Kamis, 25 Agustus 2011

Komentar Nabokov tentang Metamorfosis




“Siapa melihat sesuatu yang lebih terhadap karya Kafka `Metamorfosis` dari sekadar sebuah fantasi serangga, saya menyambutnya sebagai pembaca yang benar pada deretan yang bagus.“

(Vladimir Nabokov)

Judul: Die Verwandlung – Franz Kafka
Mit einem Kommentar von Vladimir Nabokov
(Metamorfosis – Franz Kafka dengan sebuah komentar dari Vladimir Nabokov)
Penerbit: Fischer, 1991.
Tebal: 107 Halaman.

Nabokov penulis novel terkenal Lolita, mencoba menelaah novelet Metamorfosis dari Franz Kafka. Nabokov sebutkan, ia hendak menganalisis antara fantasi dan realitas serta hubungan perubahannya. Sebagai pembanding ia pakai dua karya lain, yakni; Mantel (Der Mantel) karya Gogol dan Dr.Jekyll dan Mr. Hyde karya Robert Louis Stevenson.

Tegas Nabokov, “Siapa melihat sesuatu yang lebih terhadap karya Kafka `Metamorfosis` dari sekadar fantasi serangga, saya menyambutnya sebagai pembaca yang benar pada deretan yang bagus.“

Antara Mantel, Dr. Jekyll dan Mr. Hyde dan Metamorfosis, ketiganya sebagai cerita yang fantastis. Dari sudut pandangku bahwa setiap karya seni yang menonjol berasal dari sebuah fantasi, sebagai satu-satunya dunia yang bisa dilihat ulang oleh manusia. Apakah orang akan menganggapnya ketiga cerita itu fantastis, akankah orang mengatakan sampai sebatas itu saja, sedang penggambarannya sebagai dunia yang melantur, apakah yang lazim dianggap oleh orang sebagai realitas dan kenyataan. Sebab itu kita akan menelaah apakah realitas itu, sejauh mana takarannya berbeda dengan fantasi.

Kita ambil contoh ada tiga lelaki yang sedang berjalan melewati sebuah ladang yang sama. Lelaki pertama, warga kota yang sedang liburan, lelaki kedua, seorang ahli biologi dan lelaki ketiga, seorang petani lokal tulen.

1.Lelaki pertama, seorang realis dan serba teknis. Ia memiliki 5 kategori. Baginya, pepohonan adalah pepohonan, seperti yang ia lihat dari buku panduan wisata di sepanjang jalan, ada jalan yang menuju ke kota baru, di situ terdapat warung bagus berdasar anjuran dari kawan kerjanya.

2.Lelaki ahli botani memandang ke seluruh penjuru dengan mata yang awas, langsung memilahkan berdasar ilmu biologi (Misalnya, jenis pohon, rumput, bunga, pakis). Itulah bagi ahli biologi dianggap sebagai realitas. Bagi dia yang dianggap fantasi, dunia impian yang samar dan dongeng itu seperti musim panas yang cerah dalam keheningan (bukan seekor tupai di pohon).

3.Lelaki yang sebagai petani menolak dari pandangan kedua lelaki sebelumnya. Si petani bisa menunjukkan dengan tepat berbagai hal secara pribadi. Bagaimana pun ia dilahirkan dan dibesarkan di sini. Ia tahu persis di mana jalan dan lorong kecil, setiap semak-semak dan pohon. Semua itu terkait dengan pekerjaannya sehari-hari. Masa kecilnya dan ribuan hal yang kecil-kecil lainnya.

Jelas kedua lelaki sebelumnya, turis dan ahli botani tak memahami lingkungan. Mungkin saja bagi petani tidak paham nilai-nilai secara ilmu biologi di lingkungannya. Bagi ahli botani tak memandang penting sebuah kandang, ladang dan rumah di bawah bayangan pohon tinggi, yang sangat berarti bagi orang yang lahir di situ, sebagai sebuah kenangan pribadi yang mengawang.

Dari contoh di atas, telah ditunjukkan perbedaan realitas sesuai dengan pengalaman. Tentu saja kita masih bisa mencoba dengan permainan berbagai kehidupan lain. Seorang buta dengan seekor anjing, seorang pemburu dengan seekor anjing, seekor anjing dengan tuannya. Seorang pelukis sedang mencari objek matahari terbenam, seorang gadis yang kehabisan bensin.

Bagi setiap orang akan mengalami pengalaman yang berbeda terkait masa sekarang. Di situ lah akan bertemu kosa kata yang objektif seperti, pohon, bunga, langit, kandang, hujan, yang akan berkonfrontasi dengan pandangan subjektif. Di sinilah keputusan subjektif begitu kuat, karena mendapat pengaruh dari apa yang disebut kehidupan/eksistensi objektif yang kosong, longsongan peluru yang hancur.

Hanya ada satu jalan kembali menuju ke kenyataan objektif: kita harus membedakan dunia yang berbeda secara terpisah dan secara mendasar mencampuradukkan. Itulah setetes kenyataan objektif yang kita sebut.

Jika kita bicara tentang kenyataan, maksud kita dasarnya adalah dari semua sumber mengucur dalam satu tetes. Sebuah campuraduk dari jutaan kenyataan yang terpisah. Dalam hal ini (realitas kemanusiaan), aku kaitkan dengan pemahaman tentang kenyataan, jika aku menabrakkan pada dunia Mantel, Dr. Jekyll dan Mr. Hyde, atau Metamorfosis, tiap dari cerita ini punya sebuah fantasinya tersendiri. Pada Mantel dan Metamorfosis masing-masing punya tokoh utama.

Kualitas manusia tokoh utama pada Mantel jenisnya berbeda dengan cerita dari Metamorfosis. Tapi keduanya punya kemiripan dalam gairah kemanusiaan. Pada Dr.Jekyll dan Mr. Hyde tak sama, di sini tegangan tidak keras.

