Kamis, 13 Desember 2012

Bagaimana Kafka Menutup Sebuah Cerita


 

Ketika Franz Kafka beristirahat karena penyakit tuberkulosis (TBC) di pantai Ostsee, ia bertemu gadis bernama Dora Diamant yang sedang mengasuh anak-anak. Dari pertemuan tersebut, mereka saling jatuh cinta dan bersepakat akan hidup bersama di Berlin.



Di Berlin Kafka dan Dora Diamant berjalan-jalan di sebuah taman. Di situ ada anak kecil yang sedang menangis karena kehilangan bonekanya. Anak kecil itu bernama Katharina dengan panggilan Katja. Sedang boneka yang hilang itu bernama Mia.



Bocah berusia enam atau tujuh tahun ini tampak gusar, karena bonekanya dicari ke sana kemari tak ditemukan. Melihat kejadian itu, secara spontan Kafka berlutut di depan bocah itu sembari berfantasi, “Aku tahu di mana boneka itu berada. Boneka itu mengirim surat kepadaku lewat pos kemarin. Tulisannya agak sulit dibaca. Jika kamu mau, besok suratnya kukasihkan kamu di sini.“



Di luar dugaan, gadis kecil itu berhenti menangis dan mulai percaya apa yang dikatakan Kafka. Sejak itu Kafka meluangkan waktu selama empat minggu untuk melanjutkan fantasinya sendiri menulis surat imajiner. Isi surat itu disebutkan,

... boneka Mia itu dari taman berjalan menuju ke stasiun. Di stasiun kereta api, dia tak punya uang. Untungnya ada anak muda yang menolong membelikan tiket kereta api. Mia akhirnya berada di pantai selama beberapa hari. Namun di pantai pun ia anggap membosankan. Si Mia ingin pergi ke seberang samudra. Datanglah sebuah kapal dan ia naik kapal pada waktu malam. Mia inginnya akan pergi ke Amerika. Sayangnya, kapalnya hanya mendarat sampai di Afrika.



Begitulah isi tiga pucuk surat tentang petualangan si Mia hingga berlabuh di Afrika. Kafka lagi-lagi berada di taman menunggu bocah Katja yang baru pulang dari sekolah. Ia masih belum bisa baca tulisan. Namun Kafka menuliskan,

...Mia juga senang bepergian, namun nanti pada perayaan natal ia ingin pulang.



Setelah surat yang kesekian kali, Kafka mulai sibuk menulis tema lain, seperti buku harian, surat untuk Max Brod, novel dan coret-coretan lain, itu terjadi tahun 1923 di Berlin.



Katja merespon atas surat-surat itu kepada Kafka,...

....jika Mia lebih suka tinggal di Afrika, lalu bagaimana?



Kafka menjawab,

...Mia telah jatuh cinta dengan seorang pangeran di Afrika yang tempatnya sangat jauh. Tak apa, selama mereka saling bahagia.



Katja tanya lagi:

...apakah dia lebih mencintai pangerannya atau aku?



Katja setengah ragu untuk mengetahui kebenarannya, bersamaan dengan itu ia mulai meneteskan air mata. Perlahan-lahan ia sudah mulai menurut, ia ikut terlibat emosi, toh di Afrika juga ada pangeran.



Beberapa hari kemudian, kisah detil ini tetap diingat oleh Katja. Kafka melanjutkan suratnya yang menyebut,

.....bahwa si Mia selama 24 jam berpikir keras dan diputuskan akan kawin dengan pangeran Afrika.



Bagaimana menutup kisah boneka imajiner ini?

Terjadi dua perbedaan pandangan, antara Kafka dan Dora.

Dora menghendaki, agar cerita surat ini lekas selesai,

maka lebih baik beli saja boneka baru dan diberikan ke Katja sambil dijelaskan bahwa sekarang Mia sudah berubah menjadi tua, karena perjalanan panjangnya, tapi tetap bernama Mia.



Kafka sebaliknya, ia ingin dalam menutup kisah ini ada sebuah pembelajaran, maka Kafka menulis surat penutup,

....aku sangat bahagia. Seandainya aku saat ikut Katja dulu diurus dengan lebih baik, tak mungkin aku akan berkenalan dengan pangeran, tapi hikmahnya baik juga, kalau kamu (Katja) tidak merawatku dengan hati-hati atau sebaiknya tidak?





