr auch diesen Anblick zu ersparen, trug er eines Tages auf seinem Rücken - er brauchte zu dieser Arbeit vier Stunden - das Leintuch auf das Kanapee und ordnete es in einer solchen Weise an, daß er nun gänzlich verdeckt war, und daß die Schwester, selbst wenn sie sich bückte, ihn nicht sehen konnte. Wäre dieses Leintuch ihrer Meinung nach nicht nötig gewesen, dann hätte sie es ja entfernen können, denn daß es nicht zum Vergnügen Gregors gehören konnte, sich so ganz und gar abzusperren, war doch klar genug, aber sie ließ das Leintuch, so wie es war, und Gregor glaubte sogar einen dankbaren Blick erhascht zu haben, als er einmal mit dem Kopf vorsichtig das Leintuch ein wenig lüftete, um nachzusehen, wie die Schwester die neue Einrichtung aufnahm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In den ersten vierzehn Tagen konnten es die Eltern nicht über sich bringen, zu ihm hereinzukommen, und er hörte oft, wie sie die jetzige Arbeit der Schwester völlig erkannten, während sie sich bisher häufig über die Schwester geärgert hatten, weil sie ihnen als ein etwas nutzloses Mädchen erschienen war. Nun aber warteten oft beide, der Vater und die Mutter, vor Gregors Zimmer, während die Schwester dort aufräumte, und kaum war sie herausgekommen, mußte sie ganz genau erzählen, wie es in dem Zimmer aussah, was Gregor gegessen hatte, wie er sich diesmal benommen hatte, und ob vielleicht eine kleine Besserung zu bemerken war. Die Mutter übrigens wollte verhältnismäßig bald Gregor besuchen, aber der Vater und die Schwester hielten sie zuerst mit Vernunftgründen zurück, denen Gregor sehr aufmerksam zuhörte, und die er vollständig billigte. Später aber mußte man sie mit Gewalt zurückhalten, und wenn sie dann rief: »Laßt mich doch zu Gregor, er ist ja mein unglücklicher Sohn! Begreift ihr es denn nicht, daß ich zu ihm muß?«, dann dachte Gregor, daß es vielleicht doch gut wäre, wenn die Mutter hereinkäme, nicht jeden Tag natürlich, aber vielleicht einmal in der Woche; sie verstand doch alles viel besser als die Schwester, die trotz all ihrem Mute doch nur ein Kind war und im letzten Grunde vielleicht nur aus kindlichem Leichtsinn eine so schwere Aufgabe übernommen hatte.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Der Wunsch Gregors, die Mutter zu sehen, ging bald in Erfüllung. Während des Tages wollte Gregor schon aus Rücksicht auf seine Eltern sich nicht beim Fenster zeigen, kriechen konnte er aber auf den paar Quadratmetern des Fußbodens auch nicht viel, das ruhige Liegen ertrug er schon während der Nacht schwer, das Essen machte ihm bald nicht mehr das geringste Vergnügen, und so nahm er zur Zerstreuung die Gewohnheit an, kreuz und quer über Wände und Plafond zu kriechen. Besonders oben auf der Decke hing er gern; es war ganz anders, als das Liegen auf dem Fußboden; man atmete freier; ein leichtes Schwingen ging durch den Körper; und in der fast glücklichen Zerstreutheit, in der sich Gregor dort oben befand, konnte es geschehen, daß er zu seiner eigenen Überraschung sich losließ und auf den Boden klatschte. Aber nun hatte er natürlich seinen Körper ganz anders in der Gewalt als früher und beschädigte sich selbst bei einem so großen Falle nicht. Die Schwester nun bemerkte sofort die neue Unterhaltung, die Gregor für sich gefunden hatte - er hinterließ ja auch beim Kriechen hie und da Spuren seines Klebstoffes - , und da setzte sie es sich in den Kopf, Gregor das Kriechen in größtem Ausmaße zu ermöglichen und die Möbel, die es verhinderten, also vor allem den Kasten und den Schreibtisch, wegzuschaffen. Nun war sie aber nicht imstande, dies allein zu tun; den Vater wagte sie nicht um Hilfe zu bitten; das Dienstmädchen hätte ihr ganz gewiß nicht geholfen, denn dieses etwa sechzehnjährige Mädchen harrte zwar tapfer seit Entlassung der früheren Köchin aus, hatte aber um die Vergünstigung gebeten, die Küche unaufhörlich versperrt halten zu dürfen und nur auf besonderen Anruf öffnen zu müssen; so blieb der Schwester also nichts übrig, als einmal in Abwesenheit des Vaters die Mutter zu holen. Mit Ausrufen erregter Freude kam die Mutter auch heran, verstummte aber an der Tür vor Gregors Zimmer. Zuerst sah natürlich die Schwester nach, ob alles im Zimmer in Ordnung war; dann erst ließ sie die Mutter eintreten. Gregor hatte in größter Eile das Leintuch noch tiefer und mehr in Falten gezogen, das Ganze sah wirklich nur wie ein zufällig über das Kanapee geworfenes Leintuch aus. Gregor unterließ auch diesmal, unter dem Leintuch zu spionieren; er verzichtete darauf, die Mutter schon diesmal zu sehen, und war nur froh, daß sie nun doch gekommen war. »Komm nur, man sieht ihn nicht«, sagte die Schwester, und offenbar führte sie die Mutter an der Hand. Gregor hörte nun, wie die zwei schwachen Frauen den immerhin schweren alten Kasten von seinem Platze rückten, und wie die Schwester immerfort den größten Teil der Arbeit für sich beanspruchte, ohne auf die Warnungen der Mutter zu hören, welche fürchtete, daß sie sich überanstrengen werde. Es dauerte sehr lange. Wohl nach schon viertelstündiger Arbeit sagte die Mutter, man solle den Kasten doch lieber hier lassen, denn erstens sei er zu schwer, sie würden vor Ankunft des Vaters nicht fertig werden und mit dem Kasten in der Mitte des Zimmers Gregor jeden Weg verrammeln, zweitens aber sei es doch gar nicht sicher, daß Gregor mit der Entfernung der Möbel ein Gefallen geschehe. Ihr scheine das Gegenteil der Fall zu sein; ihr bedrücke der Anblick der leeren Wand geradezu das Herz; und warum solle nicht auch Gregor diese Empfindung haben, da er doch an die Zimmermöbel längst gewöhnt sei und sich deshalb im leeren Zimmer verlassen fühlen werde.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;»Und ist es dann nicht so«, schloß die Mutter ganz leise, wie sie überhaupt fast flüsterte, als wolle sie vermeiden, daß Gregor, dessen genauen Aufenthalt sie ja nicht kannte, auch nur den Klang der Stimme höre, denn daß er die Worte nicht verstand, davon war sie überzeugt, »und ist es nicht so, als ob wir durch die Entfernung der Möbel zeigten, daß wir jede Hoffnung auf Besserung aufgeben und ihn rücksichtslos sich selbst überlassen? Ich glaube, es wäre das beste, wir suchen das Zimmer genau in dem Zustand zu erhalten, in dem es früher war, damit Gregor, wenn er wieder zu uns zurückkommt, alles unverändert findet und umso leichter die Zwischenzeit vergessen kann.«&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beim Anhören dieser Worte der Mutter erkannte Gregor, daß der Mangel jeder unmittelbaren menschlichen Ansprache, verbunden mit dem einförmigen Leben inmitten der Familie, im Laufe dieser zwei Monate seinen Verstand hatte verwirren müssen, denn anders konnte er es sich nicht erklären, daß er ernsthaft danach hatte verlangen könne, daß sein Zimmer ausgeleert würde. Hatte er wirklich Lust, das warme, mit ererbten Möbeln gemütlich ausgestattete Zimmer in eine Höhle verwandeln zu lassen, in der er dann freilich nach allen Richtungen ungestört würde kriechen können, jedoch auch unter gleichzeitigem schnellen, gänzlichen Vergessen seiner menschlichen Vergangenheit? War er doch jetzt schon nahe daran, zu vergessen, und nur die seit langem nicht gehörte Stimme der Mutter hatte ihn aufgerüttelt. Nichts sollte entfernt werden; alles mußte bleiben; die guten Einwirkungen der Möbel auf seinen Zustand konnte er nicht entbehren; und wenn die Möbel ihn hinderten, das sinnlose Herumkriechen zu betreiben, so war es kein Schaden, sondern ein großer Vorteil. Aber die Schwester war leider anderer Meinung; sie hatte sich, allerdings nicht ganz unberechtigt, angewöhnt, bei Besprechung der Angelegenheiten Gregors als besonders Sachverständige gegenüber den Eltern aufzutreten, und so war auch jetzt der Rat der Mutter für die Schwester Grund genug, auf der Entfernung nicht nur des Kastens und des Schreibtisches, an die sie zuerst allein gedacht hatte, sondern auf der Entfernung sämtlicher Möbel, mit Ausnahme des unentbehrlichen Kanapees, zu bestehen. Es war natürlich nicht nur kindlicher Trotz und das in der letzten Zeit so unerwartet und schwer erworbene Selbstvertrauen, das sie zu dieser Forderung bestimmte; sie hatte doch auch tatsächlich beobachtet, daß Gregor viel Raum zum Kriechen brauchte, dagegen die Möbel, soweit man sehen konnte, nicht im geringsten benützte.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vielleicht aber spielte auch der schwärmerische Sinn der Mädchen ihres Alters mit, der bei jeder Gelegenheit seine Befriedigung sucht, und durch den Grete jetzt sich dazu verlocken ließ, die Lage Gregors noch schreckenerregender machen zu wollen, um dann noch mehr als bis jetzt für ihn leisten zu können. Denn in einen Raum, in dem Gregor ganz allein die leeren Wände beherrschte, würde wohl kein Mensch außer Grete jemals einzutreten sich getrauen. Und so ließ sie sich von ihrem Entschlusse durch die Mutter nicht abbringen, die auch in diesem Zimmer vor lauter Unruhe unsicher schien, bald verstummte und der Schwester nach Kräften beim Hinausschaffen des Kastens half. Nun, den Kasten konnte Gregor im Notfall noch entbehren, aber schon der Schreibtisch mußte bleiben. Und kaum hatten die Frauen mit dem Kasten, an den sie sich ächzend drückten, das Zimmer verlassen, als Gregor den Kopf unter dem Kanapee hervorstieß, um zu sehen, wie er vorsichtig und möglichst rücksichtsvoll eingreifen könnte. Aber zum Unglück war es gerade die Mutter, welche zuerst zurückkehrte, während Grete im Nebenzimmer den Kasten umfangen hielt und ihn allein hin und her schwang, ohne ihn natürlich von der Stelle zu bringen. Die Mutter aber war Gregors Anblick nicht gewöhnt, er hätte sie krank machen können, und so eilte Gregor erschrocken im Rückwärtslauf bis an das andere Ende des Kanapees, konnte es aber nicht mehr verhindern, daß das Leintuch vorne ein wenig sich bewegte. Das genügte, um die Mutter aufmerksam zu machen. Sie stockte, stand einen Augenblick still und ging dann zu Grete zurück.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trotzdem sich Gregor immer wieder sagte, daß ja nichts Außergewöhnliches geschehe, sondern nur ein paar Möbel umgestellt würden, wirkte doch, wie er sich bald eingestehen mußte, dieses Hin- und Hergehen der Frauen, ihre kleinen Zurufe, das Kratzen der Möbel auf dem Boden, wie ein großer, von allen Seiten genährter Trubel auf ihn, und er mußte sich, so fest er Kopf und Beine an sich zog und den Leib bis an den Boden drückte, unweigerlich sagen, daß er das Ganze nicht lange aushalten werde. Sie räumten ihm sein Zimmer aus; nahmen ihm alles, was ihm lieb war; den Kasten, in dem die Laubsäge und andere Werkzeuge lagen, hatten sie schon hinausgetragen; lockerten jetzt den schon im Boden fest eingegrabenen Schreibtisch, an dem er als Handelsakademiker, als Bürgerschüler, ja sogar schon als Volksschüler seine Aufgaben geschrieben hatte, - da hatte er wirklich keine Zeit mehr, die guten Absichten zu prüfen, welche die zwei Frauen hatten, deren Existenz er übrigens fast vergessen hatte, denn vor Erschöpfung arbeiteten sie schon stumm, und man hörte nur das schwere Tappen ihrer Füße.