Keindahan dari Kafka dan Gogol terletak pada impian pribadi yang menakutkan. Kedua cerita itu punya tokoh utama yang fantastis, membentuk sosok yang bukan manusia. Tokoh utamanya berusaha keluar, untuk melemparkan topeng, tentang mencuatnya Mantel dan Panser. Pada cerita Stevenson tak terdapat konfrontasi dan kesatuan. Aku pikir, Jekylls Elixer dalam dunia nyata sebagai tokoh riel sebagai kehidupan Utterson. Stevenson mengambil tokoh bayangan seperti pada Dicken.

Secara garis besar perbedaan cerita antara gaya Gogol, Kafka, dan Stevenson sebagai berikut:
Pada Gogol dan Kafka, tokoh utama yang absurd sebagai bagian dari lingkungan yang absurd. Tetapi mereka berusaha keluar dalam eksistensi sebagai manusia meskipun dengan susah payah. Walau pada akhirnya meninggal penuh kebimbangan. Pada Stevenson tokoh utama tidak nyata dari lingkungan dunia khayal. Jekyll/Hyde, sosok yang suka show. Ia berjuang sampai mati, pembaca tak paham. Dengan kata lain aku tak akan bilang, cerita Stevenson tak berguna. Bukan seperti itu, dia dalam wacana konvensional sebagai maestro kecil saja.

Aku menolak pendapat Max Brod bahwa karya Kafka cenderung menjurus ke dunia kesucian, bukan sastra. Kafka bagiku sebagai seniman dan tiap seniman punya sesuatu yang disucikan. Aku tidak percaya jika kecerdikan Kafka di dalamnya berbau agama. Ia mengajak kembali ke paradigma Freudian.

Metamorfosis adalah produk kompleksitas terhadap ayahnya dan perasaan bersalah berkepanjangan. Sebab itu dijelaskan ada bahasa simbol yang mistis, yakni muncul tokoh anak menjadi binatang kecil yang mengganggu (Ungeziefer). Aku ragu, simbol kecoak itu hadir dalam karya Kafka, pasti itu menggambarkan ajaran Freudian. Ia masukkan aspek psikoanalisis yaitu “kesalahan yang tak terelakan.“ Itulah alasanku, aku lebih suka mengamati seni menulisnya ketimbang wacana Freudian.

Pengaruh besar yang menimpa pada Kafka juga sudah dipraktikkan oleh Flaubert. Kafka yang mengusung tema kengerian, karena bahasa Kafka dianggapnya sebagai alat tukang. Perbendaharaan ilmu hukum dan pengetahuan alam menyublin menjadi ironi yang jelas. Temuan Kafka secara pribadi itu juga dialami Flaubert yang punya dampak kesatuan puitis.

Samsa menjadi pahlawan, anak pengusaha di Praha kelas menengah. Keluarga sebagai ujung tombak, ini juga tampak pada karya Flaubert. Manusia dengan selera rendahan, yang hanya mengurus dunia materi dengan rakus. Lima tahun sebelumnya ayah Kafka terkena denda hutang. Di situ lah Gregor sebagai pengusaha tekstil. Sekarang ayah Gregor hendak melimpahkan bisnisnya. Bagi Grete, adik Gregor akan mengambil alih, dia terlalu muda, sementara ibunya sakit
asma. Tentu saja Gregor muda menjadi kebanggaan keluarga. Gregor mencari rumah kontrakan di Charlottenstrasse, yang kemudian menjadi bagian dari tempat tinggalnya. Karya tersebut ditulis tahun 1912 di Praha, kota tua Eropa. Di Praha itu dulu pembantu masih digaji murah, sebab itu keluarga Samsa mampu memperkerjakan seorang gadis berusia 16 tahun bernama Anna. Ia satu tahun lebih muda dari Grete, serta ditambah seorang juru masak.

Pada umumnya Gregor dalam perjalanan bisnis, namun pada malam hari di akhir cerita diselipkan antara dua perjalanan bisnisnya, ia pulang ke rumah. Nah di sini lah terjadi kisah yang mengerikan, “Ketika Gregor Samsa bangun dari mimpi buruknya di suatu pagi, ia temukan dirinya di ranjang sudah berubah menjadi kecoak raksasa. Jika kepalanya sedikit diangkat, ia lihat batok keras mengganjal di punggungnya, perutnya kaku membentuk susunan berlapis-lapis, melengkung, cokelat, setinggi selimut, posisinya curam ke bawah, tak bisa dibayangkan. Matanya kabur, tak berdaya melihat banyak kaki-kaki ramping dibanding yang lainnya.
“Apakah gerangan yang terjadi pada diriku?“ pikir dia.
Itu bukan mimpi...

Pandangan Gregor dialihkan ke luar jendela, cuacanya murung, terdengar rintik hujan yang jatuh di jendela seng, yang menjadikan Gregor semakin melankolis. “Bagaimana seandainya aku lanjutkan tidur sedikit saja dan melupakan semua kejadian aneh itu.“

Gregor mencoba seratus kali untuk menutup mata, sehingga tak harus melihat kaki-kaki yang terus menggelisahkan.

Perihal mata Gregor yang sudah berubah menjadi mata serangga, Nabokov punya analisis kritis:
“Seekor kecoak tak punya kelopak mata (Augenlider), oleh karenanya matanya tidak bisa dikatupkan. Berarti meskipun mata Gregor sudah menjadi mata serangga, namun sebetulnya masih pakai mata manusia.“

Seharusnya setan-setan mengenyahkan semua beban ini. Seperti apa sekarang bentuk serangga yang menjijikkan itu. Gregor yang renta, sebagai traveller kecil yang sudah bermertamorfosis? Dari penggambaran itu jelas tergolong kelompok “kaki yang bergerak-gerak“ (Arthropoda), serangga, binatang penenun, binatang kaki seribu, kerang. Cerita yang dimulai dengan ilustrasi “banyak kaki,“ dimaksudkan lebih dari jumlah 6 kaki, maka secara ilmu binatang, bisa jadi Gregor bukan termasuk serangga. Namun untuk meninggalkan alasan itu, kita yakini saja Gregor itu serangga dengan kaki enam.

