Sabtu, 27 Agustus 2016

Kata Penutup Novel Proses dari Max Brod







Pernyataannya terhadap karyanya sendiri dan setiap penerbitan, semakin aneh dan rumit, mirip dengan seluruh kehidupan Kafka yang kompleks. Masalahnya saat dia menjelaskan pengurusan dengan gamblang, kemudian dia mengukuhkan juga pada setiap karyanya yang sudah terlanjur diterbitkan sesuai permintaannya, harus dipertahankan. Tentu saja pernyataan seperti itu tidak bisa sama sekali dipakai sebagai pedoman. Setidaknya keputusan samar tersebut menuai hal-hal sebagai berikut:

Hampir semua karya Kafka yang sudah diterbitkan, aku pilih dalam daftar dengan pertimbangan seni. Harapannya agar tidak menimbulkan pertentangan, sebab di masa-masa hidupnya dia sering kali merasakan banyak keberuntungan (dia bilang bahwa tulisan-tulisannya hanyalah sebagai sebuah “kegiatan coreng-moreng”). Siapa saja yang semakin suntuk dan hanyut hanya pada sebagian kecil karya prosa Kafka, semakin tak akan menemukan sosok pelaku dengan ritme yang penuh gairah.

Tapi di balik karya-karya itu, bisa dengan cara mendengarkan bacaan, langsung terasa benar-benar ada gelora yang berapi-api. Meskipun begitu dia menolak mentah-mentah, motifnya berangkat dari pengalaman-pengalaman getir tertentu yang dia sabotase sendiri, sehingga mengarah pada karya yang bercorak nihilisme. Memang bebas, tapi kenyataannya, bahwa dia pada karyanya (Tentu tak perlu diungkapkan) berkadar religius yang paling tinggi. Meskipun penghindaran dari berbagai jenis kekacauan itu tak bisa dielakkan. Toh banyak dari karyanya diyakini merujuk pada alam, pada kesehatan jiwa yang sempurna, bisa sebagai terapi yang mujarab. Untuk Kafka tidak berarti pencariannya tentang diri sendiri dengan kekerasan hati yang ekstrem itu sesuai jalan yang tepat. Dan bagi dirinya sendiri tak ada lagi rujukan yang bisa diberikan.

Secara pribadi aku tandaskan, pernyataan Kafka yang negatif itu akan bermanfaat bagi karyanya. Dia sering kali mengatakan tentang “ketika menulis telah memberikan naskahnya pada tangan-tangan yang salah.” Selain itu dari karya-karyanya ada yang sama sekali tidak diterbitkan, proses selanjutnya untuk menjadi buku sangat membingungkan. Banyak rintangan yang sulit diatasi, sebelum dia menerbitkan satu buku. Bukan semakin sedikit dia menyelesaikan karya-karya yang cemerlang. Kadang-kadang karya-karya itu mendapat pujian yang membanggakan. 

Dan ada kalanya dia sendiri juga merasa lega melihat karyanya, bukan sama sekali tanpa sindiran, namun dengan cara sindiran yang lebih ramah. Dengan sebuah sindiran, motif di baliknya adalah keharuan yang kuat tanpa kenal kompromi terhadap usahanya yang keras secara diam-diam. Terhadap karya-karya warisan Franz Kafka tidak ditemukan sebuah testamen sebelumnya. Di meja tulisnya terselip di bawah tumpukan kertas-kertas lain yang saling terlipat, sebuah potongan kertas dengan tulisan tinta disertai alamat. Potongan kertas itu berbunyi:

Max yang terhormat, harapanku yang terakhir: Semua karya yang aku tinggalkan (termasuk yang ada di lemari buku, lemari pakaian, meja tulis, di rumah dan di kantor, atau di mana pun berada yang kamu rasa perlu), pada buku-buku harian, manuskrip-manuskrip, surat-surat, sketsa-sketsa gambar yang aneh maupun yang layak dan sebagainya yang kamu temukan, tak perlu dibaca dan jangan disisakan untuk dibakar. Sebab itu semua karya tulis maupun sketsa-sketsa gambar yang ada di tempatmu atau orang lain dengan namaku. Surat-surat yang masih terdapat di orang yang tidak mau memberikan kepadamu, paling tidak ia diwajibkan membakarnya sendiri.
Sahabatmu Franz Kafka.

Pencarian selanjutnya dilakukan dengan sangat teliti dan masih pula ditemukan secarik kertas kusam dan lama dengan tulisan pensil. Isinya sebagai berikut:
Max yang baik, kali ini mungkin aku tidak bisa bangun lagi. Radang paru-paru kambuh setelah sebulan menderita demam. Tak sekali pun aku mampu menulis. Akankah semua ini bisa bertahan, walau masih tersisa sebuah kekuatan. Dengan kondisi seperti ini, kemauanku yang terakhir aku tulis:
Terutama, apa yang telah aku hasilkan hanya berupa buku dengan judul: Keputusan, Tukang Pemanas, Metamorfosis, Koloni Hukuman, Dokter Desa. Dan Cerita Pendek: Seniman Lapar. (Beberapa eksemplar berjudul Meditasi, mohon dipertahankan. Aku tidak ingin menjadi beban siapapun. Tapi untuk diterbitkan ulang sama sekali dilarang). Jika aku bilang, bahwa itu berlaku untuk setiap 5 buku dan cerita pendek. 

Aku maksudkan bukan berarti , bahwa aku punya keinginan bahwa karya-karya itu boleh dicetak ulang di masa datang. Justru sebaliknya, harus semua dilenyapkan sesuai permintaanku yang sesungguhnya. Aku hanya menghindari, karena karya-karya itu pernah ada, tak seorangpun mengelaknya untuk memiliki. Jika orang tersebut berminat. Sebaliknya semua karya yang sudah kutulis (tulisan di koran, manuskrip atau surat-surat) tanpa kecuali, sejauh memungkinkan atau dengan meminta pada orang yang memilikinya (kebanyakan alamat-alamat pemilik tulisan itu kamu toh sudah mengetahui, yang utama diajak berunding tentang maksud ini..., jangan lupa beberapa majalah, yang telah....) – semua karya tersebut tanpa kecuali, yang paling suka kalau tidak dibaca (aku tidak menghalangi kamu untuk melihat kedalamannya, yang paling suka tentu kalau kamu tidak meninjau ke dalaman tersebut. Jika kamu tidak lakukan, maka jangan sampai ada orang lain melakukannya) – semua karya tersebut tanpa kecuali untuk dibakar, dan aku minta kalau bisa hal itu segera dilakukan.
Franz

Jika aku mengingkari dengan melakukan hal yang sebaliknya dari apa yang telah ditandaskan, maka aku telah mengambil langkah yang jahat dari apa yang telah diminta oleh kawanku. Di sini lah alasannya, kenapa aku melakukan tindakan penting itu. Beberapa orang telah membatalkan untuk mendiskusikannya secara terbuka. Dalam pandanganku, aku jelaskan agar keputusanku layak dipahami. Dasar utamanya: ketika aku tahun 1921 berpindah pekerjaan, aku katakan pada kawan-kawanku bahwa seandainya aku membuat testamen, apa yang aku minta pada mereka adalah untuk melenyapkan karya-karya, setelah diperiksa dan segera lakukan. Tentang hal ini kata Kafka dan sambil menunjukkan kepadaku secarik potongan kertas dengan tulisan tinta. Potongan kertas itu ditemukan di meja tulis yang di luarnya tertulis: “Testamenku sederhana saja akan memintamu untuk membakar semua karya yang ada.” Aku masih ingat sekali jawaban yang aku lontarkan, ”Jika kamu serius dan akan nekad menghendaki sesuatu seperti itu, aku bisa jawab sekarang, bahwa aku tidak akan mengabulkan permintaanmu itu.” 

Pembicaraan masalah ini diucapkan dengan nada kelakar, yang memang biasa kami lakukan. Meskipun secara diam-diam pembicaraan itu punya makna serius, dimana kami satu dengan yang lain saling berandai-andai. Dari penolakanku yang serius itu, Franz bisa saja melimpahkan testamennya pada orang lain, itu seandainya ia memang benar-benar menjadi permintaan yang terakhir.

Aku tidak berterima kasih padanya, karena aku dihadapkan pada masalah pelik yang tidak mengenakkan. Ia harus memprediksikan bagaimana dengan pemuja karyanya yang fanatik, kalau aku mengingkari setiap permintaan Franz. Selama 22 tahun persahabatan kami tidak pernah keruh (satu dengan yang lainnya) saling memberi umpan, tak pernah sepotong kertas kecil pun, kartu pos yang berasal dari Franz dibuang. – Bahwa “ketidakterimakasihku,” semoga jangan ditafsirkan dengan salah! Apa yang masih menjadi pertimbangan mengenai konflik tertentu terhadap persetujuan yang tiada akhir, aku berterima kasih kepada kawan-kawan yang benar-benar mendukung terhadap seluruh keberanian keputusanku!

Yang menjadi dasar pertimbangan selanjutnya: Perintah pada kertas dengan tulisan pensil dari Franz itu tidak disertai lanjutannya, seperti yang ia tekankan, bahwa bagian seperti Meditasi yang telah dicetak sebuah koran dan tiga novelet berikutnya yang sudah diterbitkan, termasuk Seniman Lapar dan naskah Pandai Besi yang sudah diserahkan ke penerbit. Kedua instruksi itu disampaikan pada tenggat waktu yang saling berjauhan, dimana kecenderungan autokritik dari kawan-kawanku sudah sampai di situ. Tak disangka, pada masa-masa akhir hayatnya dan seluruh kehidupannya berubah menjadi positif, baru serta bahagia. 