Dengan kata lain Kafka akan bilang secara paralel dengan kehidupan pribadinya,...jika aku beberapa tahun sebelumnya tak terserang tuberkulosis (TBC), kemungkinan besar sekarang aku tidak berada di Berlin bersamamu (Dora). Itu hikmahnya, bahwa tuberkulosis (TBC) atau sebaiknya tidak?



(Sigit Susanto)



(Sumber: Michael Kumpfmüller: Die Herrlichkeit des Lebens, hal:100, 101,102,103)




Jumat, 14 September 2012

Kumpulan Cerita-Cerita: Pandangan Keluar yang Terkoyak

Apa yang harus kita lakukan pada hari musim semi ini,  yang sekarang hendak cepat datang? Pagi sekali langit kelabu, namun ada orang mendekat ke jendela, kemudian dia kaget dan menyandarkan pipinya pada gagang jendela.

Di bawah sana ia melihat cahaya matahari telah merunduk pada wajah seorang gadis yang masih kekanak-kanakan, begitulah selanjutnya dan melihat-lihat dan segera saja orang itu memandang bayangan seorang lelaki datang di belakanganya lebih cepat.

Kemudian lelaki itu setelah berlenggang dan wajah gadis itu benar-benar terang.

 

Judul asli: Zerstreutes Hinausschaun
Sumber.Franz Kafka, Sämtliche Erzählungen

Minggu, 19 Agustus 2012

Kumpulan Cerita-Cerita: 26. Fabel Kecil

26. Fabel Kecil
"Ah," kata tikus, "dunia ini setiap hari semakin menciut. awalnya begitu luas, bahwa aku takut, aku jalan terus dan bahagia, akhirnya tampak di kejauhan tembok di kanan-kiri, tapi tembok panjang itu begitu lekas menutup, hingga aku berada di ruangan terakhir dan di situ di pojok yang aku lalui ada perangkap." "Kamu harus mengubah arah jalan," kata kucing dan memangsanya.


Judul Asli: Kleine Fabel
III. Cerita-Cerita dari karya warisan
(Sumber: Franz Kafka - Sämtliche Erzählungen)

Kumpulan Cerita-Cerita: Pohon-Pohon

Pohon-Pohon

Kemudian kita ini seperti batang-batang pohon di salju. Tampak tergeletak mengkilat dan dengan dorongan sedikit saja orang sudah bisa menggulingkannya. Bukan, orang tak bisa melakukan, karena batang-batang itu tersangkut kuat dengan tanah. Tapi tampaknya, bahkan ya hanya seperti itu.

*Judul Asli: Di Bäume
I. Buku yang sudah diterbitkan oleh penulis.
(Sumber: Franz Kafka: Sämliche Erzählungen)
***


Kumpulan Cerita-Cerita: Desa Berikutnya

Desa Berikutnya

Kakekku berkepentingan menasihati: “Hidup ini anehnya pendek. Sekarang segera perlu diingat untukku cepat-cepat mengemas bersama bahwa pada hal yang jarang dipahami misalnya, bagaimana anak muda memutuskan naik kuda hingga mencapai desa berikutnya, tanpa rasa takut dari ramalan-ramalan kecelakaan yang berbahaya – kehidupan telah berlalu dengan mulus, sehingga naik kuda ke tempat jauh seperti itu tak kesampaian.“

*Judul Asli: Das nächste Dorf
I. Buku yang sudah diterbitkan oleh penulis.
(Sumber: Franz Kafka – Sämliche Erzählungen)

Surat Kafka Kepada Oskar

Surat Kafka Kepada Oskar


Sebuah buku harus seperti kapak untuk membelah lautan beku dalam diri kita.

(27 Januari 1904)