Kalau begitu seperti apakah bentuk Gregor itu? Katakanlah Gregor sebagai coro. Namun juga tidak cocok, sebab coro itu pipih tubuhnya dan punya kaki panjang. Perut dan punggung Gregor melengkung serta punya banyak kaki. Namun hanya ada satu pertanda yang menyerupai coro, yakni warnanya cokelat. Itu bukti semua yang ada. Pada perjalanan kisah tersebut, orang akan paham pelan-pelan terhadap perubahan baru yang sangat ekstrem, juga alat peraba/antena dan laki-kaki difungsikan. Kecoak cokelat yang bulat sebesar anjing, sangat kebesaran, maka aku gambar seperti ini: (Lihat di foto album facebook)

Seorang pelayan perempuan secara terbuka bicara dengan kecoak bukan tak ramah. Secara ilmu binatang, Gregor sudah selesai menjadi kecoak besar. (aku harus yakinkan, bahwa baik Gregor maupun Kafka dengan jelas telah merujuk ke seekor kecoak.) Perhatikanlah perubahan itu dengan saksama. Perubahan itu mengerikan dan menakjubkan, tak ada persepktif lain, seperti orang pertama kali harus menganggapnya.

Sebuah interpretasi logis (Paul L. Landsberg in The Kafka Problem (1946) Hsg. Angel Flores)
“Jika kita tidur di sebuah lingkungan yang tak pasti, sering kali ketika kita bangun seolah-olah menemukan perasaan yang menakjubkan, seperti tiba-tiba tidak nyata, dan kisah traveller itu harus terus melaju, setelah kesadarannya muncul akan berjalan normal.“ Kesan sesungguhnya tergantung dari kemandekan dan kelancaran cerita. Pada akhirnya tak menjadi hal yang pokok, apakah orang terbangun menjadi Napoleon, George Washington atau sebagai serangga. (Aku juga bisa bangun sekali tempo menjadi seorang kaisar dari Brasil).

Pada sisi lain kesunyian berpadu dengan kepemilikan, itulah yang kita sebut sebagai realitas, yakni sesuatu yang oleh seniman, orang genius, penemu seluruh waktunya telah ditandai. Keluarga Samsa yang hidup di lingkungan serangga yang menakjubkan, tak ubahnya secara pukul rata di lingkungan orang genius.


Nabokov menelaah dari segi struktur cerita, yang menurutnya dibagi 7 bagian.

1. Suasana Pertama:
Gregor bangun. Dia sendirian. Dia sudah siap akan menjadi kecoak, tapi kesannya dia masih sebagai manusia dan tercampur dengan sebuah insting baru, dimana ia juga calon sebagai serangga. Ilustrasinya berakhir dalam suasana (kemanusiaan) bagian masa yang akan kemasukan. Gregor bimbang, akankah melaporkan sakitnya, tapi asuransi kesehatan akan tahu kalau Gregor itu sehat.

2.Suasana Kedua:
Ketiga ketukan di pintu kamar dan bicaranya dari depan kamar, dari ruang tamu, dari kamar adik perempuannya. Keluarganya sebagai benalu. Mereka mengeksploitasi dan mengkoyak-koyak Gregor baik dari dalam maupun dari luar. Siapakah ketiga benalu itu? Ayah, ibu dan adik perempuan. Sepintas orang bisa menganggap benalu pertama adalah sang ayah. Tepi ternyata bukan. Justru adik kesayangannya yang paling dekat yang dianggap paling kejam. Adik perempuannya mengkhianatinya dan memulai dengan narasi menarik mebel di tengah cerita.

3.Susana Ketiga:
Kepayahan bangun, Gregor berpikir sebagai manusia, namun sudah cenderung sebagai kecoak. Bagi Gregor, tubuhnya masih selalu seorang manusia. Ia percayai seorang manusia pada bagian bawah, tapi pada bagian belakang itu seekor kecoak, seorang manusia pada bagian atas, tapi pada bagian depan itu kecoak. Seorang manusia yang punya formasi empat bagian ke dalam seekor kecoak yang punya formasi enam bagian. Gregor masih selalu menaruh lagi sepasang kakinya yang ketiga.

4.Suasana Keempat:
Ibu dan ayah bergabung dengan manajer. Suara Gregor yang tegas itu semakin melemah, sehingga orang tak bisa mengerti lagi. (20 tahun berikutnya James Joyce menulis novel Finnegans Wake yang mengubah di atas arus sungai satu sama lainnya, pelan-pelan menguat dan menjadi batu.)
Gregor tidak mengerti, kenapa adik perempuannya tidak bergabung saja dengan orang-orang lain. Gregor sudah terbiasa membantu keluarganya bagaikan alat tukang saja. Sebab itu tak perlu berbelas kasihan, ia tak sekalipun membuat Grete sedih.

5.Suasana Kelima:
Gregor membuka pintu. Pintu itu sudah terbuka lebar dan dia sendiri belum bisa melihat. Dia sendiri harus mendorong daun pintu dengan sangat hati-hati.