Meskipun ia mengusung kebencian pada diri sendiri dan nilai nihilisme. Keputusanku untuk menerbitkan Kata Penutup ini semata-mata untuk meringankan ingatan terhadap semua daya upaya yang pahit itu. Dengan demikian aku sudah cukup sering memaksa dan meminta setiap penerbitan dari karya-karya Kafka. Toh Kafka sesudah itu berdamai serta cukup puas. Pada akhirnya terperosok pada sejumlah motif penerbitan, misalnya, bisa membingungkan pada terbitan-terbitan berikutnya. Karya-karya tersebut akan menjadi bayangan dalam era kehidupannya yang muram. 

Bagi Kafka, karya-karyanya yang tidak diteribtikan akan sangat terkait dengan masalah perjalanan hidup penulisnya. (Sebuah masalah yang tak terukur lagi pahitnya, tapi sekarang tidak mengganggu lagi). Seperti dari banyak percakapan dari surat-surat yang ditujukan kepadaku sebelumnya: “Aku tidak lagi mempermasalahkan novel-novel itu. Mengapa harus mengungkit-ungkit masa lampau yang menjengkelkan itu? Hanya karena aku tidak membakar karya-karya itu sampai kini?...mudah-mudahan di masa datang akan terjadi. Di mana letak nilai seni yang `bahkan` dikerjakan dengan salah? Dalam hal ini orang hanya bisa berharap, semoga seluruh langkah-langkah ini akan dipahami. Bagaimana pun upaya naik-banding pada kasus ini, akan kuhadapi, meskipun aku dalam keadaan tak berdaya. Aku sadar, tidaklah mungkin bahwa dari pengadilan itu tidak akan timbul bantuan. Lalu apa yang bisa kulakukan mengurus masalah-masalah teknis ini? Akankah orang-orang tidak bisa membantuku dalam keterpurukan ini. Layak kah pengetahuan yang seharusnya dipertahankan?
Aku merasa sangat gembira, masih ada sisa-sisa karya yang tertinggal, juga terutama tawaran menerbitkan dari beberapa orang yang berhati mulia. 

Tapi aku memegang teguh prinsipku, apapun godaan indah yang ada di depan mata ini akan berbalik. Keputusan tentu saja bukan termasuk apa yang sampai sekarang mengemuka, melainkan satu-satunya dan secara tunggal bahwa warisan karya Kafka benar-benar dihargai tinggi. Bahkan dari karya-karya Kafka yang telah ditulisnya, yang tersisa itulah yang terbaik. Jujur saja, aku ikut bertanggung jawab bahwa karya-karya yang aku selamatkan mempunyai nilai etik dan sastra yang memadai. (Meskipun aku sendiri tanpa penyesalan telah mengingkari permintaan Kafka yang terakhir). Keputusanku sudah bulat, sangat yakin tidak akan menarik kembali.

Sayangnya Kafka sebelum meninggal telah berpesan menjadi bagian dari eksekutor dirinya sendiri. Di rumahnya aku temukan 10 buku tulis kwarto besar, tapi hanya sampulnya. Isinya sudah lenyap semua. Selanjutnya dia telah (aktif mengikuti berita) membakar beberapa buku catatan. Di rumahnya aku temukan hanya bundelnya (sekitar 200 aforisme tentang masalah-masalah agama), sebuah percobaan tulisan autobiografi, yang selama ini belum pernah dipublikasikan. Sekarang ini aku mengamankan tumpukan kertas yang tidak acak-acakan. Aku harapkan, di antara tumpukan kertas tersebut kadang ditemukan sebuah karya yang sudah selesai atau mendekati selesai. Akhirnya aku temukan sebuah novelet tentang binatang (yang belum selesai) dan sebuah buku berisi sketsa-sketsa.

Bagian terpenting dari warisan karya-karyanya telah ia selamatkan lewat penarikan kembali atas kemarahannya sebagai penulis. Karya-karya tersebut ada tiga, antara lain Tukang Pemanas (Der Heizer), yang sudah dimuat pada bab pertama dan terakhir dalam novel berjudul Amerika (Amerika). Oleh karenanya tidak ada lagi terlihat ada kekosongan yang menonjol.
0o0

Tel Aviv, 1946 Max Brod

(Sigit Susanto)


Sebuah Intro Novel: Proses - Franz Kafka





Pertama kali nama Josef K muncul pada 29 Juli 1914 pada Buku Harian Franz Kafka. Ia tulis, “Josef K, anak seorang pengusaha kaya pada suatu malam bertengkar keras dengan ayahnya. Si ayah memprovokasi sebuah kehidupan yang moralis dan minta segera sebuah sikap, tanpa tujuan yang pasti…di gedung perusahaan.“

Pada 15 Agustus 1914, usai Kafka membatalkan tunangan dengan Felice Bauer, ia mulai menulis novel Proses (Der Prozess). Ia sebutkan pada Buku Hariannya, “Setidaknya aku mendapatkan hikmah yang bermanfaat, kehidupanku yang hampa, kesalahan yang beruntun dan status bujangku menemukan pembenaran.“

Novel tersebut ia tulis selama 6 bulan. Terhitung sejak 11 Agustus 1914 hingga akhir Januari 1915. Dalam 2 bulan pertama, ia sudah menulis hingga 200 halaman. Novel itu ditulis tangan memakai kertas biasa seperti pada buku di sekolah. Kemudian ada jeda, selain bahan menulis habis, ia merasa lemah, seperti diungkapkan, “Benar-benar merasa lemah dan tak mampu menuliskan lagi, walaupun 2 halaman,…tetapi, aku bisa tidur nyenyak.“ Empat bulan berikutnya manuskrip novel ini dilanjutkan tak sampai 100 halaman, termasuk fragmen yang belum selesai dan dihentikan.

Novel ini sangat berhubungan erat dengan bekas tunangannya Felice Bauer. Tokoh perempuan Fräulein Büstner berinisial FB, sama dengan nama Felice Bauer juga berinisial FB. Kantor pengadilan yang digambarkan oleh Kafka adalah sebuah hotel Askanischer Hof di Berlin, tempat ia bertemu Felice saat membatalkan tunangannya. Belakangan Kafka menjalin hubungan dengan Felice lagi, hingga bertunangan yang kedua kali, namun pada akhirnya dibatalkan lagi tahun 1917.

Salah satu bagian yang paling memuaskan Kafka adalah kisah tentang “Penjaga Pintu,“ (Türhüter) pada bab 9: Katedral. Sebab itu khusus kisah ini pernah beberapa kali diterbitkan secara terpisah dengan cerpen-cerpen lain dengan judul Di depan Hukum (Vor dem Gesetz). Dimungkinkan Kafka terpengaruh legenda dari kitab Kabala yang bercerita tentang 7 istana di surga yang dijaga oleh banyak penjaga pintu, adapun penjaga pintu yang paling berkuasa adalah Tuhan.

Kafka menulis novel ini dengan arsitek yang sangat tepat dibanding novelnya Amerika. Bab pertama dan akhir ditulis dalam waktu yang bersamaan. Beberapa narasi, nyaris serupa. Ketika Kafka membacakan satu halaman pertama novel Proses ini di depan teman-teman pengarang di Praha, ia tak bisa menahan tawa. Akhirnya ia hentikan dan tak lanjutkan membaca lagi.

Pada tahun 1919 Max Brod, sahabat dekatnya mengkritik novel ini bahkan memaksa Kafka untuk memangkasnya, “Kalau aku, sudah aku potong sendiri dengan kepalanku.“ Anehnya, meskipun Kafka sendiri belum berhasrat menerbitkan novelnya, Brod justru mendahului dengan menuliskan resensi pada tahun 1921.

Pasca meninggalnya Kafka tahun 1924, Brod menemukan naskah novel ini di laci meja kamar Kafka. Tetapi manuskrip tersebut belum diberi judul. Max Brod ingat pernah berbincang-bincang dengan Kafka di sebuah kafe, Kafka menyinggung novel ini hendak diberi judul Proses.

Setahun setelah Kafka meninggal, Brod menerbitkannya tahun 1925. Brod telah mengabaikan permintaan Kafka berupa 2 testamen untuk membakar karyanya, baik yang belum diterbitkan maupun beberapa yang sudah diterbitkan. Brod bilang,
“Di meja tulisnya terselip di bawah tumpukan kertas-kertas lain yang saling terlipat, sebuah potongan kertas dengan tulisan tinta disertai alamat.” Potongan kertas itu sebuah testamen sebagai berikut:
Max yang terhormat, harapanku yang terakhir: Semua karya yang aku tinggalkan (termasuk yang ada di lemari buku, lemari pakaian, meja tulis, di rumah dan di kantor, atau di mana pun berada yang kamu rasa perlu), pada buku-buku harian, manuskrip-manuskrip, surat-surat, sketsa-sketsa gambar yang aneh maupun yang layak dan sebagainya yang kamu temukan, tak perlu dibaca dan jangan disisakan untuk dibakar. Sebab itu semua karya tulis maupun sketsa-sketsa gambar yang ada di tempatmu atau orang lain dengan namaku. Surat-surat yang masih terdapat di orang yang tidak mau memberikan kepadamu, paling tidak ia diwajibkan membakarnya sendiri.
Sahabatmu Franz Kafka

Pencarian selanjutnya dilakukan dengan sangat teliti dan masih pula ditemukan secarik kertas kusam dan lama dengan tulisan pensil. Isinya sebagai berikut:
Max yang baik, kali ini mungkin aku tidak bisa bangun lagi. Radang paru-paru kambuh setelah sebulan menderita demam. Tak sekali pun aku mampu menulis. Akankah semua ini bisa bertahan, walau masih tersisa sebuah kekuatan. Dengan kondisi seperti ini, kemauanku yang terakhir aku tulis:
Terutama, apa yang telah aku hasilkan hanya berupa buku dengan judul: Keputusan (Das Urteil), Juru Pemanas (Der Heizer), Metamorfosis (Die Verwandlung), Pada Koloni Hukuman (In der Strafkolonie), Seorang Dokter Desa (Ein Landarzt). Dan Cerita Pendek: Seorang Seniman Lapar (Ein Hungerkünstler). Beberapa eksemplar berjudul Meditasi (Betrachtung), mohon dipertahankan. Aku tidak ingin menjadi beban siapapun. Tapi untuk diterbitkan ulang sama sekali dilarang. Jika aku bilang, bahwa itu berlaku untuk setiap 5 buku dan cerita pendek. Aku maksudkan bukan berarti , bahwa aku punya keinginan bahwa karya-karya itu boleh dicetak ulang di masa yang akan datang. Justru sebaliknya, harus semua dilenyapkan sesuai permintaanku yang sesungguhnya. Aku hanya menghindari, karena karya-karya itu pernah ada, tak seorang pun mengelaknya untuk memiliki. Jika orang tersebut berminat.