Oskar yang budiman!
Kamu telah mengirim aku sebuah surat tentang cinta: yang mungkin langsung dibalas atau sama sekali tak akan dibalas, dan sekarang 14 hari telah berlalu, tanpa aku membalas ke kamu, tentu saja itu tak bisa dimaafkan, namun aku punya alasan. Pertama aku akan merenungkan dengan baik untuk membalas surat kepada kamu, karena bagiku jawaban surat ini nanti lebih penting dari surat lain untukmu – (sayangnya tak terjadi); dan alasan kedua, karena aku telah membaca buku harian dari Hebbel (1800 halaman) di dalam kereta api, sebab dulu aku hanya menonton beberapa drama pendek dari Hebbel, yang tak kusukai. Meskipun begitu aku memulai dari awal lagi yang terkait dengan seluruh permainannya, hingga aku punya keberanian seperti seorang penghuni gua, yang pertama sebuah lelucon dan terhimpit di batu-batu sebuah gua, namun batu-batu gua itu menjadikan gelap yang terisolasi dari udara, kekusaman itu mencuat dan timbul rasa aneh untuk menggeser batunya. Tapi sekarang daya tegangnya 10 kali lebih, sebelum pijar dan udara datang lagi. Aku tak membawa pena di tangan ketika hari ini orang meratapi sebuah kehidupan, yang tanpa celah lagi dan menanjak lebih tinggi lagi, tinggi sehingga orang jarang mampu menjangkau dengan lensa jarak jauh, tentu saja tak akan menenangkan. Tapi itu bagus, jika orang mendapatkan luka menganga, sehingga akan menjadi perasa pada setiap gigitan. Aku percaya, orang harus membaca buku sejenis seperti itu yang bisa menggigit dan menyusup. Jika sebuah buku yang kita baca tak membangkitkan pukulan tajam kepada sandaran kita, untuk apa buku jenis itu dibaca? Hanya kerana agar bisa merasa bahagia seperti yang kamu tulis? Ya. Tuhan, kebahagiaan itu juga ada walaupun kita tak punya buku dan buku yang bisa membuat kita bahagia bisa ditulis secara mendadak saja. Tapi kita perlu buku-buku yang membangkitkan kita sebuah rasa tidak bahagia, yang menyayat kita, yang seperti sebuah kematian terhadap orang lain yang lebih kita cintai dari pada diri sendiri, seperti orang yang terlempar ke belantara, enyah dari keramaian manusia, mirip bunuh diri, sebuah buku harus seperti kapak yang membelah kebekuan lautan pada diri kita. Itu yang kupikirkan.
Tapi kamu toh bahagia, suratmu formal sekali, kupikir kamu dulu memaknai dengan buruk terhadap ketidakbahagiaan, padahal itu alami adanya, di bawah keteduhan tak ada cahaya. Namun aku ikut bersalah di dalam kebahagiaanmu, kamu pikir tidak. Paling tidak: seorang yang bijak, akan menularkan kebijakannya yang dimiliki yang datangnya bersama dengan ketololan dan akan berputar sendiri, tapi tampaknya masalahnya akan menjauh. Sekarang pembicaraan sudah selesai dan ketololan itu akan pulang ke rumah, kan ia tinggalnya di pagupon merpati. Untuknya apa yang menempel di leher, tercium dan teriak: terima kasih, terima kasih, terima kasih, kenapa? Ketololan dari yang tolol begitu besar dari yang ditunjukkan daripada kebijakan yang bijak.
Begitulah dariku, sepertinya aku melakukan dengan tidak adil kepadamu dan aku harus minta maaf. Tapi aku tahu tak ada ketidakadilan.

Frans Kamu


*Diterjemahkan oleh: Sigit Susanto.

Kamis, 25 Agustus 2011

Komentar Nabokov tentang Metamorfosis




“Siapa melihat sesuatu yang lebih terhadap karya Kafka `Metamorfosis` dari sekadar sebuah fantasi serangga, saya menyambutnya sebagai pembaca yang benar pada deretan yang bagus.“

(Vladimir Nabokov)

Judul: Die Verwandlung – Franz Kafka
Mit einem Kommentar von Vladimir Nabokov
(Metamorfosis – Franz Kafka dengan sebuah komentar dari Vladimir Nabokov)
Penerbit: Fischer, 1991.
Tebal: 107 Halaman.

Nabokov penulis novel terkenal Lolita, mencoba menelaah novelet Metamorfosis dari Franz Kafka. Nabokov sebutkan, ia hendak menganalisis antara fantasi dan realitas serta hubungan perubahannya. Sebagai pembanding ia pakai dua karya lain, yakni; Mantel (Der Mantel) karya Gogol dan Dr.Jekyll dan Mr. Hyde karya Robert Louis Stevenson.