6.Suasana Keenam:
Gregor mencoba menenangkan manajernya, karena ia tak ingin kehilangan pekerjaan. “Sekarang,“ kata Gregor yang sudah sadar dengan baik, bahwa dia harus tetap tenang, “aku akan segera berpakaian, mengemasi dan langsung pergi. Inginkah Anda? Aku harus segera pergi? Sekarang Tuan Manajer, Anda sudah lihat, aku bukan keras kepala dan aku senang bekerja; perjalanan bisnis itu memang berat, tapi aku tidak bisa hidup tanpa melakukan perjalanan bisnis ini. Ke mana Tuan Manajer setelah ini? Di kantor? Ya? Akankah Anda menceritakan semua kebenaran ini? Sementara ini orang tak bisa mampu bekerja, tapi nanti pada waktu yang tepat, pasti akan bekerja mencapai puncaknya, justru jika hambatannya sudah lewat, pasti akan semakin rajin dan menumpuk kerjanya.“

7.Suasana Ketujuh:
Sang ayah menggiring Gregor dengan kasar kembali ke kamarnya memakai tendangan kaki dan tonjokan pentungan di tangan, sedang tangan lainnya nemakai kertas koran. Kondisi ini membuat Gregor kesulitan melewati pintu yang baru dibuka separuh. Tapi karena desakan sang ayah, ia lakukan. Pintu itu juga dipukul dengan pentungan dan akhirnya sunyi.


0O0



Catatan:
Nabokov disebut-sebut dari beberapa sumber, ia sebagai novelis yang sangat teliti. Dari kata ke kata benar-benar ia cermati. Ben Abel, seorang kawan memberitahu, Ben Anderson di Cornell dulu pernah mengikuti semacam perkuliahan langsung dari Nabokov. Apa kesan Ben Anderson? Katanya, tidak menarik.

(Diringkas oleh: Sigit Susanto)

Selasa, 11 Januari 2011

Metamorfosis, Cetakan Pertama 1915


Novelet Metamorfosis (Die Verwandlung) telah selesai tahun 1912. Karya tersebut pertama kali pada Oktober 1915 dimuat di sebuah koran bernama Weissen Blättern (Halaman-Halaman Putih) di bawah redaktur Rene Schickele. Pada bulan yang sama 1915 langsung dicetak dalam bentuk buku. Penerbitnya Kurt Wolff, dibawah editor Georg Heinrich Meyer (47 tahun). Metamorfosis diterbitkan dalam deret judul buku "Der Jünge Tag" (Hari Terbaru). Pada usia ke 32 tahun Kafka memegang karya perdananya.

Sabtu, 13 November 2010

Sketsa-Sketsa Kafka
















Sketsa-Sketsa Kafka.


























Yang jarang diperbincangkan orang, bahwa Kafka punya keisengan membuat sketsa. Coraknya abstrak, kadang menyerupai coretan anak kecil, tapi kebanyakan punya kejiwaan yang tinggi. Manusia-manusia yang digambar Kafka tidak jelas, simbolis, melankolis. Sepertinya corak tulisan pada teks dan gambar, ada keterkaitan.

Di sini ada 12 sketsa Kafka yang diambil oleh Max Brod dan diletakkan pada halaman akhir karya Max Brod tentang biografi Kafka berjudul Tentang Franz Kafka (Über Franz Kafka)

(Sumber: Max Brod, Über Franz Kafka, Ficher Bücherei, 1966)

Kamis, 28 Oktober 2010

KAFKA ABCD

KAFKA ABCD
Semacam susupan berbagai ungkapan, istilah yang terkait dengan karya dan sosok Kafka.

FABEL KECIL
"Ah," kata tikus, "dunia ini setiap hari semakin menciut. awalnya begitu luas, bahwa aku takut, aku jalan terus dan bahagia, akhirnya tampak di kejauhan tembok di kanan-kiri, tapi tembok panjang itu begitu lekas menutup, hingga aku berada di ruangan terakhir dan di situ di pojok yang aku lalui ada perangkap." "Kamu harus mengubah arah jalan," kata kucing dan memangsanya.


(Franz Kafka - Sämtliche Erzählungen)

*


KAFKAESQUE
"Kafkaesque" adalah kata yang masuk ke dalam pemakaian bahasa Inggris umum yang berasal dari sastra Jerman. Adjektiva itu punya sederet arti yakni: ngeri, misterius, birokrasi yang berbelit-belit, mimpi buruk dan menakutkan.

(J.S. Stern)

"Kafkaesque" is the only word in common English use which derives from German literature. Its meanings range from `weird`, `mysterious`, `tortuously bureaucratic`to `nightmarish`and `horrible`

(J.P. Stern)

*
Kafka, siang bisa mikirkan Tuhan, Yahudi, sastra, kawan, cewek, ayah, kerja, tubuhnya. Tapi malam memasuki proses menulis, semua ditanggalkan. Semua problemnya terpecahkan, jika ia menulis. Hidup uNtUk menulis, bukan menulis uNtUk hidup.

(Peter von Matt)

*
REINER STACH

*Kafka bukan membawa pulang senjata dan bendera ke rumahnya, tapu pengalaman Perang Dunia I, ia rekonstruksi menjadi sebuah kisah berdasar renungan lama dan kenapa itu menjadi pembicaraan panjang.

(Sumber: Die Jahre der Erkenntnis - Reiner Stach)
*NOTE:
Reiner Stach adalah penulis Jerman tentang biografi Kafka terbaru tahun 2008 dan terbit dalam dua jilid.

SURAT BONEKA
Dora Dymant, istri Kafka bercerita kepada Max Brod, perihal pengalamannya berjalan-jalan dengan Kafka. Suatu saat Dora dan Kafka berjalan di sebuah taman kota Steglitz di Berlin. Di situ mereka memergoki ada bocah kecil menangis, karena bonekanya hilang. Kafka menghibur bocah itu dengan bilang, "Tapi bonekamu tidak hilang sama sekali, ia hanya berjalan-jalan. Aku tadi melihatnya dan sempat bicara dengannya. Ia bilang akan menulis surat kepadamu. Besok pagi pada jam seperti ini, aku akan serahkan surat dia untukmu."