Sebaliknya semua karya yang sudah kutulis (tulisan di koran, manuskrip atau surat-surat) tanpa kecuali, sejauh memungkinkan atau dengan meminta pada orang yang memilikinya (kebanyakan alamat-alamat pemilik tulisan itu kamu  sudah mengetahui, yang utama diajak berunding tentang maksud ini..., jangan lupa beberapa majalah, yang telah....) – semua karya tersebut tanpa kecuali, yang paling suka kalau tidak dibaca (aku tidak menghalangi kamu untuk melihat kedalamannya, yang paling suka tentu kalau kamu tidak meninjau ke dalaman tersebut. Jika kamu tidak lakukan, maka jangan sampai ada orang lain melakukannya) – semua karya tersebut tanpa kecuali untuk dibakar, dan aku minta kalau bisa hal itu segera dilakukan.   
                                                                                                                                                                  Franz      

Alasan Brod menerbitkan karya-karya Kafka, selain untuk memperkenalkan kepada pembaca dunia, juga ia pernah menolak permintaan membakar karyanya di sebuah kafe. Waktu itu Brod menjawab langsung,
”Jika kamu serius dan akan nekat menghendaki sesuatu seperti itu, aku bisa jawab sekarang, bahwa aku tidak akan mengabulkan permintaanmu itu.”
Pertimbangan Brod, jika Kafka tetap keras kepala, bisa pula ia menuliskan testamen baru kepada orang lain, tapi hal itu tidak dilakukannya.
Pasangan Willa dan Edwin Muir yang menerjemahkan pertama kali karya Kafka ke dalam bahasa Inggris tahun 1930 menyebutkan, ia tidak kompromi dengan budaya Anglo-Saxon, semata-mata ia ingin menunjukkan ciri khas seni mengarang Kafka. Pembaca bahasa Inggris pada waktu itu menganggap karya Kafka aneh, perlahan mereka paham. Muir menggambarkan, bentuk karya Kafka mirip dengan model travel writing, ritme yang bergerak maju secara lamban dari menit ke menit.

Sementara itu Italio Calvino dalam bukunya The Use of Literature menyebutkan, nama Kafka sudah menjadi ikon sastra resmi dengan menetapkan menjadi adjektiva “Kafkaesque.“  Kafkaesque identik dengan kisah yang aneh, misterius, birokrasi yang berbelit-belit, mengerikan dan mimpi buruk. Kerumitan birokrasi yang diusung Kafka, kemungkinan Kafka pernah membaca esai berjudul Pegawai (Der Beamte) yang ditulis oleh Alfred Weber, saudara kandung sosiolog Max Weber.
Pada bab terakhir, kematian Josef K dengan ditusuk pisau oleh petugas di bebatuan, bisa jadi Kafka terpengaruh pekerjaannya pada kantor Asuransi Kecelakaan.
Menurut Brod, novel Proses ini merupakan salah satu dari trilogi novel Kafka, yang dianggap sebagai antitesis, sedang novel Amerika sebagai tesis, dan novel Kastil (Das Schloss) sebagai sintesis.

Georg Lukacs, kritikus sastra Marxis pada peristiwa Konter Revolusi 1965 di Budapest mengatakan, “Kafka adalah seorang realis.“
Pada umumnya kalimat pembuka karya Kafka langsung menukik ke peristiwa inti. Kalimatnya panjang-panjang, baik pada narasi maupun dialog. Bahasanya terang seperti kristal, hanya isi cerita yang samar, bahkan cenderung abstrak seperti pada kebanyakan aliran ekspresionis.

Franz Kafka lahir pada 3 Juli 1883 di Praha. Anak dari pasangan pengusaha Hermann Kafka (1852-1931) dan Julie Löwy (1856-1934). Dua adik laki-laki Kafka, Georg Kafka dan Heinrich Kafka meninggal pada usia masih kecil. Tiga adik perempuannya bernama Gabriele Kafka (Elli), Valerie Kafka (Valli), dan Ottilie Kafka (Ottla). Ketiga adik perempuan Kafka meninggal di tempat tahanan Nazi di Auschwitz, Polandia tahun 1942.
Ia belajar pada universitas Karl Ferdinans di Praha dengan mengambil mata kuliah, kimia, sastra Jerman, dan sejarah seni. Pada akhirnya ia memutuskan untuk kuliah pada jurusan hukum hingga meraih doktor. Kemudian ia bekerja pada kantor asuransi Assicurazioni Generali dari Italia di Praha (1907-1908). Ia berpindah kerja pada Asuransi Kecelakaan Arbeiter-Unfall-Versicherungs-Anstalt (1908-1922). Ia terpaksa pensiun muda tahun 1922, karena penyakit tuberkulosis.

Di penghujung hidupnya ia kawin dengan Dora Diamant dan pada 3 Juni menjelang siang Kafka meninggal dunia di sanatorium Kierling, Wina. Pada 11 Juni jasadnya dikuburkan di makam Yahudi Straschnitz di Praha.


Pada tahun 1990 terbit novel Proses versi asli (Originalfassung) yang disesuaikan dari naskah aslinya, supaya mendekati yang autentik. Versi terbaru ini diedit oleh Malcolm Pasley sebagai koreksi atas beberapa kesalahan yang diedit oleh Brod.


(Sigit Susanto)


Rabu, 10 Juli 2013

Borges on Kafka

Borges on Kafka, Shakespeare, Joyce and the expressionists

sumber: http://storberose.blogspot.ch/2012/09/borges-on-kafka-shakespeare-joyce-and.html

Here’s another dialogue Jorge Luis Borges had with Osvaldo Ferrari for Buenos Aires’ Radio Municipal. The dialogue is titled “Kafka puede ser parte de la memoria humana” (Kafka may be part of human memory). Borges is telling Ferrari that he’s going to France to deliver a lecture to the French Academy on Franz Kafka. Ferrari asks him to elaborate on what he’s going to say:

What I’m going to mention, in Kafka’s case, is that if we read other great writers, we must continually do what they call make allowances in English – I don’t know quite what to call it in Spanish –, we have to think: well, this was written in such time, we must take many things into consideration. For instance, let us use the supreme example, which would be Shakespeare. In Shakespeare’s case, you have to think that he was not always writing for a select audience; that it had to last, well, what we now call‘five acts,’ although it was rather a continuous extension. Right, a certain extension of time, and, besides that, he acted, he had to use as a starting point plots that were traditional, foreign to him. And then he had to fit his characters in those plots, and sometimes you notice the dissonance. For instance, I believe in Hamlet, but I’m not sure I believe… making an effort I can believe in Hamlet’s ghost. But I’m not sure I believe in the court of Denmark and the intrigues; I don’t think so. In Macbeth’s case, I believe in Macbeth, I believe in Lady Macbeth; I’m ready to believe in the Fates – who are also witches –, but I’m not sure I believe in the fable. Well, that would be an example. And we have to relatively think about every writer: they wrote in such time, in such conditions; we have to situate them in the history of literature. And so we can, well, forgive or not mind certain things. However, in Kafka’s case, I think Kafka can be read beyond his historical circumstances. And we see two, which are very important: Kafka produces a good amount of his work during the war of fourteen. One of the most terrible wars ever – he must have suffered it a lot. Furthermore, he was a Jew, anti-Semitism was already on the rise. He lived in Austria, well, in Bohemia, which was part of Austria then. Died in Berlin, I think. All those circumstances, of living in a besieged country, in a country that was winner at first and loser in the end. All of that should have resonated throughout his work, and yet, if the reader didn’t know it he wouldn’t notice it; for it was all transmuted by Kafka. And then another fact, rarer still: Kafka was a personal friend of the expressionists. The expressionists led the most important aesthetic movement of this century; much more interesting than surrealism, or cubism, or mere futurism, than imagism. Well, it was a kind of total renovation of the arts. Of painting too; let’s think of Ernst Barlach or in Kokoschka, or the others. Kafka was their friend, they wrote; they were continuously renovating language, weaving metaphors. One could say the supreme work of expressionism was the work of Joyce, although he didn’t belong to this group and didn’t write in German, but in English; or in his English, which is a different English – an English made solely of composite words. Well, we have those two facts: expressionism, a great literary movement, and Kafka published in one of the two magazines – not sure if in Die Aktion or in Sturm – which were two expressionist magazines. I subscribed to them at the time, I mean the year 1916, 1917. At that time I read a text by Kafka for the first time; I was so insensitive that it simply seemed very soft, a bit anodyne, for I was surrounded by all sorts of verbal splendours from the expressionists. Well, you don’t notice any of that, that is, Kafka would end up being the great classical writer of our tormented century. And possibly will be read in the future and one will not know very well that he wrote at the beginning of the 20th century, that he was a contemporary of expressionism, a contemporary of the First World War. All of that can be forgotten: his work could be anonymous, and maybe, with time, it deserves to be. It’s what a work most aspires to be, isn’t it? Well, and that only a few books have achieved.