Tegas Nabokov, “Siapa melihat sesuatu yang lebih terhadap karya Kafka `Metamorfosis` dari sekadar fantasi serangga, saya menyambutnya sebagai pembaca yang benar pada deretan yang bagus.“

Antara Mantel, Dr. Jekyll dan Mr. Hyde dan Metamorfosis, ketiganya sebagai cerita yang fantastis. Dari sudut pandangku bahwa setiap karya seni yang menonjol berasal dari sebuah fantasi, sebagai satu-satunya dunia yang bisa dilihat ulang oleh manusia. Apakah orang akan menganggapnya ketiga cerita itu fantastis, akankah orang mengatakan sampai sebatas itu saja, sedang penggambarannya sebagai dunia yang melantur, apakah yang lazim dianggap oleh orang sebagai realitas dan kenyataan. Sebab itu kita akan menelaah apakah realitas itu, sejauh mana takarannya berbeda dengan fantasi.

Kita ambil contoh ada tiga lelaki yang sedang berjalan melewati sebuah ladang yang sama. Lelaki pertama, warga kota yang sedang liburan, lelaki kedua, seorang ahli biologi dan lelaki ketiga, seorang petani lokal tulen.

1.Lelaki pertama, seorang realis dan serba teknis. Ia memiliki 5 kategori. Baginya, pepohonan adalah pepohonan, seperti yang ia lihat dari buku panduan wisata di sepanjang jalan, ada jalan yang menuju ke kota baru, di situ terdapat warung bagus berdasar anjuran dari kawan kerjanya.

2.Lelaki ahli botani memandang ke seluruh penjuru dengan mata yang awas, langsung memilahkan berdasar ilmu biologi (Misalnya, jenis pohon, rumput, bunga, pakis). Itulah bagi ahli biologi dianggap sebagai realitas. Bagi dia yang dianggap fantasi, dunia impian yang samar dan dongeng itu seperti musim panas yang cerah dalam keheningan (bukan seekor tupai di pohon).

3.Lelaki yang sebagai petani menolak dari pandangan kedua lelaki sebelumnya. Si petani bisa menunjukkan dengan tepat berbagai hal secara pribadi. Bagaimana pun ia dilahirkan dan dibesarkan di sini. Ia tahu persis di mana jalan dan lorong kecil, setiap semak-semak dan pohon. Semua itu terkait dengan pekerjaannya sehari-hari. Masa kecilnya dan ribuan hal yang kecil-kecil lainnya.

Jelas kedua lelaki sebelumnya, turis dan ahli botani tak memahami lingkungan. Mungkin saja bagi petani tidak paham nilai-nilai secara ilmu biologi di lingkungannya. Bagi ahli botani tak memandang penting sebuah kandang, ladang dan rumah di bawah bayangan pohon tinggi, yang sangat berarti bagi orang yang lahir di situ, sebagai sebuah kenangan pribadi yang mengawang.

Dari contoh di atas, telah ditunjukkan perbedaan realitas sesuai dengan pengalaman. Tentu saja kita masih bisa mencoba dengan permainan berbagai kehidupan lain. Seorang buta dengan seekor anjing, seorang pemburu dengan seekor anjing, seekor anjing dengan tuannya. Seorang pelukis sedang mencari objek matahari terbenam, seorang gadis yang kehabisan bensin.

Bagi setiap orang akan mengalami pengalaman yang berbeda terkait masa sekarang. Di situ lah akan bertemu kosa kata yang objektif seperti, pohon, bunga, langit, kandang, hujan, yang akan berkonfrontasi dengan pandangan subjektif. Di sinilah keputusan subjektif begitu kuat, karena mendapat pengaruh dari apa yang disebut kehidupan/eksistensi objektif yang kosong, longsongan peluru yang hancur.

Hanya ada satu jalan kembali menuju ke kenyataan objektif: kita harus membedakan dunia yang berbeda secara terpisah dan secara mendasar mencampuradukkan. Itulah setetes kenyataan objektif yang kita sebut.

Jika kita bicara tentang kenyataan, maksud kita dasarnya adalah dari semua sumber mengucur dalam satu tetes. Sebuah campuraduk dari jutaan kenyataan yang terpisah. Dalam hal ini (realitas kemanusiaan), aku kaitkan dengan pemahaman tentang kenyataan, jika aku menabrakkan pada dunia Mantel, Dr. Jekyll dan Mr. Hyde, atau Metamorfosis, tiap dari cerita ini punya sebuah fantasinya tersendiri. Pada Mantel dan Metamorfosis masing-masing punya tokoh utama.

Kualitas manusia tokoh utama pada Mantel jenisnya berbeda dengan cerita dari Metamorfosis. Tapi keduanya punya kemiripan dalam gairah kemanusiaan. Pada Dr.Jekyll dan Mr. Hyde tak sama, di sini tegangan tidak keras.