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Und so brach er denn hervor - die Frauen stützten sich gerade im Nebenzimmer an den Schreibtisch, um ein wenig zu verschnaufen - , wechselte viermal die Richtung des Laufes, er wußte wirklich nicht, was er zuerst retten sollte, da sah er an der im übrigen schon leeren Wand auffallend das Bild der in lauter Pelzwerk gekleideten Dame hängen, kroch eilends hinauf und preßte sich an das Glas, das ihn festhielt und seinem heißen Bauch wohltat. Dieses Bild wenigstens, das Gregor jetzt ganz verdeckte, würde nun gewiß niemand wegnehmen. Er verdrehte den Kopf nach der Tür des Wohnzimmers, um die Frauen bei ihrer Rückkehr zu beobachten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sie hatten sich nicht viel Ruhe gegönnt und kamen schon wieder; Grete hatte den Arm um die Mutter gelegt und trug sie fast. »Also was nehmen wir jetzt?«, sagte Grete und sah sich um. Da kreuzten sich ihre Blicke mit denen Gregors an der Wand. Wohl nur infolge der Gegenwart der Mutter behielt sie ihre Fassung, beugte ihr Gesicht zur Mutter, um diese vom Herumschauen abzuhalten, und sagte, allerdings zitternd und unüberlegt: »Komm, wollen wir nicht lieber auf einen Augenblick noch ins Wohnzimmer zurückgehen?« Die Absicht Gretes war für Gregor klar, sie wollte die Mutter in Sicherheit bringen und dann ihn von der Wand hinunterjagen. Nun, sie konnte es ja immerhin versuchen! Er saß auf seinem Bild und gab es nicht her. Lieber würde er Grete ins Gesicht springen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aber Gretes Worte hatten die Mutter erst recht beunruhigt, sie trat zur Seite, erblickte den riesigen braunen Fleck auf der geblümten Tapete, rief, ehe ihr eigentlich zum Bewußtsein kam, daß das Gregor war, was sie sah, mit schreiender, rauher Stimme: »Ach Gott, ach Gott!« und fiel mit ausgebreiteten Armen, als gebe sie alles auf, über das Kanapee hin und rührte sich nicht. »Du, Gregor!« rief die Schwester mit erhobener Faust und eindringlichen Blicken. Es waren seit der Verwandlung die ersten Worte, die sie unmittelbar an ihn gerichtet hatte. Sie lief ins Nebenzimmer, um irgendeine Essenz zu holen, mit der sie die Mutter aus ihrer Ohnmacht wecken könnte; Gregor wollte auch helfen - zur Rettung des Bildes war noch Zeit - , er klebte aber fest an dem Glas und mußte sich mit Gewalt losreißen; er lief dann auch ins Nebenzimmer, als könne er der Schwester irgendeinen Rat geben, wie in früherer Zeit; mußte dann aber untätig hinter ihr stehen; während sie in verschiedenen Fläschchen kramte, erschreckte sie noch, als sie sich umdrehte; eine Flasche fiel auf den Boden und zerbrach; ein Splitter verletzte Gregor im Gesicht, irgendeine ätzende Medizin umfloß ihn; Grete nahm nun, ohne sich länger aufzuhalten, soviel Fläschchen, als sie nur halten konnte, und rannte mit ihnen zur Mutter hinein; die Tür schlug sie mit dem Fuße zu. Gregor war nun von der Mutter abgeschlossen, die durch seine Schuld vielleicht dem Tod nahe war; die Tür durfte er nicht öffnen, wollte er die Schwester, die bei der Mutter bleiben mußte, nicht verjagen; er hatte jetzt nichts zu tun, als zu warten; und von Selbstvorwürfen und Besorgnis bedrängt, begann er zu kriechen, überkroch alles, Wände, Möbel und Zimmerdecke und fiel endlich in seiner Verzweiflung, als sich das ganze Zimmer schon um ihn zu drehen anfing, mitten auf den großen Tisch.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Es verging eine kleine Weile, Gregor lag matt da, ringsherum war es still, vielleicht war das ein gutes Zeichen. Da läutete es. Das Mädchen war natürlich in ihrer Küche eingesperrt und Grete mußte daher öffnen gehen. Der Vater war gekommen. »Was ist geschehen?« waren seine ersten Worte; Gretes Aussehen hatte ihm wohl alles verraten. Grete antwortete mit dumpfer Stimme, offenbar drückte sie ihr Gesicht an des Vaters Brust: »Die Mutter war ohnmächtig, aber es geht ihr schon besser. Gregor ist ausgebrochen.« »Ich habe es ja erwartet«, sagte der Vater, »ich habe es euch ja immer gesagt, aber ihr Frauen wollt nicht hören.«&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gregor war es klar, daß der Vater Gretes allzu kurze Mitteilung schlecht gedeutet hatte und annahm, daß Gregor sich irgendeine Gewalttat habe zuschulden kommen lassen. Deshalb mußte Gregor den Vater jetzt zu besänftigen suchen, denn ihn aufzuklären hatte er weder Zeit noch Möglichkeit. Und so flüchtete er sich zur Tür seines Zimmers und drückte sich an sie, damit der Vater beim Eintritt vom Vorzimmer her gleich sehen könne, daß Gregor die beste Absicht habe, sofort in sein Zimmer zurückzukehren, und daß es nicht nötig sei, ihn zurückzutreiben, sondern daß man nur die Tür zu öffnen brauche, und gleich werde er verschwinden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aber der Vater war nicht in der Stimmung, solche Feinheiten zu bemerken; »Ah!« rief er gleich beim Eintritt in einem Tone, als sei er gleichzeitig wütend und froh. Gregor zog den Kopf von der Tür zurück und hob ihn gegen den Vater. So hatte er sich den Vater wirklich nicht vorgestellt, wie er jetzt dastand; allerdings hatte er in der letzten Zeit über dem neuartigen Herumkriechen versäumt, sich so wie früher um die Vorgänge in der übrigen Wohnung zu kümmern, und hätte eigentlich darauf gefaßt sein müssen, veränderte Verhältnisse anzutreffen. Trotzdem, trotzdem, war das noch der Vater? Der gleiche Mann, der müde im Bett vergraben lag, wenn früher Gregor zu einer Geschäftsreise ausgerückt war; der ihn an Abenden der Heimkehr im Schlafrock im Lehnstuhl empfangen hatte; gar nicht recht imstande war, aufzustehen, sondern zum Zeichen der Freude nur die Arme gehoben hatte, und der bei den seltenen gemeinsamen Spaziergängen an ein paar Sonntagen im Jahr und an den höchsten Feiertagen zwischen Gregor und der Mutter, die schon an und für sich langsam gingen, immer noch ein wenig langsamer, in seinen alten Mantel eingepackt, mit stets vorsichtig aufgesetztem Krückstock sich vorwärts arbeitete und, wenn er etwas sagen wollte, fast immer stillstand und seine Begleitung um sich versammelte?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nun aber war er recht gut aufgerichtet; in eine straffe blaue Uniform mit Goldknöpfen gekleidet, wie sie Diener der Bankinstitute tragen; über dem hohen steifen Kragen des Rockes entwickelte sich sein starkes Doppelkinn; unter den buschigen Augenbrauen drang der Blick der schwarzen Augen frisch und aufmerksam hervor; das sonst zerzauste weiße Haar war zu einer peinlich genauen, leuchtenden Scheitelfrisur niedergekämmt. Er warf seine Mütze, auf der ein Goldmonogramm, wahrscheinlich das einer Bank, angebracht war, über das ganze Zimmer im Bogen auf das Kanapee hin und ging, die Enden seines langen Uniformrockes zurückgeschlagen, die Hände in den Hosentaschen, mit vebissenem Gesicht auf Gregor zu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Er wußte wohl selbst nicht, was er vor hatte; immerhin hob er die Füße ungewöhnlich hoch, und Gregor staunte über die Riesengröße seiner Stiefelsohlen. Doch hielt er sich dabei nicht auf, er wußte ja noch vom ersten Tage seines neuen Lebens her, daß der Vater ihm gegenüber nur die größte Strenge für angebracht ansah. Und so lief er vor dem Vater her, stockte, wenn der Vater stehen blieb, und eilte schon wieder vorwärts, wenn sich der Vater nur rührte. So machten sie mehrmals die Runde um das Zimmer, ohne daß sich etwas Entscheidendes ereignete, ja ohne daß das Ganze infolge seines langsamen Tempos den Anschein einer Verfolgung gehabt hätte. Deshalb blieb auch Gregor vorläufig auf dem Fußboden, zumal er fürchtete, der Vater könnte eine Flucht auf die Wände oder den Plafond für besondere Bosheit halten. Allerdings mußte sich Gregor sagen, daß er sogar dieses Laufen nicht lange aushalten würde, denn während der Vater einen Schritt machte, mußte er eine Unzahl von Bewegungen ausführen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atemnot begann sich schon bemerkbar zu machen, wie er ja auch in seiner früheren Zeit keine ganz vertrauenswürdige Lunge besessen hatte. Als er nun so dahintorkelte, um alle Kräfte für den Lauf zu sammeln, kaum die Augen offenhielt; in seiner Stumpfheit an eine andere Rettung als durch Laufen gar nicht dachte; und fast schon vergessen hatte, daß ihm die Wände freistanden, die hier allerdings mit sorgfältig geschnitzten Möbeln voll Zacken und Spitzen verstellt waren - da flog knapp neben ihm, leicht geschleudert, irgend etwas nieder und rollte vor ihm her. Es war ein Apfel; gleich flog ihm ein zweiter nach; Gregor blieb vor Schrecken stehen; ein Weiterlaufen war nutzlos, denn der Vater hatte sich entschlossen, ihn zu bombardieren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aus der Obstschale auf der Kredenz hatte er sich die Taschen gefüllt und warf nun, ohne vorläufig scharf zu zielen, Apfel für Apfel. Diese kleinen roten Äpfel rollten wie elektrisiert auf dem Boden herum und stießen aneinander. Ein schwach geworfener Apfel streifte Gregors Rücken, glitt aber unschädlich ab. Ein ihm sofort nachfliegender drang dagegen förmlich in Gregors Rücken ein; Gregor wollte sich weiterschleppen, als könne der überraschende unglaubliche Schmerz mit dem Ortswechsel vergehen; doch fühlte er sich wie festgenagelt und streckte sich in vollständiger Verwirrung aller Sinne. Nur mit dem letzten Blick sah er noch, wie die Tür seines Zimmers aufgerissen wurde, und vor der schreienden Schwester die Mutter hervoreilte, im Hemd, denn die Schwester hatte sie entkleidet, um ihr in der Ohnmacht Atemfreiheit zu verschaffen, wie dann die Mutter auf den Vater zulief und ihr auf dem Weg die aufgebundenen Röcke einer nach dem anderen zu Boden glitten, und wie sie stolpernd über die Röcke auf den Vater eindrang und ihn umarmend, in gänzlicher Vereinigung mit ihm - nun versagte aber Gregors Sehkraft schon - die Hände an des Vaters Hinterkopf um Schonung von Gregors Leben bat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Die schwere Verwundung Gregors, an der er über einen Monat litt - der Apfel blieb, da ihn niemand zu entfernen wagte, als sichtbares Andenken im Fleische sitzen - , schien selbst den Vater daran erinnert zu haben, daß Gregor trotz seiner gegenwärtigen traurigen und ekelhaften Gestalt ein Familienmitglied war, das man nicht wie einen Feind behandeln durfte, sondern dem gegenüber es das Gebot der Familienpflicht war, den Widerwillen hinunterzuschlucken und zu dulden, nichts als zu dulden. Und wenn nun auch Gregor durch seine Wunde an Beweglichkeit wahrscheinlich für immer verloren hatte und vorläufig zur Durchquerung seines Zimmers wie ein alter Invalide lange, lange Minuten brauchte - an das Kriechen in der Höhe war nicht zu denken - , so bekam er für diese Verschlimmerung seines Zustandes einen seiner Meinung nach vollständig genügenden Ersatz dadurch, daß immer gegen Abend die Wohnzimmertür, die er schon ein bis zwei Stunden vorher scharf zu beobachten pflegte, geöffnet wurde, so daß er, im Dunkel seines Zimmers liegend, vom Wohnzimmer aus unsichtbar, die ganze Familie beim beleuchteten Tische sehen und ihre Reden, gewissermaßen mit allgemeiner Erlaubnis, also ganz anders als früher, anhören durfte.