Ternyata bocah itu berhenti menangis. Dan Kafka benar-benar menepati janjinya, esok harinya ia menulis surat fantasi, seolah-olah sebagai boneka yang sedang bepergian dan diberikan bocah itu. Akhirnya terjadilah koresponden atas nama boneka dan bocah tadi. Peristiwa nyata itu berlangsung hingga berminggu-minggu. Ketika Kafka berpindah rumah dan sibuk, ia masih mengingat kisah boneka dan bocah itu.

(Sumber: Über Franz Kafka (Tentang Franz Kafka)- Max Brod.

NOTE:
Cara Kafka berbohong, agar bocah lerai tangisnya, mirip dengan kultur kita. Banyak orang tua kita dulu di Jawa khususnya, jika melihat anak mereka jatuh tersandung dan menangis, ibu-ibu bilang: Kodoke Mlayu (Kataknya Lari). Saat itu tentu konsentrasi anak ke seekor katak.

Jumat, 17 September 2010

Pemburu Gracchus


Seri Surealis - 1


Pemburu Gracchus


Franz Kafka*


Dua anak laki-laki duduk di tembok dermaga dan bermain dadu. Seorang laki-laki membaca koran pada tangga monumen di bawah bayangan pahlawan yang sedang mengayunkan pedang. Seorang gadis di sumur mengisi air di tongnya. Seorang pedagang sayur laki-laki berebahan di samping dagangannya dan memandang ke arah danau. Dari dalam kafe, ada orang mengintip lewat pintu dan lubang jendela, di situ ada dua orang sedang minum anggur. Pemilik kafe itu duduk di depan pada sebuah meja dan tidur-tiduran. Sebuah tandu mengambang pelan, sepertinya sedang diangkut di atas air di sebuah pelabuhan kecil. Seorang lelaki mengenakan baju kerja warna biru turun dan menarik talinya lewat jeruji. Dua lelaki lain mengenakan mantel warna gelap yang berkancing perak memikul tandu di belakang pegawai perahu, di bawah sana tergeletak dengan jelas seorang yang mengenakan kain sutera berenda bunga besar.

Di dermaga itu tak ada orang yang mengurus pendatang baru, sendirian ketika mereka menurunkan tandunya, sambil menunggu pegawai perahu, tali-tali masih dikerjakan, tak ada orang yang masuk, tak ada orang yang mengajukan sebuah pertanyaan kepada mereka, tak seorang pun lebih memperhatikan mereka dengan saksama.

Pimpinan perahu sekarang menunjukkan dek perahu dengan leluasa melalui seorang perempuan, berambut terurai yang anaknya masih menindih dada. Kemudian datang lah dia dari sebuah rumah warna kuning tingkat dua, yang sedikit menanjak lurus dekat air, tukang pikul membawa beban dan mengangkatnya lewat tempat yang agak rendah, tapi lewat pintu bangunan pilar-pilar ramping. Seorang bocah kecil membuka jendela, langsung tahu, bagaimana rombongan itu menghilang di rumah, dan dengan cepat menutup lagi jendelanya. Pintunya sekarang juga tertutup, yang dibuat dari kayu eik hitam yang rapi. Sekelompok merpati telah terbang mengelilingi menara jam, sekarang hinggap di depan rumah. Ketika mereka akan mencari makanan, merpati-merpati itu berkumpul di depan pintu. Seekor terbang sampai ke lantai pertama dan mematuk kaca jendela. Itu merpati-merpati yang berwarna cerah, menarik, gesit. Dengan ayunan yang kuat, ibu itu melemparkan biji-bijian ke arah merpati-merpati, mereka berkerumun dan terbang melintasi ibu itu.

Seorang laki-laki mengenakan topi bundar dengan ikat simbol kesedihan menuruni lorong sempit yang penuh sampah menuju ke pelabuhan. Dia menoleh ke sana-kemari, semua dalam pantauannya, pandangannya tertuju pada sampah di pojok, wajahnya menjadi muram. Di tangga monumen tercecer kulit buah, sambil lewat dia menggaruk-garuk kulit buah itu ke bawah dengan tongkatnya. Di pintu ruang tamu, dia mengetuk sekaligus dia mengambil topi bundarnya dengan tangan kanan yang berkaus tangan hitam. Segera terbuka, lima puluh bocah laki-laki dengan riang berbaris dua-dua di gang dan membungkuk.

Pimpinan perahu menuruni tangga, menyalami orang laki-laki di situ, diajak naik ke lantai pertama , pimpinan perahu itu merasa ringan untuk bergaul dengan dia, pekarangan bangunan itu dikelilingi hiasan dan keduanya masuk, sementara bocah-bocah laki-laki dari kejauhan saling mendorong dengan penuh sopan, di sebuah kamar besar yang dingin di belakang samping rumah, tampak di seberangnya tak ada rumah lagi, melainkan hanya sebuah ladang tandus dengan tembok batu karang hitam ke abu-abuan. Tukang pikul supaya kelihatan sibuk, menindih tandunya dengan beberapa lilin panjang dan dinyalakan, tapi tidak ada api, sesungguhnya dulu hanya bayang-bayang sepi yang seram dan berkedip-kedip di atas dinding. Dari tandu itu hanya dililit selendang. Di tandu itu berbaring seorang laki-laki dengan rambut dan jenggot yang tumbuh liar tak beraturan, berkulit cokelat, seperti seorang pemburu. Dia tergeletak tak bergerak, sepertinya juga tak bernapas dan terpejam matanya, meski demikian hanya mengesankan di sekitarnya, bahwa itu mungkin sebuah mayat.