And now Borges’claim that Kafka’s work already belongs in mankind’s memory:

Now, in Kafka’s case, possibly those fables of his already are part of men’s memory. And it could happen with them what could happen with Don Quixote, let us say: all copies of Don Quixote could be lost, in Spanish or in the translations; you could lose them all, but the figure of Don Quixote is already part of mankind’s memory. I think that the idea of a terrible, growing, infinite trial that becomes the basis of his novels which, of course, Kafka didn’t want published because he knew that they were incomplete, that they had the duty to be infinite… well, The Castle, The Trial can be part of human memory and rewritten with different names, in diverse circumstances; but Kafka’s work is already part of mankind’s memory.

Ferrari then asks him what writers Kafka is closer to and Borges makes a fine point about the simplicity of Kafka’s language:

Well, perhaps Henry James is closer to him. Proust I don’t think would have interested him and Joyce absolutely nothing because Joyce corresponds to expressionism, that is, to the idea of art, well, as passionate, but also verbal. I mean: in Joyce’s case the important thing is each line. Well, Kafka lived surrounded by people who were, or tried to be, Joyce, without knowing him, of course. And yet what Kafka writes… he writes in a very simple German. So simple that I, who was studying German, managed to understand him. And other authors gave me a lot of work; the expressionists, for instance: Johannes Becher, whom I admire very much, who became for me the greatest expressionist. Well, I didn’t understand Becher, and what’s worst, I couldn’t feel at all what I was reading through the verbal games.

Borges is not the only writer to notice the simplicity of Kafka's writing. Milan Kundera has an excellent essay called "A Sentence" included in Testaments Betrayed and which addresses how translators of Kafka try to 'improve' his writing by replacing common verbs with more florid ones.

This dialogue certainly doesn’t exhaust everything Borges has to say about Kafka, about whom he wrote a lot. But I like it a lot because it offers many insights into the work of Kafka and what Borges thought of it.

Senin, 10 Juni 2013

Doktor Kafka dan Dora




(Novel Biografi)




Judul: Keindahan Hidup (Die Herrlichkeit des Lebens)


Penulis: Michael Kumpfmüller


Tebal: 238 hal


Penerbit: Kiepenheuer & Witsch, 2011




Novel ini ditutup dengan penjelasan dan ucapan terima kasih ke berbagai pihak. Dijelaskan oleh penulisnya bahwa tukar-menukar surat antara Kafka dan Dora tak bisa ditemukan. Dora Diamant pada musim panas 1924 membawa 20 buku catatan dan 35 surat dari Kafka ke Berlin. Pada tahun 1933 Gestapo (Geheime Staatspolizei), polisi rahasi resmi Nazi melakukan penyelidikan dan semua dokumen tersebut dilenyapkan. Dora tinggal di Jerman sampai tahun 1936, kemudian pindah ke Soviet selama 3 tahun. Sebelum Perang Dunia II meletus, ia beremigrasi ke Inggris. Di Inggris pada usianya yang ke 54 tahun, tepatnya bulan Agustus 1952 ia meninggal. Hermann Kafka, ayah Kafka hidup sampai tahun 1931 dan Julie Kafka hidup hingga tahun 1934. Ketiga adik perempuan Kafka, Elli, Valli dan Ottla juga keponakannya Hanna telah dibunuh oleh Nazi tahun 1942/1943 di Chelmno dan Auschwitz.






Ada tiga perempuan yang pernah bersinggungan dengan Kafka secara intens dalam arti menjadi pacar dan istri. Itu dibuktikan dengan surat-surat Kafka yang sudah dibukukan kepada ketiga perempuan tersebut.


Pertama, Felice Bauer sebagai pacar dan pernah bertunangan 3 kali, tapi selalu batal. Surat-surat yang ditulis Kafka kepada Felice Bauer itu setebal 759 halaman.


Kedua, Milena Jesenska sebagai penerjemah karya Kafka ke dalam bahasa Cheko, dan sebagai pacar gelapnya, mengingat Milena sendiri punya suami. Surat-surat Kafka kepada Milena tebalnya 349 halaman.


Ketiga, Dora Diamant, sebagai pengasuh anak-anak Yahudi dan menjadi istri hingga Kafka meninggal.




Pada umumnya seorang sejarawan, tidak suka dengan novel sejarah. Ia anggap, sejarah aslinya lebih riil ketimbang dibuatkan cerita novel. Pertanyaannya, bagaimana kalau dokumen sejarah hubungan Kafka dan Dora itu dilenyapkan oleh intelejen Nazi? Tentu saja, kisah dalam novel yang mendekati kisah kehidupan sang tokoh, seperti Kafka ini sangat membantu untuk mengetahui kronologinya. Michael Kumpfmüller, seorang pengarang Jerman bisa disebut cukup berhasil merekonstruksi pijaran hidup Kafka dengan Dora Diamant. Kemungkinan besar ia telah mengumpulkan bahan dari berbagai sumber seputar kisah hubungan Kafka dan Dora. Tak hanya sebatas balada kisah cinta berdua, namun cara ungkap Michael, sangat menjaga jarak, sehingga ini sebuah novel biografi yang remang-remang. Michael sepertinya mendalami gaya penulisan Kafka yang dikemas dengan bahasa yang jelas seperti kristal, namun maknanya bercabang dengan samar mendekati abstrak. Wajah penulisan yang banyak simbol ini, cenderung memberi nuansa menjaga jarak dengan setiap peristiwa riil dan memang begitulah cara Kafka memandang sebuah kejadian, hingga tertuang dalam karya.




Contoh sederhananya, Michael menyebut sang tokoh Kafka di permulaan dengan Doktor. Memang benar, Kafka memperoleh gelar doktor pada ilmu hukum. Separuh ke belakang pada novel ini, Michael berganti bukan lagi sebut Doktor, namun Franz. Seluruh novel ini tak ada tokoh protagonisnya dengan terang-terangan disebut Franz Kafka atau sekadar Kafka. Adapun Dora Diamant, lebih sering disebut dengan nama depannya Dora.




Judul novel ini adalah Kindahan Hidup (Die Herrlichkeit des Lebens). Judul ini pun Michael tidak mengarang sendiri, melainkan ia mencomot dari sebuah buku harian dari Franz Kafka pada tahun 1921. Sehingga pada halaman awal satu paragraf teks pada buku harian itu ditampilkan.




Dikisahkan, Doktor dengan adik-adik perempuannya, Elli, Valli dan Ottla serta keponakannya berlibur di pantai Ostsee, Skandinavia. Pada liburannya itu untuk mencari suasana baru dan udara segar, mengingat Doktor sejak setahun lalu mengajukan pensiun muda. Alasannya tak lain karena penyakit Tuberkulosis (TBC) yang sering kumat. Di pantai Doktor menulis surat ke kawannya Robert dan Bermann, kalau di laut ada hantu.








Michael sedikit membuat terobosan kreatif dalam menuliskan setiap bab baru. Kalimat pertama pada setiap bab baru itu, memakai huruf kapital sampai koma, dilanjutkan dengan huruf biasa. Model ini sesungguhnya bukan baru, setidaknya James Joyce pada cerpennya berjudul Araby dalam kumpulan cerpen Dubliners. Joyce membuka dengan NORTH RICHMOND STREET, being blind,….Selain itu pada novel ini tak mengenal tanda baca terutama dalam dialog. Hal ini memang agak umum, namun membuat pembaca lebih bebas menafsirkan jenis dialog dan narasi yang samar, namun bisa dipisahkan.




Di pantai itu Doktor sering mendengar suara teriakan anak-anak. Setelah ia perhatikan ternyata anak-anak itu berasal dari Berlin. Mereka adalah anak-anak Yahudi yang ditinggal orang tuanya dalam Perang Dunia I. Doktor itu melihat pengasuh anak-anak Yahudi itu dan berkenalan. Pengasuh anak-anak itu bernama Dora Diamant. Ia pandai mengurus keperluan anak-anak dari memasak sampai mengasuh bermain. Dora awalnya agak ragu, mengingat Doktor bersama perempuan, yang ia kira istrinya. Perkenalan semakin akrab, setelah tahu bahwa Doktor masih bujang dan perempuan di sebelahnya adalah adiknya bernama Valli, yang suaminya juga ikut di situ bernama Josef.




Doktor menawarkan Dora untuk bertemu lagi di pantai, sedang Dora inginnya bertemu di dapur. Dora tak punya pengalaman dengan lelaki, usia dia baru 17 tahun. Pertemuan kedua itu, Doktor menghujani ribuan pertanyaan, antara lain: dari mana asalnya? Di mana tinggalnya? Pada saat yang sama Doktor memandangi mulut Dora. Diperoleh keterangan, Dora berasal dari kota Krakau, Polandia. Ia melarikan diri dari ayahnya di Krakau dan tinggal di Berlin bekerja untuk Wohnheim, semacam rumah yatim piatu.