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Freilich waren es nicht mehr die lebhaften Unterhaltungen der früheren Zeiten, an die Gregor in den kleinen Hotelzimmern stets mit einigem Verlangen gedacht hatte, wenn er sich müde in das feuchte Bettzeug hatte werfen müssen. Es ging jetzt meist nur sehr still zu. Der Vater schlief bald nach dem Nachtessen in seinem Sessel ein; die Mutter und Schwester ermahnten einander zur Stille; die Mutter nähte, weit unter das Licht vorgebeugt, feine Wäsche für ein Modengeschäft; die Schwester, die eine Stellung als Verkäuferin angenommen hatte, lernte am Abend Stenographie und Französisch, um vielleicht später einmal einen besseren Posten zu erreichen. Manchmal wachte der Vater auf, und als wisse er gar nicht, daß er geschlafen habe, sagte er zur Mutter: »Wie lange du heute schon wieder nähst!« und schlief sofort wieder ein, während Mutter und Schwester einander müde zulächelten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mit einer Art Eigensinn weigerte sich der Vater, auch zu Hause seine Dieneruniform abzulegen; und während der Schlafrock nutzlos am Kleiderhaken hing, schlummerte der Vater vollständig angezogen auf seinem Platz, als sei er immer zu seinem Dienste bereit und warte auch hier auf die Stimme des Vorgesetzten. Infolgedessen verlor die gleich anfangs nicht neue Uniform trotz aller Sorgfalt von Mutter und Schwester an Reinlichkeit, und Gregor sah oft ganze Abende lang auf dieses über und über fleckige, mit seinen stets geputzte Goldknöpfen leuchtende Kleid, in dem der alte Mann höchst unbequem und doch ruhig schlief.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sobald die Uhr zehn schlug, suchte die Mutter durch leise Zusprache den Vater zu wecken und dann zu überreden, ins Bett zu gehen, denn hier war es doch kein richtiger Schlaf und diesen hatte der Vater, der um sechs Uhr seinen Dienst antreten mußte, äußerst nötig. Aber in dem Eigensinn, der ihn, seitdem er Diener war, ergriffen hatte, bestand er immer darauf noch länger bei Tisch zu bleiben, trotzdem er regelmäßig einschlief, und war dann überdies nur mit der größten Mühe zu bewegen, den Sessel mit dem Bett zu vertauschen. Da mochten Mutter und Schwester mit kleinen Ermahnungen noch so sehr auf ihn eindringen, viertelstundenlang schüttelte er langsam den Kopf hielt, die Augen geschlossen und stand nicht auf. Die Mutter zupfte ihn am Ärmel, sagte ihm Schmeichelworte ins Ohr, die Schwester verließ ihre Aufgabe, um der Mutter zu helfen, aber beim Vater verfing das nicht. Er versank nur noch tiefer in seinen Sessel. Erst bis ihn die Frauen unter den Achseln faßten, schlug er die Augen auf, sah abwechselnd die Mutter und die Schwester an und pflegte zu sagen: »Das ist ein Leben. Das ist die Ruhe meiner alten Tage.« Und auf die beiden Frauen gestützt, erhob er sich, umständlich, als sei er für sich selbst die größte Last, ließ sich von den Frauen bis zur Türe führen, winkte ihnen dort ab und ging nun selbständig weiter, während die Mutter ihr Nähzeug, die Schwester ihre Feder eiligst hinwarfen, um hinter dem Vater zu laufen und ihm weiter behilflich zu sein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wer hatte in dieser abgearbeiteten und übermüdeten Familie Zeit, sich um Gregor mehr zu kümmern, als unbedingt nötig war? Der Haushalt wurde immer mehr eingeschränkt; das Dienstmädchen wurde nun doch entlassen; eine riesige knochige Bedienerin mit weißem, den Kopf umflatterndem Haar kam des Morgens und des Abends, um die schwerste Arbeit zu leisten; alles andere besorgte die Mutter neben ihrer vielen Näharbeit. Es geschah sogar, daß verschiedene Familienschmuckstücke, welche früher die Mutter und die Schwester überglücklich bei Unterhaltungen und Feierlichkeiten getragen hatten, verkauft wurden, wie Gregor am Abend aus der allgemeinen Besprechung der erzielten Preise erfuhr. Die größte Klage war aber stets, daß man diese für die gegenwärtigen Verhältnisse allzu große Wohnung nicht verlassen konnte, da es nicht auszudenken war, wie man Gregor übersiedeln sollte. Aber Gregor sah wohl ein, daß es nicht nur die Rücksicht auf ihn war, welche eine Übersiedlung verhinderte, denn ihn hätte man doch in einer passenden Kiste mit ein paar Luftlöchern leicht transportieren können; was die Familie hauptsächlich vom Wohnungswechsel abhielt, war vielmehr die völlige Hoffnungslosigkeit und der Gedanke daran, daß sie mit einem Unglück geschlagen war, wie niemand sonst im ganzen Verwandten- und Bekanntenkreis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Was die Welt von armen Leuten verlangt, erfüllten sie bis zum äußersten, der Vater holte den kleinen Bankbeamten das Frühstück, die Mutter opferte sich für die Wäsche fremder Leute, die Schwester lief nach dem Befehl der Kunden hinter dem Pulte hin und her, aber weiter reichten die Kräfte der Familie schon nicht. Und die Wunde im Rücken fing Gregor wie neu zu schmerzen an, wenn Mutter und Schwester, nachdem sie den Vater zu Bett gebracht hatten, nun zurückkehrten, die Arbeit liegen ließen, nahe zusammenrückten, schon Wange an Wange saßen; wenn jetzt die Mutter, auf Gregors Zimmer zeigend, sagte: »Mach' dort die Tür zu, Grete«, und wenn nun Gregor wieder im Dunkel war, während nebenan die Frauen ihre Tränen vermischten oder gar tränenlos den Tisch anstarrten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Die Nächte und Tage verbrachte Gregor fast ganz ohne Schlaf. Manchmal dachte er daran, beim nächsten Öffnen der Tür die Angelegenheiten der Familie ganz so wie früher wieder in die Hand zu nehmen; in seinen Gedanken erschienen wieder nach langer Zeit der Chef und der Prokurist, die Kommis und die Lehrjungen, der so begriffstützige Hausknecht, zwei, drei Freunde aus anderen Geschäften, ein Stubenmädchen aus einem Hotel in der Provinz, eine liebe, flüchtige Erinnerung, eine Kassiererin aus einem Hutgeschäft, um die er sich ernsthaft, aber zu langsam beworben hatte - sie alle erschienen untermischt mit Fremden oder schon Vergessenen, aber statt ihm und seiner Familie zu helfen, waren sie sämtlich unzugänglich, und er war froh, wenn sie verschwanden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dann aber war er wieder gar nicht in der Laune, sich um seine Familie zu sorgen, bloß Wut über die schlechte Wartung erfüllte ihn, und trotzdem er sich nichts vorstellen konnte, worauf er Appetit gehabt hätte, machte er doch Pläne, wie er in die Speisekammer gelangen könnte, um dort zu nehmen, was ihm, auch wenn er keinen Hunger hatte, immerhin gebührte. Ohne jetzt mehr nachzudenken, womit man Gregor einen besonderen Gefallen machen könnte, schob die Schwester eiligst, ehe sie morgens und mittags ins Geschäft lief, mit dem Fuß irgendeine beliebige Speise in Gregors Zimmer hinein, um sie am Abend, gleichgültig dagegen, ob die Speise vielleicht nur verkostet oder - der häufigste Fall - gänzlich unberührt war, mit einem Schwenken des Besens hinauszukehren. Das Aufräumen des Zimmers, das sie nun immer abends besorgte, konnte gar nicht mehr schneller getan sein. Schmutzstreifen zogen sich die Wände entlang, hie und da lagen Knäuel von Staub und Unrat. In der ersten Zeit stellte sich Gregor bei der Ankunft der Schwester in derartige besonders bezeichnende Winkel, um ihr durch diese Stellung gewissermaßen einen Vorwurf zu machen. Aber er hätte wohl wochenlang dort bleiben können, ohne daß sich die Schwester gebessert hätte; sie sah ja den Schmutz genau so wie er, aber sie hatte sich eben entschlossen, ihn zu lassen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dabei wachte sie mit einer an ihr ganz neuen Empfindlichkeit, die überhaupt die ganze Familie ergriffen hatte, darüber, daß das Aufräumen von Gregors Zimmer ihr vorbehalten blieb. Einmal hatte die Mutter Gregors Zimmer einer großen Reinigung unterzogen, die ihr nur nach Verbrauch einiger Kübel Wasser gelungen war - die viele Feuchtigkeit kränkte allerdings Gregor auch und er lag breit, verbittert und unbeweglich auf dem Kanapee -, aber die Strafe blieb für die Mutter nicht aus. Denn kaum hatte am Abend die Schwester die Veränderung in Gregors Zimmer bemerkt, als sie, aufs höchste beleidigt, ins Wohnzimmer lief und, trotz der beschwörend erhobenen Hände der Mutter, in einen Weinkrampf ausbrach, dem die Eltern - der Vater war natürlich aus seinem Sessel aufgeschreckt worden - zuerst erstaunt und hilflos zusahen; bis auch sie sich zu rühren anfingen; der Vater rechts der Mutter Vorwürfe machte, daß sie Gregors Zimmer nicht der Schwester zur Reinigung überließ; links dagegen die Schwester anschrie, sie werde niemals mehr Gregors Zimmer reinigen dürfen; während die Mutter den Vater, der sich vor Erregung nicht mehr kannte, ins Schlafzimmer zu schleppen suchte; die Schwester, von Schluchzen geschüttelt, mit ihren kleinen Fäusten den Tisch bearbeitete; und Gregor laut vor Wut darüber zischte, daß es keinem einfiel, die Tür zu schließen und ihm diesen Anblick und Lärm zu ersparen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aber selbst wenn die Schwester, erschöpft von ihrer Berufsarbeit, dessen überdrüssig geworden war, für Gregor, wie früher, zu sorgen, so hätte noch keineswegs die Mutter für sie eintreten müssen und Gregor hätte doch nicht vernachlässigt werden brauchen. Denn nun war die Bedienerin da. Diese alte Witwe, die in ihrem langen Leben mit Hilfe ihres starken Knochenbaues das Ärgste überstanden haben mochte, hatte keinen eigentlichen Abscheu vor Gregor. Ohne irgendwie neugierig zu sein, hatte sie zufällig einmal die Tür von Gregors Zimmer aufgemacht und war im Anblick Gregors, der, gänzlich überrascht, trotzdem ihn niemand jagte, hin und herzulaufen begann, die Hände im Schoß gefaltet staunend stehen geblieben. Seitdem versäumte sie nicht, stets flüchtig morgens und abends die Tür ein wenig zu öffnen und zu Gregor hineinzuschauen. Anfangs rief sie ihn auch zu sich herbei, mit Worten, die sie wahrscheinlich für freundlich hielt, wie »Komm mal herüber, alter Mistkäfer!« oder »Seht mal den alten Mistkäfer!« Auf solche Ansprachen antwortete Gregor mit nichts, sondern blieb unbeweglich auf seinem Platz, als sei die Tür gar nicht geöffnet worden. Hätte man doch dieser Bedienerin, statt sie nach ihrer Laune ihn nutzlos stören zu lassen, lieber den Befehl gegeben, sein Zimmer täglich zu reinigen! Einmal am frühen Morgen - ein heftiger Regen, vielleicht schon ein Zeichen des kommenden Frühjahrs, schlug an die Scheiben - war Gregor, als die Bedienerin mit ihren Redensarten wieder begann, derartig erbittert, daß er, wie zum Angriff, allerdings langsam und hinfällig, sich gegen sie wendete. Die Bedienerin aber, statt sich zu fürchten, hob bloß einen in der Nähe der Tür befindlichen Stuhl hoch einpor, und wie sie mit groß geöffnetem Munde dastand, war ihre Absicht klar, den Mund erst zu schließen, wenn der Sessel in ihrer Hand auf Gregors Rücken niederschlagen würde. »Also weiter geht es nicht?