Orang laki-laki itu melangkah ke tandu, meletakkan tangannya ke dahi, kemudian berjongkok, dan berdoa. Pemimpin perahu memberi isyarat dengan tangan kepada tukang pikul, agar meninggalkan ruangan, mereka keluar menghalau bocah-bocah laki-laki, yang masih berkumpul di luar, dan menutup pintu. Orang laki-laki itu tampaknya juga tak diam sepenuhnya, dia memandang pemimpin perahu, menyadari dan pergi ke kamar sebelah lewat sebuah pintu samping. Orang yang tergeletak itu membentur tandu, matanya terbelalak, wajahnya berubah tertawa kecut kepada orang laki-laki di situ dan mengatakan: "Siapa kamu?" - Orang laki-laki yang sedang berlutut itu bangkit tanpa rasa heran dan menjawab: “Wali kota dari Riva."

Orang di tandu itu mengangguk, menampakkan kondisi lengannya yang lemah di kursi dan berkata, setelah memenuhi undangan wali kota: "Saya tahu, tuan wali kota, tapi awalnya sekejap saya selalu lupa semuanya, bagi saya semuanya terjadi sesuai urutan dan itu lebih baik, saya tanya, walau pun saya sudah tahu semuanya. Juga Anda mungkin sudah tahu, bahwa saya pemburu Gracchus."

"Tentu," kata wali kota. "Anda memberitahu saya malam hari ini. Kami tidur pulas. Di tengah malam istri saya memanggil: "Salvatore," -itu nama saya- "lihatlah merpati di jendela!" Itu benar-benar seekor merpati, tapi besar seperti seekor ayam. Merpati itu terbang ke telinga saya dan berbisik: "Besok datang seorang pemburu Gracchus yang sudah mati, sambutlah dia atas nama seluruh warga kota." Pemburu itu mengangguk dan menarik ujung lidahnya melalui di antara kedua bibirnya: "Ya, merpati-merpati itu sebelumnya terbang menghampiriku. Yakinkah Anda, tuan wali kota, bahwa saya harusnya tinggal di Riva?" "Saya belum bisa menjawabnya," jawab wali kota. "Anda sudah mati?" "Ya," kata pemburu, "seperti yang Anda lihat. Beberapa tahun lalu, tapi pastinya sudah bertahun-tahun, saya tergelincir dari sebuah batu wadas di Schwarzwald - itu di Jerman, ketika saya menguntit seekor kambing gunung. Sejak itu saya mati." "Tapi Anda masih hidup juga," kata wali kota.

"Boleh dikatakan begitu," kata pemburu, "agaknya saya juga hidup. Perahu yang mengantar kematian saya salah jalan, sebuah putaran yang salah pada setir navigasinya, sebuah ketidak hati-hatian dari pimpinan perahu, membelok ke arah alam kehidupan saya yang indah, saya tidak tahu, apa itu, yang saya ketahui, bahwa saya tinggal di bumi dan bahwa perahu saya sejak itu telah berlayar di perairan duniawi. Begitulah saya bepergian, yang hanya ingin hidup di pegunungan, setelah kematian saya melewati semua negara-negara di bumi." "Dan Anda tidak punya bagian di akhirat?" tanya wali kota dengan dahi mengkerut. “Saya,“ jawab pemburu, "selalu di tangga besar, menuju ke atas. Pada tangga yang luas tak terbatas itu saya berkeliling, kadang ke atas, kadang ke bawah, kadang ke kanan, kadang ke kiri, selalu saja bergerak. Dari seorang pemburu berubah menjadi seekor kupu-kupu. Anda jangan tertawa." "Saya tidak tertawa," wali kota itu membatinnya saja. "Sangat bisa dimengerti," kata pemburu. "Saya selalu bergerak. Tapi saya melompat jauh dan di atas pintu saya tersorot, saya bangkit dari usia saya, sudah di dalam perahu air yang sunyi di suatu daratan. Kesalahan fatal kematian saya yang sekali itu, saya meringis di bilik perahu. Julia, istri pimpinan perahu mengetuk pintu dan membawakan saya minuman pagi negeri itu ke tandu saya, kami segera melayari ke pesisir itu. Saya berbaring di sebuah balai-balai kayu, tapi saya tak merasa nyaman, memandang berlama-lama - sebuah pakaian mayat yang kotor, rambut, jenggot, abu-abu dan hitam, tak bisa dibereskan berantakan, paha-paha saya ditutupi dengan selendang perempuan panjang berhiaskan bunga sutera besar. Di depan kepala saya terletak sebuah lilin gereja dan menyala ke arah saya. Di dinding seberang saya terdapat sebuah foto kecil, jelas seorang dari semak belukar, yang memegang tombak mengarah ke saya dan kemungkinan di belakang ditutup dengan plang bergambar menakjubkan. Orang yang bertemu di perahu kadang menggambarkan hal yang tolol, tapi ini adalah yang paling tolol. Kalau tidak, keranjang kayu saya ini akan sama sekali kosong. Lewat sebuah lubang di sisi dinding mengalir udara malam yang panas dari arah selatan, dan saya dengar air mengombang-ambingkan tandu tua. Di sinilah saya tinggal sejak dulu, ketika saya masih hidup menjadi pemburu Gracchus, di rumah di Schwarzwald saya menguntit kambing gunung dan terperosok. Semuanya kembali normal lagi. Saya membuntuti, saya jatuh, mati kehabisan darah di jurang dan tandu ini seharusnya membawa saya ke akhirat. Saya masih ingat, betapa senangnya saya di sini pertama kalinya terlentang di balai-balai. Tak pernah pegunungan ini mendengar nyanyian saya, seperti dulu empat dinding-dinding yang masih remang-remang.