Mendengar nama Berlin, Doktor langsung senang. Bahkan tempat kerja Dora itu, sudah diketahui oleh Doktor. (Sebagai catatan, pacar Kafka pertama adalah Felice Bauer yang juga tinggal di Berlin dan Kafka sering mengunjunginya). Dora kaget, betapa Doktor paham sekali kota Berlin.




Adik-adik Doktor senang sekali melihat kakaknya ada tanda-tanda jatuh cinta dengan gadis cantik Dora. Apalagi Doktor dan Dora bertemu setiap hari. Ini di luar dugaan, di saat Doktor lemah untuk istirahat, malah semangatnya melonjak berkat berkenalan dengan gadis Yahudi. Saat jalan-jalan dengan angin kencang Doktor itu benar-benar seperti orang yang baru pacaran, penuh romantika. Ia menanyakan, sekiranya Dora kedinginan atau tak minat melanjutkan jalan-jalan. Dora memperkirakan, sang Doktor berusia tiga puluh tahun, artinya selisih sekitar 10 tahunan dengan dirinya. Lagian sang Doktor itu punya penyakit, di ujung paru-parunya kedinginan.




Pada akhirnya Sang Doktor dan Dora berpisah dalam liburannya. Keduanya bersepakat untuk melanjutkan pertemuan di Berlin. Dora menggeleng-gelengkan kepalanya, sebagai isyarat betapa bahagianya. Namun Doktor berharap Dora kelak tidak kecewa dengan kondisi dirinya yang sakit, seorang pensiunan yang baru berjalan setahun. Doktor merasa takut, kalau Dora nanti kecewa dengan dirinya. Ia ragu-ragu dan mulai jarang bisa tidur dan kepalanya pusing.




Pada akhirnya Doktor datang di Berlin dan tinggal bersama Dora. Apartemen yang mereka sewa kecil saja. Sayangnya pemilik apartemen, seorang ibu yang antisemitisme. Dora pernah mengalami pengalaman pahit, diludahi oleh anak muda di depannya. Tapi Dora sangat polos, ia tak tahu apa yang harus dilakukan.




Dora saat ini sudah berusia 25 tahun, Sang Doktor 15 tahun lebih tua, yakni 40 tahun. Di rumah Doktor bisa memegang Dora kapan saja, tapi ia hanya memandangi. Doktor sering menulis surat untuk sahabatnya dan keluarganya di Praha. Ia tulis sebuah kalimat, jika aku berjalan lewat rambutmu, dalam pikiranku yang capai, aku bahagia, tapi sepertinya itu tak sesungguhnya. Seluruh kehidupanku itu tidak nyara, bagaimanapun akan dimulai, selama mulai hidup denganmu, tapi tanpa ragu, itu kenyataan.




Di Berlin Doktor dan Dora mendapat kunjungan dari Max dan pacarnya Emmy, (Catatan kecil, Max dimungkinkan adalah Max Brod, alter ego Kafka di Praha). Max sempat kaget melihat tubuh Doktor tak seperti yang ia lihat sebelumnya. Doktor mengakui beratnya cuma 59 kg. Di Berlin ini Doktor juga sudah menulis tema koloni. Pernah ia baca surat Dora sambil berdiri di jendela. Surat itu ditulis Dora dari pantai, sambil memikirkan Doktor. Dora sebut,….pasir memikirkan kamu, air dan panti anak-anak, meja dan kursi-kursi, dinding di kamarku, bila aku di malam hari tak bisa tidur dan menyadari, dimana kamu akan rindu.


Doktor membayangkan kenalan dengan cewek-cewek sebelumnya. Sejak cewek berinisial M yang berusia 20-an tahun, F juga berusia 20-an tahun, Julie yang sedikit lebih tua, dengan cewek Swiss yang bukan Yahudi seperti cewek M yang non Yahudi.




Tak terasa 3 bulan pertama sudah berlalu di Berlin. Suatu kali Doktor menandatangani kontrak dengan penerbit. Meskipun Doktor pernah punya bekas pacar Felice Bauer yang tinggal di Berlin, tapi ia tidak ingin menemuinya. Selain Felice sudah bersuami dan punya anak.




Michael sampai di sini merubah dari nama tokoh Doktor menjadi Franz. Franz sebut, jika sedang nulis, dirinya bertemperamen buruk. Franz dan Dora sering bermain fantasi. Mereka memimpikan bisa suatu saat kembali ke Palestina di kota Haifa atau Tel Aviv. Di sana mereka hendak membuka restoran. Dora sebagai juru masak dan Franz sebagai pelayan di restoran. Sebagai pelayan restoran yang tak kenal isi dunia. Fantasinya itu membuat keduanya tertawa sendiri. Franz akui sejatinya dulu ingin menjadi seorang tukang kebun.



Surat Boneka
Suatu hari Franz dan Dora jalan-jalan di taman. Di situ ada anak kecil yang sedang menangis karena kehilangan bonekanya. Anak kecil itu bernama Katharina dengan panggilan Katja. Sedang boneka yang hilang itu bernama Mia.




Bocah berusia enam atau tujuh tahun ini tampak gusar, karena bonekanya dicari ke sana kemari tak ditemukan. Melihat kejadian itu, secara spontan Franz berlutut di depan bocah itu sembari berfantasi, “Aku tahu di mana boneka itu berada. Boneka itu mengirim surat kepadaku lewat pos kemarin. Tulisannya agak sulit dibaca. Jika kamu mau, besok suratnya kukasihkan kamu di sini.“




Di luar dugaan, gadis kecil itu berhenti menangis dan mulai percaya apa yang dikatakan Franz. Sejak itu Franz meluangkan waktu selama empat minggu untuk melanjutkan fantasinya sendiri menulis surat imajiner. Isi surat itu disebutkan,




... boneka Mia itu dari taman berjalan menuju ke stasiun. Di stasiun kereta api, dia tak punya uang. Untungnya ada anak muda yang menolong membelikan tiket kereta api. Mia akhirnya berada di pantai selama beberapa hari. Namun di pantai pun ia anggap membosankan. Si Mia ingin pergi ke seberang samudra. Datanglah sebuah kapal dan ia naik kapal pada waktu malam. Mia inginnya akan pergi ke Amerika. Sayangnya, kapalnya hanya mendarat sampai di Afrika.








Begitulah isi tiga pucuk surat tentang petualangan si Mia hingga berlabuh di Afrika. Franz lagi-lagi berada di taman menunggu bocah Katja yang baru pulang dari sekolah. Ia masih belum bisa baca tulisan. Namun Franz menuliskan,




...Mia juga senang bepergian, namun nanti pada perayaan natal ia ingin pulang.




Setelah surat yang kesekian kali, Franz mulai sibuk menulis tema lain, seperti buku harian, surat untuk Max Brod, novel dan coret-coretan lain, itu terjadi tahun 1923 di Berlin.




Katja merespon atas surat-surat itu kepada Franz,...


....jika Mia lebih suka tinggal di Afrika, lalu bagaimana?




Franz menjawab,




...Mia telah jatuh cinta dengan seorang pangeran di Afrika yang tempatnya sangat jauh. Tak apa, selama mereka saling bahagia.




Katja tanya lagi:




...apakah dia lebih mencintai pangerannya atau aku?




Katja setengah ragu untuk mengetahui kebenarannya, bersamaan dengan itu ia mulai meneteskan air mata. Perlahan-lahan ia sudah mulai menurut, ia ikut terlibat emosi, toh di Afrika juga ada pangeran.




Beberapa hari kemudian, kisah detil ini tetap diingat oleh Katja. Franz melanjutkan suratnya yang menyebut,




.....bahwa si Mia selama 24 jam berpikir keras dan diputuskan akan kawin dengan pangeran Afrika.








Bagaimana menutup kisah boneka imajiner ini?




Terjadi dua perbedaan pandangan, antara Franz dan Dora.




Dora menghendaki, agar cerita surat ini lekas selesai,




maka lebih baik beli saja boneka baru dan diberikan ke Katja sambil dijelaskan bahwa sekarang Mia sudah berubah menjadi tua, karena perjalanan panjangnya, tapi tetap bernama Mia.




Franz sebaliknya, ia ingin dalam menutup kisah ini ada sebuah pembelajaran, maka Franz menulis surat penutup,




....aku sangat bahagia. Seandainya aku saat ikut Katja dulu diurus dengan lebih baik, tak mungkin aku akan berkenalan dengan pangeran, tapi hikmahnya baik juga, kalau kamu (Katja) tidak merawatku dengan hati-hati atau sebaiknya tidak?




Dengan kata lain Franz akan bilang secara paralel dengan kehidupan pribadinya,...jika aku beberapa tahun sebelumnya tak terserang tuberkulosis (TBC), kemungkinan besar sekarang aku tidak berada di Berlin bersamamu (Dora). Itu hikmahnya, bahwa tuberkulosis (TBC) atau sebaiknya tidak?




Franz menulis setiap hari dari malam sampai pagi. Tapi sejak bertahun-tahun Franz memang punya penyakit tak bisa tidur malam. Apalagi sekarang di Berlin ini, ranjangnya kecil untuk berdua. Sedang Dora sendiri sejak usia remaja sudah punya ribuan rencana. Ia aktif di kelompok zionis dan suka bermain teater. Pada usia 20 tahun ia pernah minggat dua kali. Dora bercerita kepada kawannya, Judith tentang kebiasaan Franz di rumah. Franz penyuka penyair Jerman Kleist, juga Shakespeare. Ia baca Bruder Karamasow dari Dostojewski. Franz tidak suka karya Karl Kraus, sastrawan Austria.