« fragte sie, als Gregor sich wieder umdrehte, und stellte den Sessel ruhig in die Ecke zurück. Gregor aß nun fast gar nichts mehr. Nur wenn er zufällig an der vorbereiteten Speise vorüberkam, nahm er zum Spiel einen Bissen in den Mund, hielt ihn dort stundenlang und spie ihn dann meist wieder aus. Zuerst dachte er, es sei die Trauer über den Zustand seines Zimmers, die ihn vom Essen abhalte, aber gerade mit den Veränderungen des Zimmers söhnte er sich sehr bald aus. Man hatte sich angewöhnt, Dinge, die man anderswo nicht unterbringen konnte, in dieses Zimmer hineinzustellen, und solcher Dinge gab es nun viele, da man ein Zimmer der Wohnung an drei Zimmerherren vermietet hatte. Diese ernsten Herren - alle drei hatten Vollbärte, wie Gregor einmal durch eine Türspalte feststellte - waren peinlich auf Ordnung, nicht nur in ihrem Ziminer, sondern, da sie sich nun einmal hier eingemietet hatten, in der ganzen Wirtschaft, also insbesondere in der Küche, bedacht. Unnützen oder gar schmutzigen Kram ertrugen sie nicht. Überdies hatten sie zum größten Teil ihre eigenen Einrichtungsstücke mitgebracht. Aus diesem Grunde waren viele Dinge überflüssig geworden, die zwar nicht verkäuflich waren, die man aber auch nicht wegwerfen wollte. Alle diese wanderten in Gregors Zimmer. Ebenso auch die Aschenkiste und die Abfallkiste aus der Küche. Was nur im Augenblick unbrauchbar war, schleuderte die Bedienerin, die es immer sehr eilig hatte, einfach in Gregors Zimmer; Gregor sah glücklicherweise meist nur den betreffenden Gegenstand und die Hand, die ihn hielt. Die Bedienerin hatte vielleicht die Absicht, bei Zeit und Gelegenheit die Dinge wieder zu holen oder alle insgesamt mit einemmal hinauszuwerfen, tatsächlich aber blieben sie dort liegen, wohin sie durch den ersten Wurf gekommen waren, wenn nicht Gregor sich durch das Rumpelzeug wand und es in Bewegung brachte, zuerst gezwungen, weil kein sonstiger Platz zum Kriechen frei war, später aber mit wachsendem Vergnügen, obwohl er nach solchen Wanderungen, zum Sterben müde und traurig, wieder stundenlang sich nicht rührte.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Da die Zimmerherren manchmal auch ihr Abendessen zu Hause im gemeinsamen Wohnzimmer einnahmen, blieb die Wohnzimmertür an manchen Abenden geschlossen, aber Gregor verzichtete ganz leicht auf das Öffnen der Tür, hatte er doch schon manche Abende, an denen sie geöffnet war, nicht ausgenutzt, sondern war, ohne daß es die Familie merkte, im dunkelsten Winkel seines Zimmers gelegen. Einmal aber hatte die Bedienerin die Tür zum Wohnzimmer ein wenig offen gelassen, und sie blieb so offen, auch als die Zimmerherren am Abend eintraten und Licht gemacht wurde. Sie setzten sich oben an den Tisch, wo in früheren Zeiten der Vater, die Mutter und Gregor gegessen hatten, entfalteten die Servietten und nahmen Messer und Gabel in die Hand. Sofort erschien in der Tür die Mutter mit einer Schüssel Fleisch und knapp hinter ihr die Schwester mit einer Schüssel hochgeschichteter Kartoffeln. Das Essen dampfte mit starkem Rauch. Die Zimmerherren beugten sich über die vor sie hingestellten Schüsseln, als wollten sie sie vor dem Essen prüfen, und tatsächlich zerschnitt der, welcher in der Mitte saß und den anderen zwei als Autorität zu gelten schien, ein Stück Fleisch noch auf der Schüssel, offenbar um festzustellen, ob es mürbe genug sei und ob es nicht etwa in die Küche zurückgeschickt werden solle. Er war befriedigt, und Mutter und Schwester, die gespannt zugesehen hatten, begannen aufatmend zu lächeln.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Die Familie selbst aß in der Küche. Trotzdem kam der Vater, ehe er in die Küche ging, in dieses Zimmer herein und machte mit einer einzigen Verbeugung, die Kappe in der Hand, einen Rundgang um den Tisch. Die Zimmerherren erhoben sich sämtlich und murmelten etwas in ihre Bärte. Als sie dann allein waren, aßen sie fast unter vollkommenem Stillschweigen. Sonderbar schien es Gregor, daß man aus allen mannigfachen Geräuschen des Essens immer wieder ihre kauenden Zähne heraushörte, als ob damit Gregor gezeigt werden sollte, daß man Zähne brauche, um zu essen, und daß man auch mit den schönsten zahnlosen Kiefern nichts ausrichten könne. »Ich habe ja Appetit«, sagte sich Gregor sorgenvoll, »aber nicht auf diese Dinge. Wie sich diese Zimmerherren nähren, und ich komme um!«&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerade an diesem Abend - Gregor erinnerte sich nicht, während der ganzen Zeit die Violine gehört zu haben - ertönte sie von der Küche her. Die Zimmerherren hatten schon ihr Nachtmahl beendet, der mittlere hatte eine Zeitung hervorgezogen, den zwei anderen je ein Blatt gegeben, und nun lasen sie zurückgelehnt und rauchten. Als die Violine zu spielen begann, wurden sie aufmerksam, erhoben sich und gingen auf den Fußspitzen zur Vorzimmertür, in der sie aneinandergedrängt stehen blieben. Man mußte sie von der Küche aus gehört haben, denn der Vater rief: »Ist den Herren das Spiel vielleicht unangenehm? Es kann sofort eingestellt werden.« »Im Gegenteil«, sagte der mittlere der Herren, »möchte das Fräulein nicht zu uns hereinkommen und hier im Zimmer spielen, wo es doch viel bequemer und gemütlicher ist?« »O bitte«, rief der Vater, als sei er der Violinspieler. Die Herren traten ins Zimmer zurück und warteten. Bald kam der Vater mit dem Notenpult, die Mutter mit den Noten und die Schwester mit der Violine. Die Schwester bereitete alles ruhig zum Spiele vor; die Eltern, die niemals früher Zimmer vermietet hatten und deshalb die Höflichkeit gegen die Zimmerherren übertrieben, wagten gar nicht, sich auf ihre eigenen Sessel zu setzen; der Vater lehnte an der Tür, die rechte Hand zwischen zwei Knöpfe des geschlossenen Livreerockes gesteckt; die Mutter aber erhielt von einem Herrn einen Sessel angeboten und saß, da sie den Sessel dort ließ, wohin ihn der Herr zufällig gestellt hatte, abseits in einem Winkel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Die Schwester begann zu spielen; Vater und Mutter verfolgten, jeder von seiner Seite, aufmerksam die Bewegungen ihrer Hände. Gregor hatte, von dem Spiele angezogen, sich ein wenig weiter vorgewagt und war schon mit dem Kopf im Wohnzimmer. Er wunderte sich kaum darüber, daß er in letzter Zeit so wenig Rücksicht auf die andern nahm; früher war diese Rücksichtnahme sein Stolz gewesen. Und dabei hätte er gerade jetzt mehr Grund gehabt, sich zu verstecken, denn infolge des Staubes, der in seinem Zimmer überall lag und bei der kleinsten Bewegung umherflog, war auch er ganz staubbedeckt; Fäden, Haare, Speiseüberreste schleppte er auf seinem Rücken und an den Seiten mit sich herum; seine Gleichgültigkeit gegen alles war viel zu groß, als daß er sich, wie früher mehrmals während des Tages, auf den Rücken gelegt und am Teppich gescheuert hätte. Und trotz dieses Zustandes hatte er keine Scheu, ein Stück auf dem makellosen Fußboden des Wohnzimmers vorzurücken.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allerdings achtete auch niemand auf ihn. Die Familie war gänzlich vom Violinspiel in Anspruch genommen; die Zimmerherren dagegen, die zunächst, die Hände in den Hosentaschen, viel zu nahe hinter dem Notenpult der Schwester sich aufgestellt hatten, so daß sie alle in die Noten hätten sehen können, was sicher die Schwester stören mußte, zogen sich bald unter halblauten Gesprächen mit gesenkten Köpfen zum Fenster zurück, wo sie, vom Vater besorgt beobachtet, auch blieben. Es hatte nun wirklich den überdeutlichen Anschein, als wären sie in ihrer Annahme, ein schönes oder unterhaltendes Violinspiel zu hören, enttäuscht, hätten die ganze Vorführung satt und ließen sich nur aus Höflichkeit noch in ihrer Ruhe stören. Besonders die Art, wie sie alle aus Nase und Mund den Rauch ihrer Zigarren in die Höhe bliesen, ließ auf große Nervosität schließen. Und doch spielte die Schwester so schön. Ihr Gesicht war zur Seite geneigt, prüfend und traurig folgten ihre Blicke den Notenzeilen. Gregor kroch noch ein Stück vorwärts und hielt den Kopf eng an den Boden, um möglicherweise ihren Blicken begegnen zu können. War er ein Tier, da ihn Musik so ergriff ? Ihm war, als zeige sich ihm der Weg zu der ersehnten unbekannten Nahrung. Er war entschlossen, bis zur Schwester vorzudringen, sie am Rock zu zupfen und ihr dadurch anzudeuten, sie möge doch mit ihrer Violine in sein Zimmer kommen, denn niemand lohnte hier das Spiel so, wie er es lohnen wollte. Er wollte sie nicht mehr aus seinem Zimmer lassen, wenigstens nicht, solange er lebte; seine Schreckgestalt sollte ihm zum erstenmal nützlich werden; an allen Türen seines Zimmers wollte er gleichzeitig sein und den Angreifern entgegenfauchen; die Schwester aber sollte nicht gezwungen, sondern freiwillig bei ihm bleiben; sie sollte neben ihm auf dem Kanapee sitzen, das Ohr zu ihm herunterneigen, und er wollte ihr dann anvertrauen, daß er die feste Absicht gehabt habe, sie auf das Konservatorium zu schicken, und daß er dies, wenn nicht das Unglück dazwischen gekommen wäre, vergangene Weihnachten - Weihnachten war doch wohl schon vorüber? - allen gesagt hätte, ohne sich um irgendwelche Widerreden zu kümmern. Nach dieser Erklärung würde die Schwester in Tränen der Rührung ausbrechen, und Gregor würde sich bis zu ihrer Achsel erheben und ihren Hals küssen, den sie, seitdem sie ins Geschäft ging, frei ohne Band oder Kragen trug.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;»Herr Samsa!« rief der mittlere Herr dem Vater zu und zeigte, ohne ein weiteres Wort zu verlieren, mit dem Zeigefinger auf den langsam sich vorwärtsbewegenden Gregor. Die Violine verstummte, der mittlere Zimmerherr lächelte erst einmal kopfschüttelnd seinen Freunden zu und sah dann wieder auf Gregor hin. Der Vater schien es für nötiger zu halten, statt Gregor zu vertreiben, vorerst die Zimmerherren zu beruhigen, trotzdem diese gar nicht aufgeregt waren und Gregor sie mehr als das Violinspiel zu unterhalten schien. Er eilte zu ihnen und suchte sie mit ausgebreiteten Armen in ihr Zimmer zu drängen und gleichzeitig mit seinem Körper ihnen den Ausblick auf Gregor zu nehmen. Sie wurden nun tatsächlich ein wenig böse, man wußte nicht mehr, ob über das Benehmen des Vaters oder über die ihnen jetzt aufgehende Erkenntnis, ohne es zu wissen, einen solchen Zimmernachbar wie Gregor besessen zu haben. Sie verlangten vom Vater Erklärungen, hoben ihrerseits die Arme, zupften unruhig an ihren Bärten und wichen nur langsam gegen ihr Zimmer zurück. Inzwischen hatte die Schwester die Verlorenheit, in die sie nach dem plötzlich abgebrochenen Spiel verfallen war, überwunden, hatte sich, nachdem sie eine Zeit lang in den lässig hängenden Händen Violine und Bogen gehalten und weiter, als spiele sie noch, in die Noten gesehen hatte, mit einem Male aufgerafft, hatte das Instrument auf den Schoß der Mutter gelegt, die in Atembeschwerden mit heftig arbeitenden Lungen noch auf ihrem Sessel saß, und war in das Nebenzimmer gelaufen, dem sich die Zimmerherren unter dem Drängen des Vaters schon schneller näherten. Man sah, wie unter den geübten Händen der Schwester die Decken und Polster in den Betten in die Höhe flogen und sich ordneten. Noch ehe die Herren das Zimmer erreicht hatten, war sie mit dem Aufbetten fertig und schlüpfte heraus. Der Vater schien wieder von seinem Eigensinn derartig ergriffen, daß er jeden Respekt vergaß, den er seinen Mietern immerhin schuldete. Er drängte nur und drängte, bis schon in der Tür des Zimmers der mittlere der Herren donnernd mit dem Fuß aufstampfte und dadurch den Vater zum Stehen brachte. »Ich erkläre hiermit«, sagte er, hob die Hand und suchte mit den Blicken auch die Mutter und die Schwester, »daß ich mit Rücksicht auf die in dieser Wohnung und Familie herrschenden widerlichen Verhältnisse« - hierbei spie er kurz entschlossen auf den Boden - »mein Zimmer augenblicklich kündige. Ich werde natürlich auch für die Tage, die ich hier gewohnt habe, nicht das Geringste bezahlen, dagegen werde ich es mir noch überlegen, ob ich nicht mit irgendwelchen - glauben Sie mir - sehr leicht zu begründenden Forderungen gegen Sie auftreten werde.