Keindahan dari Kafka dan Gogol terletak pada impian pribadi yang menakutkan. Kedua cerita itu punya tokoh utama yang fantastis, membentuk sosok yang bukan manusia. Tokoh utamanya berusaha keluar, untuk melemparkan topeng, tentang mencuatnya Mantel dan Panser. Pada cerita Stevenson tak terdapat konfrontasi dan kesatuan. Aku pikir, Jekylls Elixer dalam dunia nyata sebagai tokoh riel sebagai kehidupan Utterson. Stevenson mengambil tokoh bayangan seperti pada Dicken.

Secara garis besar perbedaan cerita antara gaya Gogol, Kafka, dan Stevenson sebagai berikut:
Pada Gogol dan Kafka, tokoh utama yang absurd sebagai bagian dari lingkungan yang absurd. Tetapi mereka berusaha keluar dalam eksistensi sebagai manusia meskipun dengan susah payah. Walau pada akhirnya meninggal penuh kebimbangan. Pada Stevenson tokoh utama tidak nyata dari lingkungan dunia khayal. Jekyll/Hyde, sosok yang suka show. Ia berjuang sampai mati, pembaca tak paham. Dengan kata lain aku tak akan bilang, cerita Stevenson tak berguna. Bukan seperti itu, dia dalam wacana konvensional sebagai maestro kecil saja.

Aku menolak pendapat Max Brod bahwa karya Kafka cenderung menjurus ke dunia kesucian, bukan sastra. Kafka bagiku sebagai seniman dan tiap seniman punya sesuatu yang disucikan. Aku tidak percaya jika kecerdikan Kafka di dalamnya berbau agama. Ia mengajak kembali ke paradigma Freudian.

Metamorfosis adalah produk kompleksitas terhadap ayahnya dan perasaan bersalah berkepanjangan. Sebab itu dijelaskan ada bahasa simbol yang mistis, yakni muncul tokoh anak menjadi binatang kecil yang mengganggu (Ungeziefer). Aku ragu, simbol kecoak itu hadir dalam karya Kafka, pasti itu menggambarkan ajaran Freudian. Ia masukkan aspek psikoanalisis yaitu “kesalahan yang tak terelakan.“ Itulah alasanku, aku lebih suka mengamati seni menulisnya ketimbang wacana Freudian.

Pengaruh besar yang menimpa pada Kafka juga sudah dipraktikkan oleh Flaubert. Kafka yang mengusung tema kengerian, karena bahasa Kafka dianggapnya sebagai alat tukang. Perbendaharaan ilmu hukum dan pengetahuan alam menyublin menjadi ironi yang jelas. Temuan Kafka secara pribadi itu juga dialami Flaubert yang punya dampak kesatuan puitis.

Samsa menjadi pahlawan, anak pengusaha di Praha kelas menengah. Keluarga sebagai ujung tombak, ini juga tampak pada karya Flaubert. Manusia dengan selera rendahan, yang hanya mengurus dunia materi dengan rakus. Lima tahun sebelumnya ayah Kafka terkena denda hutang. Di situ lah Gregor sebagai pengusaha tekstil. Sekarang ayah Gregor hendak melimpahkan bisnisnya. Bagi Grete, adik Gregor akan mengambil alih, dia terlalu muda, sementara ibunya sakit
asma. Tentu saja Gregor muda menjadi kebanggaan keluarga. Gregor mencari rumah kontrakan di Charlottenstrasse, yang kemudian menjadi bagian dari tempat tinggalnya. Karya tersebut ditulis tahun 1912 di Praha, kota tua Eropa. Di Praha itu dulu pembantu masih digaji murah, sebab itu keluarga Samsa mampu memperkerjakan seorang gadis berusia 16 tahun bernama Anna. Ia satu tahun lebih muda dari Grete, serta ditambah seorang juru masak.

Pada umumnya Gregor dalam perjalanan bisnis, namun pada malam hari di akhir cerita diselipkan antara dua perjalanan bisnisnya, ia pulang ke rumah. Nah di sini lah terjadi kisah yang mengerikan, “Ketika Gregor Samsa bangun dari mimpi buruknya di suatu pagi, ia temukan dirinya di ranjang sudah berubah menjadi kecoak raksasa. Jika kepalanya sedikit diangkat, ia lihat batok keras mengganjal di punggungnya, perutnya kaku membentuk susunan berlapis-lapis, melengkung, cokelat, setinggi selimut, posisinya curam ke bawah, tak bisa dibayangkan. Matanya kabur, tak berdaya melihat banyak kaki-kaki ramping dibanding yang lainnya.
“Apakah gerangan yang terjadi pada diriku?“ pikir dia.
Itu bukan mimpi...