Terkait buku bacaan Franz ini, sepertinya Michael, sang penulis novel biografi masih kurang lengkap menyebut daftar bacaan kesukaan Franz. Franz Kafka menyukai karya-karya dari Flaubert, bahkan saat membacanya sambil tertawa. Kejadian itu disaksikan oleh Max Brod. Bacaan Kafka lain adalahDavid Copperfield karya Charles Dickens. Kafka akui, tergopoh-gopoh membacaDavid Copperfield. Kafka juga mengagumi karya Johann Peter Hebel.




Dora gambarkan, cara menulisnya di waktu malam seperti sedang membawa palu dan pisau pahat. Dora ibaratkan kertas itu seolah dari batu. Franz sering menulis tentang binatang yang derajatnya paling rendah. Misalnya, kecoak, kera, tikus besar, burung nasar, anjing, dan serigala. Ada kaliamt seperti ini,…..ada apa lagi? Pertama salju itu berjatuhan, itu snagat dingin, jarang ada matahari, tapi akhirnya muncul, dia di rumah terus tanpa pernah ditinggalkan. Kalimat lainnya,……tak banyak yang bisa dikatakan. Di luar sana turun salju, salju di depan jendela itu menari berjam-jam, seolah orang kembali ke masa kanak-kanaknya.


Franz pernah diundang oleh sebuah komunitas untuk membacakan ceritanya bertema kera. Sayangnya Franz sakit sehingga Dora yang mewakili. Pada undangan itu dibacakan karya Franz ynag dibacakan oleh orang lain. Menurut Dora kisah tentang kera itu menakutkan.




Kondisi kesehatan Franz semakin buruk. Mereka mencari jalan keluar, salah satunya berencana pergi ke rumah rehabilitasi penyakit TBC di puncak gunung Davos, Switzerland.




Hidup berdua di Berlin tak membawa perubahan pada kesehatan Franz. Diputuskan, pulanglah Franz sementara waktu ke Praha. Kelak Dora menyusul ke Davos langsung. Namun setiba Franz di Praha, pikiran berubah lagi. Mengingat sulit mencari izin masuk negeri Switzerland. Apalagi Dora, dari Polandia, Eropa timur yang perlu izin tinggal di daratan Eropa.




Akhirnya Franz dibawa ke rumah rehabilitasi di Austria. Beberapa saat kemudian, Dora menyusul. Sesampai Dora di Austria, ia kesulitan mencari alamat. Sehingga ia perlu membaca telegram dari Franz berkali-kali. Tempat yang dituju adalah Pernitz. Bangunan gedung rehabilitasi itu besar seperti kuil yang terletak di gunung. Ketika Dora menjumpai Franz di ranjang, ia tak mengenali lagi. Sepertinya Franz telah berakhir hidupnya, sehingga ia ragu untuk memberi kecupan. Karena tempatnya di gunung dan tak ada penginapan, terpaksa Dora harus menginap di rumah petani yang sederhana.




Tak lama di tempat ini, Franz dipindah ke Wina, dengan pengawasan dari profesor Hajek. Sejak di rehabilitasi Wina ini, Ottla, adiknya Franz dari Praha datang. Ottla adalah adik kesayangan Franz. Ottla sangat gembira, karena kakaknya ditunggui Dora. Begitu pula Dora berkali-kali bilang ke Ottla hendak merencanakan kawin dengan Franz. Di tempat baru ini Dora juga kehabisan pakaian, sehingga perlu Judith, kawannya di Berlin mengirimkan pakaian Dora. Judith, satu-satunya sahabat karib Dora di Berlin juga mengabarkan hal yang buruk. Ia hamil, sedang pacarnya Fritz telah meninggalkannya tanpa tanggung jawab.




Kesehatan Franz tidak semakin membaik. Ia jarang makan dan batuk selama tiga hari bersamaan dengan rasa dingin yang menggigil. Dora tak beranjak pergi. Dora pegang dengan tangan wajah Franz dengan halus, sementara sepanjang waktu Franz tertidur. Menjelang siang, Franz meninggal masih dalam belaian tangan Dora.




Keluarga Franz di Praha sangat kehilangan atas meninggalnya anak sulungnya. Rencana pemakaman menjadi belum jelas, apakah akan dimakamkan di Kierling, Wina seperti usulan paman Franz atau dimakamkan di Praha. Ayah Franz mengirim telegram ke Wina, supaya yang menentukan adalah Dora. Maka Dora memutuskan Franz dimakamkan di Praha.




Sesampai di Praha, Dora menjadi bingung, akan ikut siapa sekarang? Akankah dia tinggal di Praha, lalu dengan siapa lagi? Franz tidak bisa diajak bicara. Apakah ia akan kembali ke Berlin? Di Berlin ia hanya bisa membongkar ulang masa-masa hidup bersama Franz, yang tentu semakin akan merobek angannya.




Menjelang pemakaman Franz, kawan-kawan Franz di Praha mengadakan acara baca karya. Dora merasa tak nyaman, karena ia tak kenal dengan kawan-kawan Franz. Sementara keluarga Franz gencar cerita tentang masa kecil Franz, ketika ia masih menjadi pelajar, ia jalan-jalan di gang-gang, jembatan. Terutama sang ayah merindukan Franz.


Max Brod dan Dora terjadi ketegangan, mengingat Brod mengumpulkan naskah-naskah Franz yang belum diterbitkan. Dora dicecar pertanyaan, sekiranya Dora masih menyimpan novel, fragmen, cerita lain. Tapi Brod tak hanya menanyakan kepada Dora, melainkan ia bertanya ke semua kenalan-kenalan Franz. Dora dalam hal ini agak tersinggung, bagaimana pun toh dia yang paling berhak atas semua karya warisan Franz, mengingat ia istri yang resmi. Namun Dora mengakui dari seluruh karya Franz, ada satu yang paling ia sukai, berjudul Sebelas Anak Lelaki (Elf Söhne). Alasan Dora, cerita itu lah yang paling mewakili dirinya dan Franz.




(Sigit Susanto)


Doktor Kafka dan Dora




(Novel Biografi)




Judul: Keindahan Hidup (Die Herrlichkeit des Lebens)


Penulis: Michael Kumpfmüller


Tebal: 238 hal


Penerbit: Kiepenheuer & Witsch, 2011




Novel ini ditutup dengan penjelasan dan ucapan terima kasih ke berbagai pihak. Dijelaskan oleh penulisnya bahwa tukar-menukar surat antara Kafka dan Dora tak bisa ditemukan. Dora Diamant pada musim panas 1924 membawa 20 buku catatan dan 35 surat dari Kafka ke Berlin. Pada tahun 1933 Gestapo (Geheime Staatspolizei), polisi rahasi resmi Nazi melakukan penyelidikan dan semua dokumen tersebut dilenyapkan. Dora tinggal di Jerman sampai tahun 1936, kemudian pindah ke Soviet selama 3 tahun. Sebelum Perang Dunia II meletus, ia beremigrasi ke Inggris. Di Inggris pada usianya yang ke 54 tahun, tepatnya bulan Agustus 1952 ia meninggal. Hermann Kafka, ayah Kafka hidup sampai tahun 1931 dan Julie Kafka hidup hingga tahun 1934. Ketiga adik perempuan Kafka, Elli, Valli dan Ottla juga keponakannya Hanna telah dibunuh oleh Nazi tahun 1942/1943 di Chelmno dan Auschwitz.






Ada tiga perempuan yang pernah bersinggungan dengan Kafka secara intens dalam arti menjadi pacar dan istri. Itu dibuktikan dengan surat-surat Kafka yang sudah dibukukan kepada ketiga perempuan tersebut.


Pertama, Felice Bauer sebagai pacar dan pernah bertunangan 3 kali, tapi selalu batal. Surat-surat yang ditulis Kafka kepada Felice Bauer itu setebal 759 halaman.


Kedua, Milena Jesenska sebagai penerjemah karya Kafka ke dalam bahasa Cheko, dan sebagai pacar gelapnya, mengingat Milena sendiri punya suami. Surat-surat Kafka kepada Milena tebalnya 349 halaman.


Ketiga, Dora Diamant, sebagai pengasuh anak-anak Yahudi dan menjadi istri hingga Kafka meninggal.




Pada umumnya seorang sejarawan, tidak suka dengan novel sejarah. Ia anggap, sejarah aslinya lebih riil ketimbang dibuatkan cerita novel. Pertanyaannya, bagaimana kalau dokumen sejarah hubungan Kafka dan Dora itu dilenyapkan oleh intelejen Nazi? Tentu saja, kisah dalam novel yang mendekati kisah kehidupan sang tokoh, seperti Kafka ini sangat membantu untuk mengetahui kronologinya. Michael Kumpfmüller, seorang pengarang Jerman bisa disebut cukup berhasil merekonstruksi pijaran hidup Kafka dengan Dora Diamant. Kemungkinan besar ia telah mengumpulkan bahan dari berbagai sumber seputar kisah hubungan Kafka dan Dora. Tak hanya sebatas balada kisah cinta berdua, namun cara ungkap Michael, sangat menjaga jarak, sehingga ini sebuah novel biografi yang remang-remang. Michael sepertinya mendalami gaya penulisan Kafka yang dikemas dengan bahasa yang jelas seperti kristal, namun maknanya bercabang dengan samar mendekati abstrak. Wajah penulisan yang banyak simbol ini, cenderung memberi nuansa menjaga jarak dengan setiap peristiwa riil dan memang begitulah cara Kafka memandang sebuah kejadian, hingga tertuang dalam karya.




