Kamis, 15 November 2007

Sinopsis "Proses"

Judul: Proses
Judul Asli: Der Prozess (The Trail)
Penerbit: Fischer Taschen Verlag, Frankfurt am Main, 1979
Tebal: 194 halaman.
Pembuka novel ini mirip dengan novelet “Metamorfosis“ (Die Verwandlung) yakni dalam bentuk kalimat yang sedang bergerak, bukan statis:
Seseorang telah memfitnah Josef K, karena itu pada suatu pagi tanpa melakukan suatu kejahatan, dia ditangkap.
Dari awal pembuka kalimat seperti ini, kontan mengundang decak penasaran pembaca untuk tahu kelanjutannya. Kafka memang tidak suka memakai semacam pengantar dalam sebuah pembuka cerita. Dia langsung memilih kalimat yang menukik ke sasaran tema. Rupanya resep dari Faulkner ada benarnya, Faulkner pernah bilang, “Tulislah kalimat pertama yang indah, agar pembaca membaca kalimat berikutnya.“
Novel ini ditulis oleh Kafka pada tahun 1914. Namun naskah yang ditulis tangan tersebut baru diterbitkan tahun 1925, setahun setelah Kafka meninggal. Max Brod adalah sahabat dekat Kafka yang mendapat beberapa testamen, agar sebagian naskah Kafka dibakar. Akan tetapi Brod mengingkari janji dengan alasan supaya karya Kafka bisa dinikmati pembaca dunia. Brod menemukan naskah ini di sebuah laci meja Kafka dengan tanpa judul. Namun sebelumnya Kafka pernah bilang Brod, kalau naskah novelnya kelak akan diberi judul “Proses.” Entah apa karena Brod merasa bersalah, belakangan ketika Brod meninggal, dikubur persis berhadap-hadapan dengan nisan Kafka di daerah Zizkov makam Yahudi di Praha.
Kisah novel ini bermula dari seorang manajer bank bernama Josef K yang di suatu pagi tiba-tiba ditangkap petugas pengadilan. Josef K yang kemudian sering dipanggil K ini kebingungan. Dia merasa tak punya kesalahan, namun ditangkap dan diajukan ke pengadilan. K sendiri menyewa apartemen, dimana di situ tinggal gadis yang kerjanya sebagai juru ketik bernama Fräulein Bürstner. K menaruh bibit simpati pada Fräulein Bürstner yang banyak mengalami rintangan. Rintangan itu lebih banyak dari keraguan diri sendiri. Dalam beberapa interpretasi, Fräulein Bürstner ini identik dengan mantan tunangan Kafka sendiri yang sudah dua kali batal kawin. Dia perempuan Yahudi asal Berlin bernama Felice Bauer. Menghayati karya Kafka perlu sebuah fantasi abstrak, disinyalir nama tokoh Fräulein Bürstner (inisial FB) sama dengan nama mantan tunangannya bernama Felice Bauer (inisial FB).
Kisah selanjutnya K diajukan ke sidang. Banyak halangan untuk mencari tempat sidang. Pertama, alamatnya tidak jelas. Kedua, setelah ditemukan alamatnya, suasananya saling berkelompok. Pihak pengadilan mempunyai orang-orang yang dibayar untuk tepuk tangan dan berteriak. Akibat kepolosan K membuka tabir kebobrokan mental para petugas pengadilan yang menahan K secara paksa, petugas bernama Franz dan Wilhem dijatuhi hukuman cambuk. Kesalahan kedua petugas pengadilan itu antara lain, memakan sarapan pagi K di apartemen, juga membujuk K agar pakaian kotornya kelak diberikan ke mereka untuk dicuci, sebab di depot penjara banyak petugas mencuri pakaian tahanan. Masih di pengadilan K berkenalan dengan istri pembantu pengadilan yang sering dibopong mahasiswa jurusan hukum untuk diserahkan ke hakim ketua.
K sebagai manajer bank yang punya kedudukan terhormat menjadi sering murung akibat proses-nya di pengadilan yang tak kunjung diputuskan. Dia kadang menghabiskan waktu malamnya ke sebuah bar dan berkenalan dengan gadis bar bernama Elsa. Ketidaknyamanan K bertambah, ketika paman K dari desa datang ke bank. Paman itu mengajak K mencari bantuan pengacara. Di rumah pengacara, K justru kasak-kusuk dengan Leni, gadis pembantu pengacara. Pengacara itu kawan lama pamannya.
Sampai di sini kita lihat K telah menjalin empat perempuan berbeda, Fräulein Bürstner di apartemen, istri penjaga pengadilan, Elsa pegawai bar dan Leni, pembantu pengacara. Ke empat perempuan tersebut rata-rata sebagai pekerja sederhana, bahkan bisa dibilang rendahan. Padahal K sendiri seorang manajer bank.
Tak sampai di situ usaha K. Dia juga diperkenalkan oleh klinnya di bank pada seorang pelukis bernama Titorelli. Pelukis ini punya hubungan dekat dengan para pegawai pengadilan. Utamanya dia sering melukis wajah hakim ketua. Titorelli adalah pelukis foto dari para pegawai pengadilan. Pekerjaan ini warisan dari ayahnya dulu, sehingga tak mungkin diganti oleh pelukis lain. Dari usaha ke usaha yang tampak konyol serta penuh rintangan, tetap tak membuahkan hasil gemilang.
Suatu hari K di bank mendapat tugas mengantar seorang parner bisnis orang Italia ke sebuah katedral. K bisa berbahasa Italia, tapi tidak begitu lancar. Sebab itu di tangannya dia bawa kamus dan brosur tentang wisata kota. Di katedral, ternyata parner bisnis bank dari Italia ini tidak datang. Apa yang K lakukan? K bertemu dengan pendeta katedral. Uniknya pendeta itu kenal nama K. Dia sering ditugaskan ke penjara dan pernah melihat K. Dialog antara pendeta dan K sangat sarat muatan psikologi. Mendekati akhir cerita, ternyata terselip sebuah cerpen Kafka yang berjudul “Di Depan Hukum” (Vor Dem Gesetz). Cerpen tersebut muncul secara utuh dan dijabarkan panjang lebar dalam dialog antara K dan pendeta. Apakah K akhirnya akan lolos dari jeratan hukum atau masuk bui? Baca dulu novelnya.

2 komentar:

Gisela Aventia mengatakan...

Halo Mas Sigit, saya Gisel, kebetulan saya sangat tertarik untuk menganalisis roman der Prozess ini, jika boleh tau dimana saya bisa mendapatkan terjemahan novel ini? baik membeli maupun mengunduh. terima kasih.

Sigit Susanto mengatakan...

Halo Gisel,
Maaf baru tahu ada komentarmu. Sayangnya terjemahanku ini belum diterbitkan oleh Gramedia. Bagus kamu kalau menganalisis novel ini. Menurut Max Brod kan mmg ini antitesisnya dari trilogi novel kafka: amerika dan Puri (The Castle)