Pandangan Gregor dialihkan ke luar jendela, cuacanya murung, terdengar rintik hujan yang jatuh di jendela seng, yang menjadikan Gregor semakin melankolis. “Bagaimana seandainya aku lanjutkan tidur sedikit saja dan melupakan semua kejadian aneh itu.“

Gregor mencoba seratus kali untuk menutup mata, sehingga tak harus melihat kaki-kaki yang terus menggelisahkan.

Perihal mata Gregor yang sudah berubah menjadi mata serangga, Nabokov punya analisis kritis:
“Seekor kecoak tak punya kelopak mata (Augenlider), oleh karenanya matanya tidak bisa dikatupkan. Berarti meskipun mata Gregor sudah menjadi mata serangga, namun sebetulnya masih pakai mata manusia.“

Seharusnya setan-setan mengenyahkan semua beban ini. Seperti apa sekarang bentuk serangga yang menjijikkan itu. Gregor yang renta, sebagai traveller kecil yang sudah bermertamorfosis? Dari penggambaran itu jelas tergolong kelompok “kaki yang bergerak-gerak“ (Arthropoda), serangga, binatang penenun, binatang kaki seribu, kerang. Cerita yang dimulai dengan ilustrasi “banyak kaki,“ dimaksudkan lebih dari jumlah 6 kaki, maka secara ilmu binatang, bisa jadi Gregor bukan termasuk serangga. Namun untuk meninggalkan alasan itu, kita yakini saja Gregor itu serangga dengan kaki enam.

Kalau begitu seperti apakah bentuk Gregor itu? Katakanlah Gregor sebagai coro. Namun juga tidak cocok, sebab coro itu pipih tubuhnya dan punya kaki panjang. Perut dan punggung Gregor melengkung serta punya banyak kaki. Namun hanya ada satu pertanda yang menyerupai coro, yakni warnanya cokelat. Itu bukti semua yang ada. Pada perjalanan kisah tersebut, orang akan paham pelan-pelan terhadap perubahan baru yang sangat ekstrem, juga alat peraba/antena dan laki-kaki difungsikan. Kecoak cokelat yang bulat sebesar anjing, sangat kebesaran, maka aku gambar seperti ini: (Lihat di foto album facebook)

Seorang pelayan perempuan secara terbuka bicara dengan kecoak bukan tak ramah. Secara ilmu binatang, Gregor sudah selesai menjadi kecoak besar. (aku harus yakinkan, bahwa baik Gregor maupun Kafka dengan jelas telah merujuk ke seekor kecoak.) Perhatikanlah perubahan itu dengan saksama. Perubahan itu mengerikan dan menakjubkan, tak ada persepktif lain, seperti orang pertama kali harus menganggapnya.

Sebuah interpretasi logis (Paul L. Landsberg in The Kafka Problem (1946) Hsg. Angel Flores)
“Jika kita tidur di sebuah lingkungan yang tak pasti, sering kali ketika kita bangun seolah-olah menemukan perasaan yang menakjubkan, seperti tiba-tiba tidak nyata, dan kisah traveller itu harus terus melaju, setelah kesadarannya muncul akan berjalan normal.“ Kesan sesungguhnya tergantung dari kemandekan dan kelancaran cerita. Pada akhirnya tak menjadi hal yang pokok, apakah orang terbangun menjadi Napoleon, George Washington atau sebagai serangga. (Aku juga bisa bangun sekali tempo menjadi seorang kaisar dari Brasil).

Pada sisi lain kesunyian berpadu dengan kepemilikan, itulah yang kita sebut sebagai realitas, yakni sesuatu yang oleh seniman, orang genius, penemu seluruh waktunya telah ditandai. Keluarga Samsa yang hidup di lingkungan serangga yang menakjubkan, tak ubahnya secara pukul rata di lingkungan orang genius.


Nabokov menelaah dari segi struktur cerita, yang menurutnya dibagi 7 bagian.