Contoh sederhananya, Michael menyebut sang tokoh Kafka di permulaan dengan Doktor. Memang benar, Kafka memperoleh gelar doktor pada ilmu hukum. Separuh ke belakang pada novel ini, Michael berganti bukan lagi sebut Doktor, namun Franz. Seluruh novel ini tak ada tokoh protagonisnya dengan terang-terangan disebut Franz Kafka atau sekadar Kafka. Adapun Dora Diamant, lebih sering disebut dengan nama depannya Dora.




Judul novel ini adalah Kindahan Hidup (Die Herrlichkeit des Lebens). Judul ini pun Michael tidak mengarang sendiri, melainkan ia mencomot dari sebuah buku harian dari Franz Kafka pada tahun 1921. Sehingga pada halaman awal satu paragraf teks pada buku harian itu ditampilkan.




Dikisahkan, Doktor dengan adik-adik perempuannya, Elli, Valli dan Ottla serta keponakannya berlibur di pantai Ostsee, Skandinavia. Pada liburannya itu untuk mencari suasana baru dan udara segar, mengingat Doktor sejak setahun lalu mengajukan pensiun muda. Alasannya tak lain karena penyakit Tuberkulosis (TBC) yang sering kumat. Di pantai Doktor menulis surat ke kawannya Robert dan Bermann, kalau di laut ada hantu.








Michael sedikit membuat terobosan kreatif dalam menuliskan setiap bab baru. Kalimat pertama pada setiap bab baru itu, memakai huruf kapital sampai koma, dilanjutkan dengan huruf biasa. Model ini sesungguhnya bukan baru, setidaknya James Joyce pada cerpennya berjudul Araby dalam kumpulan cerpen Dubliners. Joyce membuka dengan NORTH RICHMOND STREET, being blind,….Selain itu pada novel ini tak mengenal tanda baca terutama dalam dialog. Hal ini memang agak umum, namun membuat pembaca lebih bebas menafsirkan jenis dialog dan narasi yang samar, namun bisa dipisahkan.




Di pantai itu Doktor sering mendengar suara teriakan anak-anak. Setelah ia perhatikan ternyata anak-anak itu berasal dari Berlin. Mereka adalah anak-anak Yahudi yang ditinggal orang tuanya dalam Perang Dunia I. Doktor itu melihat pengasuh anak-anak Yahudi itu dan berkenalan. Pengasuh anak-anak itu bernama Dora Diamant. Ia pandai mengurus keperluan anak-anak dari memasak sampai mengasuh bermain. Dora awalnya agak ragu, mengingat Doktor bersama perempuan, yang ia kira istrinya. Perkenalan semakin akrab, setelah tahu bahwa Doktor masih bujang dan perempuan di sebelahnya adalah adiknya bernama Valli, yang suaminya juga ikut di situ bernama Josef.




Doktor menawarkan Dora untuk bertemu lagi di pantai, sedang Dora inginnya bertemu di dapur. Dora tak punya pengalaman dengan lelaki, usia dia baru 17 tahun. Pertemuan kedua itu, Doktor menghujani ribuan pertanyaan, antara lain: dari mana asalnya? Di mana tinggalnya? Pada saat yang sama Doktor memandangi mulut Dora. Diperoleh keterangan, Dora berasal dari kota Krakau, Polandia. Ia melarikan diri dari ayahnya di Krakau dan tinggal di Berlin bekerja untuk Wohnheim, semacam rumah yatim piatu.




Mendengar nama Berlin, Doktor langsung senang. Bahkan tempat kerja Dora itu, sudah diketahui oleh Doktor. (Sebagai catatan, pacar Kafka pertama adalah Felice Bauer yang juga tinggal di Berlin dan Kafka sering mengunjunginya). Dora kaget, betapa Doktor paham sekali kota Berlin.




Adik-adik Doktor senang sekali melihat kakaknya ada tanda-tanda jatuh cinta dengan gadis cantik Dora. Apalagi Doktor dan Dora bertemu setiap hari. Ini di luar dugaan, di saat Doktor lemah untuk istirahat, malah semangatnya melonjak berkat berkenalan dengan gadis Yahudi. Saat jalan-jalan dengan angin kencang Doktor itu benar-benar seperti orang yang baru pacaran, penuh romantika. Ia menanyakan, sekiranya Dora kedinginan atau tak minat melanjutkan jalan-jalan. Dora memperkirakan, sang Doktor berusia tiga puluh tahun, artinya selisih sekitar 10 tahunan dengan dirinya. Lagian sang Doktor itu punya penyakit, di ujung paru-parunya kedinginan.




Pada akhirnya Sang Doktor dan Dora berpisah dalam liburannya. Keduanya bersepakat untuk melanjutkan pertemuan di Berlin. Dora menggeleng-gelengkan kepalanya, sebagai isyarat betapa bahagianya. Namun Doktor berharap Dora kelak tidak kecewa dengan kondisi dirinya yang sakit, seorang pensiunan yang baru berjalan setahun. Doktor merasa takut, kalau Dora nanti kecewa dengan dirinya. Ia ragu-ragu dan mulai jarang bisa tidur dan kepalanya pusing.




Pada akhirnya Doktor datang di Berlin dan tinggal bersama Dora. Apartemen yang mereka sewa kecil saja. Sayangnya pemilik apartemen, seorang ibu yang antisemitisme. Dora pernah mengalami pengalaman pahit, diludahi oleh anak muda di depannya. Tapi Dora sangat polos, ia tak tahu apa yang harus dilakukan.




Dora saat ini sudah berusia 25 tahun, Sang Doktor 15 tahun lebih tua, yakni 40 tahun. Di rumah Doktor bisa memegang Dora kapan saja, tapi ia hanya memandangi. Doktor sering menulis surat untuk sahabatnya dan keluarganya di Praha. Ia tulis sebuah kalimat, jika aku berjalan lewat rambutmu, dalam pikiranku yang capai, aku bahagia, tapi sepertinya itu tak sesungguhnya. Seluruh kehidupanku itu tidak nyara, bagaimanapun akan dimulai, selama mulai hidup denganmu, tapi tanpa ragu, itu kenyataan.




Di Berlin Doktor dan Dora mendapat kunjungan dari Max dan pacarnya Emmy, (Catatan kecil, Max dimungkinkan adalah Max Brod, alter ego Kafka di Praha). Max sempat kaget melihat tubuh Doktor tak seperti yang ia lihat sebelumnya. Doktor mengakui beratnya cuma 59 kg. Di Berlin ini Doktor juga sudah menulis tema koloni. Pernah ia baca surat Dora sambil berdiri di jendela. Surat itu ditulis Dora dari pantai, sambil memikirkan Doktor. Dora sebut,….pasir memikirkan kamu, air dan panti anak-anak, meja dan kursi-kursi, dinding di kamarku, bila aku di malam hari tak bisa tidur dan menyadari, dimana kamu akan rindu.


Doktor membayangkan kenalan dengan cewek-cewek sebelumnya. Sejak cewek berinisial M yang berusia 20-an tahun, F juga berusia 20-an tahun, Julie yang sedikit lebih tua, dengan cewek Swiss yang bukan Yahudi seperti cewek M yang non Yahudi.




Tak terasa 3 bulan pertama sudah berlalu di Berlin. Suatu kali Doktor menandatangani kontrak dengan penerbit. Meskipun Doktor pernah punya bekas pacar Felice Bauer yang tinggal di Berlin, tapi ia tidak ingin menemuinya. Selain Felice sudah bersuami dan punya anak.




Michael sampai di sini merubah dari nama tokoh Doktor menjadi Franz. Franz sebut, jika sedang nulis, dirinya bertemperamen buruk. Franz dan Dora sering bermain fantasi. Mereka memimpikan bisa suatu saat kembali ke Palestina di kota Haifa atau Tel Aviv. Di sana mereka hendak membuka restoran. Dora sebagai juru masak dan Franz sebagai pelayan di restoran. Sebagai pelayan restoran yang tak kenal isi dunia. Fantasinya itu membuat keduanya tertawa sendiri. Franz akui sejatinya dulu ingin menjadi seorang tukang kebun.



Surat Boneka
Suatu hari Franz dan Dora jalan-jalan di taman. Di situ ada anak kecil yang sedang menangis karena kehilangan bonekanya. Anak kecil itu bernama Katharina dengan panggilan Katja. Sedang boneka yang hilang itu bernama Mia.




Bocah berusia enam atau tujuh tahun ini tampak gusar, karena bonekanya dicari ke sana kemari tak ditemukan. Melihat kejadian itu, secara spontan Franz berlutut di depan bocah itu sembari berfantasi, “Aku tahu di mana boneka itu berada. Boneka itu mengirim surat kepadaku lewat pos kemarin. Tulisannya agak sulit dibaca. Jika kamu mau, besok suratnya kukasihkan kamu di sini.“




Di luar dugaan, gadis kecil itu berhenti menangis dan mulai percaya apa yang dikatakan Franz. Sejak itu Franz meluangkan waktu selama empat minggu untuk melanjutkan fantasinya sendiri menulis surat imajiner. Isi surat itu disebutkan,




... boneka Mia itu dari taman berjalan menuju ke stasiun. Di stasiun kereta api, dia tak punya uang. Untungnya ada anak muda yang menolong membelikan tiket kereta api. Mia akhirnya berada di pantai selama beberapa hari. Namun di pantai pun ia anggap membosankan. Si Mia ingin pergi ke seberang samudra. Datanglah sebuah kapal dan ia naik kapal pada waktu malam. Mia inginnya akan pergi ke Amerika. Sayangnya, kapalnya hanya mendarat sampai di Afrika.