Saya dulu senang hidup dan senang mati, saya terlempar bahagia, sebelum saya masuk di pinggir perahu, mengumpulkan kaleng-kaleng bekas, tas-tas, senjata pemburu di depan bawah saya, saya selalu bangga memakainya, dan menyelinap di pakaian mayat, bagaikan seorang gadis yang mengenakan pakaian perkawinan. Di sini saya berbaring dan menunggu. Dan terjadi musibah." "Sebuah nasib yang malang," kata wali kota menampik dengan mengangkat tangan. "Dan Anda tak merasa bersalah?" "Tidak," kata pemburu itu, "saya pemburu, apakah itu sebuah kesalahan? Sudah ditakdirkan saya sebagai pemburu di Schwarzwald, dimana dulu masih terdapat serigala. Saya bersembunyi untuk mengintai, menembak, bertatapan, diambil kulitnya, apakah itu salah? Pekerjaan saya telah direstui. `Pemburu terbesar di Schwarzwald adalah saya.` Apakah itu sebuah kesalahan?"

"Saya tak punya tugas untuk memutuskan hal itu," kata wali kota, "toh juga tak terdapat kesalahan pada saya. Tapi siapa yang bersalah?"

"Orang di perahu," kata pemburu. "Tak pernah dibaca orang, apa yang saya tulis, tak pernah ada orang datang, membantu saya; sebenarnya menurut hukum ada orang yang membantu saya, semua pintu rumah terkunci, semua jendela tertutup, semua tertidur, selimutnya menutup kepala, sebuah pondokan malam di seluruh bumi. Itu hal yang baik, sehingga tak seorang pun tahu tentang saya, mengertikah dia dari saya, sehingga dia tak mengerti dimana persinggahan saya, dan tahukah dia persinggahan saya, tahukan dia, bila saya tak menetap lama di sana, tidak tahukah dia, bagaimana membantu saya. Pemikiran untuk membantu saya, adalah sebuah penyakit dan harus berbaring di tempat tidur untuk disembuhkan. Itu saya tahu dan juga tak perlu berteriak, meminta bantuan, bila saya sendiri sementara ini - tak berkuasa seperti saya, contoh langsung sekarang - sangat prihatin. Tapi cukup senang untuk mengusir pemikiran seperti itu, bila saya melihat sekeliling dan membayangkan saya, dimana saya berada - saya bisa menganggap gembira - sejak berabad-abad saya tinggal."

Luar biasa," kata wali kota, "luar biasa." "Dan sekarang Anda memperingatkan pada kita untuk tinggal di Riva?"

"Saya tak memperingatkan," kata pemburu tertawa dan sambil membenarkan ejekannya, tangannya ditaruh di lutut wali kota. "Saya di sini, saya tidak tahu lebih banyak, lebih dari itu saya tidak bisa lakukan. Perahu saya tanpa setir, perahu itu berjalan dengan kekuatan angin, yang bertiup pada bagian daerah terbawah kematian."



^0O0^


Judul asli: Der Jäger Gracchus

Diterjemahkan: Sigit Susanto

Ilustrasi: Thomas Titus



Rabu, 04 Agustus 2010

Manuskrip Kafka Mendarat di Pengadilan

Sigit Susanto*

Jika sebuah buku dicekal oleh pengadilan, sepertinya agak biasa, tapi bagaimana dengan manuskrip yang harus berurusan dengan pengadilan? Franz Kafka (1833-1924), sastrawan Yahudi asal Praha tak hanya karyanya yang terus dibicarakan warga dunia, namun warisan manuskrip aslinya juga berkepanjangan hingga kini.

Max Brod (1884-1968) adalah sahabat karib Kafka. Keduanya pernah punya cita-cita sama, yakni kembali ke negeri leluhur mereka di Israel. Niat itu tidak sampai dilakukan oleh Kafka, ia keburu meninggal tahun 1924, karena serangan tuberkulosis. Namun Brod telah membuktikan impiannya. Ketika tentara Nazi masuk Praha tahun 1939, Brod berhasil meloloskan diri. Awalnya ia hendak menuju USA, namun gagal. Akhirnya lewat negeri Balkan dan Konstantinopel, ia berhasil sampai ke Israel. Dalam pelariannya itu ia sambil membawa dua koper kulit. Kedua koper tersebut berisi barang-barang milik Kafka antara lain, manuskrip, sketsa, kartu pos dan dokumen lain. Selain manuskrip yang dibawa Brod, masih ada di pihak-pihak lain. Misalnya, pada Felice Bauer, bekas pacar Kafka di Berlin dan juga Dora Diamant, bekas istri Kafka.

Testamen Berbuah Testamen

Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa Kafka pernah membuat dua testamen kepada, Max Brod untuk membakar beberapa karyanya. Testamen pertama, "Max Brod yang terhormat, milik saya..." (ditulis1920/1921). Testamen kedua, "Max Brod yang terhormat, mungkin..." (ditulis 1922/1923). Isi kedua testamen tersebut intinya menyuruh Brod untuk membakar warisan karya tulisnya, dimana pada testamen pertama hanya menyinggung semua warisan karya yang ditulis tangan, sedang pada testamen kedua tentang karya sastra yang sudah dicetak dengan perkecualian yang berjudul "Meditasi" (Betrachtung) dan termasuk juga pada artikel yang telah tercetak berserakan di orang lain dan prosa-prosa pendek.

Brod melakukan hal yang sebaliknya, bukan membakar karya Kafka, justru menerbitkan. Alasan Brod sederhana, pada sebuah percakapan di kafe niat itu diutarakan Kafka kepada Brod secara lisan. Saat itu Brod langsung menolak. Berarti ia sudah menjawab permohonan Kafka. Pertimbangan Brod setelah Kafka meninggal, jika Kafka memang benar-benar berniat membakar karyanya, kenapa tidak membuat testamen baru dan ditujukan kepada orang lain? Akhirnya Brod lah yang punya hak kuasa atas karya-karya Kafka. Sebagian besar karya Kafka telah ia terbitkan, meskipun tidak semua. Seandainya Brod benar-benar melaksanakan kehendak Kafka, bisa terjadi sastra dunia kehilangan huruf K, artinya, tanpa Kafka. Terbukti karya Kafka menjadi salah satu yang penting di abad 20. Italo Calvino dalam bukunya "The Uses of Literature“ menyebutkan, nama Kafka telah menjadi ikon sastra resmi dengan menetapkannya sebagai kata sifat "Kafkais“(Kafkaesque). Penggemar karya Kafka layak berterima kasih kepada jasa Brod. Meskipun dalam mengumpulkan karya-karya tersebut ia harus mengabaikan rasa malu. Tak jarang ia dicemburui oleh Diamant, yang dituduh untuk kepentingan komersil Brod.