1. Suasana Pertama:
Gregor bangun. Dia sendirian. Dia sudah siap akan menjadi kecoak, tapi kesannya dia masih sebagai manusia dan tercampur dengan sebuah insting baru, dimana ia juga calon sebagai serangga. Ilustrasinya berakhir dalam suasana (kemanusiaan) bagian masa yang akan kemasukan. Gregor bimbang, akankah melaporkan sakitnya, tapi asuransi kesehatan akan tahu kalau Gregor itu sehat.

2.Suasana Kedua:
Ketiga ketukan di pintu kamar dan bicaranya dari depan kamar, dari ruang tamu, dari kamar adik perempuannya. Keluarganya sebagai benalu. Mereka mengeksploitasi dan mengkoyak-koyak Gregor baik dari dalam maupun dari luar. Siapakah ketiga benalu itu? Ayah, ibu dan adik perempuan. Sepintas orang bisa menganggap benalu pertama adalah sang ayah. Tepi ternyata bukan. Justru adik kesayangannya yang paling dekat yang dianggap paling kejam. Adik perempuannya mengkhianatinya dan memulai dengan narasi menarik mebel di tengah cerita.

3.Susana Ketiga:
Kepayahan bangun, Gregor berpikir sebagai manusia, namun sudah cenderung sebagai kecoak. Bagi Gregor, tubuhnya masih selalu seorang manusia. Ia percayai seorang manusia pada bagian bawah, tapi pada bagian belakang itu seekor kecoak, seorang manusia pada bagian atas, tapi pada bagian depan itu kecoak. Seorang manusia yang punya formasi empat bagian ke dalam seekor kecoak yang punya formasi enam bagian. Gregor masih selalu menaruh lagi sepasang kakinya yang ketiga.

4.Suasana Keempat:
Ibu dan ayah bergabung dengan manajer. Suara Gregor yang tegas itu semakin melemah, sehingga orang tak bisa mengerti lagi. (20 tahun berikutnya James Joyce menulis novel Finnegans Wake yang mengubah di atas arus sungai satu sama lainnya, pelan-pelan menguat dan menjadi batu.)
Gregor tidak mengerti, kenapa adik perempuannya tidak bergabung saja dengan orang-orang lain. Gregor sudah terbiasa membantu keluarganya bagaikan alat tukang saja. Sebab itu tak perlu berbelas kasihan, ia tak sekalipun membuat Grete sedih.

5.Suasana Kelima:
Gregor membuka pintu. Pintu itu sudah terbuka lebar dan dia sendiri belum bisa melihat. Dia sendiri harus mendorong daun pintu dengan sangat hati-hati.

6.Suasana Keenam:
Gregor mencoba menenangkan manajernya, karena ia tak ingin kehilangan pekerjaan. “Sekarang,“ kata Gregor yang sudah sadar dengan baik, bahwa dia harus tetap tenang, “aku akan segera berpakaian, mengemasi dan langsung pergi. Inginkah Anda? Aku harus segera pergi? Sekarang Tuan Manajer, Anda sudah lihat, aku bukan keras kepala dan aku senang bekerja; perjalanan bisnis itu memang berat, tapi aku tidak bisa hidup tanpa melakukan perjalanan bisnis ini. Ke mana Tuan Manajer setelah ini? Di kantor? Ya? Akankah Anda menceritakan semua kebenaran ini? Sementara ini orang tak bisa mampu bekerja, tapi nanti pada waktu yang tepat, pasti akan bekerja mencapai puncaknya, justru jika hambatannya sudah lewat, pasti akan semakin rajin dan menumpuk kerjanya.“

7.Suasana Ketujuh:
Sang ayah menggiring Gregor dengan kasar kembali ke kamarnya memakai tendangan kaki dan tonjokan pentungan di tangan, sedang tangan lainnya nemakai kertas koran. Kondisi ini membuat Gregor kesulitan melewati pintu yang baru dibuka separuh. Tapi karena desakan sang ayah, ia lakukan. Pintu itu juga dipukul dengan pentungan dan akhirnya sunyi.


0O0



Catatan:
Nabokov disebut-sebut dari beberapa sumber, ia sebagai novelis yang sangat teliti. Dari kata ke kata benar-benar ia cermati. Ben Abel, seorang kawan memberitahu, Ben Anderson di Cornell dulu pernah mengikuti semacam perkuliahan langsung dari Nabokov. Apa kesan Ben Anderson? Katanya, tidak menarik.

(Diringkas oleh: Sigit Susanto)