« Er schwieg und sah gerade vor sich hin, als erwarte er etwas. Tatsächlich fielen sofort seine zwei Freunde mit den Worten ein: »Auch wir kündigen augenblicklich.« Darauf faßte er die Türklinke und schloß mit einem Krach die Tür.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Der Vater wankte mit tastenden Händen zu seinem Sessel und ließ sich in ihn fallen; es sah aus, als strecke er sich zu seinem gewöhnlichen Abendschläfchen, aber das starke Nicken seines wie haltlosen Kopfes zeigte, daß er ganz und gar nicht schlief. Gregor war die ganze Zeit still auf dem Platz gelegen, auf dem ihn die Zimmerherren ertappt hatten. Die Enttäuschung über das Mißlingen seines Planes, vielleicht aber auch die durch das viele Hungern verursachte Schwäche machten es ihm unmöglich, sich zu bewegen. Er fürchtete mit einer gewissen Bestimmtheit schon für den nächsten Augenblick einen allgemeinen über ihn sich entladenden Zusammensturz und wartete. Nicht einmal die Violine schreckte ihn auf, die, unter den zitternden Fingern der Mutter hervor, ihr vom Schoße fiel und einen hallenden Ton von sich gab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;»Liebe Eltern«, sagte die Schwester und schlug zur Einleitung mit der Hand auf den Tisch, »so geht es nicht weiter. Wenn ihr das vielleicht nicht einsehet, ich sehe es ein. Ich will vor diesem Untier nicht den Namen meines Bruders aussprechen, und sage daher bloß: wir müssen versuchen, es loszuwerden. Wir haben das Menschenmögliche versucht, es zu pflegen und zu dulden, ich glaube, es kann uns niemand den geringsten Vorwurf machen.« »Sie hat tausendmal Recht«, sagte der Vater für sich. Die Mutter, die noch immer nicht genug Atem finden konnte, fing in die vorgehaltene Hand mit einem irrsinnigen Ausdruck der Augen dumpf zu husten an. Die Schwester eilte zur Mutter und hielt ihr die Stirn. Der Vater schien durch die Worte der Schwester auf bestimmtere Gedanken gebracht zu sein, hatte sich aufrecht gesetzt, spielte mit seiner Dienermütze zwischen den Tellern, die noch vom Nachtmahl der Zimmerherren her auf dem Tische lagen, und sah bisweilen auf den stillen Gregor hin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;»Wir müssen es loszuwerden suchen«, sagte die Schwester nun ausschließlich zum Vater, denn die Mutter hörte in ihrem Husten nichts, »es bringt euch noch beide um, ich sehe es kommen. Wenn man schon so schwer arbeiten muß, wie wir alle, kann man nicht noch zu Hause diese ewige Quälerei ertragen. Ich kann es auch nicht mehr.« Und sie brach so heftig in Weinen aus, daß ihre Tränen auf das Gesicht der Mutter niederflossen, von dem sie sie mit mechanischen Handbewegungen wischte.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;»Kind«, sagte der Vater mitleidig und mit auffallendem Verständnis, »was sollen wir aber tun?«&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Die Schwester zuckte nur die Achseln zum Zeichen der Ratlosigkeit, die sie nun während des Weinens im Gegensatz zu ihrer früheren Sicherheit ergriffen hatte. »Wenn er uns verstünde«, sagte der Vater halb fragend; die Schwester schüttelte aus dem Weinen heraus heftig die Hand zum Zeichen, daß daran nicht zu denken sei. »Wenn er uns verstünde«, wiederholte der Vater und nahm durch Schließen der Augen die Überzeugung der Schwester von der Unmöglichkeit dessen in sich auf, »dann wäre vielleicht ein Übereinkommen mit ihm möglich. Aber so - «&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;»Weg muß es«, rief die Schwester, »das ist das einzige Mittel, Vater. Du mußt bloß den Gedanken loszuwerden suchen, daß es Gregor ist. Daß wir es solange geglaubt haben, das ist ja unser eigentliches Unglück. Aber wie kann es denn Gregor sein? Wenn es Gregor wäre, er hätte längst eingesehen, daß ein Zusammenleben von Menschen mit einem solchen Tier nicht möglich ist, und wäre freiwillig fortgegangen. Wir hätten dann keinen Bruder, aber könnten weiter leben und sein Andenken in Ehren halten. So aber verfolgt uns dieses Tier, vertreibt die Zimmerherren, will offenbar die ganze Wohnung einnehmen und uns auf der Gasse übernachten lassen. Sieh nur, Vater«, schrie sie plötzlich auf, »er fängt schon wieder an!« Und in einem für Gregor gänzlich unverständlichen Schrecken verließ die Schwester sogar die Mutter, stieß sich förmlich von ihrem Sessel ab, als wollte sie lieber die Mutter opfern, als in Gregors Nähe bleiben, und eilte hinter den Vater, der, lediglich durch ihr Benehmen erregt, auch aufstand und die Arme wie zum Schutze der Schwester vor ihr halb erhob.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aber Gregor fiel es doch gar nicht ein, irgend jemandem und gar seiner Schwester Angst machen zu wollen. Er hatte bloß angefangen sich umzudrehen, um in sein Zimmer zurückzuwandern, und das nahm sich allerdings auffallend aus, da er infolge seines leidenden Zustandes bei den schwierigen Umdrehungen mit seinem Kopfe nachhelfen mußte, den er hierbei viele Male hob und gegen den Boden schlug. Er hielt inne und sah sich um. Seine gute Absicht schien erkannt worden zu sein; es war nur ein augenblicklicher Schrecken gewesen. Nun sahen ihn alle schweigend und traurig an. Die Mutter lag, die Beine ausgestreckt und aneinandergedrückt, in ihrem Sessel, die Augen fielen ihr vor Ermattung fast zu; der Vater und die Schwester saßen nebeneinander, die Schwester hatte ihre Hand um des Vaters Hals gelegt. »Nun darf ich mich schon vielleicht umdrehen«, dachte Gregor und begann seine Arbeit wieder. Er konnte das Schnaufen der Anstrengung nicht unterdrücken und mußte auch hier und da ausruhen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Im übrigen drängte ihn auch niemand, es war alles ihm selbst überlassen. Als er die Umdrehung vollendet hatte, fing er sofort an, geradeaus zurückzuwandern. E staunte über die große Entfernung, die ihn von seinem Zimmer trennte, und begriff gar nicht, wie er bei seiner Schwäche vor kurze Zeit den gleichen Weg, fast ohne es zu merken, zurückgelegt hatte. Immerfort nur auf rasches Kriechen bedacht, achtete er kaum da auf, daß kein Wort, kein Ausruf seiner Familie ihn störte.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erst als er schon in der Tür war, wendete er den Kopf, nicht vollständig, denn er fühlte den Hals steif werden, immerhin sah er noch, daß sich hinter ihm nichts verändert hatte, nur die Schwester war aufgestanden. Sein letzter Blick streifte die Mutter, die nun völlig eingeschlafen war.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum war er innerhalb seines Zimmers, wurde die Tür eiligst zu gedrückt festgeriegelt und versperrt. Über den plötzlichen Lärm hinter sich erschrak Gregor so, daß ihm die Beinchen einknickten. Es war die Schwester, die sich so beeilt hatte. Aufrecht war sie schon da gestanden und hatte gewartet, leichtfüßig war sie dann vorwärtsgesprungen, Gregor hatte sie gar nicht kommen hören, und ein »Endlich!« rief sie den Eltern zu, während sie den Schlüssel im Schloß umdrehte.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;»Und jetzt?« fragte sich Gregor und sah sich im Dunkeln um. Er machte bald die Entdeckung, daß er sich nun überhaupt nicht mehr rühren konnte. Er wunderte sich darüber nicht, eher kam es ihm unnatürlich vor, daß er sich bis jetzt tatsächlich mit diesen dünnen Beinchen hatte fortbewegen können. Im übrigen fühlte er sich verhältnismäßig behaglich. Er hatte zwar Schmerzen im ganzen Leib, aber ihm war, als würden sie allmählich schwächer und schwächer und würden schließlich ganz vergehen. Den verfaulten Apfel in seinem Rücken und die entzündete Umgebung, die ganz von weichem Staub bedeckt waren, spürte er schon kaum. An seine Familie dachte er mit Rührung und Liebe zurück. Seine Meinung darüber, daß er verschwinden müsse, war womöglich noch entschiedener, als die seiner Schwester. In diesem Zustand leeren und friedlichen Nachdenkens blieb er, bis die Turmuhr die dritte Morgenstunde schlug. Den Anfang des allgemeinen Hellerwerdens draußen vor dem Fenster erlebte er noch. Dann sank sein Kopf ohne seinen Willen gänzlich nieder, und aus seinen Nüstern strömte sein letzter Atem schwach hervor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Als am frühen Morgen die Bedienerin kam - vor lauter Kraft und Eile schlug sie, wie oft man sie auch schon gebeten hatte, das zu vermeiden, alle Türen derartig zu, daß in der ganzen Wohnung von ihrem Kommen an kein ruhiger Schlaf mehr möglich war - , fand sie bei ihrem gewöhnlichen kurzen Besuch an Gregor zuerst nichts Besonderes. Sie dachte, er liege absichtlich so unbeweglich da und spiele den Beleidigten; sie traute ihm allen möglichen Verstand zu. Weil sie zufällig den langen Besen in der Hand hielt, suchte sie mit ihm Gregor von der Tür aus zu kitzeln. Als sich auch da kein Erfolg zeigte, wurde sie ärgerlich und stieß ein wenig in Gregor hinein, und erst als sie ihn ohne jeden Widerstand von seinem Platze geschoben hatte, wurde sie aufmerksam. Als sie bald den wahren Sachverhalt erkannte, machte sie große Augen, pfiff vor sich hin, hielt sich aber nicht lange auf, sondern riß die Tür des Schlafzimmers auf und rief mit lauter Stimme in das Dunkel hinein: »Sehen Sie nur mal an, es ist krepiert; da liegt es, ganz und gar krepiert!«&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Das Ehepaar Samsa saß im Ehebett aufrecht da und hatte zu tun, den Schrecken über die Bedienerin zu verwinden, ehe es dazu kam, ihre Meldung aufzufassen. Dann aber stiegen Herr und Frau Samsa, jeder auf seiner Seite, eiligst aus dem Bett, Herr Samsa warf die Decke über seine Schultern, Frau Samsa kam nur im Nachthemd hervor; so traten sie in Gregors Zimmer. Inzwischen hatte sich auch die Tür des Wohnzimmers geöffnet, in dem Grete seit dem Einzug der Zimmerherren schlief; sie war völlig angezogen, als hätte sie gar nicht geschlafen, auch ihr bleiches Gesicht schien das zu beweisen. »Tot?« sagte Frau Samsa und sah fragend zur Bedienerin auf, trotzdem sie doch alles selbst prüfen und sogar ohne Prüfung erkennen konnte. »Das will ich meinen«, sagte die Bedienerin und stieß zum Beweis Gregors Leiche mit dem Besen noch ein großes Stück seitwärts. Frau Samsa machte eine Bewegung, als wolle sie den Besen zurückhalten, tat es aber nicht. »Nun«, sagte Herr Samsa, »jetzt können wir Gott danken.« Er bekreuzte sich, und die drei Frauen folgten seinem Beispiel. Grete, die kein Auge von der Leiche wendete, sagte: »Seht nur, wie mager er war. Er hat ja auch schon so lange Zeit nichts gegessen. So wie die Speisen hereinkamen, sind sie wieder hinausgekommen.« Tatsächlich war Gregors Körper vollständig flach und trocken, man erkannte das eigentlich erst jetzt, da er nicht mehr von den Beinchen gehoben war und auch sonst nichts den Blick ablenkte.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;»Komm, Grete, auf ein Weilchen zu uns herein«, sagte Frau Samsa mit einem wehmütigen Lächeln, und Grete ging, nicht ohne nach der Leiche zurückzusehen, hinter den Eltern in das Schlafzimmer. Die Bedienerin schloß die Tür und öffnete gänzlich das Fenster. Trotz des frühen Morgens war der frischen Luft schon etwas Lauigkeit beigemischt. Es war eben schon Ende März.