Di Israel Brod berkenalan dengan sesama pengungsi asal Praha bernama Otto Hoffe dan istrinya Ilse Ester Hoffe (1904-2007). Selanjutnya Ester menjadi sekretaris Brod yang bertugas mengedit dan mengoreksi naskah. Karena hubungan keduanya semakin intim, Ester menjadi pacar Brod. Sejak tahun 1945 semua manuskrip Brod dan milik Kafka telah diberikan kepada Ester. Pada 1956 terjadi krisis di terusan Suez, Brod menyimpan manuskrip Kafka pada Safe Deposit Box No: 6588 pada Bank UBS di Zürich, Switzerland. Seluruhnya ada 10 box, 4 berada di Zürich dan 6 ada di Tel Aviv.

Sebelum Brod meninggal tahun 1968, ia sudah memberikan sebuah testamen kepada Ester atas semua karyanya, buku hariannya termasuk semua manuskrip Kafka. Pada 2007 Ester meninggal dunia pada usia 101 tahun dan ia telah memberikan testamen selanjutnya kepada dua anak perempuannya, Eva Hoffe dan Ruth Wisler. Di sinilah testamen berbuah testamen.

Lelang Naskah dan Kepentingan Israel

Pada Januari 2010 ini kedua anak perempuan Ester, Eva dan Ruth bermaksud meminta legitimasi hukum pada pengadilan di Tel Aviv. Tiba-tiba Perpustakaan Nasional dan Arsip Nasional Israel hendak mengambil alih manuskrip Kafka. Pihak pemerintah Israel menganggap karya Kafka sebagai aset budaya nasional yang harus dikuasai dan dilestarikan oleh negara. Pihak pemerintah Israel mendesak agar ke 10 box penyimpan manuskrip Kafka segera bisa dibuka. Termasuk manuskrip Kafka yang dimiliki perorangan dan lembaga arsip. Shmuel Har Noy, dari Perpustakaan Nasional Israel mengemukakan pada koran Jerman Zeit, “The rightful place of the Kafka Papers is the National Library of Israel.”

Reiner Stach, penulis biografi Kafka menuturkan pada koran Jerman Der Tagesspiegel (30/7), Ester pernah menjual surat Kafka yang ditujukan kepada Brod sebanyak 8 halaman seharga sekitar Rp. 1 Miliar (Sfr.120.000) pada seorang yang tak dikenal di Basel, Switzerland. Tahun 1961, perpustakaan Bodleian, Oxford, London juga telah membeli naskah-naskah Kafka. Reiner menyanggah niat Israel yang tiba-tiba hendak menguasai manuskrip Kafka. Di Israel sendiri menurut Reiner, tak ada jalan yang bernama Kafka. Ia menduga masih banyak manuskrip Kafka di bekas rumah Ester di Tel Aviv. Setidaknya ada sekitar 70 surat Diamant kepada Brod. Sumber dari pengkaji karya Kafka mengatakan, ada sebundel amplop bertuliskan “Banyak tentang Kafka.”

Ester dikenal oleh para ahli karya Kafka sebagai orang yang tidak mau bekerjasama. Ia lebih senang menjual manuskrip Kafka pada lelang benda warisan bermutu dunia. Salah satu manuskrip penting yang menjadi sengketa dengan pengadilan di Tel Aviv adalah naskah tulis tangan novel dari Trilogi “Proses” (Der Prozess). Manuskrip ini pernah ditawar oleh pusat arsip Marbach di Jerman seharga hampir 2 juta dolar. Kini banyak ahli dan pemerhati karya Kafka sedang menunggu dengan cemas, kira-kira masih ada karya apa lagi yang tersimpan di box-box bank penyimpan naskah? Harapannya masih akan ditemukan karya terbaru yang bisa menambah khasanah sastra dunia dari tangan Kafka.

*sumber: dari berbagai media bahasa Jerman.

-0-0-

Rabu, 17 Juni 2009

Fantasi Kafka tentang Amerika


Judul: AMERIKA
Penulis: Franz Kafka
Penerbit: Fischer Bucherei, 1956
Tebal: 232 halaman.


Di kalangan pembaca Jerman, karya Kafka digolongkan karya berat. Mereka kadang menyebut karya Hesse atau Böll dianggap lebih ringan. Gaya bahasa Kafka sering disejajarkan dengan penyair klasik Jerman, Heinrich von Kleist.

Pada bacaan novel ini aku temukan sebuah teknik paralel penulisan antara novel: Proses dan Amerika. Pertama, Kafka menulis kedua novel di atas dengan membagi per bab. Kedua, kata ungkapan Kafka masih sama seperti pada Proses, suka menyebut kata benda seperti, lilin, topi, mantel. Kata benda itu begitu sering disebut di kedua novel yang berbeda. Tak hanya itu, dia sering sebut kata sifat, misalnya, gelap, lelah, payah, marah, dan malu. Nuansa yang dibangun sering mencekam dan benar-benar membuat pembaca berpikir dalam. Beberapa peristiwa terjadi secara kebetulan, baik di Proses maupun Amerika. Ada dua cerpennya yang dimasukkan ke dalam dua novel. Selain itu terdapat pembacaan sebuah surat. Sedang para tokohnya berasal dari kelas menengah ke kelas atas.