Begitulah isi tiga pucuk surat tentang petualangan si Mia hingga berlabuh di Afrika. Franz lagi-lagi berada di taman menunggu bocah Katja yang baru pulang dari sekolah. Ia masih belum bisa baca tulisan. Namun Franz menuliskan,




...Mia juga senang bepergian, namun nanti pada perayaan natal ia ingin pulang.




Setelah surat yang kesekian kali, Franz mulai sibuk menulis tema lain, seperti buku harian, surat untuk Max Brod, novel dan coret-coretan lain, itu terjadi tahun 1923 di Berlin.




Katja merespon atas surat-surat itu kepada Franz,...


....jika Mia lebih suka tinggal di Afrika, lalu bagaimana?




Franz menjawab,




...Mia telah jatuh cinta dengan seorang pangeran di Afrika yang tempatnya sangat jauh. Tak apa, selama mereka saling bahagia.




Katja tanya lagi:




...apakah dia lebih mencintai pangerannya atau aku?




Katja setengah ragu untuk mengetahui kebenarannya, bersamaan dengan itu ia mulai meneteskan air mata. Perlahan-lahan ia sudah mulai menurut, ia ikut terlibat emosi, toh di Afrika juga ada pangeran.




Beberapa hari kemudian, kisah detil ini tetap diingat oleh Katja. Franz melanjutkan suratnya yang menyebut,




.....bahwa si Mia selama 24 jam berpikir keras dan diputuskan akan kawin dengan pangeran Afrika.








Bagaimana menutup kisah boneka imajiner ini?




Terjadi dua perbedaan pandangan, antara Franz dan Dora.




Dora menghendaki, agar cerita surat ini lekas selesai,




maka lebih baik beli saja boneka baru dan diberikan ke Katja sambil dijelaskan bahwa sekarang Mia sudah berubah menjadi tua, karena perjalanan panjangnya, tapi tetap bernama Mia.




Franz sebaliknya, ia ingin dalam menutup kisah ini ada sebuah pembelajaran, maka Franz menulis surat penutup,




....aku sangat bahagia. Seandainya aku saat ikut Katja dulu diurus dengan lebih baik, tak mungkin aku akan berkenalan dengan pangeran, tapi hikmahnya baik juga, kalau kamu (Katja) tidak merawatku dengan hati-hati atau sebaiknya tidak?




Dengan kata lain Franz akan bilang secara paralel dengan kehidupan pribadinya,...jika aku beberapa tahun sebelumnya tak terserang tuberkulosis (TBC), kemungkinan besar sekarang aku tidak berada di Berlin bersamamu (Dora). Itu hikmahnya, bahwa tuberkulosis (TBC) atau sebaiknya tidak?




Franz menulis setiap hari dari malam sampai pagi. Tapi sejak bertahun-tahun Franz memang punya penyakit tak bisa tidur malam. Apalagi sekarang di Berlin ini, ranjangnya kecil untuk berdua. Sedang Dora sendiri sejak usia remaja sudah punya ribuan rencana. Ia aktif di kelompok zionis dan suka bermain teater. Pada usia 20 tahun ia pernah minggat dua kali. Dora bercerita kepada kawannya, Judith tentang kebiasaan Franz di rumah. Franz penyuka penyair Jerman Kleist, juga Shakespeare. Ia baca Bruder Karamasow dari Dostojewski. Franz tidak suka karya Karl Kraus, sastrawan Austria.




Terkait buku bacaan Franz ini, sepertinya Michael, sang penulis novel biografi masih kurang lengkap menyebut daftar bacaan kesukaan Franz. Franz Kafka menyukai karya-karya dari Flaubert, bahkan saat membacanya sambil tertawa. Kejadian itu disaksikan oleh Max Brod. Bacaan Kafka lain adalahDavid Copperfield karya Charles Dickens. Kafka akui, tergopoh-gopoh membacaDavid Copperfield. Kafka juga mengagumi karya Johann Peter Hebel.




Dora gambarkan, cara menulisnya di waktu malam seperti sedang membawa palu dan pisau pahat. Dora ibaratkan kertas itu seolah dari batu. Franz sering menulis tentang binatang yang derajatnya paling rendah. Misalnya, kecoak, kera, tikus besar, burung nasar, anjing, dan serigala. Ada kaliamt seperti ini,…..ada apa lagi? Pertama salju itu berjatuhan, itu snagat dingin, jarang ada matahari, tapi akhirnya muncul, dia di rumah terus tanpa pernah ditinggalkan. Kalimat lainnya,……tak banyak yang bisa dikatakan. Di luar sana turun salju, salju di depan jendela itu menari berjam-jam, seolah orang kembali ke masa kanak-kanaknya.


Franz pernah diundang oleh sebuah komunitas untuk membacakan ceritanya bertema kera. Sayangnya Franz sakit sehingga Dora yang mewakili. Pada undangan itu dibacakan karya Franz ynag dibacakan oleh orang lain. Menurut Dora kisah tentang kera itu menakutkan.




Kondisi kesehatan Franz semakin buruk. Mereka mencari jalan keluar, salah satunya berencana pergi ke rumah rehabilitasi penyakit TBC di puncak gunung Davos, Switzerland.




Hidup berdua di Berlin tak membawa perubahan pada kesehatan Franz. Diputuskan, pulanglah Franz sementara waktu ke Praha. Kelak Dora menyusul ke Davos langsung. Namun setiba Franz di Praha, pikiran berubah lagi. Mengingat sulit mencari izin masuk negeri Switzerland. Apalagi Dora, dari Polandia, Eropa timur yang perlu izin tinggal di daratan Eropa.




Akhirnya Franz dibawa ke rumah rehabilitasi di Austria. Beberapa saat kemudian, Dora menyusul. Sesampai Dora di Austria, ia kesulitan mencari alamat. Sehingga ia perlu membaca telegram dari Franz berkali-kali. Tempat yang dituju adalah Pernitz. Bangunan gedung rehabilitasi itu besar seperti kuil yang terletak di gunung. Ketika Dora menjumpai Franz di ranjang, ia tak mengenali lagi. Sepertinya Franz telah berakhir hidupnya, sehingga ia ragu untuk memberi kecupan. Karena tempatnya di gunung dan tak ada penginapan, terpaksa Dora harus menginap di rumah petani yang sederhana.




Tak lama di tempat ini, Franz dipindah ke Wina, dengan pengawasan dari profesor Hajek. Sejak di rehabilitasi Wina ini, Ottla, adiknya Franz dari Praha datang. Ottla adalah adik kesayangan Franz. Ottla sangat gembira, karena kakaknya ditunggui Dora. Begitu pula Dora berkali-kali bilang ke Ottla hendak merencanakan kawin dengan Franz. Di tempat baru ini Dora juga kehabisan pakaian, sehingga perlu Judith, kawannya di Berlin mengirimkan pakaian Dora. Judith, satu-satunya sahabat karib Dora di Berlin juga mengabarkan hal yang buruk. Ia hamil, sedang pacarnya Fritz telah meninggalkannya tanpa tanggung jawab.




Kesehatan Franz tidak semakin membaik. Ia jarang makan dan batuk selama tiga hari bersamaan dengan rasa dingin yang menggigil. Dora tak beranjak pergi. Dora pegang dengan tangan wajah Franz dengan halus, sementara sepanjang waktu Franz tertidur. Menjelang siang, Franz meninggal masih dalam belaian tangan Dora.




Keluarga Franz di Praha sangat kehilangan atas meninggalnya anak sulungnya. Rencana pemakaman menjadi belum jelas, apakah akan dimakamkan di Kierling, Wina seperti usulan paman Franz atau dimakamkan di Praha. Ayah Franz mengirim telegram ke Wina, supaya yang menentukan adalah Dora. Maka Dora memutuskan Franz dimakamkan di Praha.




Sesampai di Praha, Dora menjadi bingung, akan ikut siapa sekarang? Akankah dia tinggal di Praha, lalu dengan siapa lagi? Franz tidak bisa diajak bicara. Apakah ia akan kembali ke Berlin? Di Berlin ia hanya bisa membongkar ulang masa-masa hidup bersama Franz, yang tentu semakin akan merobek angannya.




Menjelang pemakaman Franz, kawan-kawan Franz di Praha mengadakan acara baca karya. Dora merasa tak nyaman, karena ia tak kenal dengan kawan-kawan Franz. Sementara keluarga Franz gencar cerita tentang masa kecil Franz, ketika ia masih menjadi pelajar, ia jalan-jalan di gang-gang, jembatan. Terutama sang ayah merindukan Franz.


Max Brod dan Dora terjadi ketegangan, mengingat Brod mengumpulkan naskah-naskah Franz yang belum diterbitkan. Dora dicecar pertanyaan, sekiranya Dora masih menyimpan novel, fragmen, cerita lain. Tapi Brod tak hanya menanyakan kepada Dora, melainkan ia bertanya ke semua kenalan-kenalan Franz. Dora dalam hal ini agak tersinggung, bagaimana pun toh dia yang paling berhak atas semua karya warisan Franz, mengingat ia istri yang resmi. Namun Dora mengakui dari seluruh karya Franz, ada satu yang paling ia sukai, berjudul Sebelas Anak Lelaki (Elf Söhne). Alasan Dora, cerita itu lah yang paling mewakili dirinya dan Franz.




(Sigit Susanto)