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aus ihrem Zimmer traten die drei Zimmerherren und sahen sich erstaunt nach ihrem Frühstück um; man hatte sie vergessen. »Wo ist das Frühstück?« fragte der mittlere der Herren mürrisch die Bedienerin. Diese aber legte den Finger an den Mund und winkte dann hastig und schweigend den Herren zu, sie möchten in Gregors Zimmer kommen. Sie kamen auch und standen dann, die Hände in den Taschen ihrer etwas abgenutzten Röckchen, in dem nun schon ganz hellen Zimmer um Gregors Leiche herum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Da öffnete sich die Tür des Schlafzimmers, und Herr Samsa erschien in seiner Livree an einem Arm seine Frau, am anderen seine Tochter. Alle waren ein wenig verweint; Grete drückte bisweilen ihr Gesicht an den Arm des Vaters. »Verlassen Sie sofort meine Wohnung!« sagte Herr Samsa und zeigte auf die Tür, ohne die Frauen von sich zu lassen. »Wie meinen Sie das?« sagte der mittlere der Herren etwas bestürzt und lächelte süßlich. Die zwei anderen hielten die Hände auf dem Rücken und rieben sie ununterbrochen aneinander, wie in freudiger Erwartung eines großen Streites, der aber für sie günstig ausfallen mußte. »Ich meine es genau so, wie ich es sage«, antwortete Herr Samsa und ging in einer Linie mit seinen zwei Begleiterinnen auf den Zimmerherrn zu. Dieser stand zuerst still da und sah zu Boden, als ob sich die Dinge in seinem Kopf zu einer neuen Ordnung zusammenstellten. »Dann gehen wir also«, sagte er dann und sah zu Herrn Samsa auf, als verlange er in einer plötzlich ihn überkommenden Demut sogar für diesen Entschluß eine neue Genehmigung. Herr Samsa nickte ihm bloß mehrmals kurz mit großen Augen zu. Daraufhin ging der Herr tatsächlich sofort mit langen Schritten ins Vorzimmer; seine beiden Freunde hatten schon ein Weilchen lang mit ganz ruhigen Händen aufgehorcht und hüpften ihm jetzt geradezu nach, wie in Angst, Herr Samsa könnte vor ihnen ins Vorzimmer eintreten und die Verbindung mit ihrem Führer stören. Im Vorzimmer nahmen alle drei die Hüte vom Kleiderrechen, zogen ihre Stöcke aus dem Stockbehälter, verbeugten sich stumm und verließen die Wohnung. In einem, wie sich zeigte, gänzlich unbegründeten Mißtrauen trat Herr Samsa mit den zwei Frauen auf den Vorplatz hinaus; an das Geländer gelehnt, sahen sie zu, wie die drei Herren zwar langsam, aber ständig die lange Treppe hinunterstiegen, in jedem Stockwerk in einer bestimmten Biegung des Treppenhauses verschwanden und nach ein paar Augenblicken wieder hervorkamen; je tiefer sie gelangten, desto mehr verlor sich das Interesse der Familie Samsa für sie, und als ihnen entgegen und dann hoch über sie hinweg ein Fleischergeselle mit der Trage auf dem Kopf in stolzer Haltung heraufstieg, verließ bald Herr Samsa mit den Frauen das Geländer, und alle kehrten, wie erleichtert, in ihre Wohnung zurück.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sie beschlossen, den heutigen Tag zum Ausruhen und Spazierengehen zu verwenden; sie hatten diese Arbeitsunterbrechung nicht nur verdient, sie brauchten sie sogar unbedingt. Und so setzten sie sich zum Tisch und schrieben drei Entschuldigungsbriefe, Herr Samsa an seine Direktion, Frau Samsa an ihren Auftraggeber, und Grete an ihren Prinzipal. Während des Schreibens kam die Bedienerin herein, um zu sagen, daß sie fortgehe, denn ihre Morgenarbeit war beendet. Die drei Schreibenden nickten zuerst bloß, ohne aufzuschauen, erst als die Bedienerin sich immer noch nicht entfernen wollte, sah man ärgerlich auf. »Nun?« fragte Herr Samsa. Die Bedienerin stand lächelnd in der Tür, als habe sie der Familie ein großes Glück zu melden, werde es aber nur dann tun, wenn sie gründlich ausgefragt werde. Die fast aufrechte kleine Straußfeder auf ihrem Hut, über die sich Herr Samsa schon während ihrer ganzen Dienstzeit ärgerte, schwankte leicht nach allen Richtungen. »Also was wollen Sie eigentlich?« fragte Frau Samsa, vor welcher die Bedienerin noch am meisten Respekt hatte. »Ja«, antwortete die Bedienerin und konnte vor freundlichem Lachen nicht gleich weiter reden, »also darüber, wie das Zeug von nebenan weggeschafft werden soll, müssen Sie sich keine Sorge machen. Es ist schon in Ordnung.« Frau Samsa und Grete beugten sich zu ihren Briefen nieder, als wollten sie weiterschreiben; Herr Samsa, welcher merkte, daß die Bedienerin nun alles ausführlich zu beschreiben anfangen wollte, wehrte dies mit ausgestreckter Hand entschieden ab. Da sie aber nicht erzählen durfte, erinnerte sie sich an die große Eile, die sie hatte, rief offenbar beleidigt: »Adjes allseits«, drehte sich wild um und verließ unter fürchterlichem Türezuschlagen die Wohnung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;»Abends wird sie entlassen«, sagte Herr Samsa, bekam aber weder von seiner Frau, noch von seiner Tochter eine Antwort, denn die Bedienerin schien ihre kaum gewonnene Ruhe wieder gestört zu haben. Sie erhoben sich, gingen zum Fenster und blieben dort, sich umschlungen haltend. Herr Samsa drehte sich in seinem Sessel nach ihnen um und beobachtete sie still ein Weilchen. Dann rief er: »Also kommt doch her. Laßt schon endlich die alten Sachen. Und nehmt auch ein wenig Rücksicht auf mich.« Gleich folgten ihm die Frauen, eilten zu ihm, liebkosten ihn und beendeten rasch ihre Briefe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dann verließen alle drei gemeinschaftlich die Wohnung, was sie schon seit Monaten nicht getan hatten, und fuhren mit der Elektrischen ins Freie vor die Stadt. Der Wagen, in dem sie allein saßen, war ganz von warmer Sonne durchschienen. Sie besprachen, bequem auf ihren Sitzen zurückgelehnt, die Aussichten für die Zukunft, und es fand sich, daß diese bei näherer Betrachtung durchaus nicht schlecht waren, denn aller drei Anstellungen waren, worüber sie einander eigentlich noch gar nicht ausgefragt hatten, überaus günstig und besonders für später vielversprechend. Die größte augenblickliche Besserung der Lage mußte sich natürlich leicht durch einen Wohnungswechsel ergeben; sie wollten nun eine kleinere und billigere, aber besser gelegene und überhaupt praktischere Wohnung nehmen, als es die jetzige, noch von Gregor ausgesuchte war.Während sie sich so unterhielten, fiel es Herrn und Frau Samsa im Anblick ihrer immer lebhafter werdenden Tochter fast gleichzeitig ein, wie sie in der letzten Zeit trotz aller Plage, die ihre Wangen bleich gemacht hatte, zu einem schönen und üppigen Mädchen aufgeblüht war. Stiller werdend und fast unbewußt durch Blicke sich verständigend, dachten sie daran, daß es nun Zeit sein werde, auch einen braven Mann für sie zu suchen. Und es war ihnen wie eine Bestätigung ihrer neuen Träume und guten Absichten, als am Ziele ihrer Fahrt die Tochter als erste sich erhob und ihren jungen Körper dehnte.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/353989214924491867-2881736455761485268?l=membacakafka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://membacakafka.blogspot.com/feeds/2881736455761485268/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=353989214924491867&amp;postID=2881736455761485268' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/2881736455761485268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/2881736455761485268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://membacakafka.blogspot.com/2007/11/teks-asli-metamorfosis-dalam-bahasa_6519.html' title='Teks Asli Metamorfosis dalam Bahasa Jerman'/><author><name>pembacakafka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15073329425967061288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-353989214924491867.post-7038599079070825982</id><published>2007-11-15T11:24:00.000-08:00</published><updated>2007-11-15T13:13:41.970-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='terjemahan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya kafka'/><title type='text'>Sinopsis "Proses"</title><content type='html'>Judul: Proses&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Judul Asli: Der Prozess (The Trail)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Penerbit: Fischer Taschen Verlag, Frankfurt am Main, 1979&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tebal: 194 halaman.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/Rzy0uvRPtvI/AAAAAAAAAAg/8641T74yI6w/s1600-h/franz+kafka+drawing.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 444px; height: 68px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/Rzy0uvRPtvI/AAAAAAAAAAg/8641T74yI6w/s400/franz+kafka+drawing.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5133176390351304434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pembuka novel ini mirip dengan novelet “Metamorfosis“ (Die Verwandlung) yakni dalam bentuk kalimat yang sedang bergerak, bukan statis:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Seseorang telah m&lt;/i&gt;&lt;i&gt;emfitnah Josef K, karena itu pada suatu pagi tanpa melakukan suatu kejahatan, dia ditangkap.&lt;/i&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dari awal pembuka kalimat seperti ini, kontan mengundang decak penasaran pembaca untuk tahu kelanjutannya. Kafka memang tidak suka memakai semacam pengantar dalam sebuah pembuka cerita. Dia langsung memilih kalimat yang menukik ke sasaran tema. Rupanya resep dari Faulkner ada benarnya, Faulkner pernah bilang, “Tulislah kalimat pertama yang indah, agar pembaca membaca kalimat berikutnya.“&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Novel ini ditulis oleh Kafka pada tahun 1914. Namun naskah yang ditulis tangan tersebut baru diterbitkan tahun 1925, setahun setelah Kafka meninggal. Max Brod adalah sahabat dekat Kafka yang mendapat beberapa testamen, agar sebagian naskah Kafka dibakar. Akan tetapi Brod mengingkari janji dengan alasan supaya karya Kafka bisa dinikmati pembaca dunia. Brod menemukan naskah ini di sebuah laci meja Kafka dengan tanpa judul. Namun sebelumnya Kafka pernah bilang Brod, kalau naskah novelnya kelak akan diberi judul “Proses.” Entah apa karena Brod merasa bersalah, belakangan ketika Brod meninggal, dikubur persis berhadap-hadapan dengan nisan Kafka di daerah Zizkov makam Yahudi di Praha.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kisah novel ini bermula dari seorang manajer bank bernama Josef K yang di suatu pagi tiba-tiba ditangkap petugas pengadilan. Josef K yang kemudian sering dipanggil K ini kebingungan. Dia merasa tak punya kesalahan, namun ditangkap dan diajukan ke pengadilan. K sendiri menyewa apartemen, dimana di situ tinggal gadis yang kerjanya sebagai juru ketik bernama Fräulein Bürstner. K menaruh bibit simpati pada Fräulein Bürstner yang banyak mengalami rintangan. Rintangan itu lebih banyak dari keraguan diri sendiri. Dalam beberapa interpretasi, Fräulein Bürstner ini identik dengan mantan tunangan Kafka sendiri yang sudah tiga kali batal kawin. Dia perempuan Yahudi asal Berlin bernama Felice Bauer. Menghayati karya Kafka perlu sebuah fantasi abstrak, disinyalir nama tokoh Fräulein Bürstner (inisial FB) sama dengan nama mantan tunangannya bernama Felice Bauer (inisial FB).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kisah selanjutnya K diajukan ke sidang. Banyak halangan untuk mencari tempat sidang. Pertama, alamatnya tidak jelas. Kedua, setelah ditemukan alamatnya, suasananya saling berkelompok. Pihak pengadilan mempunyai orang-orang yang dibayar untuk tepuk tangan dan berteriak. Akibat kepolosan K membuka tabir kebobrokan mental para petugas pengadilan yang menahan K secara paksa, petugas bernama Franz dan Wilhem dijatuhi hukuman cambuk. Kesalahan kedua petugas pengadilan itu antara lain, memakan sarapan pagi K di apartemen, juga membujuk K agar pakaian kotornya kelak diberikan ke mereka untuk dicuci, sebab di depot penjara banyak petugas mencuri pakaian tahanan. Masih di pengadilan K berkenalan dengan istri pembantu pengadilan yang sering dibopong mahasiswa jurusan hukum untuk diserahkan ke hakim ketua.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/Rzy10vRPtxI/AAAAAAAAAAw/BhleoHJDo1w/s1600-h/Kafka.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/Rzy10vRPtxI/AAAAAAAAAAw/BhleoHJDo1w/s320/Kafka.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5133177592942147346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;K sebagai manajer bank yang punya kedudukan terhormat menjadi sering murung akibat proses-nya di pengadilan yang tak kunjung diputuskan. Dia kadang menghabiskan waktu malamnya ke sebuah bar dan berkenalan dengan gadis bar bernama Elsa. Ketidaknyamanan K bertambah, ketika paman K dari desa datang ke bank. Paman itu mengajak K mencari bantuan pengacara. Di rumah pengacara, K justru kasak-kusuk dengan Leni, gadis pembantu pengacara. Pengacara itu kawan lama pamannya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sampai di sini kita lihat K telah menjalin empat perempuan berbeda, Fräulein Bürstner di apartemen, istri penjaga pengadilan, Elsa pegawai bar dan Leni, pembantu pengacara. Ke empat perempuan tersebut rata-rata sebagai pekerja sederhana, bahkan bisa dibilang rendahan. Padahal K sendiri seorang manajer bank. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tak sampai di situ usaha K. Dia juga diperkenalkan oleh klinnya di bank pada seorang pelukis bernama Titorelli. Pelukis ini punya hubungan dekat dengan para pegawai pengadilan. Utamanya dia sering melukis wajah hakim ketua. Titorelli adalah pelukis foto dari para pegawai pengadilan. Pekerjaan ini warisan dari ayahnya dulu, sehingga tak mungkin diganti oleh pelukis lain. Dari usaha ke usaha yang tampak konyol serta penuh rintangan, tetap tak membuahkan hasil gemilang. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Suatu hari K di bank mendapat tugas mengantar seorang parner bisnis orang Italia ke sebuah katedral. K bisa berbahasa Italia, tapi tidak begitu lancar. Sebab itu di tangannya dia bawa kamus dan brosur tentang wisata kota. Di katedral, ternyata parner bisnis bank dari Italia ini tidak datang. Apa yang K lakukan? K bertemu dengan pendeta katedral. Uniknya pendeta itu kenal nama K. Dia sering ditugaskan ke penjara dan pernah melihat K. Dialog antara pendeta dan K sangat sarat muatan psikologi. Mendekati akhir cerita, ternyata terselip sebuah cerpen Kafka yang berjudul “Di Depan Hukum” (Vor Dem Gesetz). Cerpen tersebut muncul secara utuh dan dijabarkan panjang lebar dalam dialog antara K dan pendeta. Apakah K akhirnya akan lolos dari jeratan hukum atau masuk bui? Baca dulu novelnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/353989214924491867-7038599079070825982?l=membacakafka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://membacakafka.blogspot.com/feeds/7038599079070825982/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=353989214924491867&amp;postID=7038599079070825982' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/7038599079070825982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/7038599079070825982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://membacakafka.blogspot.com/2007/11/sinopsis-proses.html' title='Sinopsis &quot;Proses&quot;'/><author><name>pembacakafka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15073329425967061288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_DzRX3ifrW4I/Rzy0uvRPtvI/AAAAAAAAAAg/8641T74yI6w/s72-c/franz+kafka+drawing.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-353989214924491867.post-6254025026864394078</id><published>2007-11-15T11:13:00.001-08:00</published><updated>2007-11-15T11:24:05.659-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai'/><title type='text'>Menelusuri Dunia Kafka</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="font-style: italic;"&gt;"&lt;/i&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bacalah beberapa kalimat dari karya Kafka, nanti akan ditemukan nafas, corak, dan keindahan yang tidak pernah didapatkan pada gaya penulisan orang lain. Kafka selalu bekerja tanpa rencana,“ &lt;/span&gt;kata Max Brod suatu kali.  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pendapat Brod di atas ditepis oleh Susan Sontag, sastrawati dan kritikus sastra Amerika yang menulis esai terkenal pada tahun 1964 dengan judul &lt;i&gt;“Against Interpretation.“&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Sontag menuduh karya Kafka telah menjadi sebuah penindasan massa&lt;i&gt;.&lt;/i&gt; Ada dua hal, &lt;i&gt;pertama&lt;/i&gt; penindasan massa itu bisa berhasil dan karyanya tak bisa dihindarkan, berkembang dan mengalir serta dibiarkan menyebar ke seluruh dunia. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, memang benar berhubungan dengan karya Kafka membuat kejemuan yang serius. Orang akan menganggap karyanya sebagai penyakit kejiwaan dan frustrasi terhadap birokrasi modern. Penulis Yahudi kelahiran Praha tanggal 3 Juli 1883 ini tergolong penulis yang mengerahkan sumber fantasinya berdasarkan potret kepribadian diri sendiri. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kafka termasuk anak tertua dari enam bersaudara. Dua adik laki-lakinya meninggal pada usia muda. Kemudian lahir tiga adik perempuannya: Elli (1889), Valli (1890) dan Ottla (1892). Kafka dibesarkan dari keluarga pengusaha kaya. Di rumahnya terdapat dua pembantu yang mengurus dapur dan anak-anak. Orang tuanya punya banyak toko yang menjadi pertanda bahwa usaha orang tuanya berhasil. Namun justru dalam kondisi seperti itu Kafka muda sangat tertekan. Dia satu-satunya anak laki-laki yang sepenuhnya dicadangkan untuk meneruskan usaha orang tuanya. Kehidupan hiruk pikuk keluarga, usaha pertokoan, dan kehidupan kota membuat Kafka menderita dan mengalami kehidupan yang terbatas. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Belakangan ketika berusia 36 tahun, tepatnya tahun 1919, dia tuangkan ketertekanannya itu dalam bentuk surat yang ditujukan kepada ayahnya. Anehnya surat-surat itu tak pernah sampai ke tangan ayahnya. Kumpulan surat itu kemudian diterbitkan dalam bentuk buku berjudul &lt;i&gt;"Surat untuk Ayah" &lt;/i&gt; (Brief an den Vater). Buku itu bercerita betapa sulitnya seorang anak yang sensitif hidup dalam kekuasaan ayah yang diktatoris dan kokoh pendirian. Namun sebaliknya ibunya sentimental dan penuh kasih sayang. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kafka belajar di Universitas Karl di Praha. Ia mengambil jurusan hukum bidang jurisprudensi. Mata kuliah lain yang dia ambil antara lain sastra Jerman, sejarah seni dan filsafat. Pada masa itu dia mulai berkenalan dengan Oskar Pollak, Hugo Bergmann dan Max Brod. Beberapa surat untuk teman-temannya sering dirasakan terkandung nilai puitis. Pernah dia menulis puisi, tapi dibatalkannya sendiri. Kafka muda pernah berminat mengamati bidang politik dan sosial. Dalam sebuah suratnya kepada Oskar Pollak, Kafka menyatakan bersimpati pada aksi protes yang dilancarkan Pollak untuk menuntut hak-hak sosial kaum pekerja dagang. Di warung kopi Louvre, Kafka bersama kawan-kawannya Max Brod, Hugo Bergmann dan Felix Weltsch membahas ajaran filosof Franz Brentano yang sangat berpengaruh di Praha waktu itu. Kafka juga membaca buku-buku Nietzsche, namun dia lebih intensif mempelajari filsafat Kierkegaard. Dalam berbagai diskusi, ketika masih menjadi mahasiswa, dia sering tampak pendiam. Di depan Brod dia membaca karya-karya Gustave Flaubert kadang sambil tertawa dan juga menangis. Bahkan pada bulan Januari 1904 di dalam kereta api dia membaca buku harian Friedrich Hebbel setebal 1800 halaman hingga selesai. Setelah meraih gelar doktor ilmu hukum, Kafka bekerja pada sebuah kantor asuransi, Assicurazioni Generali. Di kantor perwakilan asuransi ini, Kafka sebagai pegawai tidak tetap bertugas pada bagian asuransi jiwa. Gajinya 80 Krone per bulan dengan jam kerja antara 08.00-12.00 dan 14.00-18.00. Serta masih ditambah lagi dengan kerja lembur yang tidak dibayar. Liburan hanya diberikan selama tujuh hari setahun. Di tempat kerja itu Kafka sudah mulai tidak kerasan karena tak ada waktu lagi bagi dirinya untuk menulis. Kafka akhirnya keluar dari kantor itu. Pada tahun 1908 Kafka mulai bekerja di kantor Asuransi Kecelakaan Tenaga Kerja&lt;b&gt; &lt;/b&gt; (Der Arbeiter-Unfall-Versicherung-Anstalt) sebagai tenaga pembantu. Namun dibandingkan dengan tempat kerja yang lama, tempat baru ini jauh lebih baik. Jam kerjanya adalah 08.00-14.00 tanpa istirahat, sehingga dengan sisa waktu setengah hari itu memungkinkan dirinya untuk bisa menulis. Menurut keterangan dokter saat memulai pekerjaan barunya, Kafka mempunyai berat badan 61 kg dan tinggi 182 cm. Pada tahun 1910 Kafka mendapat tugas sebagai konseptor. Karena prestasinya baik, dua tahun kemudian dia diangkat sebagai sekretaris. Pada tahun 1922 kedudukan terakhir Kafka sebagai kepala sekretaris. Pada tanggal 1 Juli 1922 Kafka resmi mengajukan pensiun muda karena alasan kesehatan. Dari kantornya Kafka mendapat penghargaan atas prestasinya yang berbunyi,&lt;i&gt; "Dr. Kafka seorang pekerja yang sangat rajin dengan penuh bakat dan loyalitas, juga hubungannya dengan sesama kawan kerja dan atasannya selalu baik".&lt;/i&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Buku Harian dan Terowongan Gelap&lt;/b&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kapan sebenarnya Kafka mulai menuliskan karyanya dengan intensif? Bukankah dia selalu disibukkan dengan pekerjaan di kantor asuransi? Ketika Kafka belum menerbitkan satu karya pun, kawan-kawan lainnya seperti, Brod, Musil, Wiegler atau Baum sudah menerbitkan buku mereka.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Rentang waktu 14 tahun (1908-1922), mulai dari Kafka bekerja separuh hari hingga memasuki masa pensiunnya, merupakan masa paling produktif bagi Kafka untuk menulis. Pada bulan Maret 1908 dia menulis delapan buah prosa pendek dengan judul &lt;i&gt;"Meditasi" &lt;/i&gt; (Betrachtung). Tahun berikutnya disusul karya prosa pendek lain berjudul &lt;i&gt;"Percakapan dengan Orang Berdoa"&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt; (Gespräch mit dem Beter), &lt;i&gt;"Percakapan dengan Pemabuk"&lt;/i&gt; (Gespräch mit dem Betrunkenen), &lt;i&gt;"Koloni Hukuman" &lt;/i&gt; (Strafkolonie), &lt;i&gt;"Gambaran Sebuah Perlawanan"&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Beschreibung eines Kampfes), serta &lt;i&gt;"Persiapan Perkawinan di Desa“&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Hochzeitsvorbereitungen auf dem Lande). &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Brod mengagumi karya Kafka yang berbentuk puisi-prosa itu. Sebaliknya Franz Werfel mengejek,&lt;i&gt;"Karya Kafka tradisional dan bersifat lokal Praha saja, tak ada orang yang mengerti karya Kafka"&lt;/i&gt;. Penerbit Weber dari München yang melontarkan kritik pedas pada karya Kafka di hampir seluruh koran di Bohemia membuat Kafka murung. Gaya tulisan Kafka menjadi sebuah fenomena baru yang ramai diperguncingkan. Terbukti Wiegler, redaktur koran sastra dari Berlin yang sudah lama mengagumi Kafka, sengaja datang ke Praha untuk menerbitkan ulang karya &lt;i&gt;"Meditasi" &lt;/i&gt; (Betrachtung). Disamping itu juga karya-karya lain seperti &lt;i&gt;"Renungan bagi Tuan Penunggang Kuda"&lt;/i&gt; (Zum Nachdenken für Herrenreiter), juga &lt;i&gt;"Pesawat Terbang dari Brescia" &lt;/i&gt; (Die Aeroplane von Brescia). Karya terakhir itu terilhami oleh Kafka ketika dia, Brod serta Otto mengunjungi Südtirol. Ketika itu Kafka punya keinginan untuk menengok sebentar pameran pesawat terbang di Brescia. Sosok Kafka sering merendahkan diri, apalah artinya prestasi karya sastra seorang pegawai asuransi. Sehingga, ketika banyak berceramah antara tahun 1908 hingga 1911, dia tidak terus terang menggunakan nama dirinya. Setelah banyak saksi meyakinkannya, akhirnya Kafka sendiri mau mengakui kalau karya-karya itu miliknya. Sejak itu dia makin kewalahan dengan banyaknya permintaan ceramah, terbukti dalam catatan hariannya tahun 1910, permintaan ceramah telah lima kali lebih banyak dari biasanya. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kafka sering merobek-robek naskah. Mungkin dia merasa bimbang terus-menerus. Kumpulan prosa pendeknya berjudul &lt;i&gt;"Keputusan"&lt;/i&gt; (Das Urteil), ditulis oleh Kafka di kereta api dari pukul sepuluh malam hingga pukul enam pagi. Dia suka menulis di malam hari. Baginya matahari mengganggu. Pada tahun 1911/1912 naskah novel &lt;i&gt;"Amerika“&lt;/i&gt; telah dimusnahkannya. Kafka secara jujur mengakui sumber gagasan penulisannya sebenarnya banyak berasal dari buku harian. Pada buku hariannya bulan Desember 1910 tertulis,&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"Aku tak akan pernah lagi melepaskan buku harian, aku harus pegang teguh, hanya dengan inilah aku bisa menulis".&lt;/i&gt; Pada buku hariannya bulan Februari 1911 dengan judul tulisan &lt;i&gt;"Kehidupan Mendua yang Mengerikan"&lt;/i&gt;, dia ungkapkan persaingan antara pekerjaan dan keharusan menulis sebagai kebutuhan pribadi. Mungkin hanya melalui tulisan inspiratif yang dapat membuat Kafka bahagia. Buku harian telah memenuhi kebutuhan dirinya. Kafka mulai mengurangi menulis cerita pendek, tapi ceritanya tetap penuh dengan makna simbolis. Dia selalu menonjolkan tema utama: ketidakberdayaan, kesepian, keasingan serta tidak adanya jalan keluar.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"Metamorfosa“&lt;/i&gt; (Die Verwandlung) adalah karya Kafka yang paling banyak mendapat porsi bahasan dari berbagai disiplin ilmu. Vladimir Nabakov, penulis novel &lt;i&gt;"Lolita“,&lt;/i&gt; menganalisis dengan intensif. Dia mengatakan, &lt;i&gt;"Barang siapa melihat `Metamorfosa` lebih dari sekedar fantasi ilmu serangga, aku anggap pembaca itu telah berhasil.“&lt;/i&gt; Sementara itu Gustav Janouch dalam bukunya &lt;i&gt;"Percakapan dengan Kafka“ &lt;/i&gt; (Gespräch mit Kafka) membandingkan nama K-A-F-K-A identik dengan  S-A-M-S-A. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Nama-nama tokoh protagonis novel Kafka sering mempunyai arti simbolis. Kalimat pembuka pada &lt;i&gt;“Metamorfosa“ &lt;/i&gt; sangat legendaris &lt;i&gt;“Ketika Gregor Samsa suatu  pagi bangun dari mimpinya yang menakutkan, didapatkan tubuhnya di tempat tidur sudah berubah menjadi kumbang raksasa.“&lt;/i&gt; Gabriel Garcia Marquez mengaku sejak berusia 19 tahun ia sudah hafal di luar kepala kalimat pembuka itu. Tak hanya pada &lt;i&gt;"Metamorfosa“&lt;/i&gt; saja, hampir pada semua prosanya dan ketiga novelnya juga, Kafka memilih kalimat pembuka dalam keadaan bergerak (Moving). Mungkin Kafka tidak mau bertele-tele memulai sebuah cerita, namun langsung menukik ke permasalahan utama. Trilogi novel Kafka berjudul &lt;i&gt;"Amerika“&lt;/i&gt;(Amerika)&lt;i&gt;, "Proses“ &lt;/i&gt; (Der Prozess) serta &lt;i&gt;"Puri“&lt;/i&gt;(Der Schloss) juga mendapat banyak respons positif dari masyarakat luas. Menelusuri proses kreatifnya, Kafka mengungkapkan,&lt;i&gt;"Ibarat seorang penumpang kereta api mendapat musibah di terowongan gelap. Benar-benar pada posisi di mana orang tak melihat lampu awal. Sedangkan lampu akhir ada, tapi kecil. Noda dunia yang tampak dilihat mata harus selalu dicari terus menerus. Dan makin hilang, sehingga tidak yakin lagi awal dan akhir.“ &lt;/i&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Italo Calvino dalam bukunya &lt;i&gt;"The Uses of Literature“ &lt;/i&gt; menyebutkan nama Kafka telah menjadi ikon sastra resmi dengan menetapkannya sebagai kata sifat&lt;u&gt; &lt;/u&gt; &lt;i&gt;"Kafkais“&lt;/i&gt;(Kafkaesque). Selain itu Peter U. Beicken, seorang peneliti karya Kafka dari Universitas Princeton, menyebutkan,&lt;i&gt; "Jarang orang bertanya tentang seni Kafka .... Kafka tidak membahas tentang masalah agama, metafisik atau moral, melainkan kepenyairan .... Kafka tidak mengajarkan kita teologi maupun filosofi, melainkan satu-satunya adalah ia sebagai penyair. Bahwa kepenyairannya yang gemilang, yang sekarang telah menjadi mode dan banyak dibaca orang bukanlah bakat dan bukan diminati demi menerima kepenyairannya. Dia tidak bersalah“.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebaliknya Martin Walser, tahun 1953 dalam sebuah diskusi Gruppe 47 di Jerman mengatakan, &lt;i&gt;"Kafka adalah figur yang berbahaya".&lt;/i&gt; Pengkritik lainnya berkata,&lt;i&gt;"Dari pada membaca karya Kafka, lebih baik aku membaca diri Kafka".&lt;/i&gt; Dalam memperingati seabad kelahiran Kafka (1883-1983), Marcel Reich-Ranicki, kritikus sastra Jerman berpendapat,&lt;i&gt;"Karya Kafka adalah penggambaran sebuah perlawanan terhadap rasa takut: takut akan penghinaan dan ketidakmandirian; takut akan siksaan dan kekejaman; takut akan ayahnya dan keluarganya; takut akan kelemahan dan impoten; takut karena tidak memiliki tanah air dan perkumpulan; takut akan nasib bangsa Yahudi serta takut akan kematian dan juga kehidupan.&lt;/i&gt; Ranicki menyitir pengakuan Kafka,&lt;i&gt;"Kalau aku menulis, aku merasa terobek, tidak tenang dan takut."&lt;/i&gt; Oleh karena itu amat sulit menemukan seorang sastrawan dalam sejarah sastra dunia yang cenderung bisa melebihi egosentriknya. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kafka pernah menyinggung tentang kerja misionaris di Jawa. Pada buku hariannya tertanggal 10 Juli 1912 dia membaca koran &lt;i&gt;"Misionaris Evangelis“ &lt;/i&gt; edisi bulan Juli 1912. Lalu dia mengatakan,&lt;i&gt;"Begitu banyak juga yang menentang misionaris yang bertugas sebagai dokter karena bukan ahlinya.“&lt;/i&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Gagal Bercinta&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sastrawan beraliran ekspresionis awal atau surrealis ini dalam hidupnya hampir sepi dari dunia wanita. Bahkan bisa dibilang dia nyaris gagal bercinta. Para mantan pacarnya atau calon istrinya kabur. Felice Bauer, penulis steno dari Berlin berusia 24 tahun sempat menjadi tunangan Kafka. Ia mengalami dua kali batal menikah menjelang saat perkawinannya. Felice beranggapan hidup bersama dalam satu rumah adalah sesuatu yang mengerikan bagi Kafka. Sejak awal sudah tampak hubungan yang rumit. Meskipun Ranicki menilai sepertinya tak terbukti kalau Kafka impoten. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Milena pernah berkirim surat kepada Brod, &lt;i&gt;"Kafka dapat tenang di sampingku, dia dalam beberapa hari ini sudah kehilangan rasa takutnya. Kita tahu bila Kafka tidak impoten, tapi ketakutan akan impoten selalu membayangi dan mempengaruhinya".&lt;/i&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ketika Kafka terserang penyakit tebece, ia dibawa oleh adiknya, Ottla, berobat ke Meran pada akhir bulan Juli 1920. Dalam perjalanan pulang mereka mampir ke rumah Milena di Wina. Milena Jesenska adalah aktivis kiri dan istri seorang dokter, Ernst Polak. Namun pasangan ini tidak harmonis. Milena merasa senang menerjemahkan karya Kafka berjudul &lt;i&gt;"Juru Api"&lt;/i&gt; (Heizer) ke dalam bahasa Ceko. Surat menyurat terus dilakukan oleh keduanya. Surat-suratnya diibaratkan Kafka bagaikan api yang menyala-nyala. Namun ketika lama tak dapat balasan Kafka menuliskan,&lt;i&gt; "Aku mengharapkan dua hal. Tetap kamu diam, artinya `tak ada masalah, aku baik-baik` atau menulis beberapa baris kalimat.“ &lt;/i&gt; Surat-surat Kafka kepada Milena diterbitkan dengan judul &lt;i&gt;“Surat untuk Milena“&lt;/i&gt; (Brief an Milena)&lt;i&gt;. &lt;/i&gt; Ketidakmampuan Kafka menjalin hubungan dengan wanita telah menghasilkan sebuah aporisme yang terkenal &lt;i&gt;“Cinta itu ibarat mobil, ia tidaklah terlalu rumit. Yang menjadi persoalan hanyalah sopir, penumpang serta jalannya“.&lt;/i&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Setahun menjelang ajalnya, Kafka menikah dengan Dora Diamant, wanita Yahudi berusia 20 tahun. Harapan Kafka untuk hidup sudah tipis dan kematian sudah menunggu. Kafka tak lagi dibawa kembali ke Praha. Dia diurus oleh Dora dan beberapa ahli medis serta dokter untuk menyelamatkan jiwanya. Berkat kepandaian team medis itu Kafka masih bisa bertahan hidup sampai tiga bulan kemudian. Pada tanggal 3 Juni 1924 Kafka meninggal dunia dalam usia 41 tahun. Dan pada tanggal 11 Juni 1924 mayatnya dikebumikan di kuburan umum Yahudi di Praha. Belakangan ketika Brod meninggal dimakamkan persis berhadapan dengan makam Kafka. Sebuah pertanyaan yang sering muncul di kalangan pengagum Kafka adalah mengapa Kafka membuat dua kali testamen kepada sahabat karibnya Brod agar Brod membakar karyanya. Dalam testamen pertama, hanya karyanya yang ditulis tangan yang diminta dibakar. Sedangkan dalam testamen kedua ia menyuruh Brod memusnahkan karyanya yang sudah dicetak kecuali yang berjudul &lt;i&gt;"Meditasi“ &lt;/i&gt; (Betrachtung). Belum ada data kongkret mengenai motif permintaan pembakaran ini. Namun dari karakter Kafka bisa dimungkinkan karena dia seorang penulis bertipe perfeksionis dan tak yakin diri. Akan tetapi Brod mengingkari janjinya. Brod justru menerbitkan semua karya Kafka termasuk yang belum selesai. Meskipun Brod akhirnya harus mengalah karena ia dicurigai istri Kafka melakukan itu untuk tujuan tertentu, bukankah akhirnya Doralah sebagai ahli waris resmi? Alasan Brod menerbitkan karya Kafka semata-mata agar karya Kafka bisa diselamatkan dan diketahui pembaca yang lebih luas lagi. (Sigit Susanto)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/353989214924491867-6254025026864394078?l=membacakafka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://membacakafka.blogspot.com/feeds/6254025026864394078/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=353989214924491867&amp;postID=6254025026864394078' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/6254025026864394078'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/353989214924491867/posts/default/6254025026864394078'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://membacakafka.blogspot.com/2007/11/menelusuri-dunia-kafka.html' title='Menelusuri Dunia Kafka'/><author><name>pembacakafka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15073329425967061288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
